JAKARTA, investor.id – Investor kawakan Lo Kheng Hong menyambangi dua perusahaan di bawah naungan Prodia Grup, PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) dan Prodia Stemcell Indonesia (ProSTEM). Ada apa Pak Lo mengunjungi emiten rumah sakit tersebut?
Kedatangan Lo yang disebut-sebut sebagai Warren Buffet Indonesia ke Prodia Grup itu tidaklah sendiri. Melainkan, bersama puluhan investor kawakan lain untuk menyelami strategi unggul dan rencana PRDA dan ProSTEM ke depan.
Pendiri Prodia Group, Andi Wijaya, menyampaikan PRDA saat ini terus berinovasi dan memperluas layanan lab diagnostik. Sedangkan, ProSTEM tengah merencanakan pengembangan portofolio terapi regeneratif baru dengan menggunakan mesenchymal stem cells (MSC), termasuk proyek pengembangan nasal drop untuk stroke iskemik.
“Perusahaan-perusahaan dalam Prodia Group merupakan perusahaan pelopor, salah satunya Prodia yang sudah melakukan IPO. Prodia Grup juga memiliki anak usaha Proline yang bergerak di industri In Vitro Diagnostics (IVD) yang sedang membangun pabrik di atas lahan seluas 5.500 meter persegi yang siap beroperasi pada 2025,” jelas dia dalam keterangan resminya, Selasa (5/11/2024).
Menurut Andi, dengan portfolio yang luas, Proline akan mampu bersaing di industrinya dan memberikan keuntungan bagi para pemangku kepentingannya tanpa kecuali Prodia.
Lebih lanjut, melalui ProSTEM yang bergerak di bidang terapi sel punca (stem cell therapy), Prodia Grup juga terus memperluas inovasi kesehatan. Pasalnya, terapi sel punca menawarkan potensi besar dalam bidang kesehatan karena mampu membantu proses regenerasi jaringan dan perawatan berbagai penyakit kronis yang sebelumnya sulit diobati,” terangnya.
300Outlet
Direktur Utama Prodia Dewi Muliaty, menambahkan bahwa Prodia akan terus mengembangkan inovasi yang akan mendukung kemajuan layanan kesehatan di Indonesia. Inovasi itu meliputi lebih dari 3.000 jenis tes pemeriksaan laboratorium klinis dan personalized medicine melalui Prodia Genomics.
“Saat ini, Prodia telah memiliki lebih dari 300 outlet yang tersebar di seluruh Indonesia, memastikan aksesibilitas layanan kesehatan berkualitas dan terstandardisasi bagi masyarakat Indonesia, serta menciptakan nilai tambah bagi pemangku kepentingan,” tutur Dewi.
Pada kuartal III-2024, emiten bersandi saham PRDA tersebut mencatatkan pendapatan sebesar Rp 1,59 triliun, turun 0,9% secara kuartalan. Kendati demikian, pendapatan tersebut menujukkan perbaikan positif sebesar 3,8% dari kinerja pendapatan PRDA pada kuartal II-2024.
Di sisi lain, perseroan juga mengklaim telah memperlihatkan resiliensinya terhadap dinamika industri kesehatan di Indonesia di tengah kondisi ekonomi makro yang kurang baik. Tercermin dari kinerja laba bersih yang mencapai sebesar Rp 194 miliar pada triwulan ketiga tahun ini.
PRDA kini mempersiapkan sejumlah strategi bisnis yang akan dilaksanakan hingga akhir 2024 dan direncanakan menjadi pilot program di 2025 untuk mendongkrak perndapatan perseroan. Harapannya, strategi tersebut mampu mempertahankan dan berkontribusi terhadap kinerja bisnis PRDA di tengah ketidakpastian situasi ekonomi nasional.
Editor: Muawwan Daelami (muawwandaelami@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News