JAKARTA, investor.id - Cuaca ekstrem makin mendorong perhatian pada topik perubahan iklim. Head of Research and Development (R&D) Home Care, Unilever Indonesia Ernest Basarah mengatakan, diperlukan kepedulian di level individu mencari solusi dalam hal melindungi lingkungan.
“Masih banyak kesempatan yang bisa digali dalam rangka mendorong keterlibatan individu dalam hal perubahan iklim dan lingkungan. Tidak perlu jauh-jauh, hal ini dapat dimulai dari kegiatan rumah tangga sehari-hari, yang dapat berkontribusi pada isu ini,” ujar Ernest di Jakarta, Sabtu (14/09/2024)
Baca Juga : Permen Baru KLHK tentang Perizinan Pengelolaan Limbah B3 Dikeluhkan Pengusaha
Dia memisalkan, dalam hal penggunaan produk cucian atau pencuci piring. Kerap kali luput dari perhatian bahwa sejak proses pembuatan hingga masuk ke saluran pembuangan, produk-produk tersebut mengeluarkan emisi gas rumah kaca yang merusak atmosfer.
“Oleh karena itu, konsumen yang peduli dengan isu iklim dan lingkungan perlu memilih produk dengan bahan dari sumber terbarukan dan bisa diurai,” ucapnya.
Laporan Statistik Lingkungan Hidup Indonesia tahun 2020 menunjukkan bahwa 57,42 persen rumah tangga masih membuang limbah mandi, cucian, dan dapur ke selokan tanpa melalui proses penyaringan yang benar.
Baca Juga : Maskapai Didorong Gunakan Energi Ramah Lingkungan
Ini hanyalah sebagian dari banyak contoh isu terkait lingkungan yang menunjukkan pentingnya kesadaran serta pengetahuan kita dalam memilih dan menggunakan produk sehari-hari. Sebagai individu, kita berhak untuk mempertanyakan dan bersikap kritis.
Ernest menerangkan, kesadaran ini mendorong banyak pelaku industri mengenai bagaimana menciptakan produk yang , berkualitas tinggi dan ramah lingkungan.
“Kenapa ini menjadi tantangan? Karena untuk menjaga keseimbangan segitiga ini bukanlah hal yang mudah. Biasanya, mereka justru bertolak belakang dan kita harus memilih: Hanya murah dan bagus; Bagus dan ramah lingkungan; atau Ramah lingkungan dan murah,” jelasnya.
Ernest juga berbagi bahwa tempatnya bekerja saat ini mendorong tim R&D untuk terus melakukan inovasi yang bertanggung jawab, atau responsible innovations untuk menciptakan masa depan yang lebih bersih dan lestari.
Secara global, Unilever mengacu pada strategi Clean Future yang diluncurkan pada tahun 2020. Strategi Clean Future ini menjadi landasan untuk terus berinovasi dalam menghasilkan sebuah produk dengan mengimplementasikan tiga aspek penting yakni superiority, affordability, dan sustainability.
Artinya, ketika melakukan riset dan pengembangan, tim R&D Unilever tidak bisa memilih salah satu atau dua dari ketiga unsur tersebut. Inovasi harus menghasilkan produk yang bagus dan murah, namun unsur berkelanjutan atau sustainability juga harus menjadi inti pada formulasi produknya.
Salah satunya adalah, pengembangan biosurfaktan yanbg terus meningkat secara eksponensial dalam sepuluh tahun terakhir dan terbukti memiliki toksisitas rendah, biodegradabilitas tinggi, serta performance yang sangat baik dalam berbagai aplikasi, seperti emulsifikasi, detergensi, hingga pembusaan.
Baca Juga : Klaster Mizumi Gunakan Produk Lebih Ramah Lingkungan
Selain itu biosurfaktan memiliki sifat unik antimikroba – menjadikannya ideal untuk diaplikasikan pada produk perawatan rumah tangga.
“Unilever pertama kali menggunakan biosurfaktan pada tahun 2019, ini adalah pertama kalinya biosurfaktan digunakan dalam produk pembersih rumah tangga di mana pun di dunia. Setelah sukses Unilever mengaplikasikannya ke banyak produk perawatan rumah tangga,” pungkasnya.
Editor: Ichsan Amin (tukangkuli@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News