JAKARTA, investor.id–Pemerintah mendorong seluruh pelaku industri dan masyarakat di Tanah Air mulai menerapkan pendekatan ekonomi sirkular dalam pengelolaan sampah melalui implementasi Prinsip 9R, bukan lagi 3R. Dengan menerapkan prinsip itu diharapkan pengelolaan sampah bisa menjadi game changer dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Tahun 2025-2045 sebagai panduan menuju Indonesia Emas 2045.
Direktur Lingkungan Hidup Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas) Priyanto Rohmattullah mengatakan, sampah, termasuk sampah makanan, merupakan salah satu penyebab timbulnya emisi gas rumah kaca (GRK).
Karenanya, penanganan sampah saat ini tidak lagi dibakar karena akan makin menambah emisi, melainkan dengan dikelola secara terpadu. “Pengelolaan sampah secara terpadu/terintegrasi juga menjadi game changer untuk mewujudkan arah RPJPN yang akan datang. Pengelolaan sampah dilakukan dengan pendekatan ekonomi sirkular lewat Prinsip 9R,” ungkap Priyanto.
Priyanto mengatakan hal itu saat menjadi pembicara dalam BNI Investor Daily Summit 2024 Special Session II: Resilient Growth: Capitalizing on Indonesia's Circular Economy Potential di JCC, Jakarta, Selasa (08/10/2024). Priyanto memaparkan, Prinsip 9R terdiri tiga kelompok tindakan, yakni creation (R0/refuse, R1/rethink, R2/reduce), maintaining (R3/reuse, R4/repair, R5/refurbish, R6/remanufacturing, R7/repurpose), dan recover (R8/recycle, R9/recover).
Sedangkan Prinsip 3R sebelumnya berupa reduce, reuse, dan recycle. “Konsepnya (pengelolaan sampah) tidak lagi 3R ke depan, kita dorong seluruh pelaku industri dan masyarakat menerapkan 9R sehingga memicu tumbuhnya ekosistem-ekosistem ekonomi sirkular,” papar Priyanto.
Menurut dia, pengelolaan sampah dengan pendekatan ekonomi sirkular 9R akan memberikan dampak ikutan berupa pengurangan emisi GRK hampir 200 juta ton CO2e, ini tentunya dibarengi dengan aksi pengurangan susut dan sisa/sampah pangan (food loss and food waste/FLFW). Kini, pemerintah juga telah menerbitkan Peta Jalan Pengelolaan FLFW.
“Hal ini akan menimbulkan beberapa manfaat, artinya bisa menyelamatkan economic loss dari produk domestik bruto (PDB) kita sekitar 4-5% dari susut dan sisa/sampah pangan atau sampah makanan yang terbuang,” jelas Priyanto. Indonesia kini tercatat sebagai produsen nomor satu sampah makanan.
Dalam acara yang sama, Head of Environment and Social Responsibility Astra Diah Suran Febrianti mengatakan, pihaknya sedang dan terus menerapkan Prinsip 9R dari sebelumnya 3R dan 6R dalam pengelolaan limbah padat. Grup Astra memiliki concern besar untuk menurunkan limbah padat yang dibuang ke alam dengan cara meningkatkan limbah padat yang bisa didaur ulang dan di-recovery.
Sebagian besar limbah padat Grup Astra dihasilkan dari lini agribisnis bidang sawit. “Yang kita lakukan adalah menjalankan upaya-upaya maksimal dalam melakukan 9R, dulu kita mengenal 3R dan menjadi 6R. Pada 9R, kita tidak sekadar berupaya membuat efisiensi dalam proses produksi tapi juga bagaimana create nilai tambah dalam bisnis,” tutur Diah.
Editor: Tri Listiyarini (tri_listiyarini@investor.co.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News