#30 tag 24jam
Semarang Pimpin Kenaikan Harga Rumah Second di Jawa per September 2024
Kota Semarang memimpin kenaikan harga rumah seken di Pulau Jawa sebesar 1,2 persen secara bulanan. [1,057] url asal
#harga-rumah-second #harga-rumah-second-di-semarang #harga-rumah-seken #harga-rumah-seken-di-semarang
(IDX-Channel - Economics) 28/09/24 23:11
v/15691280/
IDXChannel - Kota Semarang memimpin kenaikan harga rumah seken di Pulau Jawa sebesar 1,2 persen secara bulanan, diikuti Yogyakarta (1 persen) dan Bandung naik tipis sebesar 0,1 persen. Hal itu terungkap dalam Rumah123 Flash Report edisi September 2024.
"Sejak awal 2021, indeks harga rumah seken di Semarang secara konsisten lebih tinggi dibandingkan dengan pergerakan indeks harga konsumen atau laju inflasi tahunan di kota tersebut," ujar Head of Research Rumah123 Marisa Jaya dalam keterangannya, Jakarta, Sabtu (28/9/2024).
Dia menuturkan, per Agustus 2024, pertumbuhan harga rumah di Semarang tercatat 2,2 persen lebih tinggi dibandingkan laju inflasi tahunan di Semarang. Hal ini tercatat konsisten sejak bulan April 2024.
"Sementara mayoritas kota-kota lain di Indonesia mengalami pertumbuhan harga tahunan yang secara umum lebih rendah dibandingkan inflasi, sehingga Semarang menjadi salah satu kota yang cukup potensial bagi investasi properti," ujarnya.
Di lain sisi, pertumbuhan harga rumah di Semarang tercatat sebesar 3,8 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan nasional, yaitu sebesar 0,2 persen. Rumah123 pun telah melihat adanya lonjakan tren permintaan (enquiries) terhadap rumah yang dijual mulai pertengahan 2023 lalu.
Puncak permintaan terjadi pada Agustus 2023, dengan pertumbuhan permintaan rumah yang dijual sebesar 82,5 persen dan rumah yang disewa tumbuh sebesar 64,1 persen secara tahunan. Setelah Agustus 2023, tren permintaan bergerak relatif stabil. Secara year-to-date, per Agustus 2024, permintaan rumah yang dijual tumbuh 8 persen, sementara rumah yang disewa mengalami penurunan 10,6 persen. Hal ini memperlihatkan adanya pergeseran preferensi di kalangan calon pembeli potensial dengan lebih memilih rumah yang dijual.
Didominasi Generasi Muda Dewasa Kelas Menengah
Pencari properti di Semarang saat ini mayoritas masih berasal dari kawasan itu sendiri sebesar 48,7 persen, disusul peminat dari Jakarta 18,2 persen dan Surabaya sebesar 4,4 persen. Selain tiga kota tersebut, peminat juga berasal dari sejumlah daerah lainnya, seperti Bandung, Depok, Malang, Kuta dan Tangerang.
Sementara dari segmen usia, calon pembeli potensial di Semarang umumnya berusia 25-34 tahun (32 persen), diikuti kelompok usia 45-54 tahun (23,8 persen) dan usia 18-24 tahun (18,6 persen).
Permintaan di Semarang didominasi oleh kelas menengah dan menengah-bawah, terutama pada segmen harga di bawah Rp400 juta, seperti di Tembalang (54,8 persen), Banyumanik (52 persen), Semarang Barat (57,6 persen), Semarang Tengah (42,4 persen), dan Pedurungan (41,7 persen).
Namun, Semarang Tengah juga mencatat permintaan signifikan untuk rumah di segmen Rp1-3 miliar (23,2 persen) dan di atas Rp5 miliar (12,3 persen), lebih tinggi dibanding kecamatan lain. Ini menunjukkan potensi Semarang Tengah bagi pasar kelas menengah dan menengah-atas.
“Faktor utama yang mendorong daya tarik ini adalah pertumbuhan ekonomi kota yang stabil dan harga properti yang masih relatif terjangkau dibandingkan dengan kota-kota besar lain seperti Jakarta atau Surabaya. Sehingga Semarang menjadi kota yang potensial bagi investasi, terlebih pertumbuhan harga yang cukup konsisten melampaui inflasi,” kata Marisa.
Selain itu, perkembangan infrastruktur di Semarang semakin pesat, termasuk pembangunan jalan tol dan transportasi umum yang lebih baik, yang mempermudah mobilitas di dalam kota maupun ke luar kota. Semarang juga menawarkan peluang kenyamanan hidup dengan fasilitas lengkap, dari pendidikan, kesehatan, hingga hiburan.
"Hal-hal ini menjadikan Semarang sebagai pilihan ideal bagi generasi muda dewasa yang mencari hunian nyaman dan investasi properti yang menjanjikan," katanya.
Lima area terpopuler di Semarang yang diminati pencari properti adalah Tembalang, Banyumanik, Semarang Barat, Semarang Tengah, dan Pedurungan. Pada 2024, pencarian rumah terkonsentrasi di area timur, khususnya Tembalang dan Banyumanik. Kedua wilayah itu dan kawasan Pedurungan dilewati rute tol Semarang yang menghubungkan area dalam kota dan luar kota.
Selain itu, di sekitar kawasan juga terdapat dua universitas negeri, yaitu Universitas Diponegoro dan Universitas Negeri Semarang, sehingga pengembangan properti di sekitar area ini juga dapat menargetkan pasar mahasiswa yang berasal dari luar Semarang.
Sementara Semarang Barat, terletak di utara kota dan dekat dengan Bandara Ahmad Yani serta kawasan wisata Kota Lama, merupakan area padat yang strategis karena dekat pusat kota. Di masa depan, pengembangan perumahan berskala besar di utara Semarang Barat diperkirakan akan menarik minat pencari properti.
Posisi Semarang yang terbilang strategis dalam sektor industri juga menjadi salah satu daya tarik bagi para pencari properti. Hal ini mengingat terdapat beberapa kawasan industri dan pergudangan berskala cukup besar di Semarang dan kabupaten sekitarnya, dan mendorong para karyawan yang bekerja di kawasan industri menjadi target pasar potensial bagi sektor rumah tapak.
Rumah123 mengobservasi adanya kesinambungan korelasi tren permintaan properti sektor industri, permintaan rumah dan pergerakan tren Indeks Harga Rumah Seken di Semarang. Misalnya, pada April 2023, permintaan properti di sektor industri mencatatkan penurunan bulanan sebesar 42,3 persen, permintaan rumah pun turun 12,9 persen, dan pada periode itu indeks harga mencatatkan penurunan 0,8 persen secara bulanan.
Bulan Agustus 2023, tren permintaan berangsur mengalami peningkatan, dan permintaan properti di sektor industri mencatatkan pertumbuhan permintaan sebesar 10,7 persen, permintaan rumah juga naik sebesar 8 persen, dan harga rumah naik 2 persen secara bulanan. Setelah permintaan dan harga mengalami peningkatan, per April 2024, permintaan pada properti sektor industri sebesar 34,6 persen secara bulanan, sementara rumah tapak mengalami pertumbuhan 5,5 persen. Dan indeks harga bergerak tumbuh sebesar 0,9 persen.
Tren Harga Rumah Naik 1,8 Persen
Secara umum kenaikan harga rumah di 13 kota besar Indonesia sebesar 1,8 persen secara tahunan. Denpasar menjadi kota yang mengalami kenaikan harga tahunan tertinggi, sebesar 15,7 persen, diikuti Bogor (6,1 persen) dan Yogyakarta (5,3 persen).
Di kawasan Jabodetabek, selain Bogor, ada dua kota yang mencatat pertumbuhan harga rumah seken dengan kenaikan tipis, yakni Jakarta (0,8 persen) dan Tangerang (0,7 persen). Sementara di Pulau Jawa, selain Yogyakarta, tiga kota mengalami kenaikan harga tahunan, seperti Semarang (3,8 persen), Surakarta (1,1 persen), dan Bandung (0,5 persen). Di luar Pulau Jawa, kenaikan harga tahunan tak hanya dialami Denpasar, Medan turut mencatat kenaikan sebesar 2,2 persen.
Dari segi selisih antara pertumbuhan harga dengan pergerakan inflasi tahunan, terdapat 4 kota memperoleh selisih tertinggi, yaitu Bogor (3,5 persen), Semarang (2,2 persen), Yogyakarta (3 persen), dan Denpasar (12,2 persen).
“Kenaikan selisih pertumbuhan di atas laju inflasi ini menunjukkan daya tarik yang semakin tinggi terhadap properti di wilayah-wilayah tersebut, serta menjadi indikasi penting bagi konsumen dan pelaku industri untuk memanfaatkan peluang investasi di tengah dinamika pasar properti yang sedang ditopang dukungan kebijakan positif, seperti turunnya suku bunga acuan hingga perpanjangan insentif PPN-DTP,” ujar Marisa.
(Dhera Arizona)
Mau Beli Rumah Seken di Jabodetabek? Cek Dulu Kisaran Harga Terbarunya
Rumah seken semakin diminati di Jabodetabek. Jakarta Selatan dan Tangerang jadi lokasi favorit. Ini kisaran harga rumah seken di Jabodetabek. [525] url asal
#rumah-seken #pasar-properti #jabodetabek #harga-rumah #rumah-second #harga-rumah-seken-di-jabodetabek
(detikFinance) 28/09/24 16:30
v/15677865/
Jakarta - Rumah seken atau rumah second adalah rumah yang sudah pernah ditinggali sebelumnya minimal oleh pembeli pertamanya. Rumah seken ini cukup ramai peminatnya karena beberapa di antaranya kondisinya masih bagus dan sudah siap huni.
Menurut data dari Rumah123 Flash Report edisi September 2024, lokasi paling populer bagi para pemburu rumah seken di Jabodetabek secara month-on-month adalah Jakarta Selatan 1,0%, Jakarta Utara 0,7%, Jakarta Barat 0,4%, Bogor 0,2% dan Bekasi 0,1%.
Namun, apabila melihat dari listing enquiries, Tangerang merupakan kota paling banyak peminatnya dengan persentase 14,4%. Kemudian, ada Jakarta Selatan dengan pangsa pasar 12,2%, dan Jakarta Barat sebesar 10,8%.
"Bulan ini pertumbuhan popularitas tahunan dipimpin oleh Jakarta, yaitu Jakarta Selatan, Jakarta Utara dan Jakarta Pusat, dengan pertumbuhan popularitas sebesar 1,9%, 1,1% dan 0,8% secara berurutan," ungkap data Rumah123 Flash Report edisi September 2024 seperti yang dikutip pada Sabtu (28/9/2024).
Apabila dilihat secara umum di kawasaan Jabodetabek month-on-month, kenaikan harga rumah seken di Jakarta sebesar 0,5% dan Bekasi 0,4%. Secara year-on-year, hingga Agustus 2024, kawasan Jabodetabek mencatatkan kenaikan harga rumah di Jakarta 0,8%, Tangerang 0,7%, dan Depok 0,6%. Sementara Bogor adalah kota yang mengalami kenaikan harga tahunan tertinggi sebesar 6,1%.
Sementara itu, untuk harga rata-rata rumah seken di sekitar Jabodetabek per Agustus 2024 menurut data dari Rumah123 Flash Report dikategorikan dari luas rumah kurang dari 60 m2 (terkecil) hingga di atas 251 m2 (terluas). Rinciannya sebagai berikut.
- Jakarta Barat: Rp 1,3 miliar (rumah terkecil) dan Rp 6,9 miliar (terluas).
- Jakarta Pusat: Rp 553 juta (rumah terkecil) dan Rp 19 miliar (terluas).
- Jakarta Selatan: Rp 984 juta (rumah terkecil) dan Rp 15 miliar (terluas).
- Jakarta Timur: Rp 692 juta (rumah terkecil) dan Rp 5,6 miliar (terluas).
- Jakarta Utara: Rp 1,6 miliar (rumah terkecil) dan Rp 10 miliar (terluas).
- Bogor: Rp 475 juta (rumah terkecil) dan Rp 5,4 miliar (terluas).
- Depok: Rp 535 juta (rumah terkecil) dan Rp 5,3 miliar (terluas).
- Tangerang: Rp 828 juta (rumah terkecil) dan Rp 6,5 miliar (terluas).
- Bekasi: Rp 580 juta (rumah terkecil) dan Rp 3,8 miliar (terluas).
Itulah kisaran harga rumah seken per Agustus 2024 di Jabodetabek.
(aqi/abr)
Penyebab Harga Rumah di Jakut, Depok, dan Tangerang Turun pada Q2 2024
Tren harga rumah menurun di kuartal II tahun 2024 di kawasan Jakarta Utara (Jakut), Depok, dan Tangerang. Begini rinciannya. [595] url asal
#harga-rumah #jakarta-utara #tangerang #depok #rumah-second
(detikFinance) 24/08/24 07:01
v/14679824/
Jakarta - Tren harga rumah menurun di kuartal II tahun 2024 di kawasan Jakarta Utara (Jakut), Depok, dan Tangerang. Penurunan harga ini dinilai merupakan imbas dari kondisi perekonomian yang cukup sulit serta momen anak-anak kembali ke sekolah.
Chief Marketing Pinhome Officer Fibriyani Elastria menyebut harga rumah yang turut terutama terjadi pada rumah second berukuran kecil, yakni tipe 54 ke bawah.
"Kalau kita lihat tadi Jakarta Utara, Depok, Tangerang, itu juga yang paling banyak terjadi penurunannya memang di tipe yang paling kecil sebetulnya, yang di bawah 54 meter persegi," ujar Fibri ke detikProperti, Jumat (23/8/2024).
Ia mengungkapkan harga rumah yang turun di kawasan Jakarta Utara, terutama pada Tanjung Priok sebesar 13%. Lalu, indeks harga rumah di Penjaringan turun sebesar 9% dan Cilincing 2%. Hal ini berdasarkan data Pinhome Home Value Index (PHVI).
Melihat tren tersebut, Fibri mengatakan penurunan harga rumah dapat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi yang cukup sulit. Menurutnya, masih ada banyak orang yang kehilangan pekerjaannya.
"Alasan penurunan indeks harga bisa bermacam-macam, tapi kalau kita lihat secara overall sepertinya memang ada implikasi dari situasi ekonomi," katanya.
Kemudian, ada faktor masuknya ke masa ajaran baru, sehingga orang tua perlu menyiapkan dana lebih untuk biaya pendidikan anak. Apalagi kalau sebuah keluarga mempunyai kebutuhan mendesak lainnya.
Kedua faktor tersebut membuat pemilik rumah terdesak untuk segera menjual aset. Oleh karena itu, mereka pun rela menurunkan harga jual rumah untuk mendapat penghasilan tambahan.
"Banyak penurunan tadi berada di lokasi-lokasi yang juga kemungkinan besar banyak keluarga-keluarga yang masih punya anak usia sekolah. Dan juga mungkin masih butuh dana cukup besar dibandingkan monthly income-nya, sehingga akhirnya mereka mencoba mencari tambahan income dengan melakukan penjualan aset," jelasnya.
Berbeda dengan kawasan lain yang cenderung stabil dan meningkat, ketiga kawasan ini dinilai lebih rawan terdampak gejolak ekonomi. Alhasil, tren harga rumah menunjukkan penurunan.
"Biasanya mereka yang memang jadi tadi seperti Depok, Tangerang, Jakarta Utara yang juga mungkin tadi beberapa spesifik kecamatan kondisinya mungkin lebih terkena dampak ekonomi dan juga keluarga-keluarga yang memang masih keluarga muda. Jadi belum betul-betul stabil banget gitu ya kondisi perekonomiannya," imbuhnya.
Di samping itu, Fibri mengatakan kondisi tersebut menjadi momen yang bagus bagi para pencari rumah pertama. Apalagi di kawasan Depok dan Tangerang yang termasuk wilayah favorit incaran masyarakat.
"Untuk daerah-daerah yang sedang turun ini sebetulnya ini timing yang bagus banget untuk bisa diambil kesempatannya. Karena memang jarang-jarang ini kan daerah yang selalu favorit ya, terutama yang tadi Depok sama Tangerang," tuturnya.
Ia juga mengingatkan agar segera memanfaatkan momen penurunan harga sebelum terjadi perubahan harga ke depannya.
"Kalau berdasarkan datanya kami gitu, jadi ya justru jangan kehilangan momentumnya meskipun tidak ada jaminan nanti langsung naik lagi di kuartal III," pungkasnya.
(dhw/abr)

