IHSG hari ini ditutup tersungkur, jatuh 0,74% saat pasar harap-harap cemas kebijakan moneter. Cuan lima saham justru melejit, termasuk PPRE - Halaman all [411] url asal
JAKARTA, investor.id– Indeks harga saham gabungan (IHSG) tersungkur, jatuh 55,85 poin (0,74%) ke level 7.501,2 pada penutupan perdagangan Rabu (9/10/2024). Ini mengakhiri penguatan dalam dua hari beruntun. IHSG hari ini jatuh karena pasar harap-harap cemas soal kebijakan moneter. Sementara itu, cuan lima saham justru melejit, termasuk PPRE.
Sebanyak 237 saham terpantau naik, 334 saham turun, dan 228 saham stagnan. Adapun total nilai transaksi di bursa hari ini mencapai Rp 12,6 triliun. Volume perdagangan sebanyak 34,36 miliar saham dengan frekuensi sebanyak 1.206.532 kali.
Mayoritas sektor saham rontok pada penutupan pasar hari ini. Pelemahan terdalam terjadi di sektor teknologi 0,7%. Diikuti, pelemahan di sektor properti 0,7%, sektor barang baku 0,6%, sektor energi 0,6%, dan sektor perindustrian 0,5%.
Sedangkan penguatan terjadi di sektor infrastruktur 0,1% dan sektor kesehatan 0,1%.
Sementara itu, saat IHSG hari ini jatuh, indeks saham Asia bervariasi. Straits Times (Singapura) naik 0,5% dan Nikkei (Jepang) melonjak 0,8%. Sedangkan Hang Seng (Hong Kong) jatuh 1,3% dan Shanghai (China) anjlok 6,6%.
Saham Top Cuan
Saat IHSG hari ini ditutup memerah, cuan lima saham justru melejit dan masuk daftar top gainers atau top cuan. Hal itu karena melonjak hingga 24%.
Lima saham tersebut adalah PT Logindo Samudramakmur Tbk (LEAD) melonjak 26,5% menjadi Rp 148, PT Bank JTrust Indonesia Tbk (BCIC) terkerek 18,1% menjadi Rp 195, PT Primadaya Plastisindo Tbk (PDPP) meningkat 16,3% menjadi Rp 710.
Diikuti saham PT PP Presisi Tbk (PPRE) melesat 13% menjadi Rp 78, dan PT Soraya Berjaya Indonesia Tbk (SPRE) naik 8,3% menjadi Rp 234.
Pilarmas Investindo Sekuritas menjelaskan, IHSG hari ini tersungkur karena pelaku pasar tengah harap-harap cemas menanti rilis risalah The Fed dan data inflasi Amerika Serikat (AS). Risalah The Fed tersebut tentunya akan memberikan pandangan baru jalur kebijakan moneter The Fed selanjutnya.
"Tidak hanya itu, pasar juga menantikan rilis data inflasi yang tentunya ini akan menjadi rujukan The Fed terhadap kebijakan moneternya. Pasar tampaknya menilai bahwa The Fed masih fokus mencapai sasaran inflasi dan berupaya menghindari perlambatan lapangan kerja,” tulis Pilarmas dalam risetnya.
Editor: Indah Handayani (handayani@b-universe.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
PT PP Presisi Tbk (PPRE) meraih kontrak baru hingga Agustus 2024 mencapai Rp 6,3 triliun. Angka itu merupakan 80% dari target 2024. - Halaman all [323] url asal
JAKARTA,inevstor.id - PT PP Presisi Tbk (PPRE) meraih kontrak baru hingga Agustus 2024 mencapai Rp 6,3 triliun. Angka itu merupakan 80% dari target 2024. Jika dibandingkan dengan periode yangs ama pada 2023, capaian tersebut naik dari Rp 4,6 triliun.
Direktur Utama PP Presisi (PPRE) Arzan mengatakan, nilai kontrak tersebut diperoleh dari jasa pertambangan, pembangunan bandara, jalan tol, production plant serta infrastruktur sipil lainnya. Dengan demikian, total penambahan kontrak baru ini mayoritas berasal dari pemberi kerja external sebesar 85% dan PP Group sebesar 15%.
"Seiring dengan strategi perseroan untuk memperluas pangsa pasar eksternal atau diluar PP Group telah membuktikan PPRE mampu bersaing di sektor konstruksi jasa pertambangan dan sipil nasional. Selain itu PPRE tetap bersinergi dengan PP Group dalam pembangunan infrastruktur sipil dan sejenisnya," jelasnya dalam keterangan tertulis, Rabu (4/9/2024).
Arzan menambahkan, target perolehan kontrak baru 2024 Perseroan sekitar Rp 7-8 Triliun, dimana komposisi terbesar adalah pekerjaan jasa pertambangan dan jasa konstruksi sipil sebagai core business perseroan. "Sebagai Perusahaan Konstruksi Terintegrasi Berbasis Alat Berat, kami yakin jasa pertambangan dapat menjadi bisnis yang berkelanjutan dan dapat memberikan dampak positif bagi Perseroan dalam rangka meningkatkan profitabilitas," ujar dia.
Arzan optimistis mampu mencapai target akhir tahun dengan menambah perolehan kontrak baru sebesar Rp 1-2 triliun dengan tetap didominasi pada pekerjaan jasa pertambangan pada Kuartal III dan IV mendatang. Selanjutnya, perseroan sedang berproses dalam melakukan persiapan pemenuhan alat berat yang dibutuhkan untuk menunjang produktivitas Perseroan, guna mencapai target revenue dan profit yang diproyeksikan.
“Kami tetap berfokus pada jasa pertambangan dan konstruksi sipil yang dapat meningkatkan kinerja secara optimal pada tahun-tahun mendatang,” tutup Arzan.
PT PP Presisi Tbk (PPRE) meraih kontrak baru yaitu Rp 6,3 triliun sampai Agustus 2024 atau mencapai 80% dari target 2024. Capaian kontrak baru tersebut naik 36% secara tahunan atau year on year (yoy) jika dibandingkan periode yang sama tahun 2023 sebesar Rp 4,6 triliun.
Direktur Utama PP Presisi Arzan mengatakan, nilai kontrak ini diperoleh dari jasa pertambangan, pembangunan bandara, jalan tol, production plant serta infrastruktur sipil lainnya.
“Target perolehan kontrak baru tahun 2024 PT Presisi sekitar Rp 7 triliun sampai Rp 8 triliun, dimana komposisi terbesar adalah pekerjaan jasa pertambangan dan jasa konstruksi sipil sebagai core business PPRE," kata Arzan dalam keterangan resminya, Rabu (4/9).
Ia menjelaskan jasa pertambangan yang dikerjakan oleh PP Presisi meliputi pekerjaan pengembangan pertambangan, operasi pertambangan, hauling ore nickel dan hauling road maintenance. Sedangkan untuk jasa konstruksi sipil meliputi pembangunan bandara, jalan tol maupun non tol, dermaga, dan jasa konstruksi sipil lainnya.
Total penambahan kontrak baru ini mayoritas berasal dari pemberi kerja eksternal sebesar 85% dan PP Group sebesar 15%. Seiring dengan strategi Perseroan untuk memperluas pangsa pasar eksternal ataupun diluar PP Group telah membuktikan PPRE mampu bersaing di sektor konstruksi jasa pertambangan dan sipil nasional. Selain itu PPRE tetap bersinergi dengan PP Group dalam pembangunan infrastruktur sipil dan sejenisnya.
Arzan optimis jasa pertambangan dapat menjadi bisnis yang berkelanjutan dan dapat memberikan dampak positif bagi PPRE dalam rangka meningkatkan profitabilitas.
“Kami optimis dapat mencapai target akhir tahun dengan menambah perolehan kontrak baru sebesar Rp 1-2 triliun dengan tetap didominasi pada pekerjaan jasa pertambangan pada kuartal 3 dan 4 mendatang," tuturnya.
Selanjutnya PPRE saat ini tengah berproses dalam melakukan persiapan pemenuhan alat berat yang dibutuhkan untuk menunjang produktifitas Perseroan, untuk mencapai target pendapatan dan laba yang diproyeksikan. PP Presisi tetap berfokus pada jasa pertambangan dan konstruksi sipil yang dapat meningkatkan kinerja secara optimal pada tahun-tahun mendatang.
Saham emiten BUMN Karya dan anak-anak usahanya mencuri perhatian dengan menjadi top gainers dalam perdagangan saham Selasa (14/8/2024). Mampukah kembali melaju? [1,158] url asal
Bisnis.com, JAKARTA – Saham emiten BUMN Karya dan anak-anak usahanya mencuri perhatian dengan menjadi saham paling cuan dalam perdagangan saham Selasa (14/8/2024). Moncernya kinerja tersebut terjadi di tengah kabar masuknya WIKA ke dalam indeks MSCI Indonesia Small Cap dan pernyataan Prabowo Subianto terkait dengan proyek IKN.
Bursa Efek Indonesia mencatat 6 dari 10 top gainers pada perdagangan Selasa (14/8/2024) merupakan emiten-emiten BUMN sektor konstruksi dan anak-anak usahanya. Posisi puncak ditempati oleh saham PT Wijaya Karya Beton Tbk. (WTON) yang meroket 27,38% ke level Rp107 per saham.
Di belakangnya, saham PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk. (WEGE) mengekor dengan penguatan 26,15% ke posisi Rp82 per saham. Keduanya merupakan anak usaha PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA).
Saham WIKA tak ketinggalan mengalami lonjakan pada perdagangan kemarin. WIKA bahkan menyentuh level auto reject atas (ARA) dengan penguatan 24,3% ke level Rp266 per saham.
Selain Grup Wika, PT PP (Persero) Tbk. (PTPP) dan anak usahanya PT PP Presisi Tbk. (PPRE) kompak menghijau dengan penguatan masing-masing 22,68% dan 17,14%. Senasib, saham PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI) terapresiasi 22,66% ke posisi Rp314 per saham.
Di sisi lain, saham PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT) masih disuspensi Bursa sejak 8 Mei 2023 dan parkir di posisi Rp202 per saham.
Moncernya manuver saham-saham terafiliasi BUMN sektor konstruksi tak terlepas dari dua sentimen utama. Pertama, WIKA masuk dalam indeks MSCI Indonesia Small Cap mulai 2 September 2024.
Sentimen Proyek IKN ke BUMN Karya
Kedua, angin segar BUMN sektor konstruksi datang dari pernyataan Presiden Terpilih Prabowo Subianto yang menegaskan komitmennya untuk melanjutkan pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. Hal itu disampaikan Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Garuda, Ibu Kota Nusantara (IKN), Provinsi Kalimantan Timur, Senin (12/8/2024).
“Saya bertekad juga untuk tegaskan di sini bahwa kita akan lanjutkan [IKN]. Kalau bisa kita percepat," ujar Prabowo dalam keterangan resminya, Selasa (13/8/2024).
Menurut Prabowo, prioritas utama adalah pembangunan gedung-gedung penting seperti Gedung MPR/DPR, perumahan anggota, serta ruang kantor untuk yudikatif, termasuk Mahkamah Agung (MA) dan Mahkamah Konstitusi (MK).
Prabowo yakin bahwa dengan selesainya pusat pemerintahan di IKN, akan ada lebih banyak investor yang tertarik untuk berinvestasi di ibu kota baru ini.
"Saya optimis selesainya pusat pemerintahan dengan investasi yang lain akan mengundang investor lebih besar lagi," pungkasnya.
Dua sentimen tersebut diamini oleh sejumlah analis. Dihubungi Bisnis, analis Kanaka Hita Solvera Andika Cipta Labora mengatakan saham WIKA ikut terkerek akibat sentimen positif dari proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) yang terus berjalan sampai saat ini.
“Karena dengan masih berjalannya IKN, untuk jangka panjang WIKA masih bisa mendapatkan kontrak dari proyek IKN,” tuturnya, Selasa (14/8/2024).
Selain itu, WIKA juga melambung selepas berembusnya kabar masuknya saham BUMN kontruksi itu ke dalam indeks MSCI Small Cap mulai 2 September 2024.
“Dengan masuknya WIKA ke indeks MSCI maka akan menjadi acuan untuk institusi asing maupun dalam negeri, untuk masuk ke WIKA,” kata Andika saat dihubungi Bisnis, Selasa (13/8/2024).
Untuk saham WIKA, dia menyematkan rekomendasi beli untuk saham PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA) dengan target harga Rp370 per saham sampai dengan Rp380 per saham. Secara teknikal, menurut Andika, level support saham WIKA saat ini berada di angka Rp250 per saham.
Terpisah, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas mengatakan masuknya WIKA ke dalam MSCI Small Cap Index merupakan sentimen positif karena berpotensi mengundang aliran modal asing (capital inflow) untuk penyesuaian portofolio para fund manager global.
Selain itu, saham yang masuk ke dalam indeks acuan tersebut berpeluang mengalami peningkatan likuiditas karena minat investor meningkat. Meski begitu, Sukarno menekankan bahwa apabila sentimen positif itu tidak diikuti fundamental emiten yang bagus, kenaikan harga hanya bersifat sementara.
Secara teknikal, dia memperkirakan target harga saham WIKA di rentang Rp290–Rp316 dengan patokan support Rp244 per saham.
Sementara itu, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menyoroti sentimen positif dari adanya komitmen pemerintahan baru dalam melanjutkan Ibu Kota Nusantara (IKN) terhadap saham-saham BUMN konstruksi, termasuk WIKA.
"Ini memengaruhi katalis positif WIKA atas kontrak baru. Pengaruhi juga performa WIKA. Di sisi lain, ada kekhawatitan negatif cashflow di WIKA," tutur Nafan.
Berlomba Himpun Kontrak Baru
Di sisi kinerja operasional, emiten BUMN Karya dan anak-anak usahanya fokus untuk menghimpun kontrak baru. Pada semester I/2024, WIKA melaporkan raihan kontrak baru sebesar Rp10,25 triliun.
Direktur Utama PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA) Agung Budi Waskito mengatakan bahwa WIKA terus berusaha untuk meningkatkan pendapatan perseroan terutama dari sektor-sektor potensial yang menjadi andalan WIKA.
“Kami percaya bahwa dengan kapabilitas dan kualitas pekerjaan kami, juga didukung oleh kepercayaan para stakeholders kami, bisnis WIKA akan terus tumbuh dan berkembang dengan menyasar berbagai proyek-proyek potensial, khususnya sektor EPC di mana WIKA memiliki portofolio unggul", ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (24/7/2024).
Kontribusi terbesar atas perolehan kontrak baru tersebut berasal dari segmen industri, diikuti segmen infrastruktur, gedung, proyek EPC dan properti.
Anak usaha WIKA, WEGE dan WTON juga giat berburu kontrak baru. Sepanjang Januari-Juni 2024, WEGE mencatatkan pencapaian kontrak baru sebesar Rp1,15 triliun atau meningkat 39% year-on-year (YoY) dari Rp826,07 miliar pada semester I/2023.
Dengan realisasi itu, total kontrak dihadapi/total keseluruhan proyek WEGE sebesar Rp8,57 triliun.
Menurut Direktur Utama Wika Gedung Hadian Pramudita, WEGE menempuh langkah-langkah strategis untuk menjaga kinerja keuangan. Salah satunya, selektif memilih pelanggan/partner yang memenuhi kriteria bankable.
WEGE juga memilih proyek dengan skema pembayaran monthly progress dan terdapat down payment sehingga cash flow dan working capital berjalan dengan sehat.
Selain itu, lanjut Hadian, anak usaha PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA) itu akan memperkuat pengembangan dan optimalisasi bisnis modular sebagai bagian dari backward strategy perusahaan guna menopang kinerja.
Terpisah, Sekretaris Perusahaan WIKA Beton Dedi Indra mengatakan pihaknya menargetkan raihan kontrak baru sebesar Rp7,48 triliun sepanjang 2024.
Untuk meraih target itu, lanjutnya, perseroan akan membidik sejumlah proyek a.l. pembangunan jalan tol Ibu Kota Negara (IKN), infrastruktur pabrik swasta, bendungan, gedung perkantoran, hingga LRT dan MRT.
Sementara itu, kontrak baru ADHI pada periode yang sama mencapai Rp10,7 triliun. Raihan kontrak baru ADHI itu naik 12,15% secara tahunan.
Sebelumnya, Sekretaris Perusahaan PTPP Joko Raharjo mengatakan bahwa semester pertama tahun ini, perseroan telah memperoleh nilai kontrak baru sebesar Rp9,65 triliun. Nilai ini turun 16,95% dibanding tahun lalu, yakni Rp11,62 triliun.
“Karena pada awal 2024, masih terkait isu pemilu dan situasi pada awal semester satu ini masih konservatif,” ujarnya saat ditemui di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Dia menuturkan bahwa dari jumlah nilai kontrak baru hingga semester I/2024, proyek dari segmen infrastruktur masih mendominasi lalu disusul proyek gedung.
------------
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.