#30 tag 24jam
Muhidin-Hasnuryadi Sulaiman Nomor Urut 1 di Pilkada Kalsel, Raudatul Jannah-Rozanie 2
Pasangan H Muhidin- H Hasnuryadi Sulaiman yang diusung Partai Perindo mendapatkan nomor urut 1, Raudatul Jannah-Akhmad Rozanie Himawan Nugraha nomor urut 2. - Bagian all [190] url asal
#muhidin #pilkada-kalsel #partai-perindo #nomor-urut-1 #hasnuryadi-sulaiman
(iNews - Terkini) 25/09/24 10:51
v/15529354/
BANJARMASIN, iNews.id - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kalimantan Selatan menggelar pengundian nomor urut peserta calon gubernur dan wakil gubernur di Pilkada Serentak 2024. Pengundian berlangsung di halaman Kantor KPU Kalsel, Jalan Ahmad Yani KM 3,5 Kota Banjarmasin, Senin (23/9/2024).
Dalam pengundian tersebut, pasangan H Muhidin- H Hasnuryadi Sulaiman yang diusung Partai Perindo mendapatkan nomor urut 1. Sementara duet Raudatul Jannah-Akhmad Rozanie Himawan Nugraha mendapat nomor urut 2.
Muhidin mengungkapkan nomor urut 1 merupakan nomor yang pernah dia dapat saaat maju di Pilkada 2020 dan berhasil membawa kemenangan. Harapannya, nomor ini akan kembali membawa kemenangan di Pilkada Kalsel 2024.
"Nomor urut 1 sama dengan waktu mengantarkan saya menjadi wakil gubenur. Sekarang semoga dengan nomor urut 1 bisa memenangkan Pilgub Kalsel," ujarnya, Senin (23/9/2024).
Sementara Hasnuryadi Sulaiman menyebut nomor 1 sebagai simbol pemersatu suara rakyat Kalsel untuk memilih pasangan yang mengusung tagline 'Bekerja Bersama Merangkul Semua'.
Mereka juga berkomitmen untuk menjunjung tinggi Pilakada 2024 yang aman dan damai. Dalam pengundian ini, kedua paslon bersama partai pengusung serta Forkopimda Kalsel melakukan deklarasi damai agar pilkada di Banua pada 27 November mendatang berlangsung damai.
Editor: Donald Karouw
Virage Awie, Saat Olahan Bambu Menembus Dunia, tetapi Tak Lupa Akar... Halaman all
Di tangan Adang Muhidin, bambu diolah, diukir, dipahat, dan dipotong sedemikian rupa sehingga menjadi produk yang jauh lebih bernilai dan berkualitas. Halaman all?page=all [586] url asal
#bambu #adang-muhidin #pirage-awi #virage-awie
(Kompas.com) 11/08/24 07:08
v/14158780/
KOMPAS.com - Bertekad, kreatif, inspiratif, dan inovatif. Beberapa kata itu mungkin yang terpatri dalam perjalanan usaha kerajinan bambu milik Adang Muhidin.
Di tangan Adang Muhidin, bambu diolah, diukir, dipahat, dan dipotong sedemikian rupa sehingga menjadi beragam produk yang jauh lebih bernilai dan berkualitas.
Virage Awie, nama usaha kerajinan bambu milik Adang. Berasal dari bahasa Sunda, Pirage Awi memiliki arti "hanya bambu". Filosofinya adalah selama ini bambu hanya dimanfaatkan untuk furnitur dan rebungnya diolah menjadi makanan.
Jika dilihat dari nilainya, olahan bambu masih belum bernilai tinggi dan terdapat anggapan di masyarakat bahwa olahan yang "hanya bambu" itu tidak mahal.
Maka dari itu, klaster Virage Awie memiliki misi untuk mengolah bambu sedemikian rupa supaya menjadi bermacam produk berkualitas dan bernilai lebih dibandingkan dengan olahan bambu pada umumnya.
Sempat berada di titik nadir hidupnya karena usahanya mengalami kebangkrutan, Adang berusaha bangkit hingga akhirnya menekuni usaha kerajinan bambu.
Dia pun menceritakan kisah di balik bagaimana mulanya bisa terjun ke dunia kerajinan bambu, yang menjadi jalan kisah hidupnya sampai kini.
"Tahun 2009, saya mengalami kebangkrutan. Saya waktu itu kuliah S-2 di Jerman, pulang ke Indonesia tahun 2006 bikin usaha. Tahun 2009, semuanya habis, jadi semua yang saya miliki habis," kisah Adang yang ditemui di tempat kerajinannya di Cimareme, Ngamprah, Bandung Barat, Jumat (9/8/2024) siang WIB.
"Akhirnya, saya mencari apa sih yang harus saya lakukan dan waktu itu saya tidak punya uang dan terjerat beberapa utang yang begitu banyak," lanjut Adang, yang juga lulusan S-1 Teknik Metalurgi Unjani Bandung itu.
"Akhirnya, saya mencari inspirasi atau membuat apa sih yang belum ada di mana pun juga. Kebetulan waktu itu saya diam di masjid malam-malam melihat bambu. (Waktu tanggalnya masih) ingat, 30 April 2011, melihat bambu dan dari situ saya apa sih harus saya lakukan dengan bambu," tambah dia.
Usai itu, Adang mengakui akhirnya pencarian sisi kreatifnya berujung pada salah satu alat musik saat sedang menonton tayangan musik di televisi.
"Kebetulan hari berikutnya saya melihat di televisi ada orkestra. Yang pertama dilihat itu biola. Setelah itu saya membuat biola dari bambu," ucap Adang.
KOMPAS.com/Eris Eka Jaya Tampak grup musik di bawah Virage Awie tengah memainkan alat musik yang umumnya terbuat dari bahan bambu di salah satu sentra kerajinan binaan BRI di Kawasan Batujajar, Bandung Barat, Jumat (9/8/2024).Pameran di Java Jazz
Bermula membuat biola dari bahan bambu, lalu garis takdir membawa Adang untuk mengikuti pameran di salah satu event musik bergengsi, Java Jazz Festival.
"Alhamdulillah, selama 2011saya mulai riset membuat alat musik yang pertama itu dengan teman saya membuat biola dari bambu. Lalu membuat gitar bas. Dan ada yang menelepon untuk ikut pameran di Java Jazz 2013, padahal itu belum apa-apa waktu itu. Saya malu membawa ke Java Jazz," ucap Adang.
"Pas di Java Jazz, di sana banyak yang sangat luar biasa, yang bagus, dan yang saya bawa hanya biola dan gitar bas dari bambu yang bentuknya biasa-biasa," tambah pria berusia 50 tahun itu.
Virage Awie, Saat Olahan Bambu Menembus Dunia, tetapi Tak Lupa Akar...
Di tangan Adang Muhidin, bambu diolah, diukir, dipahat, dan dipotong sedemikian rupa sehingga menjadi produk yang jauh lebih bernilai dan berkualitas. [586] url asal
#bambu #adang-muhidin #pirage-awi #virage-awie
(Kompas.com) 11/08/24 07:08
v/14153034/
KOMPAS.com - Bertekad, kreatif, inspiratif, dan inovatif. Beberapa kata itu mungkin yang terpatri dalam perjalanan usaha kerajinan bambu milik Adang Muhidin.
Di tangan Adang Muhidin, bambu diolah, diukir, dipahat, dan dipotong sedemikian rupa sehingga menjadi beragam produk yang jauh lebih bernilai dan berkualitas.
Virage Awie, nama usaha kerajinan bambu milik Adang. Berasal dari bahasa Sunda, Pirage Awi memiliki arti "hanya bambu". Filosofinya adalah selama ini bambu hanya dimanfaatkan untuk furnitur dan rebungnya diolah menjadi makanan.
Jika dilihat dari nilainya, olahan bambu masih belum bernilai tinggi dan terdapat anggapan di masyarakat bahwa olahan yang "hanya bambu" itu tidak mahal.
Maka dari itu, klaster Virage Awie memiliki misi untuk mengolah bambu sedemikian rupa supaya menjadi bermacam produk berkualitas dan bernilai lebih dibandingkan dengan olahan bambu pada umumnya.
Sempat berada di titik nadir hidupnya karena usahanya mengalami kebangkrutan, Adang berusaha bangkit hingga akhirnya menekuni usaha kerajinan bambu.
Dia pun menceritakan kisah di balik bagaimana mulanya bisa terjun ke dunia kerajinan bambu, yang menjadi jalan kisah hidupnya sampai kini.
"Tahun 2009, saya mengalami kebangkrutan. Saya waktu itu kuliah S-2 di Jerman, pulang ke Indonesia tahun 2006 bikin usaha. Tahun 2009, semuanya habis, jadi semua yang saya miliki habis," kisah Adang yang ditemui di tempat kerajinannya di Cimareme, Ngamprah, Bandung Barat, Jumat (9/8/2024) siang WIB.
"Akhirnya, saya mencari apa sih yang harus saya lakukan dan waktu itu saya tidak punya uang dan terjerat beberapa utang yang begitu banyak," lanjut Adang, yang juga lulusan S-1 Teknik Metalurgi Unjani Bandung itu.
"Akhirnya, saya mencari inspirasi atau membuat apa sih yang belum ada di mana pun juga. Kebetulan waktu itu saya diam di masjid malam-malam melihat bambu. (Waktu tanggalnya masih) ingat, 30 April 2011, melihat bambu dan dari situ saya apa sih harus saya lakukan dengan bambu," tambah dia.
Usai itu, Adang mengakui akhirnya pencarian sisi kreatifnya berujung pada salah satu alat musik saat sedang menonton tayangan musik di televisi.
"Kebetulan hari berikutnya saya melihat di televisi ada orkestra. Yang pertama dilihat itu biola. Setelah itu saya membuat biola dari bambu," ucap Adang.
KOMPAS.com/Eris Eka Jaya Tampak grup musik di bawah Virage Awie tengah memainkan alat musik yang umumnya terbuat dari bahan bambu di salah satu sentra kerajinan binaan BRI di Kawasan Batujajar, Bandung Barat, Jumat (9/8/2024).Pameran di Java Jazz
Bermula membuat biola dari bahan bambu, lalu garis takdir membawa Adang untuk mengikuti pameran di salah satu event musik bergengsi, Java Jazz Festival.
"Alhamdulillah, selama 2011saya mulai riset membuat alat musik yang pertama itu dengan teman saya membuat biola dari bambu. Lalu membuat gitar bas. Dan ada yang menelepon untuk ikut pameran di Java Jazz 2013, padahal itu belum apa-apa waktu itu. Saya malu membawa ke Java Jazz," ucap Adang.
"Pas di Java Jazz, di sana banyak yang sangat luar biasa, yang bagus, dan yang saya bawa hanya biola dan gitar bas dari bambu yang bentuknya biasa-biasa," tambah pria berusia 50 tahun itu.
Virage Awie, Saat Olahan Bambu Menembus Dunia, tetapi Tak Lupa Akar...
Di tangan Adang Muhidin, bambu diolah, diukir, dipahat, dan dipotong sedemikian rupa sehingga menjadi produk yang jauh lebih bernilai dan berkualitas. Halaman all [1,320] url asal
#bambu #adang-muhidin #pirage-awi #virage-awie
(Kompas.com - Money) 11/08/24 07:08
v/14137059/
KOMPAS.com - Bertekad, kreatif, inspiratif, dan inovatif. Beberapa kata itu mungkin yang terpatri dalam perjalanan usaha kerajinan bambu milik Adang Muhidin.
Di tangan Adang Muhidin, bambu diolah, diukir, dipahat, dan dipotong sedemikian rupa sehingga menjadi beragam produk yang jauh lebih bernilai dan berkualitas.
Virage Awie, nama usaha kerajinan bambu milik Adang. Berasal dari bahasa Sunda, Pirage Awi memiliki arti "hanya bambu". Filosofinya adalah selama ini bambu hanya dimanfaatkan untuk furnitur dan rebungnya diolah menjadi makanan.
Jika dilihat dari nilainya, olahan bambu masih belum bernilai tinggi dan terdapat anggapan di masyarakat bahwa olahan yang "hanya bambu" itu tidak mahal.
Maka dari itu, klaster Virage Awie memiliki misi untuk mengolah bambu sedemikian rupa supaya menjadi bermacam produk berkualitas dan bernilai lebih dibandingkan dengan olahan bambu pada umumnya.
Sempat berada di titik nadir hidupnya karena usahanya mengalami kebangkrutan, Adang berusaha bangkit hingga akhirnya menekuni usaha kerajinan bambu.
Dia pun menceritakan kisah di balik bagaimana mulanya bisa terjun ke dunia kerajinan bambu, yang menjadi jalan kisah hidupnya sampai kini.
"Tahun 2009, saya mengalami kebangkrutan. Saya waktu itu kuliah S-2 di Jerman, pulang ke Indonesia tahun 2006 bikin usaha. Tahun 2009, semuanya habis, jadi semua yang saya miliki habis," kisah Adang yang ditemui di tempat kerajinannya di Cimareme, Ngamprah, Bandung Barat, Jumat (9/8/2024) siang WIB.
"Akhirnya, saya mencari apa sih yang harus saya lakukan dan waktu itu saya tidak punya uang dan terjerat beberapa utang yang begitu banyak," lanjut Adang, yang juga lulusan S-1 Teknik Metalurgi Unjani Bandung itu.
"Akhirnya, saya mencari inspirasi atau membuat apa sih yang belum ada di mana pun juga. Kebetulan waktu itu saya diam di masjid malam-malam melihat bambu. (Waktu tanggalnya masih) ingat, 30 April 2011, melihat bambu dan dari situ saya apa sih harus saya lakukan dengan bambu," tambah dia.
Usai itu, Adang mengakui akhirnya pencarian sisi kreatifnya berujung pada salah satu alat musik saat sedang menonton tayangan musik di televisi.
"Kebetulan hari berikutnya saya melihat di televisi ada orkestra. Yang pertama dilihat itu biola. Setelah itu saya membuat biola dari bambu," ucap Adang.
KOMPAS.com/Eris Eka Jaya Tampak grup musik di bawah Virage Awie tengah memainkan alat musik yang umumnya terbuat dari bahan bambu di salah satu sentra kerajinan binaan BRI di Kawasan Batujajar, Bandung Barat, Jumat (9/8/2024).Pameran di Java Jazz
Bermula membuat biola dari bahan bambu, lalu garis takdir membawa Adang untuk mengikuti pameran di salah satu event musik bergengsi, Java Jazz Festival.
"Alhamdulillah, selama 2011saya mulai riset membuat alat musik yang pertama itu dengan teman saya membuat biola dari bambu. Lalu membuat gitar bas. Dan ada yang menelepon untuk ikut pameran di Java Jazz 2013, padahal itu belum apa-apa waktu itu. Saya malu membawa ke Java Jazz," ucap Adang.
"Pas di Java Jazz, di sana banyak yang sangat luar biasa, yang bagus, dan yang saya bawa hanya biola dan gitar bas dari bambu yang bentuknya biasa-biasa," tambah pria berusia 50 tahun itu.
Ia mengaku, meski di hari pertama ajang musik Jazz itu, hanya biola saja yang dipajang, tetapi booth miliknya banyak dipenuhi pengunjung.
Di Java Jazz itu pulalah, Adang mendapatkan konsumen pertama, sekaligus modal untuk mengembangkan usahanya.
"Pertama saya punya uang itu, biola yang saya pertama bikin itu dibeli orang Jepang Rp 3,5 juta," ucapnya.
"Untuk modal usaha, Rp 3,5 juta itu dari penjualan biola dan gitar bas dibeli orang Belgia, harganya Rp 4 juta, jadi dengan modal Rp 7,5 juta. Alhamdulillah saya sudah punya bangunan seperti ini dan ada workshop juga yang lebih besar itu di Cimahi," lanjut Adang.
KOMPAS.com/Eris Eka Jaya Salah satu produk yang terdapat dalam rumah kerajinan Virage Awie, kerajinan bambu, yang terdapat di tempat kerajinannya di Cimareme, Ngamprah, Bandung Barat, Jumat (9/8/2024) siang WIB.Dukungan dari BRI
Pada 2014, Adang mendapatkan dukungan dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) untuk mematenkan hasil kerajinanya sekaligus terus mengembangkan usahanya.
"Pada 2014, saya bertemu dengan BRI dan akhirnya alat musik kami di-HAKI-kan dan kami diberikan bantuan mesin," tuturnya.
Menurut dia, banyak orang dari berbagai negara seperti Perancis, Belgia, India, dan Thailand yang belajar dan mempelajari kerajinannya tersebut.
"Mendapat bantuan mesin dari BRI dan dari situ kami mulai dikenal berbagai negara," ucap Adang.
Selain itu, Adang juga mengatakan program yang mendukung UMKM dari BRI membantu dalam perjalanan usahanya.
"Waktu itu belum berani gede, waktu itu Rp 10 juta, tetapi dengan Rp 10 juta itu, ya bisa seperti inilah. Sangat luar biasa dari 2014 sampai sekarang," ujarnya.
"Detik ini BRI mendukung kami dan melibatkan kami ke berbagai pameran-pameran, bukan hanya dalam negeri, tetapi juga di luar negeri," lanjut Adang.
Adapun pada kesempatan berbeda, Direktur Mikro BRI Supari mengungkapkan, BRI memiliki komitmen untuk terus mendampingi dan membantu pelaku UMKM lewat program Klasterkuhidupku.
"Program ini menjadi wadah yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku UMKM untuk mengembangkan bisnisnya. Dengan pemberdayaan dan pendampingan tersebut, pelaku UMKM dapat mengembangkan produknya dan memperluas usaha hingga nantinya UMKM yang tumbuh dapat menjadi inspirasi bagi pelaku usaha di daerah lain," kata Supari.
KOMPAS.com/Eris Eka Jaya Adang Muhidin (kiri) saat menceritakan soal produk kuliner dari olahan bambunya, yang terdapat di tempat kerajinannya di Cimareme, Ngamprah, Bandung Barat, Jumat (9/8/2024) siang WIB.Produk inovatif dan merambah dunia
Kini, selain alat musik, ragam produk dari Virage Awie ada yang berupa jam tangan, tumbler (tempat minum), alat-alat makan, dan macam-macam produk makanan.
"Perjalanan waktu, ternyata alat musik hanya dikenal di luar negeri, akhirnya kami membuat berbagai macam produk lagi, mulai jam tangan, tumblr, alat alat makan, kemudian explore lagi kuliner," ujarnya.
"Kuliner itu baru, tahun 2022, risetnya baru. Tahun 2023 mulai berani menjual, pasarnya masih lokal di indonesia saja," ucapnya.
Adang, yang kini tampil dengan rambut panjang serta diikat, pun mengungkap kisaran harga alat musik dari bambunya.
"Adapun untuk alat musik, itu eksklusif, setiap tahun kami hanya menjual 36 buah, kami batasi, makanya harganya mahal. Gitar harganya mulai Rp 14 juta sampai yang dimainkan itu ada Rp 25 juta. Kalau drum, mulai di harga Rp 50 juta dan pasarnya 90 persen itu luar negeri," kata dia.
KOMPAS.com/Eris Eka Jaya Ragam jam tangan yang dibuat dari olahan bambu, salah satu produk yang dihasilkan kerajinan bambu milik Adang Muhidin di Cimareme, Ngamprah, Bandung Barat, Jumat (9/8/2024) siang WIB.Saat ini produk hasil karya Adang pun telah menembus berbagai negara. "Negara terjauh Inggris, Romania, India, Jepang, dan yang terbanyak itu Malaysia karena kami ada kerja sama dengan Kementerian Perdagangan Malaysia," ucap Adang.
Pihaknya juga menggelar pameran dan workshop di Negeri Jiran. "Jadi, kami hampir setahun tiga kali ke Malaysia untuk pameran sekaligus untuk workshop juga di sana, memberikan ilmu di sana," ucapnya.
KOMPAS.com/Eris Eka Jaya Pekerja menyelesaikan pembuatan kerajinan dari bambu di salah satu sentra kerajinan binaan BRI di Kawasan Batujajar, Bandung Barat, Jumat (9/8/2024). BRI memiliki komitmen untuk terus mendampingi dan membantu pelaku UMKM lewat program Klasterkuhidupku. Program ini menjadi wadah yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku UMKM untuk mengembangkan bisnisnya.Adang Muhidin pun mengaku tak sungkan untuk membagikan ilmunya kepada masyarakat sekitar. Dia pun memberdayakan lingkungan terdekat.
"Saya pernah merasakan di bawah, tidak punya apa-apa, akhirnya kami memberikan ilmu untuk masyarakat dan ada binaan kami yang ekspor juga, jadi suatu kebanggaan bisa membantu masyarakat atau orang lain," tuturnya.
Begitulah Adang, di tangannya, bambu bisa menembus dunia, tetapi tak lupa untuk kembali ke akar, berdampak positif terhadap lingkungan sekitar, warga terdekat...
Virage Awie, Saat Olahan Bambu Menembus Dunia, tetapi Tak Lupa Akar...
Di tangan Adang Muhidin, bambu diolah, diukir, dipahat, dan dipotong sedemikian rupa sehingga menjadi produk yang jauh lebih bernilai dan berkualitas. Halaman all [1,320] url asal
#bambu #adang-muhidin #pirage-awi #virage-awie
(Kompas.com - Money) 11/08/24 07:08
v/14136762/
KOMPAS.com - Bertekad, kreatif, inspiratif, dan inovatif. Beberapa kata itu mungkin yang terpatri dalam perjalanan usaha kerajinan bambu milik Adang Muhidin.
Di tangan Adang Muhidin, bambu diolah, diukir, dipahat, dan dipotong sedemikian rupa sehingga menjadi beragam produk yang jauh lebih bernilai dan berkualitas.
Virage Awie, nama usaha kerajinan bambu milik Adang. Berasal dari bahasa Sunda, Pirage Awi memiliki arti "hanya bambu". Filosofinya adalah selama ini bambu hanya dimanfaatkan untuk furnitur dan rebungnya diolah menjadi makanan.
Jika dilihat dari nilainya, olahan bambu masih belum bernilai tinggi dan terdapat anggapan di masyarakat bahwa olahan yang "hanya bambu" itu tidak mahal.
Maka dari itu, klaster Virage Awie memiliki misi untuk mengolah bambu sedemikian rupa supaya menjadi bermacam produk berkualitas dan bernilai lebih dibandingkan dengan olahan bambu pada umumnya.
Sempat berada di titik nadir hidupnya karena usahanya mengalami kebangkrutan, Adang berusaha bangkit hingga akhirnya menekuni usaha kerajinan bambu.
Dia pun menceritakan kisah di balik bagaimana mulanya bisa terjun ke dunia kerajinan bambu, yang menjadi jalan kisah hidupnya sampai kini.
"Tahun 2009, saya mengalami kebangkrutan. Saya waktu itu kuliah S-2 di Jerman, pulang ke Indonesia tahun 2006 bikin usaha. Tahun 2009, semuanya habis, jadi semua yang saya miliki habis," kisah Adang yang ditemui di tempat kerajinannya di Cimareme, Ngamprah, Bandung Barat, Jumat (9/8/2024) siang WIB.
"Akhirnya, saya mencari apa sih yang harus saya lakukan dan waktu itu saya tidak punya uang dan terjerat beberapa utang yang begitu banyak," lanjut Adang, yang juga lulusan S-1 Teknik Metalurgi Unjani Bandung itu.
"Akhirnya, saya mencari inspirasi atau membuat apa sih yang belum ada di mana pun juga. Kebetulan waktu itu saya diam di masjid malam-malam melihat bambu. (Waktu tanggalnya masih) ingat, 30 April 2011, melihat bambu dan dari situ saya apa sih harus saya lakukan dengan bambu," tambah dia.
Usai itu, Adang mengakui akhirnya pencarian sisi kreatifnya berujung pada salah satu alat musik saat sedang menonton tayangan musik di televisi.
"Kebetulan hari berikutnya saya melihat di televisi ada orkestra. Yang pertama dilihat itu biola. Setelah itu saya membuat biola dari bambu," ucap Adang.
KOMPAS.com/Eris Eka Jaya Tampak grup musik di bawah Virage Awie tengah memainkan alat musik yang umumnya terbuat dari bahan bambu di salah satu sentra kerajinan binaan BRI di Kawasan Batujajar, Bandung Barat, Jumat (9/8/2024).Pameran di Java Jazz
Bermula membuat biola dari bahan bambu, lalu garis takdir membawa Adang untuk mengikuti pameran di salah satu event musik bergengsi, Java Jazz Festival.
"Alhamdulillah, selama 2011saya mulai riset membuat alat musik yang pertama itu dengan teman saya membuat biola dari bambu. Lalu membuat gitar bas. Dan ada yang menelepon untuk ikut pameran di Java Jazz 2013, padahal itu belum apa-apa waktu itu. Saya malu membawa ke Java Jazz," ucap Adang.
"Pas di Java Jazz, di sana banyak yang sangat luar biasa, yang bagus, dan yang saya bawa hanya biola dan gitar bas dari bambu yang bentuknya biasa-biasa," tambah pria berusia 50 tahun itu.
Ia mengaku, meski di hari pertama ajang musik Jazz itu, hanya biola saja yang dipajang, tetapi booth miliknya banyak dipenuhi pengunjung.
Di Java Jazz itu pulalah, Adang mendapatkan konsumen pertama, sekaligus modal untuk mengembangkan usahanya.
"Pertama saya punya uang itu, biola yang saya pertama bikin itu dibeli orang Jepang Rp 3,5 juta," ucapnya.
"Untuk modal usaha, Rp 3,5 juta itu dari penjualan biola dan gitar bas dibeli orang Belgia, harganya Rp 4 juta, jadi dengan modal Rp 7,5 juta. Alhamdulillah saya sudah punya bangunan seperti ini dan ada workshop juga yang lebih besar itu di Cimahi," lanjut Adang.
KOMPAS.com/Eris Eka Jaya Salah satu produk yang terdapat dalam rumah kerajinan Virage Awie, kerajinan bambu, yang terdapat di tempat kerajinannya di Cimareme, Ngamprah, Bandung Barat, Jumat (9/8/2024) siang WIB.Dukungan dari BRI
Pada 2014, Adang mendapatkan dukungan dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) untuk mematenkan hasil kerajinanya sekaligus terus mengembangkan usahanya.
"Pada 2014, saya bertemu dengan BRI dan akhirnya alat musik kami di-HAKI-kan dan kami diberikan bantuan mesin," tuturnya.
Menurut dia, banyak orang dari berbagai negara seperti Perancis, Belgia, India, dan Thailand yang belajar dan mempelajari kerajinannya tersebut.
"Mendapat bantuan mesin dari BRI dan dari situ kami mulai dikenal berbagai negara," ucap Adang.
Selain itu, Adang juga mengatakan program yang mendukung UMKM dari BRI membantu dalam perjalanan usahanya.
"Waktu itu belum berani gede, waktu itu Rp 10 juta, tetapi dengan Rp 10 juta itu, ya bisa seperti inilah. Sangat luar biasa dari 2014 sampai sekarang," ujarnya.
"Detik ini BRI mendukung kami dan melibatkan kami ke berbagai pameran-pameran, bukan hanya dalam negeri, tetapi juga di luar negeri," lanjut Adang.
Adapun pada kesempatan berbeda, Direktur Mikro BRI Supari mengungkapkan, BRI memiliki komitmen untuk terus mendampingi dan membantu pelaku UMKM lewat program Klasterkuhidupku.
"Program ini menjadi wadah yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku UMKM untuk mengembangkan bisnisnya. Dengan pemberdayaan dan pendampingan tersebut, pelaku UMKM dapat mengembangkan produknya dan memperluas usaha hingga nantinya UMKM yang tumbuh dapat menjadi inspirasi bagi pelaku usaha di daerah lain," kata Supari.
KOMPAS.com/Eris Eka Jaya Adang Muhidin (kiri) saat menceritakan soal produk kuliner dari olahan bambunya, yang terdapat di tempat kerajinannya di Cimareme, Ngamprah, Bandung Barat, Jumat (9/8/2024) siang WIB.Produk inovatif dan merambah dunia
Kini, selain alat musik, ragam produk dari Virage Awie ada yang berupa jam tangan, tumbler (tempat minum), alat-alat makan, dan macam-macam produk makanan.
"Perjalanan waktu, ternyata alat musik hanya dikenal di luar negeri, akhirnya kami membuat berbagai macam produk lagi, mulai jam tangan, tumblr, alat alat makan, kemudian explore lagi kuliner," ujarnya.
"Kuliner itu baru, tahun 2022, risetnya baru. Tahun 2023 mulai berani menjual, pasarnya masih lokal di indonesia saja," ucapnya.
Adang, yang kini tampil dengan rambut panjang serta diikat, pun mengungkap kisaran harga alat musik dari bambunya.
"Adapun untuk alat musik, itu eksklusif, setiap tahun kami hanya menjual 36 buah, kami batasi, makanya harganya mahal. Gitar harganya mulai Rp 14 juta sampai yang dimainkan itu ada Rp 25 juta. Kalau drum, mulai di harga Rp 50 juta dan pasarnya 90 persen itu luar negeri," kata dia.
KOMPAS.com/Eris Eka Jaya Ragam jam tangan yang dibuat dari olahan bambu, salah satu produk yang dihasilkan kerajinan bambu milik Adang Muhidin di Cimareme, Ngamprah, Bandung Barat, Jumat (9/8/2024) siang WIB.Saat ini produk hasil karya Adang pun telah menembus berbagai negara. "Negara terjauh Inggris, Romania, India, Jepang, dan yang terbanyak itu Malaysia karena kami ada kerja sama dengan Kementerian Perdagangan Malaysia," ucap Adang.
Pihaknya juga menggelar pameran dan workshop di Negeri Jiran. "Jadi, kami hampir setahun tiga kali ke Malaysia untuk pameran sekaligus untuk workshop juga di sana, memberikan ilmu di sana," ucapnya.
KOMPAS.com/Eris Eka Jaya Pekerja menyelesaikan pembuatan kerajinan dari bambu di salah satu sentra kerajinan binaan BRI di Kawasan Batujajar, Bandung Barat, Jumat (9/8/2024). BRI memiliki komitmen untuk terus mendampingi dan membantu pelaku UMKM lewat program Klasterkuhidupku. Program ini menjadi wadah yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku UMKM untuk mengembangkan bisnisnya.Adang Muhidin pun mengaku tak sungkan untuk membagikan ilmunya kepada masyarakat sekitar. Dia pun memberdayakan lingkungan terdekat.
"Saya pernah merasakan di bawah, tidak punya apa-apa, akhirnya kami memberikan ilmu untuk masyarakat dan ada binaan kami yang ekspor juga, jadi suatu kebanggaan bisa membantu masyarakat atau orang lain," tuturnya.
Begitulah Adang, di tangannya, bambu bisa menembus dunia, tetapi tak lupa untuk kembali ke akar, berdampak positif terhadap lingkungan sekitar, warga terdekat...
Survei LSI: Elektabilitas Hasnuryadi Ungguli Kader Golkar Lainnya
Elektabilitas Hasnuryadi hanya kalah dari Muhidin [479] url asal
#survei-lsi-pilgub-kalsel #muhidin-hasnur-pilgub-kalsel #cagub-kalsel-muhidin #pilgub-kalsel-2024 #pilkada-kalsel-2024 #hasnuryadi-sulaiman
(Republika - News) 25/07/24 09:27
v/12030232/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Survei yang dilakukan LSI Denny JA menyebutkan elektabilitas Hasnuryadi Sulaiman mengungguli Raudatul Jannah (Acil Odah), yang sama-sama kader Golkar. Dalam simulasi head to head calon gubernur Kalimantan Selatan (Kalsel) elektabilitas Hasnur sebesar (35,9%), sementara Acil Odah (24.3%).
Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA, Toto Izul Fatah, mengatakan, dalam simulai head to head, Hasnur tidak saja unggul melawan kader Golkar, tapi juga di luar Golkar. Baik ituZairullah, Ibnu Sina, Ahmad Rozanie (H. Zanie) dan lain.
“Hasnur hanya kalah saat head to head dengan Muhidin. Yaitu, Hasnur 27,3% dan Muhidin 45,3%,” kata Toto dalam siaran pers, Kamis (25/7/2024). Pada posisi Muhidin berduet dengan Hasnur, lanjutnya,maka mereka semakin menguat dan berpotensi menang.
Hasil survei LSI Denny JA ini dipaparkan pada Rabu (24/7). Survei dilakukanpada 5 - 11 Juni 2024, dengan menggunakan metodologi standar Multistage Random Sampling. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara tatap muka kepada 800 responden secara proporsional dengan margin of error 3,5%.
Posisi kuat duet Muhidin-Hasnur ini, menurut Toto, juga didasari bekal elektabilitas Hasnur sebagai calon wakil gubernur cukup tinggi, yaitu 24,6%. Sementara kandidat cawagub yang lain dibawah 10%. Kecuali, Muhidin dan Zairullah yang kecil kemungkinan maju sebagai wakil gubernur.
Toto menjelaskan, elektabilitas Hasnur sebagai cagub memang berada di bawah Zairullah dan Acil Odah dalam simulasi baik 12 calon maupun 6 calon. Zairullah 15,1%, Acil Odah 15,3%, dan Hasnur 10,8%. Meskipun selisih elektabilitas kedua di atasnya masih dalam kisaran margin of error. Kecuali selisih dengan Muhidin yang sudah 27,8%.
Namun begitu, lanjut Toto, dalam posisi jumlah kandidat yang dikerucutkan semakin sedikit, khususnya head to head dua calon saja, Hasnur diuntungkan sebagai penerima berkah limpahan suara dari kandidat yang disimulasikan tidak maju. “Makin sedikit kandidat, Hasnur makin unggul, kecuali head to head dengan Muhidin,” ungkapnya.
Problem yang masih dihadapi Hasnur, menurut Toto, adalah tingkat pengenalan yang masih belum maksimal. Pengenalannya baru di angka 65,0%. Namun begitu, Hasnur punya modal tingkat kesukaan yang tinggi, yaitu 89,8%.
“Angka kesukaan Hasnur itu melebihi kesukaan Muhidin sebagai pemimpin elektabilitas. PR besar nya, bagaimana Hasnur mampu mendongkrak pengenalan sampai minimal 80% dalam tiga bulan kedepan. Karena potensi disukainya dari orang yang mengenalnya cukup tinggi,” papar Toto.
Menurut Toto, tingkat pengenalan yang belum maksimal dari Hasnur itu juga terpotret dari program dan atribut ruang publiknya. Pada bagian seberapa sering kunjungan para kandidat, Hasnur tergolong paling kecil. Sementara Acil Odah yang dianggap paling sering dengan 31,0%.
Begitu juga dengan atribut ruang publik, Acil Odah juga memimpin, yaitu 49,7%. Calonlainnya masih di bawah 20%, termasuk Muhidin, Hasnur dan Zairullah. “Ini tentu harus jadi pekerjaan ekstra para kandidat, khususnya dalam mendongkrak pengenalan sebagai salah satu hukum besi untuk menang,” kata Toto.
Meskipun, jelas Toto, dari pengalaman selama ini, pengenalan dan kesukaan tak selalu berbanding lurus. Minimal, dengan bekal pengenalan yang tinggi, potensi orang untuk memilihnya lebih besar.
LSI: Jika tak Ada Tsunami Politik, Muhidin–Hasnuryadi Berpotensi Menang di Pilkada Kalsel
Baik Muhidin maupun Hasnuryadi punya elektabilitas tertinggi. [504] url asal
#cagub-kalsel-muhidin #muhidin-hasnur-pilgub-kalsel #pilgub-kalsel-2024 #survei-lsi-pilgub-kalsel #lsi-denny-ja #toto-izul-fatah
(Republika - News) 24/07/24 17:59
v/11949061/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Jika tidak ada tsunami politik, pasangan Muhidin – Hasnuryadi Sulaiman, sangat potensial memenangkan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Kalimantan Selatan (Kalsel), November 2024 mendatang. Elektabilitas pasangan ini cukup kokoh di atas para calon gubernur dan wakil gubernur lainnya.
“Jika tak ada tsunami politik, seperti kandidat terjerat kasus besar yang diketahui mayoritas publik, kecurangan dan money politic, maka pasangan Muhidin – Hasnuryadi yang punya potensi kuat untuk memenangkan kontestasi politik lima tahunan di Kalsel,” kata Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA, Toto Izul Fatah, saat memaparkan hasil survei, Rabu (24/7/2024).
Toto Izul Fatah,hari ini, memaparkan hasil survei terbaru LSI Denny JA terkait preferensi warga Kalsel terhadap sejumlah calon gubernur, wakil gubernur dan isu-isu politik lainnya.
Dijelaskan Toto, potensi menang tersebut karena Muhidin maupun Hasnur sama-sama punya elektabilitas yang tinggi. Sebagai cagub, Muhidin unggul cukup jauh dari cagub lainnya. Begitu juga sebagai cawagub, Hasnur unggul dibanding cawagub yang lain.
Keunggulan Muhidin sebagai cagub, menurut Toto, terlihat dalam berbagai simulasi jumlah calon. Untuk 12 calon, misalnya, Muhidin unggul dengan 27,8%, disusul Raudatul Jannah (Acil Odah) 15,3%, Zairullah 15,1%, Hasnuryadi 10,8%. Sedang calon lain, seperti Denny Indrayana, Ibnu Sina, Rosehan Noor dan Nasrullah di bawah 5%.
Yang menarik, lanjut Toto, jika dalam simulasi yang semakin dikerucutkan elektabilitas Muhidin semakin naik. Dengan hanya 6 calon, elektabilitas Muhidin dari 27,8 naik menjadi 30,9%.
Apalagi dalam simulasi head to head, Muhidin semakin tinggi ke posisi elektabilitas di atas 40%. Toto mencontohkan, saat head to head dengan Acil Odah elektabilitas Muhidin tembus ke angka 50,9% . Sedang Acil Odah hanya 26,5%.Terjadi perlawanan sedikit saat Muhidin turun ke 48,4% ketika berhadapan dengan Zairullah yang 30,0%.
Saat simulasi dilakukan secara perpasangan, menurut Toto, Muhidin juga tetap memimpin. Jika terjadi 3 pasangan calon, Muhidin – Hasnuryadi (44,6%), Zairullah – Ibnu Sina (23,5%) dan Acil Odah – Akhmad Rozanie (20,0%).
Namun begitu, Toto mengingatkan bahwa data survei juga mengungkapkan, masih ada 54,1% pemilih yang berkategori soft supporter (pemilih cair). Yaitu, gabungan antara mereka yang sudah punya pilihan tapi bisa berubah dengan yang belum punya pilihan sama sekali.
“Jumlah pemilih yang mayoritas itulah, yang sering saya sebut sebagai lahan tak bertuan. Artinya, pemilih yang masih bisa diperebutkan oleh siapa saja. Termasuk, kandidat yang saat ini masih rendah elektkabilitasnya,” jelasnya.
Sementara itu, lanjut Toto, sampai sekarang belum ada kandidat yang punya strong supporter tembus di angka 30%. Muhidin sendiri juga baru punya pemilih militan di 16,6%, Acil Odah 9,9%, Zairullah 7,6%, dan yang lainnya dibawah 5%.
“Dari data tersebut, sebenarnya masih terbuka peluang buat siapa saja untuk menang. Hanya, duet Muhidin-Hasnur lebih punya peluang besar. Apalagi, wakilnya, Hasnur punya tingkat kesukaan tertinggi, 88,9%. Masalahnya, Hasnur masih punya problem pengenalan yang baru 65%,” tegasnya.
Survei LSI Denny JA ini dilakukan dari 5 – 11 Juni 2024, menggunakan metodologi standar Multistage Random Sampling. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara tatap muka kepada 800 responden yang tersebar secara proporsional di seluruh kabupaten di Kalsel. Adapunmargin of error penelitin ini 3,5%.