#30 tag 24jam
Dikunjungi Paus, Intip Kemegahan Masjid Istiqlal dan Terowongan Silaturahmi
Terowongan Masjid Istiqlal dibangun dengan gaya modern dan teknologi Green building. [398] url asal
#terowongan-istiqlal #tunnel-masjid-istiqlal #masjid-istiqlal #katedral #paus-fransiskus #paus-fransiskus-ke-masjid-istiqlal #kunjungan-paus-fransiskus #green-building
(Republika - Ekonomi) 05/09/24 15:35
v/14899001/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Paus Fransiskus menyempatkan diri mengunjungi Masjid Istiqlal di Jakarta. Masjid terbesar di Asia Tenggara ini telah mengalami renovasi signifikan yang dikerjakan oleh PT Waskita Karya (Persero) Tbk. Dalam kunjungannya ke Indonesia, Paus Fransiskus tidak hanya bertemu dengan pemimpin agama, tetapi juga mengunjungi Terowongan Silaturahmi yang baru dibangun.
Corporate Secretary Waskita Karya, Ermy Puspa Yunita, terowongan yang terletak di antara Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta ini memiliki panjang tunnel 28,3 meter, tinggi tiga meter, lebar 4,1 meter, luas terowongan area tunnel mencapai 136 meter persegi, serta total luas shelter dan tunnel mencapai 226 meter persegi.
"Terowongan Silaturahmi tidak hanya sebagai penghubung, tetapi juga simbol kerukunan antarumat beragama, khususnya antara umat Islam dan Katolik," ujar Ermy dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (5/9/2024).
Ermy mengatakan arsitektur terowongan itu dibangun dengan gaya modern, yakni mengangkat eksterior menggunakan material transparan. Hal ini membuat kecantikan desain Masjid Istiqlal dari Gereja Katedral tidak terhalang dari terowongan. Perseroan, kata dia, merasa bangga bisa membangun terowongan itu sekaligus merenovasi dan menjadi
bagian dari pembangunan masjid kenegaraan tersebut.
"Kami berupaya tetap menjaga nilai sejarah, budaya, dan kemegahan Masjid Istiqlal yang selama ini menjadi perhatian dunia," ucap Ermy.
Ermy menyampaikan renovasi Masjid Istiqlal yang dimulai pada 2019 dan selesai pada Januari 2021 ini mencakup pembaruan tata pencahayaan dengan teknologi green building.
"Selain itu, pencahayaan luar masjid juga diperbaiki untuk memperindah tampilan kubah saat malam hari. Waskita Karya juga memperbarui sungai yang membelah masjid untuk memberikan kesan lebih rapi dan estetis," lanjut Ermy.
Ermy menyampaikan pembaruan tata pencahayaan yang menyinari bagian kubahnya membuat masjid berkapasitas 120 ribu jamaah ini terlihat lebih bersinar saat malam hari. Ermy mengatakan Waskita berkomitmen memaksimalkan fungsi masjid sebagai tempat ibadah, sekaligus juga memperhatikan aspek arsitektur, seni, serta estetika.
Ermy menambahkan, meskipun tampak seperti baru setelah renovasi, nilai sejarah dan budaya masjid tetap dijaga. Renovasi ini merupakan yang pertama dilakukan sejak 42 tahun lalu dengan biaya mencapai Rp 511 miliar yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
"Masjid Istiqlal diharapkan menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia, dan kunjungan Paus Fransiskus semakin menegaskan statusnya sebagai simbol masjid di Tanah Air," kata Ermy.
Selain Masjid Istiqlal, lanjut Ermy, Waskita Karya juga dikenal dengan proyek pembangunan dan renovasi masjid-masjid besar di Indonesia, termasuk Masjid Sheikh Zayed di Solo, Masjid Nasional Al Akbar di Surabaya, dan Masjid Agung di Jawa Tengah, serta renovasi Masjid Baiturrahman Aceh dan Semarang.
Muhammad Nursyamsi
Ayat Quran Dibacakan di Depan Paus Bermakna Orang Nasrani Pun Dapat Pahala, Ini Tafsirnya
Qariah melantunkan dengan merdu dua ayat Alquran di hadapan Paus. [793] url asal
#paus-fransiskus-ke-istana #paus-fransiskus-ke-masjid-istiqlal #ayat-alquran-di-depan-paus #ayat-alquran-dibacakan-di-depan-paus-fransiskus #tafsir-ayat-alquran-yang-dibacakan-di-depan-paus-fransiskus
(Republika - Iqra) 05/09/24 14:00
v/14940967/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Paus Fransiskus menyambangi Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (5/9/2024), pada hari kedua agenda perjalanan Apolistiknya di Indonesia. Saat acara dibuka, Paus yang tampak duduk berdampingan dengan Imam Besar Masjid Istiqlal Prof KH Nasaruddin Umar tampak mendengarkan dengan khusyuk pembacaan kalam Ilahi yakni ayat-ayat suci Alquran dan pembacaan injil.
Qariah melantunkan dengan merdu dua ayat suci Alquran yakni Al-Baqarah ayat 62 dan Al-Hujurat ayat 13 di depan pemimpin umat Katolik tertinggi di dunia tersebut. Ayat Alquran dalam surah Al-Baqarah mengungkap tentang bagaimana sesungguhnya orang beriman, Yahudi, Nasrani, sabiin, ternyata juga mendapatkan pahala di sisi Tuhannya.
اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَالَّذِيْنَ هَادُوْا وَالنَّصٰرٰى وَالصَّابِــِٕيْنَ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْۚ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ
innallażīna āmanụ wallażīna hādụ wan-naṣārā waṣ-ṣābi`īna man āmana billāhi wal-yaumil-ākhiri wa 'amila ṣāliḥan fa lahum ajruhum 'inda rabbihim, wa lā khaufun 'alaihim wa lā hum yaḥzanụn
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang sabi'in, siapa saja (di antara mereka) yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati." (QS Al-Baqarah:62).
Tafsir Al Azhar karangan Buya Hamka mengungkapkan tentang ayat tersebut sebagai berikut: "Inilah janjian yang adil dari Tuhan kepada seluruh manusia, tidak pandang dalam agama yang mana mereka hidup, atau merk apa yang diletakkan kepada diri mereka, namun mereka masing-masing akan mendapat ganjaran atau pahala di sisi Tuhan, sepadan dengan iman dan amal shalih yang telah mereka kerjakan itu. 'Dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berduka cita (ujung ayat 62/hlm 21).
Yang menarik, Hamka dengan santun menolak bahwa ayat telah dihapuskan (mansukh) oleh ayat 85 surat surat Ali 'Imran yang artinya: "Dan barangsiapa yang mencari selain dari Islam menjadi agama, sekali-kali tidaklah akan diterima daripadanya. Dan di Hari Akhirat akan termasuk orang-orang yang rugi." (hlm 217).
Alasan Hamka bahwa ayat ini tidak menghapuskan ayat 62 itu sebagai berikut: "Ayat ini bukanlah menghapuskan (nasikh) ayat yang sedang kita tafsirkan ini melainkan memperkuatnya. Sebab hakikat Islam ialah percaya kepada Allah dan Hari Akhirat. Percaya kepada Allah, artinya percaya kepada segala firmannya, segala Rasulnya dengan tidak terkecuali. Termasuk percaya kepada Nabi Muhammad SAW. dan hendaklah iman itu diikuti oleh amal yang shalih." (Hlm 217).
"Kalau dikatakan bahwa ayat ini dinasikhkan oleh ayat 85 surat Ali 'Imran itu, yang akan tumbuh ialah fanatik; mengakui diri Islam, walaupun tidak pernah mengamalkannya. Dan surga itu hanya dijamin untuk kita saja. Tetapi kalau kita pahamkan bahwa di antara kedua ayat ini adalah lengkap melengkapi, maka pintu da'wah senantiasa terbuka, dan kedudukan Islam tetap menjadi agama fitrah, tetap (tertulis tetapi) dalam kemurniannya, sesuai dengan jiwa asli manusia." (Hlm 217).
Tentang neraka, Hamka bertutur: "Dan neraka bukanlah lobang-lobang api yang disediakan di dunia ini bagi siapa yang tidak mau masuk Islam, sebagaimana yang disediakan oleh Dzi Nuwas Raja Yahudi di Yaman Selatan, yang memaksa penduduk Najran memeluk agama Yahudi, padahal mereka telah memegang agama Tauhid. Neraka adalah ancaman di hari akhirat esok, karena menolak kebenaran." (Hlm 218).
Sikap Hamka yang menolak bahwa ayat 62 Al Baqarah dan ayat 69 Al Maidah telah dimansukhkan oleh ayat 85 surat Ali 'Imran adalah sebuah keberanian seorang mufasir yang rindu melihat dunia ini aman untuk didiami siapa saja, mengaku beragama atau tidak, asal saling menghormati dan saling menjaga pendirian masing-masing.
Tafsir yang berbeda
Berbeda dengan Tafsir Al-Azhar, Tafsir Al-Madinah Al-Munawarah yang dirilis olehMarkaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Universitas Islam Madinah, mengungkapkan makna yang berbeda. Berikut tafsir ayat tersebut yang ditukil dari tafsirweb:
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, orang-orang Yahudi, Nasrani, dan orang-orang yang keluar dari agama Yahudi dan Nasrani; mereka semua jika beriman kepada Allah dan hari akhir serta melakukan amal shalih, maka bagi mereka pahala atas keimanan dan amal shalih mereka, dan mereka tidak akan ditimpa rasa takut dari siksaan. Namun mereka adalah orang-orang yang berada pada zaman sebelum diutusnya Nabi Muhammad; adapun orang-orang yang berada pada zaman setelah Nabi Muhammad diutus maka mereka diperintahkan untuk beriman kepadanya."
Sementara itu, Tafsir Al-Mukhtashar yang diterbitkan Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram, mengungkapkan:
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman -baik dari umat ini maupun dari umat-umat di masa lalu sebelum kenabian Muhammad -'alaihiṣ ṣalātu was salām-, yakni kaum Yahudi, Nasrani dan Ṣābiah (pengikut beberapa orang nabi yang memiliki keimanan pada Allah dan hari Akhir)- akan mendapatkan ganjaran dari Rabb mereka, tidak ada kekhawatiran bagi mereka atas apa yang akan mereka hadapi di akhirat, dan mereka tidak akan bersedih hati atas kenikmatan dunia yang terlewatkan."
Akar Toleransi, Ini Tafsir Surah Alhujurat Ayat 13 yang Dibacakan di Depan Paus Fransiskus
Alhujurat ayat 13 berbicara tentang manusia yang diciptakan berbangsa dan bersuku. [979] url asal
#paus-fransiskus-ke-masjid-istiqlal #ayat-alquran-yang-dibacakan-qari #tafsir-ayat-alquran-yang-dibacakan-paus #alhujurat-ayat-13 #tafsir-alhujurat-ayat-13 #kunjungan-paus-fransiskus
(Republika - Iqra) 05/09/24 14:00
v/14940966/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Selain membacakan Alquran Surah Al-Baqarah ayat 62, Qariah pun melantunkan satu ayat lainnya yang tidak kalah merdu di hadapan pemimpin Katolik tertinggi di dunia,Paus Fransiskus, saat menyambangi Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (5/9/2024).
Paus yang tampak duduk berdampingan dengan Imam Besar Masjid Istiqlal Prof KH Nasaruddin Umar tampak mendengarkan dengan khusyuk pembacaan kalam Ilahi yakni ayat-ayat suci Alquran yang diikuti dengan pembacaan injil tersebut. Berikut AlquranAl-Hujurat ayat 13
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Yā ayyuhan-nāsu innā khalaqnākum min żakariw wa unṡā wa ja'alnākum syu'ụbaw wa qabā`ila lita'ārafụ, inna akramakum 'indallāhi atqākum, innallāha 'alīmun khabīr
Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. (QS Al-Hujurat Ayat 13)
Tafsir Ibnu Katsir mengungkapkan terkait tafsir ayat tersebut. Allah SWT menceritakan kepada manusia bahwa Dia telah menciptakan mereka dari diri yang satu dan darinya Allah menciptakan istrinya, yaitu Adam dan Hawa. Kemudian Dia menjadikan mereka berbangsa-bangsa. Pengertian bangsa dalam bahasa Arab adalah sya 'bun yang artinya lebih besar daripada kabilah, sesudah kabilah terdapat tingkatan-tingkatan lainnya yang lebih kecil seperti fasa-il (puak), 'asya-ir (Bani), 'ama-ir, Afkhad, dan lain sebagainya.
Menurut suatu pendapat, yang dimaksud dengan syu'ub ialah kabilah-kabilah yang non-Arab. Sedangkan yang dimaksud dengan kabilah-kabilah ialah khusus untuk bangsa Arab, seperti halnya kabilah Bani Israil disebut Asbat. Keterangan mengenai hal ini telah kami jabarkan dalam mukadimah terpisah yang sengaja kami himpun di dalam kitab Al-Asybah karya Abu Umar ibnu Abdul Bar, juga dalam mukadimah kitab yang berjudul Al-Qasdu wal Umam fi Ma'rifati Ansabil Arab wal 'Ajam.
Pada garis besarnya semua manusia bila ditinjau dari unsur kejadiannya —yaitu tanah liat— sampai dengan Adam dan Hawa As sama saja. Sesungguhnya perbedaan keutamaan di antara mereka karena perkara agama, yaitu ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Karena itulah sesudah melarang perbuatan menggunjing dan menghina orang lain.
Punya martabat yang sama..
Allah SWT berfirman mengingatkan mereka, bahwa mereka adalah manusia yang mempunyai martabat yang sama:
{يَاأَيُّهَاالنَّاسُإِنَّاخَلَقْنَاكُمْمِنْذَكَرٍوَأُنْثَىوَجَعَلْنَاكُمْشُعُوبًاوَقَبَائِلَلِتَعَارَفُوا}
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. (Al-Hujurat: 13)
Agar mereka saling mengenal di antara sesamanya, masing-masing dinisbatkan kepada kabilah (suku atau bangsa)nya.
Mujahid telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: supaya kamu saling kenal-mengenal. (Al-Hujurat: 13) Seperti disebutkan si Fulan bin Fulan dari kabilah atau bangsa yang berbeda.
Sufyan As-Sauri mengatakan bahwa orang-orang Himyar menisbatkan dirinya kepada sukunya masing-masing, dan orang-orang Arab Hijaz menisbatkan dirinya kepada kabilahnya masing-masing.
قَالَأَبُوعِيسَىالتِّرْمِذِيُّ:حَدَّثَنَاأَحْمَدُبْنُمُحَمَّدٍ،حَدَّثَنَاعَبْدُاللَّهِبْنُالْمُبَارَكِ،عَنْعَبْدِالْمَلِكِبْنِعِيسَىالثَّقَفِيِّ،عَنْيَزِيدَ-مَوْلَىالْمُنْبَعِثِ-عَنْأَبِيهُرَيْرَةَ،عَنِالنَّبِيِّصَلَّىاللَّهُعَلَيْهِوَسَلَّمَقَالَ: "تَعَلَّمُوامِنْأَنْسَابِكُمْمَاتَصِلُونَبِهِأَرْحَامَكُمْ؛فَإِنَّصِلَةَالرَّحِمِمَحَبَّةٌفِيالْأَهْلِ،مَثْرَاةٌفِيالْمَالِ،مَنْسَأَةٌفِيالْأَثَرِ".
Abu Isa At-Turmuzi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnul Mubarak, dari Abdul Malik ibnu Isa As-Saqafi, dari Yazid Mula Al-Munba'is, dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Pelajarilah nasab-nasab kalian untuk mempererat silaturahmi (hubungan keluarga) kalian, karena sesungguhnya silaturahmi itu menanamkan rasa cinta kepada kekeluargaan, memperbanyak harta, dan memperpanjang usia.
Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini garib, ia tidak mengenalnya melainkan hanya melalui jalur ini.
Firman Allah SWT :
{إِنَّأَكْرَمَكُمْعِنْدَاللَّهِأَتْقَاكُمْ}
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. (Al-Hujurat: 13)
Yakni sesungguhnya kalian berbeda-beda dalam keutamaan di sisi Allah hanyalah dengan ketakwaan, bukan karena keturunan dan kedudukan. Sehubungan dengan hal ini banyak hadis Rasulullah SAW. yang menerangkannya.
قَالَالْبُخَارِيُّرَحِمَهُاللَّهُ:حَدَّثَنَامُحَمَّدُبْنُسَلَامٍ،حَدَّثَنَاعَبْدَةُ،عَنْعُبَيْدِاللَّهِ،عَنْسَعِيدُبْنُأَبِيسَعِيدٍ،عَنْأَبِيهُرَيْرَةَقَالَ:سُئِلَرَسُولُاللَّهِصَلَّىاللَّهُعَلَيْهِوَسَلَّمَ:أَيُّالنَّاسِأَكْرَمُ؟قَالَ: "أَكْرَمُهُمْعِنْدَاللَّهِأَتْقَاهُمْ"قَالُوا:لَيْسَعَنْهَذَانَسْأَلُكَ.قَالَ: "فَأَكْرَمُالنَّاسِيُوسُفُنَبِيُّاللَّهِ،ابْنُنَبِيِّاللَّهِ،ابْنِخَلِيلِاللَّهِ".قَالُوا:لَيْسَعَنْهَذَانَسْأَلُكَ.قَالَ: "فَعَنْمَعَادِنِالْعَرَبِتَسْأَلُونِي؟"قَالُوا:نَعَمْ.قَالَ: "فَخِيَارُكُمْفِيالْجَاهِلِيَّةِخِيَارُكُمْفِيالْإِسْلَامِإِذَافَقِهُوا"
Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Salam, telah menceritakan kepada kami Abdah, dari Ubaidillah, dari Sa'id ibnu Abu Sa'id r.a., dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah ditanya mengenai orang yang paling mulia, siapakah dia sesungguhnya? Maka Rasulullah Saw. menjawab: Orang yang paling mulia di antara mereka di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Mereka mengatakan, "Bukan itu yang kami maksudkan." Rasulullah Saw. bersabda: Orang yang paling mulia ialah Yusuf Nabi Allah, putra Nabi Allah dan juga cucu Nabi Allah, yaitu kekasih Allah. Mereka mengatakan, "Bukan itu yang kami maksudkan." Rasulullah Saw. balik bertanya, "Kamu maksudkan adalah tentang kemuliaan yang ada di kalangan orang-orang Arab?" Mereka menjawab, "Ya." Maka Rasulullah Saw. bersabda: Orang-orang yang terhormat dari kalian di masa Jahiliah adalah juga orang-orang yang terhormat dari kalian di masa Islam jika mereka mendalami agamanya.
Imam Bukhari meriwayatkan hadis ini bukan hanya pada satu tempat melainkan melalui berbagai jalur dari Abdah ibnu Sulaiman. Imam Nasai meriwayatkannya di datem kitab tafsir, dari Ubaidah ibnu Umar Al-Umari dengan sanad yang sama.
Firman Allah Swt:
{إِنَّاللَّهَعَلِيمٌخَبِيرٌ}
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Al-Hujurat: 13)
Yakni Dia Maha Mengetahui kalian dan Maha Mengenal semua urusan kalian, maka Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya, merahmati siapa yang dikehendaki-Nya dan mengazab siapa yang dikehendaki-Nya, serta mengutamakan siapa yang dikehendaki-Nya atas siapa yang dikehendakinya. Dia Mahabijaksana, Maha Mengetahui, lagi Maha Mengenal dalam semuanya itu.
Ada sebagian ulama yang dengan berdasarkan ayat yang mulia ini berpendapat bahwa kafa'ah (sepadan) dalam masalah nikah bukan merupakan syarat, dan tiada syarat dalam pernikahan kecuali hanya agama, karena firman Allah SWT:
{إِنَّأَكْرَمَكُمْعِنْدَاللَّهِأَتْقَاكُمْ}
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. (Al-Hujurat: 13)
Sedangkan sebagian ulama lainnya berpegangan kepada dalil-dalil lain yang keterangannya secara rinci disebutkan di dalam kitab-kitab fiqih, kami telah mengutarakan sebagian darinya di dalam Kitabul Ahkam.
Imam Tabrani telah meriwayatkan dari Abdur Rahman, bahwa ia telah mendengar seorang lelaki dari kalangan Bani Hasyim mengatakan, "Aku adalah orang yang paling utama terhadap Rasulullah Saw." Maka orang lain mengatakan, "Aku lebih utama terhadapnya daripadamu, karena aku memiliki hubungan dengannya."