JAKARTA, investor.id – PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) atau BSI melanjutkan kinerja keuangan positif hingga Agustus 2024. Laba bersih, kredit, dan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh dalam kisaran tinggi.
Mengacu laporan keuangan perseroan, laba bersih BSI mencapai Rp 4,47 triliun sampai Agustus 2024. Perolehan laba secara individual itu tercatat tumbuh 20,59% year on year (yoy), kendati memang tercatat sedikit melandai jika dibandingkan Juli 2024 yang naik hingga 21,14% (yoy).
Laba emiten bersandi BRIS ini didorong kinerja pembiayaan yang juga melanjutkan pertumbuhan tinggi, sehingga net imbal (NI) yang diperoleh masih bergerak positif. Selain itu, sisi profitabilitas juga didukung keberhasilan perusahaan menekan pos provisi dan memastikan pendapatan komisi tetap bertumbuh.
Total pembiayaan BSI tercatat meningkat 14,46% (yoy) menjadi Rp 260,76 triliun pada Agustus 2024. Tren pembiayaan tersebut mengalami penguatan dibandingkan bulan sebelumnya yang naik 14,21% (yoy).
Seluruh lini pembiayaan tercatat meningkat; mulai dari piutang pembiayaan yang naik 6,92% (yoy) menjadi Rp 152,67 triliun, pembiayaan bagi hasil 27,01% (yoy) menjadi Rp 105,31 triliun, dan pembiayaan sewa tumbuh sebesar 32,04% (yoy) menjadi Rp 2,77 triliun.
Dari bisnis pembiayaan itu, pendapatan dari penyaluran dana dibukukan tumbuh lebih kuat 12,35% (yoy) menjadi Rp 16,95 triliun. Sedangkan bagi hasil kepada pemilik dana/investasi 36,31% (yoy) menjadi Rp 5,17 triliun pada Agustus 2024. Angka itu juga lebih rendah dari posisi bulan sebelumnya yang tumbuh 37,87% (yoy), menandai keberhasilan BSI sedikit meredam peningkatan beban bagi hasil ke kinerja keuangan.
BRIS lalu menghasilkan pendapatan setelah distribusi bagi hasil alias net imbal (NI) mencapai Rp 11,78 triliun selama delapan bulan. Angka ini masih bertumbuh 4,30% (yoy), lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang naik 3,16% (yoy).
Lebih lanjut, kinerja laba hingga Agustus 2024 didukung pendapatan komisi yang masih berhasil dikerek 16,17% menjadi Rp 1,27 triliun. Termasuk keberhasilan perusahaan menekan kerugian penurunan nilai aset keuangan (impairment) sampai dengan -29,10% menjadi Rp 1,47 triliun.
Rasio CASA Makin Perkasa
Di samping tetap berhasil memastikan laju pembiayaan, BSI juga mencatat pertumbuhan tinggi dari sisi dana pihak ketiga (DPK). Total DPK tercatat meningkat 16,26% (yoy) menjadi Rp 297,78 triliun pada Agustus 2024.
Pertumbuhan DPK dari BSI tersebut utamanya dikerek dari instrumen dana murah (current account saving account/CASA). Adapun nominal dana murah meningkat 22,15% menjadi Rp 187,95 triliun.
Hal tersebut membuat rasio CASA menguat 304 bps (yoy) menjadi 62,96% pada Agustus 2024. Juga menguat 14 bps secara bulanan (mtm) dari rasio CASA 62,96% pada Juli 2024.
Jika dirinci, pendorongnya adalah giro yang tumbuh 47,91% (yoy) menjadi Rp 58,99 triliun. Begitu juga tabungan yang naik 13,13% menjadi Rp 128,95 triliun. Di sisi lain, instrumen deposito hanya naik 7,40% menjadi Rp 109,83 triliun.
Meski tumbuh tinggi secara yoy, BRIS mencatat penurunan total DPK secara mtm dengan nominal Rp 1,34 triliun pada Agustus 2024 dibandingkan Juli 2024. Penurunan ini dikontribusikan dari seluruh instrumen.
Sampai Agustus 2024, BSI mencatat total aset mencapai Rp 359,37 triliun atau tumbuh 16,60% sejalan dengan kinerja pembiayaan. Mengekor laju liabilitas yang naik 16,61% menjadi Rp 316,57 triliun, yang utamanya didongkrak penghimpunan dana. Sementara ekuitas tumbuh 16,57% menjadi Rp 42,80 triliun.
Editor: Prisma Ardianto (ardiantoprisma@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News