#30 tag 24jam
Visi Pendiri Ottoman Wujudkan Nubuat Rasulullah tentang Konstantinopel
Osman Ghazi merupakan pendiri Dinasti Turki Utsmaniyah atau Ottoman. [457] url asal
#ottoman #sejarah-ottoman #sejarah-turki-utsmaniyah #penaklukan-konstantinopel #kota-konstantinopel
(Republika - Khazanah) 28/08/24 14:00
v/14802616/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Osman Ghazi dikenal sebagai pendiri Kesultanan Turki Utsmaniyah (Ottoman). Dia memiliki dua orang istri, yakni Rabia Bala dan Malhunputri seorang tokoh Turk, Omer Abdulaziz. Dari pernikahannya, ia dikaruniai enam orang putra. Namun, hanya dua anak yang tumbuh hingga mendewasa, yaitu Alauddin Pasha dan Orhan.
Alauddin cenderung menyukai peran sebagai ahli ilmu. Anak yang lahir dari rahim Rabia Bala itu memiliki kepandaian dan kebijaksanaan layaknya seorang cendekiawan. Sifatnya cukup berbeda dengan sang saudara tiri.
Adapun Orhan mewarisi bakat militer ayahnya. Buah hati Malhun itu pun tampil sebagai perwira yang cakap dalam memimpin pasukan. Sesudah wafatnya Osman pada 1324, dialah yang kemudian diangkat menjadi penerus takhta. Sejak itu, namanya lebih dikenal sebagai Orhan Ghazi. Sementara, Alauddin menjadi wazir.
Ketika Osman meninggal, wilayah Utsmaniyah mencapai seluas 16 ribu km persegi di Anatolia Barat. Orhan meneruskan kebijakan ekspansif ayahnya. Berbagai ekspedisi penaklukan dilakukannya dengan sukses. Salah satu prestasi terbesarnya adalah menguasai Nikomedia pada 1327 M.
Prof Ali Muhammad ash-Shalabi dalam Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah mengatakan, Sultan Orhan sangat terobsesi oleh hadis Nabi Muhammad SAW mengenai takluknya Konstantinopel di bawah panji-panji Islam.
Dia pun berikhtiar untuk mewujudkan nubuat Rasulullah SAW itu. Pertama-tama, dirinya menyusun langkah-langkah strategis guna mengepung jantung Kekaisaran Bizantium tersebut. Putranya yang bernama Sulaiman kemudian ditugaskannya untuk memimpin pasukan.
Mereka melintasi Selat Dardanela dan berhasil merebut sejumlah kapal milik Bizantium. Dengan armada tersebut, balatentara Utsmaniyah ini menjalankan misi perebutan beberapa benteng Romawi di dekat Konstantinopel. Namun, penerus takhta Orhan Ghazi itu kemudian gugur dalam sebuah pertempuran.
Tidak hanya sibuk di dunia militer untuk menggempur Bizantium, Orhan juga melakukan langkah-langkah reformatif dan pembangunan.
Dia membangun banyak fasilitas publik, termasuk masjid-masjid, sekolah-sekolah, dan akademi-akademi ilmu pengetahuan. Untuk setiap desa terdapat madrasah. Pada setiap kota, dirinya mendirikan fakultas yang menjadi tempat pengajaran ilmu agama maupun umum.
Menurut ash-Shalabi, dalam setiap pembukaan wilayah baru Orhan selalu mewujudkan tatanan masyarakat madani. Mereka difasilitasi untuk menjadi warga setempat yang terdidik, militan, serta berbudaya. Hal itu pada akhirnya semakin meningkatkan wibawa Kesultanan Utsmaniyah di mata negeri-negeri jiran.
Duet Orhan-Alauddin membawa kemajuan bagi negeri Muslim tersebut. Pemerintahan mereka mengutamakan keadilan dan stabilitas dalam negeri. Selain Nikomedia, berbagai kota berhasil direbutnya dari tangan Bizantium. Wilayah kekuasaannya sampai pada Semenanjung Gallipoli, Balikesir, Bergama, Bolu, dan Ankara.
Antara tahun 1341 dan 1347, Bizantium dilanda perang saudara. John VI Kantakouzenos yang baru mengangkat dirinya sebagai kaisar baru ketakutan akan dikudeta. Mantan jenderal Romawi itu lalu bersekutu dengan Utsmaniyah. Hal itu dilakukan melalui pernikahan putrinya, Theodora, dengan Orhan Ghazi pada Januari 1346
Begitu memasuki usia sepuh, Orhan lebih suka menghabiskan waktu dengan beribadah di masjid negara. Setelah lebih dari 35 tahun berkuasa, ia wafat pada 21 Mei 1361. Anak keduanya, Murad, kemudian menjadi penerus kepemimpinan atas seluruh Utsmaniyah.
Awal Kemunduran Ottoman di Lautan
Perang Lepanto menimbulkan dampak besar bagi pengaruh Ottoman di maritim. [433] url asal
#bajak-laut-barbarossa #barbarossa-bersaudara #sejarah-ottoman #sejarah-turki-utsmaniyah
(Republika - Khazanah) 28/08/24 11:18
v/14802610/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kapudan Pasha Hayreddin Barbarossa menjadi tokoh penting yang membawa kejayaan Turki Utsmaniyah di lautan awal abad ke-16 M. Pada Juni 1543, armadanya bahkan nyaris saja menguasai Roma, jantung dunia Kristen Latin.
Namun, kota itu urung dikuasainya setelah mendengarkan saran dari duta besar Prancis untuk Turki, Antoine Escalin des Aimars. Diplomat yang juga akrab disapa Kapten Polin itu berusaha meyakinkan Hayreddin dengan mengatakan, Paus adalah salah satu sekutu Utsmaniyah di Eropa.
Memang, Prancis di bawah pemerintahan Raja Francis I menjalin aliansi yang tidak setara dengan Utsmaniyah. Dikatakan `tidak setara' karena dalam hal ini sang raja lebih membutuhkan bantuan Sultan Suleiman al-Qanuni daripada sebaliknya.
Kebutuhan itu terutama didasari persaingan yang keras antara Prancis dan Spanyol, yang kala itu dipimpin rival Suleiman I di Mediterania, Raja Charles V.
Karena bertindak di bawah bendera Utsmaniyah, Hayreddin tidak bisa sembarangan. Ia pun membiarkan Roma sesuai dengan saran sang duta besar Prancis.
Keduanya lantas meneruskan misi untuk membebaskan kota-kota pelabuhan di selatan Prancis dari cengkeraman Spanyol. Pada Agustus 1543, Nice berhasil dikuasai. Sebagai bentuk terima kasih, Francis I mengizinkan Hayreddin dan pasukannya untuk singgah di Toulon. Pada waktu itu, katedral setempat diubah sementara menjadi masjid. Azan untuk pertama kalinya berkumandang dari menara bangunan tersebut.
Dua tahun sesudah misi di Nice, Hayreddin kemudian pensiun dari jabatannya. Pada 1546, ia menghembuskan napas terakhir. Jenazahnya dimakamkan di Konstantinopel (Istanbul).
Perang Lepanto, awal kemunduran ...
Sesudah wafatnya Hayreddin, aliansi Kristen di luar Prancis terus berupaya menyusun kekuatan demi melawan Ottoman. Spanyol menyatukan armadanya dengan Republik Venesia. Hasilnya, persekutuan ini dapat mengerahkan 200 unit kapal dan 60 ribu prajurit pada Oktober 1571.
Untuk menghadapinya, Ottoman di bawah komando Laksamana Muezzinzade Ali Pasha menerjunkan sebanyak 222 kapal dan 84 ribu pasukan. Kedua belah pihak lalu bertempur sengit di Teluk Lepanto, Yunani.
Di luar dugaan, kapal-kapal Turki tidak dapat mengatasi serangan Spanyol-Venesia.Bahkan, Muezzinzade gugur di medan pertempuran. Komando diteruskan oleh Uluc Ali, tetapi keadaan justru semakin memburuk. Inilah untuk pertama kalinya armada Utsmaniyah menderita kekalahan di sepanjang abad ke-16.
Dalam berbagai literatur disebutkan, Perang Lapanto menjadi tonggak penting yang menandakan surutnya kekuatan Utsmaniyah di Mediterania.Bahkan, secara de facto kawasan Laut Tengah mulai terbagi dua. Belahan baratnya dikuasai negara-negara Latin, sedangkan wilayah timurnya tetap dikendalikan Turki.
Menjelang abad ke-17, Spanyol dan Portugis semakin gencar mengadakan pelayaran jarak jauh demi mencapai sumber komoditas rempah-rempah di timur. Meskipun tetap tampil, kekuatan maritim Turki di Samudra Hindia kurang tangguh dalam mengusir armada berbendera Salib dari negeri-negeri Islam di Asia, termasuk nusantara. Itulah awal dari imperialisme dan kolonialisme Barat yang berlangsung hingga abad ke-20.
Heroisme Barbarossa Bersaudara, Lawan Salibis untuk Kejayaan Ottoman
Barbarossa bersaudara adalah bajak laut corsair yang mengabdi pada Ottoman. [371] url asal
#bajak-laut-barbarossa #bajak-laut-muslim #sejarah-ottoman #sejarah-turki-utsmaniyah
(Republika - Khazanah) 28/08/24 11:02
v/14802611/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Baba Oruc adalah bajak laut corsair yang mengabdi pada Kesultanan Turki Utsmaniyah (Ottoman) pada awal abad ke-16 M. Bersama adiknya, ia dikenal dunia Eropa (Barat) sebagai Barbarossa bersaudara.
Heroisme mereka masyhur bahkan hingga kini. Sesudah jatuhnya daulah Islam di Andalusia (Spanyol), para Salibis terus merangsek hingga ke luar Semenanjung Iberia. Para pelaku inkuisisi Spanyol (Reconquista) itu bahkan hendak menguasai Afrika Utara via Aljir (Aljazair).
Dengan gagah berani, Baba Oruc memimpin pasukan maritim untuk menghalau mereka. Misi ini berhasil, sehingga balatentara Salibis pun kembali ke Iberia.
Sejak 1516, Baba Oruc menjadi pemimpin wilayah Aljazair dan sekitarnya. Untuk melindungi rakyat setempat, pilihan terbaiknya ialah mengintenskan kerja sama dengan Utsmaniyah. Ia mengirimkan utusan dan berbagai hadiah kepada Sultan Selim I di Turki.
Sebagai balasan, sang Sultan mengakui Baba Oruc sebagai gubernur (bey) Utsmaniyah untuk kawasan Mediterania Barat, yang berkedudukan di Aljir. Selim juga memberikan untuknya dukungan persenjataan, armada, dan beberapa pasukan yanisari.
Pada Mei 1518, Spanyol menyerang Tlemcen--sekitar 500 km arah barat Aljir. Oruc gugur dalam pertempuran di sana. Sepeninggalannya, Hayreddin mengambil alih komando atas pasukan untuk melawan aliansi Spanyol. Setelah berjuang sekian lama, akhirnya pada 29 Mei 1529 Aljir dapat direbut kembali oleh corsair Muslim ini.
Keberhasilan itu dicapai terutama berkat dukungan dari Konstantinopel (pusat Ottoman). Kepada Heyreddin, Sultan Suleiman I al-Qanuni memberikan dana, berbagai artileri, dan lebih dari 2.000 pasukan yanisari. Sokongan demikian dapat dipahami.
Sebab, sejak Januari 1529 Utsmaniyah mendeklarasikan perang terhadap sang penerus raja Spanyol Charles V, Ferdinand I. Baik sultan maupun sang corsair menghadapi musuh bersama, yakni rezim Kristen-Andalusia.
Pada 1531, Hayreddin sukses merebut Tunis untuk Utsmaniyah. Konstantinopel pun kian yakin akan keandalannya sebagai pemimpin pertempuran di lautan. Dua tahun kemudian, dirinya diundang secara khusus ke Ibu Kota. Di hadapan Sultan Suleiman I dan Perdana Menteri Ibrahim Pasha, corsair Muslim itu diangkat sebagai marsekal atau kapudan pasha.
Di bawah kepemimpinan Hayreddin Barbarossa, Angkatan Laut Utsma niyah mencapai masa gemilang. Setelah menjadi kapudan pasha, ia langsung menjalankan ekspedisi militer gabungan Turki-Prancis. Setelah sukses menyerang bandar-bandar di Teluk Naples, sasaran selanjutnya adalah Lazio, Terracina, bahkan Ostia--yang hanya berjarak 30 km dari Roma. Karena itu, pen duduk Roma segera membunyikan lonceng-lonceng gereja mereka se bagai tanda keadaan sangat genting.
Barbarossa Bersaudara, Kisah Bajak Laut Corsair Muslim
Barbarossa turut berjasa dalam menyelamatkan Muslimin yang terusir dari Andalusia. [442] url asal
#sejarah-ottoman #sejarah-turki-utsmaniyah #bajak-laut-barbarossa #barbarossa-bersaudara #bajak-laut-muslim
(Republika - Khazanah) 28/08/24 10:47
v/14802614/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Para pelaut Yunani turut menjadi andalan untuk mendukung kejayaan maritim Turki Utsmaniyah (Ottoman) sejak abad ke-15 M. Di antara yang paling terkemuka adalah Barbarossa Bersaudara. Dua tokohnya yang legendaris, yakni Oruc (Aruj) dan Hayreddin (Khair ad-Din), membawa kebesaran negeri Islam itu di seluruh Laut Mediterania.
Dalam berbagai literatur, Barbarossa Bersaudara kerap disebut sebagai sebuah kelompok bajak laut. Namun, istilah itu pertama-tama mesti ditelaah sesuai dengan konteks zaman mereka.
Bruce Masters dalam artikelnya di Encyclopedia of the Ottoman Empire (2008) menjelaskan, terminologi bajak laut pada akhir abad pertengahan di Eropa tidak bisa serta merta disamakan dengan masa kini. Bajak laut kala itu bukan hanya soal perompakan atau pelbagai bentuk kejahatan lainnya yang terjadi di bahari.
Kawanan bajak laut (pirate) dapat berperan sebagai tiga peran: kelompok liar, abdi negara (privateer), atau di antara keduanya.
Jika menjadi gerombolan liar (outlaw), para bajak laut bertindak demi kepuasan pribadi. Sebagai kelompok privateer, mereka mengabdi kan kepiawaiannya dalam menempuh lautan demi kepentingan sebuah negara; misalnya, mengawal ekspedisi berbendera negara tertentu agar aman saat melintasi kawasan perairan atau merampas kapal-kapal milik armada musuh negara itu.
Masters mengatakan, di Laut Mediterania sejak medio abad ke-14 M, ada peran bajak laut yang sama independennya seperti kelompok outlaw, tetapi mereka bertindak demi kejayaan negeri tertentu. Itulah yang disebut sebagai corsair.
Terminologi corsair berasal dari bahasa Italia, corsaro, yang berakar dari bahasa Latin abad pertengahan, cursarius. Artinya, secara harfiah, `bajak laut' atau 'pelarian.' Pemakaian istilah tersebut, Marsters melanjutkan, mulai marak seiring dengan pecahnya Perang Salib pada abad ke-12.
Kelompok-kelompok corsair pun muncul baik dari kaum Salibis maupun Muslimin. Bahkan, Masters menegaskan, konotasinya di Mediterania cenderung mengatasnamakan agama. Menjadi anggota corsair Kristen berarti menarget kapal-kapal milik Muslim. Menjadi anggota corsair Muslim pun berarti mengincar kapal-kapal berbendera Salib.
Corsair Kristen paling terkenal pada masa itu ialah Ksatria Santo John yang bermarkas di Pulau Malta. Sementara, Barbarossa Bersaudara menjadi corsair termasyhur dari kubu Muslimin.
Sebelum mengabdi pada Kekhalifahan Turki Utsmaniyah, karier Barbarossa bersaudara bermula dari Yunani, tepatnya Lesbos di pesisir timur Laut Aegea. Saat dewasa, mereka berpindah iman dari Kristen menjadi Muslim. Keahliannya dalam menerjang lautan membuatnya cepat terkenal sebagai salah satu kelompok paling tangguh di seluruh Mediterania.
Baik hati
Si sulung yang akrab disapa Baba Oruc berperan besar dalam menolong ribuan umat Islam dan Yahudi Andalusia pada akhir abad ke-15. Para pengungsi itu terusir dari Spanyol akibat gelombang Inkuisisi (Reconquista) sehingga harus menyeberang ke Maghribi (Maroko kini).
Kisah kepahlawanan mereka men jadi buah bibir bagi masyarakat Muslimin Afrika Utara, tetapi justru menjadi stigma di tengah orang-orang Nasrani. Folklor Italia memelesetkan namanya menjadi si janggut merah--barbarossa--dalam bahasa setempat.
Prediksi Ibnu Khaldun yang Terbukti tentang Mesir dan Ottoman
Ibnu Khaldun dikenal sebagai pakar sosiologi [455] url asal
#ibnu-khaldun #muqaddimah-ibnu-khaldun #mesir #sejarah-mesir #ottoman #kesultanan-ottman #kesultanan-utsmaniyah
(Republika - Khazanah) 04/08/24 15:04
v/13247890/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Ibnu Khaldun tidak hanya dikenal sebagai sosiolog terkemuka yang mampu membaca indikasi peradaban, tetapi juga kemampuannya intuisi sejarahnya dan refleksinya terhadap nasib bangsa-bangsa, kebangkitan, kemakmuran, kemerosotan, dan kepunahan, membuatnya membuat prediksi yang jujur mengenai ambisi Utsmaniyah untuk menguasai Mesir.
Muridnya, Ibnu Hajar, mengatakan dalam bukunya 'Raf’u al-Ishr, "Saya mendengar Ibnu Khaldun berulang kali berkata: "Apa yang ditakuti oleh raja Mesir selain dari Ibnu Utsman?
"Ibnu Utsman" di sini berarti Sultan Utsmaniyah Bayezid I (wafat 805 H / 1402 M), tetapi kekalahan Utsmaniyah - dalam "Pertempuran Ankara" yang sangat besar pada tahun 805 H / 1402 M - dalam invasi Mongol ke negara mereka yang dipimpin oleh Timur Lank (wafat 807 H/1405 M) menunda kontrol mereka atas Mesir selama lebih dari satu abad setelah kematian Ibnu Khaldun, tetapi kontrol itu benar-benar terwujud pada pertempuran al-Ridaniya, di utara Kairo, pada tahun 922 H/1402 M 922 H/1517 M, ketika Sultan Utsmaniyah Selim I (wafat 926 H/1520 M) mengalahkan Mamluk yang dipimpin oleh sultan terakhir mereka, Touman Bey (wafat 923 H/1517 M), dan kekuasaan Utsmaniyah atas Mesir berlangsung selama lima abad, terombang-ambing antara kontrol aktual dan nominal!
Pandangan Ibn Khaldun yang berwawasan luas tentang masa depan Jantung Islam di era yang penuh gejolak itu hanya dapat ditandingi oleh pengamatannya - ketika berada di Mesir - terhadap garda depan Renaisans Eropa yang saat itu sedang berkembang di kerajaan-kerajaan Italia utara, dan ekspresinya tentang kecemerlangannya dengan kefasihan dan kecerdikan yang tidak menyembunyikan kesadarannya akan kegagalan kaum Muslimin dalam mengetahui kebenaran tentang apa yang sedang terjadi di sana dan mengambil manfaat darinya sebelum semuanya terlambat.
Waliyuddin mengatakan dalam 'Muqaddimah', "Kita telah mengetahui - pada saat ini - bahwa ilmu-ilmu filsafat di negeri-negeri Franka - dari tanah Roma (= Roma/Italia) dan bagian utara Laut Tengah - laris manis, dan bahwa bayaran mereka di sana diperbarui, dewan-dewan pengajar mereka banyak, buku-buku mereka tersedia dan murid-murid mereka sangat banyak; Allah Maha Tahu!"
Mengingat stabilitas politik dan kemakmuran ekonomi yang dinikmati Mesir pada akhir abad ke-8 H/14 M, berbeda dengan kemunduran peradaban yang terjadi pada saat itu di Barat Islam, yang dia jelaskan secara panjang lebar dalam Pendahuluan, mungkin dapat dikatakan bahwa Ibnu Khaldun mencatat pengamatan awal kebangkitan Eropa ini ketika dia berada di Mesir, yaitu di antara Mesir dan negara bagian Italia.
Mesir memiliki hubungan perdagangan yang luas dengan negara-negara Italia (Genoa, Venesia, dan Florence), yang memungkinkan sejumlah besar pedagang Italia tinggal di Mesir dan berhubungan dengan para elitnya, terutama di antara mereka adalah Ibnu Khaldun, dan dengan demikian prediksinya tentang kebangkitan peradaban Eropa merupakan salah satu hal yang paling jujur dan mendalam yang ia tambahkan ke dalam kitab Al-Muqaddimah-nya ketika ia berada di negeri orang-orang Kenan.
Manfaat Wakaf di Balik Kemajuan Negeri Ottoman
Kekhalifahan Turki Utsmaniyah atau Ottoman maju berkat pengelolaan wakaf yang baik. [488] url asal
#turki-utsmaniyah #ottoman #wakaf #manfaat-wakaf #efek-wakaf
(Republika - Khazanah) 24/07/24 20:02
v/11959753/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Prof Bahaeddin Yediyildiz dan Nazif Ozturk dalam artikel “The Habitable Town and the Turkish Waqf System” (1996) mengatakan, kesejahteraan yang dicapai Kekhalifahan Turki Utsmaniyah atau Ottoman pada masa keemasan berkaitan dengan efektivitas pengelolaan wakaf. Daulah Islam tersebut terbilang sukses mempraktikkan amalan ini secara komprehensif. Hal itu terutama ditunjang oleh berbagai kebijakan yang dibuat para sultan untuk mendorong perkembangan ibadah sosial tersebut.
Alhasil, lanjut kedua akademisi Universitas Hacettepe ini, tiap warga Turki Utsmaniyah kala itu dapat menggunakan berbagai fasilitas secara cuma-cuma. Sejak lahir hingga akhir hayatnya, mereka tidak mesti mengeluarkan uang untuk bisa mendapatkan pelayanan publik.
Singkatnya, rakyat kekhalifahan bisa hidup dengan gratis karena wakaf. “Pemberi wakaf merasakan kebahagiaan dalam membantu orang lain. Begitu pula dengan para penerima wakaf; mereka merasa tenteram lantaran kebutuhan hidupnya terpenuhi. Ini berarti kebahagiaan kolektif yang merangkul semua elemen masyarakat, tanpa konflik satu sama lain, tanpa mengurangi kesenangan satu sama lain,” tulisnya.
Yediyildiz dan Ozturk memberikan satu contoh tentang bagaimana hebatnya pengelolaan wakaf pada masa Utsmaniyah. Kulliye merupakan sebuah kompleks bangunan yang didirikan dari dana wakaf. Di dalamnya, terhimpun berbagai macam kebutuhan publik, semisal dapur umum, toko makanan, pemandian, dan sebagainya. Siapapun dapat menikmatinya secara gratis. Penamaan kompleks tersebut berasal dari kata bahasa Arab, kull, yang berarti ‘seluruhnya.’ Itu menunjukkan pemanfaatan dari area hasil wakaf itu.
Kalangan dengan ekonomi menengah dan atas kerap mewakafkan pabrik, toko, atau hotelnya. Caranya dengan membagi profit atau dividen. Tiap akhir tahun, dividen itu lantas diberikan kepada orang-orang fakir, miskin, atau yang memerlukan pertolongan. Banyak pula pengusaha yang mewakafkan lahan atau bangunan miliknya sebagai tempat berdirinya karavanserai atau han, yakni penginapan bagi musafir.
Bahkan, hewan pun merasakan manfaatnya ...
Maslahat wakaf tidak hanya dirasakan manusia. Bahkan, hewan pun menikmati kebajikan dari ibadah ini. Sebagai contoh, wakaf Pasar Kozahan yang hasil pengelolaannya dipakai untuk mendanai berbagai kegiatan operasional Masjid Agung Bursa. Salah satu alokasi wakaf itu dipakai untuk memberi makan kucing, burung, dan anjing yang kerap ditemui di jalan-jalan kota. Ini sejalan dengan tradisi masyarakat Turki yakni menaburkan gandum di puncak-puncak bukit tiap musim dingin tiba. Tujuannya adalah memberikan makan burung-burung yang kelaparan.
Kebajikan wakaf tak hanya berpusat di kota-kota, tetapi juga daerah. Ambil contoh, salah satu wilayah taklukan Utsmaniyah di Benua Eropa, yakni Balkan. Malahan, semenanjung tersebut kala itu dijuluki sebagai Negeri Wakaf. Sebab, nyaris seluruh pembangunan di sana diselenggarakan dari wakaf. Mengutip Prof Halil Inalcik dalam buku The Ottoman Empire: The Classical Age 1300-1600 (2000), ratusan bangunan berdiri dengan pengelolaan wakaf. Di Bosnia saja, daftarnya mencakup sebanyak 232 perumahan, 18 karavanserai, 32 hostel, 10 pasar, dan 42 jembatan.
Penduduk Bosnia bisa menikmati semua itu dengan gratis. Tak mengherankan bila dalam waktu relatif singkat, masyarakat setempat berduyun-duyun masuk Islam. Melonjaknya jumlah Muslimin di sana terjadi hanya dalam dua dekade pertama sejak Utsmaniyah menguasai negeri itu. Padahal, tak pernah sultan memaksakan mereka untuk memeluk Islam. Penguasa cukup menghadirkan penerapan syariat Islam yang berprinsip rahmat bagi semua (rahmatan lil ‘alamin).
Sosok Pendiri Turki Utsmaniyah dan Pesannya yang Mengharukan
Osman Ghazi mendirikan Turki Utsmaniyah pada awal abad ke-14 M. [423] url asal
#turki-utsmaniyah #kekhalifahan-turki-utsmaniyah #ottoman #sejarah-turki-utsmaniyah #pendiri-turki-utsmaniyah #osman-ghazi
(Republika - Khazanah) 11/07/24 10:37
v/10406003/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam buku Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, Prof Ali Muhammad ash-Shalabi melukiskan sosok Osman Ghazi, sang pendiri Dinasti Turki Utsmaniyah. Tokoh yang wafat pada tahun 1323 M ini digambarkan sebagai seorang pemimpin yang saleh.
Osman Ghazi dekat dengan kaum ulama. Seorang sufi, Syekh Edebali, merupakan guru dan sekaligus mertuanya.
Mursyid tarekat itu memberikan kepadanya sebilah pedang. Senjata tersebut menyimbolkan bahwa kekuasaan merupakan amanah dari Allah SWT.
Karena itu, pemerintahan yang diselenggarakannya mesti selaras dengan syariat agama. Hingga abad ke-16 M, Pedang Osman menjadi tradisi yang selalu dilakukan kalangan istana Utsmaniyah tiap momen pengangkatan raja baru.
Osman juga pernah bermimpi mendapatkan sinar terang. Sang syekh menakwilkan mimpi itu bahwa menantunya ini kelak akan memperoleh kekuasaan yang besar.
Menjelang wafatnya, Osman memberikan banyak nasihat kebajikan kepada putra-putranya. Seperti dirangkum ash-Shalabi dari Mas'at Bani Utsman, berikut ini beberapa petuah bijak dari sang peletak fondasi Dinasti Utsmaniyah.
“Sungguh, saya akan berpindah ke haribaan Tuhan. Saya akan sangat bangga jika eng kau menjadi sosok yang adil terhadap rakyat, berjihad di jalan Allah, dan menyebarkan syiar Islam.
Wahai anak-anakku! Kuwasiatkan kepadamu agar dekat dengan alim ulama. Perhatikanlah mereka. Hormatilah mereka. Selalu ber musyawarah dengan mereka. Sebab, para ahli ilmu tidak akan pernah menyuruh kecuali pada kebaikan.
Ketahuilah, wahai anak-anakku, bahwa jalan kita satu-satunya di dunia ini adalah jalan Allah. Tujuan kita satu-satunya adalah menyebarkan agama Allah. Kita bukanlah orang yang mencari kedudukan dan dunia.”
Menurut ash-Shalabi, pesan-pesan itulah yang menjiwai tekad para penguasa Utsmaniyah, khususnya dalam periode awal dinasti Turk tersebut. Karena itu, mereka amat memperhatikan pembangunan peradaban Islam.
Para sultan Turki berambisi merealisasikan sabda Nabi Muhammad SAW mengenai penaklukan Konstantinopel. Berabad-abad silam, Rasulullah SAW pernah ditanya oleh para sahabat, Manakah yang lebih dahulu jatuh ke tangan Muslimin, Konstantinopel atau Roma? Maka beliau menjawab, "Kota Heraklius (Konstantinopel)."
Nabi SAW juga menegaskan, sebaik-baik pemimpin adalah yang memimpin penaklukkan Konstantinopel; sebaik-baik pasukan adalah pasukan yang menaklukkan kota itu.
Hingga tutup usia, Osman tidak jua menyaksikan jatuhnya Konstantinopel ke tangan umat Islam. Barulah pada pertengahan abad ke-16 M, nubuat Nabi Muhammad SAW terbukti menjadi kenyataan.
Seorang keturunan Osman Ghazi, yakni Mehmed II, berhasil memimpin pasukan Utsmaniyah dan menguasai Konstantinopel. Dengan menerapkan strategi yang brilian serta upaya-upaya yang pantang menyerah, dia dapat memasuki jantung Romawi Timur itu pada 29 Mei 1453 M.
Beberapa dekade kemudian, Turki Utsmaniyah resmi berstatus kekhalifahan. Ini setelah raja Utsmaniyah saat itu dapat mengendalikan pemerintahan atas tiga tanah suci Muslim: Makkah, Madinah, dan Baitul Madis. Demikianlah, Impian Osman terwujud.
Jalanan Kota Turki Ramai Hewan Liar: Anjing, Kucing, Hingga Burung, Ini Akar Sejarahnya | Republika Online
Kesultanan Ottoman menghormati keberadaan binatang [840] url asal
#kota-istanbul #istanbul-turki #anjing-di-turki #kucing-di-turki #anjing-di-jalanan-istanbul #anjing-di-jalanan-turki #ottoman #utsmaniyah #kesultanan-ottoman
(Republika - Khazanah) 05/07/24 22:33
v/9838751/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Jika Anda pernah mengunjungi kota-kota di Turki, akan mendapati banyaknya binatang liar seperti anjing dan kucing hidup dengan aman dan nyaman di jalan. Pemandangan ini pun banyak diceritakan banyak media.
Pemandangan ini, ternyata tak lepas dari tradisi yang kuat dari Kesultanan Ottoman atau Utsmaniyah. Dikutip dari Daily Sabah, Jumat (5/7/2024), selama era Ottoman, orang-orang biasa meringkas iman sebagai "menghormati firman Allah dan makhluk-Nya"; oleh karena itu, mereka tidak mengabaikan hewan, sementara mereka membantu orang yang membutuhkan.
Menurut budaya Islam, orang harus menghindari ketidakadilan terhadap orang lain, dan menempatkan hak-hak hewan di atas hak asasi manusia karena manusia dapat mengkompensasi kesalahan terhadap orang lain dengan meminta maaf, tetapi hal itu tidak mungkin dilakukan terhadap hewan karena mereka tidak memiliki akal.
Nabi Muhammad SAW menceritakan kisah tentang dua orang wanita ta yang hidup jauh sebelum zamannya. Seperti yang beliau ceritakan, seorang wanita jahat masuk surga karena dia memberi minum seekor anjing, sementara wanita baik masuk neraka karena dia membuat seekor kucing kelaparan sampai mati.
Karena takut akan cerita ini, orang-orang di masa lalu memberi makan hewan-hewan mereka sebelum mereka duduk untuk makan dan tidak tidur sebelum mereka membersihkan hewan-hewan di kandang mereka dan memeriksa apakah mereka memiliki air dan pakan.
Selain itu, pemerintah menghukum mereka yang membawa unggas di kandang secara terbalik atau membawa kuda atau keledai dengan beban berlebih, dan orang-orang yang menyakiti hewan akan diasingkan dari komunitas mereka di Kekaisaran Ottoman.
Masjid Kediler (Kucing)
Utsmaniyah mendirikan yayasan untuk memberi makan anjing jalanan dan serigala di pegunungan, menyediakan air untuk burung pada hari-hari musim panas, dan merawat bangau yang sayapnya patah atau kuda yang terluka.
Mereka juga membangun sangkar burung di halaman gedung-gedung seperti masjid, madrasah dan istana serta menempatkan tempat air di atas batu nisan untuk burung.
Dalam arsip Utsmaniyah, kita dapat menemukan catatan-catatan menarik tentang yayasan yang mengungkapkan kecintaan dan kasih sayang masyarakat terhadap hewan pada masa itu.
Müreselli İbrahim Ağa dari İzmir menyumbangkan...
Müreselli İbrahim Ağa dari İzmir menyumbangkan 100 kuruş setiap tahun ke Masjid Ödemiş Yeni untuk memelihara burung bangau di sekitar masjid pada 1307.
Pada 1544, Lütfi Pasha menghadiahkan air mancur, lubang air, dan kolam untuk para pelancong dan hewan-hewan mereka yang melewati distrik Tirus di İzmir, dan pada 1558, gubernur Adana, Ramazanoğlu Piri Pasha, menyumbangkan padang rumput untuk hewan-hewan tunggangan dan ternak untuk digembalakan.
Dalam piagam sertifikat Yayasan Hacı Seyyid Mustafa di Rumelihisarı, tertulis, "Anjing-anjing liar harus diberi makan dengan roti segar seharga 30 akçe (koin perak) setiap hari." Selain itu, Yayasan Çandarluzade Mehmed Bey menyumbangkan sebuah rumah pertanian untuk merawat merpati pada 1707.
Ada juga Masjid Kediler di Damaskus, Suriah, yang juga merupakan yayasan yang didirikan untuk anak kucing jalanan. Pengurus masjid memberi makan ratusan anak kucing dengan hati.
Selain itu, area dari Marjeh Square ke Mezzeh, termasuk Universitas Damaskus dan Damascus Fair, adalah milik sebuah yayasan yang didirikan untuk menampung hewan tunggangan yang sudah tua atau terluka. Alih-alih menembak atau membiarkannya mati, pemiliknya menitipkan hewan-hewan tersebut di sini untuk mendapatkan perawatan profesional.
Terletak di distrik Beyazıt, Istanbul, Perpustakaan Nasional Istanbul dulunya disebut "Perpustakaan Kucing", karena mantan manajernya, İsmail Saib Sencer, merawat ratusan kucing jalanan pada abad ke-20.
Selalu ada orang-orang yang merawat dan memberi makan ratusan kucing, terutama orang-orang yang tidak memiliki anak atau tidak mendapatkan perhatian yang cukup dari mereka untuk menyalurkan kasih sayang dan cinta mereka kepada hewan-hewan yang membutuhkan.
Rumah Sakit Bangau
Selama periode Ottoman, setiap rumah di kota-kota memiliki taman kecil dan kandang unggas. Kucing adalah bagian tak terpisahkan dari rumah-rumah kayu tua, yang dipenuhi tikus, dan mereka seperti anak-anak dari rumah-rumah tersebut, yang kebanyakan membuat iri.
Burung bangau, merpati, burung pipit, dan burung layang-layang juga dapat membangun sarang mereka di atap rumah mana pun tanpa rasa takut. Meskipun mereka adalah burung yang dagingnya bisa dimakan, tidak ada yang pernah berpikir untuk memburunya.
Rumah Sakit Bangau di provinsi Bursa, yang juga dikenal sebagai "Gurabahâne-i Laklakan" (Rumah untuk Bangau yang Terluka), didirikan untuk bangau yang sayapnya patah. Bangunan yang masih berdiri ini juga ditampilkan dalam banyak cerita sejarah. Setelah bangau-bangau tersebut dirawat dan disembuhkan, mereka kemudian dibebaskan.
Anda dapat melihat batu berbentuk piring yang diletakkan di depan beberapa rumah tua untuk memberi makan hewan jalanan. Sisa makanan dan tulang-tulang ditinggalkan di atas batu-batu ini untuk anjing dan kucing jalanan. Saat anjing-anjing berbagi makanan ini, mereka tidak berkelahi di jalanan.
Meskipun anjing-anjing jalanan di Istanbul zaman dahulu sangat terkenal, pemerintah kota mengumpulkan mereka semua pada 1909, mengangkutnya ke sebuah pulau di Laut Marmara dan menelantarkannya. Mereka tidak diberi makanan dan air bersih, dan tangisan mereka terdengar di seluruh kota.
Orang-orang yang iba melemparkan makanan kepada mereka, tetapi ketika semua anjing ini mati di pulau itu, penduduk kota merasa terganggu dengan bau bangkai mereka. Perang yang terjadi dan kekalahan kekaisaran setelah kejadian ini dipandang sebagai hukuman atas apa yang dilakukan terhadap hewan-hewan tersebut.
Sumber: dailysabah
Di Jalanan Kota Turki Banyak Hewan Liar dari Anjing Hingga Kucing, Ini Akar Sejarahnya | Republika Online
Kesultanan Ottoman menghormati keberadaan binatang [840] url asal
#kota-istanbul #istanbul-turki #anjing-di-turki #kucing-di-turki #anjing-di-jalanan-istanbul #anjing-di-jalanan-turki #ottoman #utsmaniyah #kesultanan-ottoman
(Republika - Khazanah) 05/07/24 22:33
v/9790390/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Jika Anda pernah mengunjungi kota-kota di Turki, akan mendapati banyaknya binatang liar seperti anjing dan kucing hidup dengan aman dan nyaman di jalan. Pemandangan ini pun banyak diceritakan banyak media.
Pemandangan ini, ternyata tak lepas dari tradisi yang kuat dari Kesultanan Ottoman atau Utsmaniyah. Dikutip dari Daily Sabah, Jumat (5/7/2024), selama era Ottoman, orang-orang biasa meringkas iman sebagai "menghormati firman Allah dan makhluk-Nya"; oleh karena itu, mereka tidak mengabaikan hewan, sementara mereka membantu orang yang membutuhkan.
Menurut budaya Islam, orang harus menghindari ketidakadilan terhadap orang lain, dan menempatkan hak-hak hewan di atas hak asasi manusia karena manusia dapat mengkompensasi kesalahan terhadap orang lain dengan meminta maaf, tetapi hal itu tidak mungkin dilakukan terhadap hewan karena mereka tidak memiliki akal.
Nabi Muhammad SAW menceritakan kisah tentang dua orang wanita ta yang hidup jauh sebelum zamannya. Seperti yang beliau ceritakan, seorang wanita jahat masuk surga karena dia memberi minum seekor anjing, sementara wanita baik masuk neraka karena dia membuat seekor kucing kelaparan sampai mati.
Karena takut akan cerita ini, orang-orang di masa lalu memberi makan hewan-hewan mereka sebelum mereka duduk untuk makan dan tidak tidur sebelum mereka membersihkan hewan-hewan di kandang mereka dan memeriksa apakah mereka memiliki air dan pakan.
Selain itu, pemerintah menghukum mereka yang membawa unggas di kandang secara terbalik atau membawa kuda atau keledai dengan beban berlebih, dan orang-orang yang menyakiti hewan akan diasingkan dari komunitas mereka di Kekaisaran Ottoman.
Masjid Kediler (Kucing)
Utsmaniyah mendirikan yayasan untuk memberi makan anjing jalanan dan serigala di pegunungan, menyediakan air untuk burung pada hari-hari musim panas, dan merawat bangau yang sayapnya patah atau kuda yang terluka.
Mereka juga membangun sangkar burung di halaman gedung-gedung seperti masjid, madrasah dan istana serta menempatkan tempat air di atas batu nisan untuk burung.
Dalam arsip Utsmaniyah, kita dapat menemukan catatan-catatan menarik tentang yayasan yang mengungkapkan kecintaan dan kasih sayang masyarakat terhadap hewan pada masa itu.
Müreselli İbrahim Ağa dari İzmir menyumbangkan...
Müreselli İbrahim Ağa dari İzmir menyumbangkan 100 kuruş setiap tahun ke Masjid Ödemiş Yeni untuk memelihara burung bangau di sekitar masjid pada 1307.
Pada 1544, Lütfi Pasha menghadiahkan air mancur, lubang air, dan kolam untuk para pelancong dan hewan-hewan mereka yang melewati distrik Tirus di İzmir, dan pada 1558, gubernur Adana, Ramazanoğlu Piri Pasha, menyumbangkan padang rumput untuk hewan-hewan tunggangan dan ternak untuk digembalakan.
Dalam piagam sertifikat Yayasan Hacı Seyyid Mustafa di Rumelihisarı, tertulis, "Anjing-anjing liar harus diberi makan dengan roti segar seharga 30 akçe (koin perak) setiap hari." Selain itu, Yayasan Çandarluzade Mehmed Bey menyumbangkan sebuah rumah pertanian untuk merawat merpati pada 1707.
Ada juga Masjid Kediler di Damaskus, Suriah, yang juga merupakan yayasan yang didirikan untuk anak kucing jalanan. Pengurus masjid memberi makan ratusan anak kucing dengan hati.
Selain itu, area dari Marjeh Square ke Mezzeh, termasuk Universitas Damaskus dan Damascus Fair, adalah milik sebuah yayasan yang didirikan untuk menampung hewan tunggangan yang sudah tua atau terluka. Alih-alih menembak atau membiarkannya mati, pemiliknya menitipkan hewan-hewan tersebut di sini untuk mendapatkan perawatan profesional.
Terletak di distrik Beyazıt, Istanbul, Perpustakaan Nasional Istanbul dulunya disebut "Perpustakaan Kucing", karena mantan manajernya, İsmail Saib Sencer, merawat ratusan kucing jalanan pada abad ke-20.
Selalu ada orang-orang yang merawat dan memberi makan ratusan kucing, terutama orang-orang yang tidak memiliki anak atau tidak mendapatkan perhatian yang cukup dari mereka untuk menyalurkan kasih sayang dan cinta mereka kepada hewan-hewan yang membutuhkan.
Rumah Sakit Bangau
Selama periode Ottoman, setiap rumah di kota-kota memiliki taman kecil dan kandang unggas. Kucing adalah bagian tak terpisahkan dari rumah-rumah kayu tua, yang dipenuhi tikus, dan mereka seperti anak-anak dari rumah-rumah tersebut, yang kebanyakan membuat iri.
Burung bangau, merpati, burung pipit, dan burung layang-layang juga dapat membangun sarang mereka di atap rumah mana pun tanpa rasa takut. Meskipun mereka adalah burung yang dagingnya bisa dimakan, tidak ada yang pernah berpikir untuk memburunya.
Rumah Sakit Bangau di provinsi Bursa, yang juga dikenal sebagai "Gurabahâne-i Laklakan" (Rumah untuk Bangau yang Terluka), didirikan untuk bangau yang sayapnya patah. Bangunan yang masih berdiri ini juga ditampilkan dalam banyak cerita sejarah. Setelah bangau-bangau tersebut dirawat dan disembuhkan, mereka kemudian dibebaskan.
Anda dapat melihat batu berbentuk piring yang diletakkan di depan beberapa rumah tua untuk memberi makan hewan jalanan. Sisa makanan dan tulang-tulang ditinggalkan di atas batu-batu ini untuk anjing dan kucing jalanan. Saat anjing-anjing berbagi makanan ini, mereka tidak berkelahi di jalanan.
Meskipun anjing-anjing jalanan di Istanbul zaman dahulu sangat terkenal, pemerintah kota mengumpulkan mereka semua pada 1909, mengangkutnya ke sebuah pulau di Laut Marmara dan menelantarkannya. Mereka tidak diberi makanan dan air bersih, dan tangisan mereka terdengar di seluruh kota.
Orang-orang yang iba melemparkan makanan kepada mereka, tetapi ketika semua anjing ini mati di pulau itu, penduduk kota merasa terganggu dengan bau bangkai mereka. Perang yang terjadi dan kekalahan kekaisaran setelah kejadian ini dipandang sebagai hukuman atas apa yang dilakukan terhadap hewan-hewan tersebut.
Sumber: dailysabah