#30 tag 24jam
Ramalan Kinerja Bank usai BI Rate Turun, Bisa Lepas Landas?
Apakah kinerja bank bisa mengalami pertumbuhan signifikan usai BI memangkas suku bunga acuan atau BI Rate? [699] url asal
#kinerja-bank #proyeksi-kinerja-bank-2024 #proyeksi-laba-bank-2024 #suku-bunga-acuan #suku-bunga-bi #bi-rate #bi-rate-turun #ojk
(Bisnis.Com - Finansial) 02/10/24 10:30
v/15852595/
Bisnis.com, JAKARTA - Kinerja perbankan dari sisi laba masih membukukan pertumbuhan single digit hingga Juli 2024. Sementara, kredit tumbuh 11,40% secara tahunan (YoY) per Agustus 2024. Lantas, apakah kinerja bank bisa mengalami pertumbuhan signifikan usai BI memangkas suku bunga acuan atau BI Rate?
Sebagaimana diketahui, BI telah memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) dari 6,25% menjadi 6,00% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan lalu. Keputusan ini menjadi penurunan suku bunga pertama sejak Februari 2021.
Pelonggaran kebijakan ini merupakan hal yang dinanti-nanti perbankan. Pasalnya, penurunan BI Rate diharapkan bisa menekan biaya dana atau cost of fund perbankan, yang pada akhirnya dapat mendongkrak permintaan kredit saat transmisi pemangkasan BI Rate terefleksi ke penurunan suku bunga kredit.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan penurunan BI Rate akan mempengaruhi biaya dana di pasar uang, yang juga menjadi salah satu sumber likuiditas perbankan.
Dari sini, penurunan suku bunga, baik global maupun dalam negeri, pada akhirnya akan mempengaruhi suku bunga simpanan atau cost of fund perbankan Indonesia.
"Kemudian terkait dengan penurunan cost of fund itu juga akan berpengaruh positif pada tingkat profitabilitas perbankan, dengan penurunan cost of fund pada gilirannya akan mendorong penurunan suku bunga kredit," jelasnya dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) bulanan September 2024 pada Selasa (1/10/2024).
Dian menjelaskan dalam kondisi suku bunga kredit yang lebih rendah, maka hal ini akan mendorong ekspansi usaha atau pertumbuhan kredit yang meningkat.
Semakin tinggi penyaluran kredit, akan berpengaruh positif terhadap penyerapan tenaga kerja maupun peningkatan pendapatan agregat masyarakat dan sekaligus meningkatkan kemampuan membayar masyarakat.
Dengan demikian, risiko kredit perbankan secara menyeluruh akan ikut menurun. Namun, saat ini suku bunga kredit bank masih relatif stabil karena perbankan mempertimbangkan aspek permintaan dan juga risiko kredit.
Sampai saat ini, lanjut Dian, risiko kredit masih relatif terjaga dengan daya tahan bank menyerap risiko yang tergolong kuat sebagaimana terlihat dari tingkat permodalan atau capital adequacy ratio (CAR) yang tinggi, dengan didukung tingkat profitabilitas yang baik meskipun dengan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) yang sedikit menurun.
"Ke depannya, tentu penurunan Fed Fund Rate atau FFR yang lebih tinggi dibandingkan penurunan suku bunga acuan BI diharapkan dapat memberikan ruang untuk aliran modal masuk asing [foreign capital inflow]," jelas Dian.
Prediksi Bankir
Direktur Utama Bank Negara Indonesia (BNI) Royke Tumilaar menyampaikan harapan kondisi likuiditas perbankan membaik dan permintaan kredit meningkat dengan adanya penurunan suku bunga acuan oleh bank sentral. Menurutnya, saat ini suku bunga kredit masih stabil di tengah kondisi likuiditas yang mengetat.
“Memang kreditnya yang [menjadi] challenge. Kita ingin tumbuhnya agak kencang, tetapi [suku] bunga kan belum turun,” katanya kepada wartawan di Menara BNI, Jakarta Pusat, Senin (30/9/2024).
Kendati demikian, Royke mengatakan tidak ada masalah berarti dalam kinerja perseroan hingga kuartal III tahun ini. Hal ini tecermin dari kinerja per Agustus 2024 yang dinilai masih on track, meskipun terdapat beberapa bagian seperti penyaluran kredit yang menghadapi tantangan.
Ketika ditanya perihal angka pertumbuhan kredit BNI hingga bulan kesembilan tahun ini, Royke memperkirakannya pada kisaran 10% secara tahunan.
Dia juga memproyeksikan pertumbuhan kredit tetap dobel digit hingga akhir 2024, dengan segmen korporasi dan konsumer yang menjadi penopang utama. “Masih [didominasi] corporate. Corporate dan konsumer,” ujarnya.
Dampak ke Kinerja BPD
Sementara itu, Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda) menyambut positif penurunan suku bunga acuan.
Ketua Umum Asbanda Yuddy Renaldi menjelaskan bahwa biaya dana alias cost of fund kelompok bank pembangunan daerah (BPD) dapat lebih longgar usai keputusan bank sentral Tanah Air tersebut.
“Turunnya BI Rate tentu akan mengurangi tekanan terhadap biaya dana perbankan termasuk BPD karena suku bunga yang diberikan kepada deposan pun akan menyesuaikan [penurunan],” katanya kepada Bisnis melalui pesan singkat, Kamis (26/9/2024).
Dia melanjutkan, tekanan terhadap biaya dana yang dikeluarkan BPD pun dapat kembali berkurang. Hal ini berdasarkan adanya kemungkinan untuk penurunan suku bunga acuan kembali pada kuartal IV/2024.
Ketika ditanya perihal proyeksi kinerja bank daerah hingga akhir tahun, Yuddy memperkirakan bahwa capaian pada semester II/2024 dapat lebih baik dibandingkan paruh pertama tahun ini, tetapi dengan satu syarat.
“Sepanjang kualitas kredit terjaga, saya kira kinerja BPD di akhir tahun dapat lebih baik jika dibandingkan dengan semester pertama tahun ini,” tutur Direktur Utama PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten alias Bank BJB (BJBR) ini.
Kisi-Kisi Kinerja Perbankan RI setelah BI Tahan Suku Bunga 6,25%
Simak proyeksi kinerja perbankan Indonesia hingga akhir tahun di tengah tren suku bunga acuan yang tetap pada level 6,25%. [627] url asal
#kinerja-bank #proyeksi-kinerja-bank-2024 #proyeksi-laba-bank-2024 #suku-bunga-acuan #suku-bunga-bi #bi-rate #bi-rate-6 #25
(Bisnis.Com - Finansial) 22/08/24 12:00
v/14523387/
Bisnis.com, JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate pada level 6,25% saat Rapat Dewan Gubernur (RDG) Agustus 2024. Gubernur BI Perry Warjiyo juga menyampaikan prediksi pertumbuhan kredit perbankan pada akhir tahun.
Dalam konferensi pers hasil RDG Agustus 2024, Perry mengatakan penyaluran kredit perbankan pada Juli 2024 sebesar 12,40% secara tahunan (YoY). Angka ini lebih tinggi ketimbang bulan sebelumnya yang sebesar 12,36% YoY.
Pertumbuhan kredit pada Juli 2024ditopang oleh kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi yang masing-masing tumbuh sebesar 15,20% (yoy), 11,60% (yoy), dan 10,98% (yoy).
Dia juga menyatakan bahwa pembiayaan syariah dan kredit UMKM tumbuh masing-masing sebesar 11,75% (yoy) dan 5,16% (yoy).
“Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan kredit 2024 diprakirakan berada pada batas atas kisaran 10-12%,” katanya, Rabu (21/8/2024).
Dari sisi penawaran, hal ini ditopang oleh pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 7,72% (yoy), strategi realokasi alat likuid ke kredit oleh perbankan, serta dukungan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) Bank Indonesia.
Untuk memperkuat pendanaan, perbankan juga mengoptimalkan sumber pendanaan selain dari DPK, antara lain melalui penerbitan surat-surat berharga dan pinjaman.
Selain itu, dari sisi permintaan, Perry menyebut pertumbuhan kredit turut dipengaruhi oleh permintaan korporasi yang sejalan dengan kinerja penjualan yang masih kuat.
“Sementara itu, permintaan kredit rumah tangga masih tinggi terutama pada KPR. Secara sektoral, pertumbuhan kredit yang tinggi terjadi pada mayoritas sektor ekonomi, terutama pada sektor Industri, Listrik, Gas, dan Air (LGA), dan Pengangkutan,” ujarnya.
Prediksi Laba Perbankan
Sementara itu, dari sisi profitabilitas, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan sejumlah bank melakukan revisi dengan memangkas target laba pada tahun ini.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan kondisi tersebut terjadi karena kondisi suku bunga global yang masih tinggi ditambah lagi adanya kenaikan biaya dana akibat perebutan dana murah di pasar.
“Sementara, suku bunga kredit saat ini tergolong stabil di tengah suku bunga DPK yang meningkat,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (12/8/2024).
Meskipun demikian, kata Dian, sesuai dengan rencana bisnis bank (RBB) revisi dari bank margin bunga bersih alias net interest margin (NIM) pada akhir 2024 diproyeksikan masih tergolong stabil dibandingkan NIM pada semester I/2024.
“Dengan optimisme bahwa penyaluran kredit perbankan di 2024 masih cukup tinggi dengan pencapaian double digit, pertumbuhan kinerja perbankan pada tahun 2024 diharapkan tetap terjaga baik, meskipun mungkin tidak setinggi tahun lalu,” ujar Dian.
Berdasarkan catatan Bisnis, rasio margin bunga bersih (net interest margin/NIM) 4,57% per Juni 2024, naik tipis dari periode Mei 2024 yang mencapai 4,56%. Adapun, secara tahunan capaian Juni 2024 susut, di mana Juni tahun lalu sebesar 4,8%.
Sebagaimana diketahui, NIM memberikan gambaran tentang seberapa efisien suatu lembaga keuangan dalam menghasilkan keuntungan dari selisih antara pendapatan bunga yang diperoleh dan biaya bunga yang dibayar. Makin besar angka NIM mengindikasikan potensi keuntungan perbankan dari dana yang disalurkan semakin besar.
Sementara itu, Pengamat Perbankan & Praktisi Sistem Pembayaran Arianto Muditomo mengatakan dinamika kinerja perbankan sendiri tidak terlepas dari pasar uang, inflasi, dan nilai tukar.
Dia menyebut sampai pertengahan tahun ini kondisi perekonomian Indonesia pada umumnya masih menghadapi tantangan atas ketiga, antara lain faktor eksternal, makro dan global.
“Di sisi lain, secara internal bank juga perlu memperhatikan kualitas asetnya, kemampuan bertumbuhnya dan likuiditas untuk membiayai operasional atau bisnisnya agar tetap mampu mengantisipasi setiap dinamika yang dihadapi,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (31/7/2024).
Ke depan, soal proyeksi kinerja industri perbankan, Arianto memprediksi ini bakal bergantung pada stabilitas global dan kepastioan nasional setelah pergantian kepemimpinan negara.
Menurutnya, jika pemerintahan baru mampu mempertahankan kepercayaan masyarakat dan investor, maka perekonomian akan membaik dan arus dana masuk ke dalam negeri akan lebih besar, yang pada akhirnya mendorong penurunan tingkat suku bunga acuan.
“Kondisi ini akan membuat pertumbuhan paruh kedua akan lebih tinggi dibanding pertumbuhan paruh pertama,” ungkap Arianto.