JAKARTA, KOMPAS.com – Beberapa tahun belakangan, bazar atau pameran produk kecantikan dan perawatan diri marak digelar di berbagai daerah di Indonesia.
Pada enam bulan awal di tahun 2024 saja, ada empat pameran berskala besar, yaitu Surabaya X Beauty, Jakarta X Beauty, Indo Beauty Expo, dan Beautyfest Asia by POPBELA.
Umumnya, para pelaku industri kecantikan dan perawatan diri yang berpartisipasi dalam pameran ini akan menawarkan produk dengan harga miring.
Co-founder & CEO Social Bella, Christopher Madiam mengungkap, hal tersebut tidak begitu memengaruhi penjualan produk di e-commerce atau toko fisik.
“Sebenarnya, bazar beauty products sudah ada dari dulu, cuma dalam different scale dan different coverage. Sekarang coverage-nya lebih heboh, dan (pameran) lebih sering. Kami tidak melihat significant impact dalam revenue,” papar dia di Plaza Senayan, Jakarta, Rabu (7/8/2024).
Sebab, penjualan produk dalam harga miring di pameran adalah hal yang lumrah dilakukan untuk menarik perhatian konsumen.
Para pelaku dalam industri itu juga melakukannya untuk memperkenalkan merek mereka pada khalayak yang lebih luas, alias mendapatkan exposure yang lebih besar.
Akan tetapi, bukan berarti harga dalam pameran membuat penjualan produk kecantikan dan perawatan diri di toko mengalami penurunan.
“Dari sisi positif, kami melihatnya orang pertama kali membeli karena terpancing dari sisi murahnya. Tapi, bazar kan tidak selalu ada,” ujar Christopher.
Ketika konsumen menyukai produk yang dibeli di pameran karena cocok, maka konsumen akan mencarinya ke e-commerce atau toko fisik.
Menurut dia, inilah yang membuat industri kecantikan dan perawatan diri di Indonesia menarik. Sebab, penjualan produk berlangsung secara omnichannel atau bisa dilakukan di online maupun offline.