JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Walikota Jakarta Pusat Chaidir mengatakan, pihaknya akan memberi pelatihan kerja bagi warga yang selama ini menjaga pelintasan kereta api di dekat ITC Roxy Mas, Jakarta Pusat. Pembinaan itu dilakukan setelah nantinya pelintasan liar tersebut akan ditutup.
Chaidir menjamin, selama warga tersebut mempunyai KTP Jakarta, mereka akan diberi pelatihan kerja.
“Dinas Sosial itu kan ada panti, kaitannya dia tuna karya (pengangguran), diberikan pelatihan. Ada panti tuna karya yang memberikan keahlian. Contoh ada pelatihan di panti (di) Tebet. Itu bagi orang-orang yang putus sekolah, diajarkan di situ. Mulai teknik (servis) AC hingga tata boga,” ujar Chaidir saat ditemui di Kantor Walikota Jakarta Pusat, Kamis (11/7/2024).
Menurut dia, seharusnya warga tidak boleh menjaga pelintasan kereta api tersebut.
“Menurut UU Lalu Lintas, itu aja memang enggak boleh (warga jaga rel), sudah diatur. Kalau warga kaitan dengan menganggur, nanti itu bisa disalurkan dengan kerjaan melalui diklat-diklat yang dilakukan oleh Dinas Tenaga Kerja,” ujar
Sebelumnya diberitakan, Pemerintah Kota Jakarta Pusat berencana menutup pelintasan kereta api di dekat ITC Roxy Mas.
Menanggapi rencana itu, Faris (23) mengaku khawatir akan kehilangan "pekerjaannya" sebagai penjaga rel kereta jika pelintasan di dekat Roxy Mas ditutup Pemerintah Kota Jakarta Pusat.
Dua tahun ke belakang, Faris mengaku pernah membantu neneknya berjualan baju di Harapan Kita. Namun, sejak pandemi Covid-19, usaha mereka gulung tikar.
“Iya. Kalau ini ditutup, saya menganggur lagi,” ujar Faris saat ditemui di dekat Roxy Mas, Cideng, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (10/7/2024).
Faris mengatakan, penghasilan yang dia dapatkan sebagai menjaga rel swadaya juga tidak seberapa, hanya Rp 20.000. Menurut Faris, sulit baginya untuk mendapatkan pekerjaan saat ini.
JAKARTA, KOMPAS.com - Rencana Pemerintah Kota Jakarta Pusat menertibkan kawasan pelintasan rel kereta api dekat ITC Roxy Mas, Cideng, mengusik hati Faris (23).
Sebagai salah seorang penjaga pelintasan, Faris bingung apabila tempat ia mencari nafkah harus disterilkan dari orang-orang seperti dirinya.
"Seumpamanya ini ditutup semua, habis saya. Mau kerja di mana lagi saya ini," ujar Faris saat berbincang dengan Kompas.com, Rabu (10/7/2024).
Ia sendiri bertugas menjaga pelintasan rel setiap pukul 11.00 WIB hingga 14.00 WIB. Dalam tiga jam itu, ia mengantongi uang sekitar Rp 20.000.
Usai menunaikan tugasnya itu, ia mencari peruntungan lain dengan bekerja apa saja. Serabutan kalau kata orang, yang penting halal.
Faris adalah lulusan dari sekolah kejuruan bidang pariwisata daerah Parung Panjang, Bogor, Jawa Barat.
Ia mengeklaim sempat menguasai bahasa Inggris, terutama bahasa percakapan. Tapi karena tidak diasah, kemampuannya semakin lama semakin menurun.
Nasib malang menimpanya setelah lulus sekitar empat tahun lalu. Pandemi Covid-19 menyerang dunia, tak terkecuali Indonesia. Hal itu membuatnya terkungkung di rumah dan sulit mendapat pekerjaan.
"Kalau dulu enggak ada (Covid-19), sudah gitu (kerja) saya," ujar dia.
Sektor pariwisata merupakan salah satu yang paling babak belur terdampak pandemi.
Setelah menyadari lapangan pekerjaan sektor pariwisata sulit ditembus, ia mencoba peruntungan dengan bekerja di Roxy Square sebagai penjaga toko. Tetapi, profesinya itu tak bertahan lama karena kondisi semakin sepi.
Kemudian, Faris banting setir membantu nenek berjualan baju di dekat Rumah Sakit Harapan Kita.
Setelah itu, ia sempat mencoba mendaftar sebagai petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU). Tapi, dia tak lolos seleksi hingga akhirnya kini "terdampar" di pelintasan rel Cideng.
Ke depan, ia hanya bisa berharap para pengambil kebijakan pro terhadap orang-orang seperti dirinya.
"Katanya sih kalau gubernur baru, ini enggak ditutup. Mudah-mudahan aja deh," lanjut dia.
Sebelumnya diberitakan, penertiban pelintasan rel Cideng diungkapkan oleh Wakil Wali Kota Jakarta Pusat Chaidir. Penertiban akan dipertimbangkan karena ada aduan dari masyarakat.
"Ada pengaduan masyarakat yang masuk berkaitan dengan crowded-nya, tidak tertibnya (Roxy Mas), terutama pada areal parkir dan pedagang kaki lima," ungkap dia, Selasa (9/7/2024).
Untuk mengurai permasalahan yang ada di pelintasan kereta api, perlu koordinasi dengan Direktorat Perkeretaapian Kementerian Perhubungan.
Untuk itu, Pemkot Jakpus dan Suku Dinas Perhubungan Jakarta Pusat bersama-sama menginisiasi koordinasi antara lembaga ini.
"Karena lintasan (di Roxy) sana Jakarta Barat, di sini Jakarta Pusat. Itu harus ditarik ke Dinas Perhubungan untuk melakukan penutupan dan penertiban lintasan kereta itu," imbuh dia.
Pemerintah Kota Jakarta Pusat memberikan atensi terhadap kesemrawutan yang terjadi di pelintasan kereta api dekat Roxy Mas, Gambir. Halaman all [336] url asal
JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah Kota Jakarta Pusat memberikan atensi terhadap kesemrawutan yang terjadi di pelintasan kereta api dekat Roxy Mas, Gambir.
“Ada pengaduan masyarakat yang masuk berkaitan dengan crowded-nya, tidak tertibnya (Roxy Mas), terutama pada areal parkir dan pedagang kaki lima,” ujar Wakil Wali Kota Jakarta Pusat, Chaidir saat ditemui di Kantor Walikota Jakarta Pusat, Selasa (9/7/2024).
Chaidir menjelaskan, untuk mengurai permasalahan yang ada di pelintasan kereta api, perlu koordinasi dengan Direktorat Perkeretaapian Kementerian Perhubungan.
Untuk itu, Pemkot Jakpus dan Suku Dinas Perhubungan Jakarta Pusat bersama-sama menginisiasi koordinasi antara lembaga ini.
“Karena lintasan (di Roxy) sana Jakarta Barat, di sini Jakarta Pusat. Itu harus ditarik ke Dinas Perhubungan untuk melakukan penutupan dan penertiban lintasan kereta itu,” imbuh dia.
Meski demikian, Chaidir mengatakan, penutupan hanya berlaku untuk kendaraan bermotor. Pejalan kaki masih dapat melewati pelintasan tersebut.
Selain itu, Pemkot Jakarta Pusat juga akan melakukan penertiban terhadap oknum preman yang ada di wilayah tersebut dengan melibatkan TNI dan Polri.
“Nanti kita bahas di tingkat dinas. Kita wilayah sifatnya hanya supporting dan melaporkan suasana lingkungan,” kata Chaidir lagi.
Seperti yang diketahui, kawasan Roxy Mas telah menjadi perhatian sejak lama. Sekitar enam bulan yang lalu Pemkot Jakarta Pusat juga telah berupaya untuk menyelesaikan masalah yang ada di wilayah tersebut.
Akses jalan menuju pelintasan kereta api juga telah berulang kali ditutup. Namun, blokade yang ada kembali dibuka oleh masyarakat setempat.