JAKARTA, investor.id – Kemitraan antara PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) dan PLN Indonesia Power (PLN IP) dalam pengembangan proyek panas bumi telah menyepakati investasi pada tahap awal sebesar US$ 165 juta atau setara Rp 2,5 triliun.
Kerja sama strategis kedua pihak tersebut dibangun dalam consortium agreement of co-generation cooperation yang ditandatangani pada ajang Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2024 pada Kamis (19/9/2024).
Direktur Utama Pertamina Geothermal Energy (PGEO), Julfi Hadi menegaskan bahwa kerja sama strategis itu bertujuan untuk meningkatkan kapasitas di beberapa pembangkit listrik panas bumi milik PGEO melalui proses co-generation, yang berpotensi menambah kapasitas sebesar 230 MW.
“Tahap awal kerja sama co-generation akan menambah kapasitas 45 MW, yaitu di PLTP Lahendong Binary Unit (15 MW) dan PLTP Ulubelu Binary Unit (30 MW) dengan investasi US$ 165 juta,” ungkap Julfi dalam keterangannya, Senin (23/9/2024).
Emiten berkode saham PGEO tersebut juga meneken nota kesepahaman (MoU) dengan Badan Usaha Milik Pemerintah Kenya, yaitu Geothermal Development Company (GDC) di acara IIGCE. PGEO maupun GDC sepakat berkolaborasi untuk menjajaki pengembangan lapangan panas bumi Suswa. Proyek di Kenya ini diklaim mempunyai potensi kapasitas untuk dikembangkan mencapai 100 MW.
Belum berhenti di situ, Pertamina Geothermal Energy yang merupakan anak usaha Pertamina juga menyetujui kerja sama dengan beberapa perusahaan afiliasi untuk menciptakan ekosistem manufaktur, jasa, dan teknologi terdepan di industri panas bumi.
Julfi menyatakan, hal itu sejalan dengan komitmen PGEO dalam mendorong inovasi dan meningkatkan kandungan dalam negeri di industri panas bumi melalui manufaktur lokal komponen utama dan jasa pemeliharaan, rekayasa, konstruksi dan operasi PLTP.
Kerja sama PGEO dengan perusahaan-perusahaan afiliasi itu di antaranya meliputi penandatangaan joint development agreement (JDA) PGEO dan PT Elnusa Tbk (ELSA) serta Multifab untuk pengembangan dan manufaktur komponen heat exchanger.
Aliansi Strategis Lainnya
PGEO dan Pertamina Maintenance and Construction juga meneken JDA terkait jasa operation and maintenance. Selain itu, JDA antara PGEO dan PT PGAS Solution, anak usaha PGAS, yang berfokus pada jasa EPCC sektor panas bumi. Perjanjian lisensi teknologi Flow2max antara PGEO dan PT Sigma Cipta Utama.
Julfi menerangkan, perseroan mengembangkan teknologi Flow2Max untuk memantau kinerja sumur panas bumi secara akurat dan real time, sehingga meningkatkan efisiensi dalam pengelolaan reservoir atau sumber daya panas bumi.
Berlanjut, PGEO juga memperkuat kerja sama layanan laboratorium dengan bermitra bersama anak usaha PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), yakni Star Energy Geothermal. Terakhir, PGEO bermitra dengan PT Aimtopindo Nuansa Kimia terkait pengembangan H2S Abatement pada emisi non-considerable gases (NCG) di PLTP dan CO2 Liquefaction.
Menurut Julfi, selain untuk mengakselerasi pengembangan energi panas bumi, kolaborasi PGEO dengan para stakeholder tersebut merupakan langkah strategis guna menciptakan sumber pendapatan baru (new revenue stream).
“Berbagai inisiatif ini juga bertujuan untuk memperkuat peran PGEO dalam menciptakan dampak positif di seluruh ekosistem panas bumi yang melampaui sekadar ketenagalistrikan (beyond electricity),” tutur Julfi.
Lebih jauh, PGEO juga menandatangani Letter of Understanding (LoU) bersama dengan Universitas Pertamina dan University of Auckland untuk peningkatan kapasitas karyawan perusahaan. LoU ini sekaligus bagian dari komitmen PGEO dalam mengembangkan sumber daya manusia di sektor panas bumi.
Editor: Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News