JAKARTA, KOMPAS.com - Kebayoran Baru, kawasan yang terletak di Jakarta Selatan (Jaksel), dikenal sebagai salah satu area elit dan terencana.
Dikutip dari buku berjudul "Gerak Jakarta: Sejarah Ruang-Ruang Hidup" Vol 3 yang diterbitkan oleh PT Pembangunan Jaya pada tahun 2021, Kebayoran Baru merupakan contoh penting dari eksperimen kota satelit pertama di ibu kota Indonesia.
Proyek ini dimulai setelah Perang Dunia II, saat dinamika sosial, politik, dan ekonomi mengalami pergeseran besar-besaran.
Wacana pembangunannya muncul tahun 1948, ketika Belanda masih berusaha mempertahankan kekuasaannya melalui sistem pemerintahan sipil NICA.
Pada 19 Juli 1948, rencana pembangunan Kebayoran Baru dibahas dalam sidang Dewan Perumahan Pusat (Centrale Huisvestingsraad).
Pemerintahan Kotapraja Jakarta saat itu menghadapi kebutuhan mendesak akan tambahan unit perumahan rakyat, sekaligus berupaya memulihkan kondisi kota setelah pendudukan Jepang.
Wilayah Kebayoran Baru direncanakan sebagai perluasan wilayah Jakarta dengan fasilitas penunjang yang lengkap. Eksekusi pembangunan berlangsung cepat.
Yayasan Pemugaran Pusat (CSW), sebuah perusahaan swasta, dibentuk pada 1 Juni 1948 untuk mengembangkan kawasan ini. Proses pembebasan lahan selesai pada Desember 1948, dan pembangunan dimulai pada awal tahun 1949.
Pembangunan yang berhasil
Ketika Belanda menyerahkan kekuasaannya kepada Indonesia pada Desember 1949, lebih dari 2.000 rumah, 42 kilometer jalan, dan 17 kilometer saluran air bersih telah terbangun.
CSW, yang awalnya mengelola proyek ini, terpaksa dilikuidasi setahun setelah peletakan batu pertama, seiring dengan penyerahan kedaulatan negara kepada Indonesia.
Peran CSW kelak diambil alih oleh Kementerian Pekerjaan Umum, lewat pembentukan lembaga Pembangunan Chusus Kebayoran Baru atau PCK.
Adapun desain dan konsep wilayah Kebayoran Baru dirancang dengan prinsip kota taman oleh M. Soesilo, mantan Kepala Pekerjaan Umum Kotapraja Jakarta selama masa pendudukan Jepang.
Konsep ini terinspirasi dari penataan kawasan elit Menteng di tahun 1910-an. Lahan seluas 730 hektar dipecah menjadi blok-blok zonasi yang diberi penanda alfabetikal dari A sampai S.
Setiap blok dialokasikan untuk berbagai fungsi, termasuk perumahan rakyat, perumahan pegawai negeri, vila, flat, industri kecil, serta ruang terbuka hijau.
Proses pembangunan Kebayoran Baru tidak lepas dari tantangan. Tarik ulur antara keinginan untuk memajukan kota dan dinamika politik yang terus berubah menjadi kendala tersendiri.
Namun, keberhasilan proyek ini menandai langkah penting dalam pengembangan urban di Jakarta dan memberikan pelajaran berharga bagi perencanaan kota di masa mendatang.