JAKARTA, investor.id – PT Petrosea Tbk (PTRO) memberikan gambaran mengenai peran strategis anak usahanya yang baru didirikan, PT Petrosea Infrastruktur Nusantara (PIN).
Direktur Petrosea, Iman Darus Hikhman menyampaikan, pembentukan PIN memiliki misi meningkatkan pelayanan terintegrasi antara PTRO dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dalam upaya memberikan pelayanan terbaik kepada klien-klien PTRO.
Selain itu, Iman menerangkan, pembentukan PT PIN juga untuk memberikan solusi yang solid dan terintegrasi terutama untuk proyek-proyek yang sedang dalam pengembangan.
“Area-area yang sedang kami siapkan untuk ekspansi proyek mineral di Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Indonesia Timur,” ucap Iman dalam paparan publik, Rabu (23/10/2024).
Mengingat, PTRO sedang ekspansi agresif di Kalteng paralel dengan beberapa aset tambang dan infrastruktur Petrindo yang bisa dioptimalkan. Tentunya, dengan melakukan pendekatan dan perolehan proyek-proyek baru di sekitar infrastruktur milik CUAN demi mengembangkan proyek-proyek tambang PTRO.
Peran lain dari PT PIN juga bertujuan untuk mengintegrasikan sektor logistik. Karena bagaimanapun, kata Iman, penambangan tidak bisa dipisahkan dari aspek infrastruktur logistik dan pemasaran. Apalagi, Petrindo saat ini terus melakukan integrasi dan sinergi dengan PTRO untuk memberikan layanan terbaik kepada para klien.
Direktur Utama Petrosea, Michael menambahkan, saat ini PTRO dalam diskusi untuk memperoleh kontrak-kontrak baru setelah resmi mengantongi beberapa kontrak pada tahun ini.
Beberapa kontrak yang sudah PTRO raih pada tahun ini semisal perjanjian kontrak dengan BP Berau Ltd senilai Rp 4,7 triliun sampai 25 November 2025. Saat ini, PTRO melaporkan progres pada proyek tersebut telah mencapai sekitar 22% dari realisasi volume dan revenue.
Pembiayaan, Ekspansi, Tahun 2025
Lebih lanjut, PTRO sudah meneken kontrak tambahan dengan PT Freeport Indonesia senilai Rp 1,6 triliun. PTRO juga menandatangani kontrak dengan PT Triasih Nawasena Bumi Sejahtera senilai Rp 54,6 miliar, lalu kontrak dengan PT Global Bara Mandiri senilai US$ 230 juta untuk periode selama delapan tahun.
Tidak berhenti di situ, emiten bersandi saham PTRO ini juga menggenggam kontrak dari PT Daya Bumindo Karunia sebesar Rp 1 triliun selama 12 bulan. Kemudian kontrak dari PT Vale Indonesia Tbk (INCO) senilai Rp 2,8 triliun selama 24 bulan untuk pengadaan dan konstruksi Blok Pomalaa.
Terakhir, PTRO juga sudah meraup kontrak dengan PT Pasir Bara Prima senilai US$ 1,08 miliar dengan durasi sepanjang umur tambang. Perseroan mengumumkan, telah melakukan penambangan di proyek ini pada September lalu dengan capaian produksi hampir 200.000 BCM.
Di samping menyampaikan perolehan kontrak, Michael menyebut bahwa PTRO juga sudah mengamankan pembiayaan untuk pengembangan dan ekspansi atas kontrak-kontrak baru yang sudah diperoleh pada tahun ini.
“Tentu, hal ini menjadi fondasi yang baik bagi Petrosea untuk mengembangkan operasional perusahaan di 2025 dan seterusnya. Itu merupakan sebuah strategi operasional yang saat ini berjalan di Petrosea,” papar Michael.
Michael menambahkan, untuk pertumbuhan yang bersifat anorganik, perseroan terbuka atas potensi-potensi yang ada. Namun, hingga saat ini dirinya mengaku belum dapat menyampaikan informasi lebih lanjut.
“Jadi, (pertumbuhan anorganik) ini tentu menjadi harapan bagi kami dari sisi manajemen untuk terus bisa memberikan kontribusi yang baik dan positif bagi para pemegang saham kami,” tandasnya.
Editor: Prisma Ardianto (ardiantoprisma@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News