#30 tag 24jam
OPM tak Akui Pembunuhan Pilot Selandia Baru, Ini Tantangan Mereka kepada TNI-Polri
OPM menolak untuk mengakui terlibat dalam pembunuhan pilot Selandia Baru. [1,164] url asal
#pilot-selandia-baru #opm-bunuh-pilot-selandia-baru #pilot-glen-malcolm-conning #pilot-selandia-baru-tewas-dibunuh-opm #sebby-sambom #opm-tidak-bunuh-pilot-selandia-baru #opm-sadis-bunuh-pilot-selandia
(Republika - News) 09/08/24 06:42
v/13878218/
REPUBLIKA.CO.ID, TIMIKA — Kelompok bersenjata Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) masih menolak untuk mengakui terlibat dalam peristiwa penyerangan dan pembunuhan pilot asal Selandia Baru, Glen Malcolm Conning yang terjadi di Distrik Alama, Mimika, Papua Tengah, Senin (5/8/2024). Kelompok bersenjata Papua Merdeka itu menuntut aparat keamanan Indonesia membuktikan tuduhan yang menyudutkan TPNPB-OPM adalah kelompok pelaku penyerangan dan pembunuhan pilot helikopter sipil milik PT Intan Angkasa Air Service tersebut.
Juru Bicara TPNPB-OPM Sebby Sambom mengatakan, sampai hari ke-4 setelah penyerangan dan pembunuhan di Distrik Alama tersebut, belum ada satupun sayap militer Papua Merdeka yang berbasis di kawasan Mimika, Papua Tengah melaporkan perihal peristiwa tersebut ke Markas Pusat TPNPB-OPM. Karena itu, kata Sebby, penyampaian Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Satgas Damai Cartenz yang menuding kelompok bersenjata Papua Merdeka adalah kelompok pelaku dalam penyerangan dan pembunuhan Glen Malcolm tersebut tak dapat diterima.
“Berdasarkan fakta hukum apa pihak Indonesia mempublikasikan bahwa pilot asal New Zealand (Selandia Baru) Glen Malcolm Conning dibunuh oleh TPNPB-OPM? Apakah ada hasil dari investigasi dari tim independen yang sudah dilakukan?,” begitu kata Sebby melalui pesan singkat yang diterima, Kamis (8/8/2024). “Kami perlu jelaskan, bahwa sampai hari ke-4 tidak laporan konfirmasi dari TPNPB-OPM di wilayah tersebut. Oleh karena itu perlu investigasi independen, dan kami menunggu fakta-fakta hukumnya,” begitu ujar Sebby.
Sebby, pada Rabu (7/8/2024) menyampaikan kecurigaan TPNPB-OPM atas peristiwa penyerangan dan pembunuhan pilot Glen Malcolm. Selama ini memang dalam setiap peristiwa penyerangan ataupun pembunuhan yang dilakukan sayap bersenjata Papua Merdeka, selalu mendapatkan respons dan pengakuan tanggung jawab dari Markas Pusat TPNPB-OPM. Namun terkait peristiwa penyerangan helikopter sipil PT Intan Angkasa Air Service dan pembunuhan pilot Glen Malcolm di Distrik Alama itu, alih-alih bertanggung jawab, TPNPB-OPM menuding bahwa peristiwa tersebut dilakukan oleh kelompok pelaksana skenario bikinin aparat militer dan keamanan Indonesia.
Kata Sebby, pelaku penyerangan dan pembunuhan tersebut dilakukan oleh kelompok bersenjata binaan TNI maupun Polri. “Kami curiga bahwa pembunuhan pilot helikopter asal Selandia Baru adalah sudah diskenariokan oleh militer dan polisi Indonesia itu sendiri,” begitu kata Sebby, Rabu (7/8/2024). Dikatakan Sebby, penyerangan dan pembunuhan pilot asal Selandia Baru itu, terkait dengan rencana TPNPB-OPM yang berada di bawah komando Egianus Kogeya di wilayah Nduga, di Papua Pegunungan yang berencana membebaskan pilot Susi Air, Kapten Philip Mark Marthens.
Kapten Philip juga pilot penerbangan sipil yang berkewarganegaraan Selandia Baru. Pilot Susi Air itu, sudah satu setengah tahun dalam penyanderaan sejak Februari 2023. Penyampaian terbuka TPNPB-OPM untuk membebaskan Kapten Philip tersebut, disampaikan langsung oleh Egianus Kogeya, pada Sabtu (3/8/2024). Sedangkan peristiwa penyerangan dan pembunuhan terhadap pilot Glen Malcolm di Distrik Alama tersebut pada Senin (5/8/2024). Kata Sebby, peristiwa di Distrik Alama tersebut, bertujuan untuk mendegradasi kepercayaan publik atas niat baik TPNPB-OPM dalam memulangkan Kapten Philip.
“Oleh karena itu, perlu investigasi independen karena kami curiga, bahwa hal ini (pembunuhan Glen Malcolm) merupakan bagian dari skenario untuk menghalangi misi pembebasan pilot Susi Air (Kapten Philip), dengan tujuan untuk menggagalkan niat baik Panglima Egianus Kogeya dan pasukannya di Ndugama,” begitu ujar Sebby.
TPNPB-OPM, kata Sebby juga mengkritisi pemberitaan-pemberitaan di Indonesia dan luar negeri yang mengutip penyampaian tak benar yang disampaikan oleh Satgas Damai Cartenz perihal kronologis pilot Glen Malcolm terbunuh. Kata Sebby, semua pemberitaan menyudutkan TPNPB-OPM sebagai pelaku berdasarkan penyampaian Satgas Damai Cartenz.
Padahal, kata dia, hingga kini pun belum ada pernyataan resmi dari sayap militer Papua Merdeka di wilayah Timika, Papua Tengah. Pun kata Sebby, semua pemberitaan menyampaikan pernyataan Satgas Damai Cartenz yang menyebutkan korban Glen Malcolm dibunuh dengan cara ditembak, lalu dibacok, dan dibakar bersama-sama dengan helikopter yang dipilotinya tersebut.
Padahal, kata Sebby, dari dokumentasi yang diterima oleh TPNPB-OPM, terlihat jelas mayat Glen Malcolm dan helikopter yang dipilotinya tersebut dalam kondisi yang utuh dan tak ada tanda-tanda terbakar. “Kami sampaikan dari foto-foto yang kami terima dari PIS (Papua Intelijen Service) TPNPB-OPM, menunjukkan mayat pilot helikopter masih utuh, dan helikopter juga tidak dibakar,” begitu kata Sebby. TPNPB-OPM, kata Sebby menegaskan, penyampaian berita tentang kronologis oleh Satgas Damai Cartenz tersebut adalah informasi yang tak benar.
Satgas Operasi Damai Cartenz, tak menjawab perihal tuntutan permintaan bukti-bukti atas tudingan tentang pelaku penyerangan dan pembunuhan Glen Malcolm adalah kelompok bersenjata Papua Merdeka. Kasatgas Humas Damai Cartenz Komisaris Besar (Kombes) Bayu Suseno hanya mengatakan dari penyelidikan yang dilakukan sementara ini, bahwa pelaku penyerangan dan pembunuhan di Distrik Alama tersebut adalah Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).
“KKB ini kan memang membikin propaganda-propaganda yang memposisikan dirinya selalu menjadi benar untuk membuat-buat alasan pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan masyarakat sipil,” begitu kata Kombes Bayu, Kamis (8/8/2024).
Sebelumnya, Rabu (7/8/2024) Kombes Bayu juga menegaskan, penyamapaian TPNPB-OPM yang menuding penyerangan dan pembunuhan pilot Glen Malcolm tersebut adalah skenario Indonesia, merupakan watak membela diri dan sikap tak bertanggung jawab atas perbuatan tak manusiawi yang kerap dilakukan kelompok separatis Papua Merdeka terhadap warga biasa di Bumi Papua.
Kata dia, bukan sekali ini saja kelompok separatis Papua Merdeka itu, menyampaikan tudingan-tudingan tak beralasan untuk menghindari pertanggung jawaban. Sebelumnya juga, kata Kombes Bayu, TPNPB-OPM menyikapi pembunuhan Glen Malcolm tersebut, karena diyakini pilot itu adalah mata-mata keamanan Indonesia. Bahkan, kata Kombes Bayu, TPNPB-OPM menyampaikan pemakluman atas penyerangan, dan pembunuhan Glen Malcolm tersebut karena menganggap kejadian itu sebagai risiko. Karena dikatakan, alasan pilot Glen Malcolm nekat masuk ke wilayah peperangan yang sepihak diklaim oleh kelompok Papua Merdeka.
Penyampaian-penyampaian oleh TPNPB-OPM tersebut, menurut Kombes Bayu, bentuk putus asa atas ketidakpercayaan masyarakat Papua terhadap TPNPB-OPM. “Saya kira, KKB ini dan juga juru bicaranya ini, tidak memiliki ilmu pengetahuan tentang humaniter (hukum perang). Mereka selalu menuduh dan melakukan pembenaran atas setiap kejahatan yang mereka lakukan terhadap masyarakat sipil, baik masyarakat asli Papua (OAP) dan juga masyarakat lainnya,” begitu kata Kombes Bayu. “Pernyataan-pertanyaan juru bicara KKB tersebut, hanya propaganda untuk meyakinkan kepada masyarakat bahwa mereka yang benar,” sambung Bayu.
Mengenai kondisi mayat Glen Malcolm, sebelumnya Kombes Bayu mengatakan, dari informasi saksi-saksi pada saat kejadian, Senin (5/8/2024), dan juga laporan saat dilakukan evakuasi, Selasa (6/8/2024) memang menyebutkan keadaan nahas tak bernyawa pilot 50-an tahun tersebut. Kombes Bayu mengatakan, dari saksi-saksi saat kejadian penyerangan dan pembunuhan dilakukan, Glen Malcolm ditembak, lalu dibacok, dan mayatnya diletakkan di kokpit helikopter lalu dibakar. Namun dari laporan evakuasi, pada Selasa (6/8/2024) memang terlihat kondisi mengenaskan jenazah Glen Malcolm yang terkulai di kokpit helikopter.
Kata Kombes Bayu, dari evakuasi yang dilakukan memang terlihat adanya bekas pembakaran yang dilakukan kelompok sepratis usai melakukan aksi kejamnya tersebut. “Memang benar helikopternya dibakar. Tetapi, yang terbakar hanya kursi bagian belakang. Untuk kursi bagian depan yang berada di kokpit pilot, tidak terbakar,” begitu ujar Kombes Bayu.
Situasi hujan pada saat kejadian pembunuhan, kata Kombes Bayu yang memungkinkan helikopter milik PT Intan Angkasa Air Service tersebut dan jasad pilot Glen Malcolm dapat terhindar dari api. “Mungkin disebabkan hujan, pada pada saat api berjalar, mati karena hujan tersebut,” ujar Kombes Bayu.
Usai Bunuh Pilot Selandia Baru, OPM Malah Salahkan TNI-Polri
Jubir menyampaikan, OPM tidak bertanggungjawab dalam terbunuhnya pilot Glen Malcolm. [643] url asal
#tpnpb-opm #sebby-sambom #egianus-kogeya #opm-bunuh-pilot-selandia-baru #pilot-selandia-baru-tewas-dibunuh-opm #opm-tuding-tni-polri-atas-tewasnya-pilot-selandia-baru #pilot-glen-malcolm-conning #glen
(Republika - News) 07/08/24 17:42
v/13670344/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Markas Pusat Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) tak bersedia bertanggung jawab atas pembunuhan terhadap pilot helikopter asal Selandia Baru, Glen Malcolm Conning. Alih-alih mengakui sebagai pihak yang melakukan perbuatan keji tersebut, TPNPB-OPM curiga aksi tak manusiawi itu merupakan skenario yang dilakukan oleh kelompok separatis binaan pemerintah, dalam hal ini TNI-Polri.
Juru Bicara TPNPB-OPM Sebby Sambom mengatakan, pembunuhan Glen Malcolm yang terjadi di Distrik Alama, Kabupaten Mimika, Papua Tengah pada Senin (5/8/2024), berkaitan dengan kesediaan kelompok Papua merdeka tersebut untuk membebaskan Kapten Philip Mark Marthens. Kapten Philip adalah pilot Susi Air, yang juga berkebangsaan Selandia Baru.
Dia sejak Februari 2023, dalam penyanderaan OPM di bawah Egianus Kogeya yang beroperasi di Nduga, Papua Tengah. Pada Sabtu (3/8/2024), Egianus Kogeya melalui siaran video terbuka kepada TNI dan pemerintah Indonesia menyampaikan kesediannya untuk bernegosiasi membebaskan Kapten Philip.
Sebby pun menjelaskan, sikap Egianus yang akan membebaskan Kapten Philip tersebut ditanggapi negatif oleh otoritas keamanan Indonesia, terutama dari Satgas Operasi Damai Cartenz. "Kami curiga bahwa pembunuhan pilot helikopter asal Selandia Baru sudah diskenariokan oleh militer dan polisi Indonesia itu sendiri," kata Sebby kepada Republika.co.id di Jakarta pada Rabu (7/8/2024).
Menurut dia, TPNPB-OPM punya pengalaman tentang aksi dari kelompok bersenjata yang mengatasnamakan Papua Merdeka. Namun, ternyata gerombolan tersebut merupakan pasukan bawah tanah binaan TNI.
Sebby mencontohkan, kasus penyerbuan mess karyawan PT Freeport di Kuala Kencana pada Maret 2020. Dalam peristiwa tersebut, kata Sebby, kelompok bersenjata yang mengatasnamakan Papua Merdeka membunuh sejumlah karyawan perusahaan tambang emas terbesar di dunia itu.
Beberapa korban mati dalam penyerangan tersebut, Sebby menilai, juga beberapa di antaranya berkebangsaan Selandia Baru. "Dan belakangan, kami mengetahui bahwa peristiwa penembakan karyawan Freeport di Kuala Kencana itu, diskenariokan oleh militer Indonesia. Dalam hal ini, militer Indonesia bekerjasama dengan TPNPB binaannya, dan memerintah TPNPB binaannya untuk menyerang karyawan Freeport," kata Sebby.
Dari informasi intelijen TPNPB-OPM, kata Sebby, diketahui akhirnya pelaku penyerangan di Kuala Kencana ketika itu ditangkap oleh TNI dan dibunuh di Timika, Kabupaten Mimika. "Pembunuhan itu (Kuala Kencana), karena kekhawatiran militer Indonesia, bahwa dia adalah saksi, dan pelaku skenario itu. Hal ini, dilaporkan oleh PIS (Papua Intelijen Service) TPNPB - OPM tiga tahun setelah peristiwa (Kuala Kencana) itu," ucap Sebby.
Dari pengalaman di Kuala Kencana tersebut, kata Sebby, TPNPB-OPM curiga peristiwa pembunuhan pilot helikopter milik PT Intan Angkasa Air Service di Distrik Alama, pelakunya adalah personel TNI atau Polri. Dia menegaskan, bukan OPM pelakunya.
"Maka kami curigai bahwa pembunuhan pilot helikopter asal Selandia Baru tersebut adalah bagian dari skenario militer dan polisi Indonesia. Karena hal itu, terjadi setelah managemen Markas Pusat TPNPB-OPM telah umumkan pembebasan pilot Susi Air asal Selandia Baru (Kapten Philip) yang masih ditahan (disandera)," kata Sebby.
Menurut Sebby, peristiwa di Distrik Alama tersebut merupakan reaksi pihak militer dan keamanan Indonesia, agar upaya pemulangan Kapten Philip dari penyanderaan di Nduga, gagal terwujud. "Kami curiga, bahwa ini merupakan bagian dari misi untuk menghalang-halangi tujuan Komandan TPNPB Kodap III Ndugama Egianus Kogeya dan pasukannya, untuk membebaskan pilot Susi Air (Kapten Philip)," ujar Sebby.
OPM tak bertanggung jawab...
Satgas Operasi Damai Cartenz menegaskan, penyamapaian TPNPB-OPM yang menuding penyerangan dan pembunuhan pilot Glen Malcolm tersebut adalah skenario Indonesia, merupakan watak membela diri. Kasatgas Humas Damai Cartenz Kombes Bayu Suseno menuding, OPM memang memiliki sikap tak bertanggung jawab.
Padahal, mereka melakukan perbuatan tak manusiawi yang kerap menyasar warga sipil di Bumi Cenderawasih. Bayu mengatakan, dari saksi saat kejadian penyerangan, Glen Malcolm ditembak dan dibacok oleh OPM. Setelah itu, mayatnya diletakkan di kokpit helikopter, lalu dibakar.
Dia menyebut, bukan sekali ini saja kelompok separatis Papua Merdeka itu menyampaikan tudingan tak beralasan untuk menghindari pertanggungjawaban.
Bayu menganggap, TPNPB-OPM sebelumnya menganggap Glen Malcolm sebagai mata-mata keamanan Indonesia sehingga harus dihabis.
"Pernyataan-pertanyaan juru bicara KKB tersebut, hanya propaganda untuk meyakinkan kepada masyarakat bahwa mereka yang benar," ujar Bayu.
Satgas Cartenz Ungkap Kronologi Pilot Selandia Baru Dibunuh OPM: Ditembak Lalu Dibakar
Menurut Satgas Damai Cartenz, OPM membakar helikopter yang dipiloti Glen Malcolm. [653] url asal
#pilot-selandia-baru-tewas-dibunuh-opm #pilot-selandia-baru-dibunuh #opm-bunuh-pilot-selandia-baru #organisasi-papua-merdeka #satgas-damai-cartenz
(Republika - News) 06/08/24 05:01
v/13468253/
REPUBLIKA.CO.ID, PAPUA -- Organisasi Papua Merdeka (OPM) melakukan penyanderaan dan pembunuhan terhadap pilot Helikopter milik PT. Intan Angkasa Air Service, Mr. Glen Malcolm Conning (50) berkebangsaan Selandia Baru, Senin (5/8/2024). Kepala Operasi Damai Cartenz 2024 Brigjen Pol. Faizal Ramadhani dalam siaran pers yang diterima di Jayapura, Senin, mengatakan organisasi yang berseberangan dengan paham NKRI tersebut juga membakar helikopter jenis IWN, MD.500 ER PK di Distrik Alama, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah pada pukul 10:00 WIT.
"Benar telah terjadi penyanderaan dan pembunuhan yang dilakukan oleh OPM terhadap Mr. Glen Malcolm Conning yang merupakan pilot helikopter milik PT. Intan Angkasa Air Service," kata Faizal.
Menurut Faizal, kejadian itu terjadi saat helikopter tiba di Distrik Alama Kabupaten Mimika dengan membawa empat penumpang yakni dua orang tenaga kesehatan dan satu bayi serta satu anak dari Bandara Moses Kilangin Timika tujuan Distrik Alama. Kasatgas Humas Ops Damai Cartenz Kombes Pol. Bayu Suseno mengatakan informasi yang diterima oleh saksi berinisial D menjelaskan pada saat helikopter tiba di Distrik Alamanpara penumpang dan pilot langsung dihadang oleh OPM.
"Dan saat itu juga pilot Mr. Glen Malcolm Conning langsung dibunuh oleh OPM," katanya.
Faizal menjelaskan kejadian berawal sekitar pukul 09:30 WIT Helikopter Jenis IWN, MD.500 ER PK, milik PT. Intan Angkasa Air Service dengan pilot Mr. Glen Malcolm Conning membawa empat penumpang terbang dari bandara Mosez Kilangin Timika menuju Distrik Alama, Kabupaten Mimika.
Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat - Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) belum dapat memastikan penyerangan dan pembunuhan terhadap pilot Glen Malcom Conning om Conning yang terjadi di Distrik Alama, Timika. Juru Bicara TPNPB-OPM Sebby Sambom mengatakan, hingga Senin (5/8/2024) malam, belum ada sayap bersenjata kelompok Papua Merdeka di wilayah Papua Tengah, yang memberikan laporan resmi terkait penyerangan tersebut ke markas TPNPB-OPM.
“Belum ada laporan resmi yang sampai ke kami dari medan perang mengenai peristiwa di Distrik Alama. Oleh karena itu, kami belum bisa sampaikan pernyataan, dan siaran pers,” begitu kata Sebby saat dihubungi Republika dari Jakarta, pada Senin (5/8/2024).
Namun begitu, Sebby menegaskan, kabar dari masyarakat tentang pembunuhan pilot helikopter asal Selandia Baru tersebut memang sudah didengar oleh markas pusat TPNPB-OPM. Menurut Sebby, jika benar penyerangan tersebut dilakukan oleh kelompok TPNPB-OPM, tindakan tersebut, tentu bukan tanpa alasan.
Sebab kata dia, Distrik Alama, adalah bagian dari wilayah zona perang dengan pihak Indonesia yang sudah sering disampaikan TPNPB-OPM kepada Tentara Nasional Indonesia (TNI), maupun Polri. Karena itu, menurut Sebby, TPNPB-OPM akan membenarkan jika pasukannya yang memang benar melakukan penyerangan tersebut.
“Kalau memang itu nantinya benar bahwa itu (penyerangan dan pembunuhan) dilakukan pasukan TPNPB-OPM, maka wilayah itu bagian dari larangan. Bahwa wilayah itu adalah bagian dari wilayah larangan terbang bagi seluruh pesawat (dan helikopter sipil),” kata Sebby.
Menurut Sebby, yang semestinya bertanggung jawab atas kejadian tersebut adalah pihak TNI maupun Polri. “Apapun aktivitas sipil di wilayah perang harus dihentikan selama menunggu perundingan dengan Indonesia. Tetapi, ketika mereka masuk, maka itu tanggung sendiri, dan yang tanggung itu adalah TNI dan Polri sendiri, kenapa mereka izinkan pesawat (helikopter) masuk,” ujar Sebby.
Alih-alih bertanggung jawab atas penyerangan dan pembunuhan tersebut, Sebby menegaskan kecurigaannya atas peristiwa tersebut. Sebab kata Sebby, dari informasi yang diterimanya, pilot helikopter yang ditembak mati tersebut, Glen Malcolm Conning adalah berkebangsaan Selandia Baru.
Menurut Sebby, dalam satu setengah tahun terakhir, sejak Februari 2023, TPNPB-OPM masih melakukan penyanderaan terhadap pilot Susi Air yang juga asal Selandia Baru atas nama Kapten Philip Mark Marthens. Sebby menduga, masuknya pilot lain asal Selandia Baru ke zona perang TPNPB-OPM dengan TNI-Polri di Distrik Alama, dapat diduga sebagai tindakan spionase.
“Dan kami curiga, kenapa pilot Selandia Baru yang sudah kami tahan (Kapten Philip), dan kemudian ini pilot Selandia Baru yang masuk (Glen Malcolm). Itu kami anggap dia (Glen Malcolm) mata-mata untuk masuk memata-matai pasukan kami di medan perang. Wilayah itu (Dstrik Alama) adalah bagian dari konflik bersenjata yang sudah kami umumkan larangan masuk,” ujar Sebby.
Satgas Jelaskan Kronologi OPM Bunuh Pilot Selandia Baru di Papua
Glen Malcolm adalah pilot helikopter jenis IWN MD 500 ER-PK yang diserang OPM. [405] url asal
#pilot-selandia-baru #pilot-selandia-baru-tewas-dibunuh-opm #organisasi-papua-merdeka #pilot-glen-malcolm-conning #kombes-bayu-suseno #opm-bunuh-pilot-selandia-baru #opm-serang-helikopter-dengan-pilot
(Republika - News) 05/08/24 17:37
v/13398836/
REPUBLIKA.CO.ID, MIMIKA -- Helikopter pembawa tenaga medis (nakes) dan warga sipil lainnya dikabarkan diserang kelompok separatis bersenjata alias Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Distrik Alama, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, Senin (5/8/2024). Empat penumpang dikabarkan selamat dalam penyerangan tersebut.
Namun, pilot helikopter atas nama Glen Malcolm Conning (50 tahun) dikabarkan tewas dalam penyerangan tersebut. Glen adalah pilot berkebangsaan Selandia baru.
Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz Kombes Bayu Suseno mengatakan, Glen Malcolm yang menjadi korban memang warga Selandia Baru. "Kami menyampaikan bawa identitas pilot yaitu Mr Glen Malcolm Conning asal Selandia Baru, usia 50 tahun tewas dalam penyerangan tersebut," kata Bayu dalam siaran pers di Jakarta, Senin (5/8/2024).
Sampai berita ini ditulis, Bayu mengabarkan pasukan gabungan masih melakukan penyisiran langsung di lokasi kejadian. Menurut dia, dari laporan sementara, kejadian penyerangan terjadi pada pukul 09.30 WIT.
Bayu menyebut, Glen Malcolm adalah pilot helikopter jenis IWN MD 500 ER-PK milik PT Intan Angkasa Air Service. Semula, sambung dia, helikopter tersebut lepas landasan dari Bandara Mosez Kilangin di Timika menuju ke Distrik Alama, Kabupaten Mimika.
Helikopter tersebut, kata Bayu membawa empat penumpang. "Dua penumpang orang dewasa adalah tenaga kesehatan (nakes), satu orang bayi, dan satu orang lainnya, adalah anak-anak," ujar Bayu.
Pilot helikopter ditembak...
Saat helikopter tiba di Distrik Alama, Kabupaten Mimika, sekelompok orang bersenjata didentifikasi OPM sudah menunggu di landasan. Setelah helikopter mendarat sempurna di landasan, mereka menodongkan senjata ke arah helikopter dan memaksa para penumpang, termasuk pilot untuk turun.
"Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) menggunakan senjata api kemudian memaksa penumpang, dan pilot turun lalu mengumpulkan mereka di tengah-tengah lapangan," kata Kombes Bayu.
Setelah semuanya dikumpulkan, kata Bayu, dari kesaksian korban selamat inisial D, salah satu anggota OPM yang memegang senjata langsung melakukan penembakan terhadap pilot. Anggota OPM lainnya dikatakan melakukan pembakaran terhadap helikopter tersebut.
"Informasi yang diterima dari saksi D menjelaskan bahwa pilot langsung dihadang oleh KKB dan saat itu juga pilot Mr Glen Malcolm Conning langsung dibunuh dengan cara ditembak," ujar Bayu.
Sedangkan empat penumpang yang sempat di sandera di tengah lapangan, Bayu melanjutkan, saat ini dalam kondisi selamat. Mereka selamat setelah terindetifikasi sebagai warga warga lokal. "Kami sampaikan seluru penumpang sudah dievakuasi dengan selamat, dan mereka merupakan warga di Distrik Alama," kata Bayu.
Dia menerangkan, pasukan Operasi Damai Cartenz masih belum dapat mengidentifikasi kelompok penyerangan tersebut. Namun begitu, kata Bayu, pasukan Damai Cartenz sudah dikerahkan ke lokasi kejadian untuk melakukan pengejaran, dan penyelidikan terhadap para pelaku penyerangan.
Satgas Jelaskan Kronologi OPM Bunuh Pilot Selandia Baru
Glen Malcolm adalah pilot helikopter jenis IWN MD 500 ER-PK yang diserang OPM. [405] url asal
#pilot-selandia-baru #pilot-selandia-baru-tewas-dibunuh-opm #organisasi-papua-merdeka #pilot-glen-malcolm-conning #kombes-bayu-suseno #opm-bunuh-pilot-selandia-baru #opm-serang-helikopter-dengan-pilot
(Republika - News) 05/08/24 17:37
v/13398835/
REPUBLIKA.CO.ID, MIMIKA -- Helikopter pembawa tenaga medis (nakes) dan warga sipil lainnya dikabarkan diserang kelompok separatis bersenjata alias Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Distrik Alama, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, Senin (5/8/2024). Empat penumpang dikabarkan selamat dalam penyerangan tersebut.
Namun, pilot helikopter atas nama Glen Malcolm Conning (50 tahun) dikabarkan tewas dalam penyerangan tersebut. Glen adalah pilot berkebangsaan Selandia baru.
Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz Kombes Bayu Suseno mengatakan, Glen Malcolm yang menjadi korban memang warga Selandia Baru. "Kami menyampaikan bawa identitas pilot yaitu Mr Glen Malcolm Conning asal Selandia Baru, usia 50 tahun tewas dalam penyerangan tersebut," kata Bayu dalam siaran pers di Jakarta, Senin (5/8/2024).
Sampai berita ini ditulis, Bayu mengabarkan pasukan gabungan masih melakukan penyisiran langsung di lokasi kejadian. Menurut dia, dari laporan sementara, kejadian penyerangan terjadi pada pukul 09.30 WIT.
Bayu menyebut, Glen Malcolm adalah pilot helikopter jenis IWN MD 500 ER-PK milik PT Intan Angkasa Air Service. Semula, sambung dia, helikopter tersebut lepas landasan dari Bandara Mosez Kilangin di Timika menuju ke Distrik Alama, Kabupaten Mimika.
Helikopter tersebut, kata Bayu membawa empat penumpang. "Dua penumpang orang dewasa adalah tenaga kesehatan (nakes), satu orang bayi, dan satu orang lainnya, adalah anak-anak," ujar Bayu.
Pilot helikopter ditembak...
Saat helikopter tiba di Distrik Alama, Kabupaten Mimika, sekelompok orang bersenjata didentifikasi OPM sudah menunggu di landasan. Setelah helikopter mendarat sempurna di landasan, mereka menodongkan senjata ke arah helikopter dan memaksa para penumpang, termasuk pilot untuk turun.
"Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) menggunakan senjata api kemudian memaksa penumpang, dan pilot turun lalu mengumpulkan mereka di tengah-tengah lapangan," kata Kombes Bayu.
Setelah semuanya dikumpulkan, kata Bayu, dari kesaksian korban selamat inisial D, salah satu anggota OPM yang memegang senjata langsung melakukan penembakan terhadap pilot. Anggota OPM lainnya dikatakan melakukan pembakaran terhadap helikopter tersebut.
"Informasi yang diterima dari saksi D menjelaskan bahwa pilot langsung dihadang oleh KKB dan saat itu juga pilot Mr Glen Malcolm Conning langsung dibunuh dengan cara ditembak," ujar Bayu.
Sedangkan empat penumpang yang sempat di sandera di tengah lapangan, Bayu melanjutkan, saat ini dalam kondisi selamat. Mereka selamat setelah terindetifikasi sebagai warga warga lokal. "Kami sampaikan seluru penumpang sudah dievakuasi dengan selamat, dan mereka merupakan warga di Distrik Alama," kata Bayu.
Dia menerangkan, pasukan Operasi Damai Cartenz masih belum dapat mengidentifikasi kelompok penyerangan tersebut. Namun begitu, kata Bayu, pasukan Damai Cartenz sudah dikerahkan ke lokasi kejadian untuk melakukan pengejaran, dan penyelidikan terhadap para pelaku penyerangan.