JAKARTA, investor.id – Research and Development ICDX Girta Yoga memprediksi harga CPO melanjutkan penguatan pada pekan ini. Namun, pergerakan harga CPO cenderung terbatas. Mengapa?
Yoga mengatakan, sentimen utama yang mempengaruhi pergerakan harga CPO datang dari rilisnya proyeksi dari GAPKI yang memperkirakan produksi CPO Indonesia tahun 2024 akan stagnan atau turun hingga 5%. Selain itu, output CPO Malaysia juga menunjukkan penurunan sebesar 3,8% pada September, ungkap data industri terbaru Malaysia.
“Sementara di sisi permintaan sedang terjadi peningkatan, terlihat dari rilisnya data ekspor CPO Malaysia periode 1-15 Oktober yang naik sebesar 15,6% dibanding periode sama bulan sebelumnya,” ungkap Yoga kepada Investor Daily, baru-baru ini.
Namun, lanjut Yoga, kenaikan harga CPO dibatasi oleh melemahnya permintaan dari India dengan kenaikan bea masuk untuk impor CPO maupun minyak kedelai sebesar 20%. Demikian juga dengan permintaan dari China yang berpotensi menurun setelah data resmi pemerintah terbaru menyebutkan stok minyak nabati China saat ini telah mencapai 2,06 juta ton dalam kurun waktu seminggu hingga Jumat (11/10/2024).
Menurut Yoga, kemungkinan harga CPO akan bergerak menemui resistance di kisaran harga 4.440 – 4.475 Ringgit Malaysia per ton. Apabila mendapat katalis negatif, maka harga berpotensi turun menuju support di kisaran harga 4.300 – 4.225 Ringgit Malaysia per ton.
Yoga menjelaskan, selama sepekan yang lalu, harga CPO mengalami kenaikan sebesar 1,48%. Sedangkan sepanjang bulan Oktober hingga penutupan pekan ketiga, harga CPO tercatat menguat sebesar 9,20%. Dilihat secara ytd, harga CPO melaju bullish dengan peningkatan sebesar 19,62%.
Editor: Indah Handayani (handayani@b-universe.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News