JAKARTA, investor.id– Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpuruk, jatuh 55,02 poin (0,73%) ke level 7.518,9 pada penutupan sesi I, Jumat (1/11/2024). Pilarmas Investindo Sekuritas menjelaskan, IHSG hari ini babak belur dihajar bejibun sentimen negatif, baik dari eksternal maupun dalam negeri.
Pilarmas menyebut, dari eksternal, pasar yang tampaknya berhati-hati menunggu kejelasan lanjutan mengenai kondisi ekonomi makro dan hasil pemilu Presiden (Pilpres) Amerika Serikat (AS). Saat ini, pasar sedang menantikan laporan ketenagakerjaan AS untuk mengukur kesehatan pasar tenaga kerja menjelang pertemuan kebijakan moneter The Fed dan pemilihan presiden (Pilpres) AS yang ketat pada minggu depan.
“Kondisi ini membuat pasar menghadapi volatilitas selama sepekan ke depan,” tulis Pilarmas dalam risetnya, Jumat.
Dari China, Pilarmas mengatakan, data PMI Manufaktur Umum Caixin menunjukkan kenaikan menjadi 50,3 pada Oktober 2024, dari sebelumnya 49,3 pada bulan September, melampaui perkiraan pasar sebesar 49,7. Angka ini menandakan kembalinya ekspansi aktivitas pabrik setelah pemerintah meluncurkan serangkaian langkah stimulus pada akhir September.
“Selain itu, pasar juga menantikan rencana pemerintah China untuk menghidupkan kembali ekonominya,” jelas Pilarmas.
Menurut laporan Reuters, pemerintah China sedang mempertimbangkan persetujuan penerbitan utang baru senilai lebih dari 10 triliun yuan (US$ 1,4 triliun) dalam beberapa tahun mendatang. Langkah ini dilakukan sebagai upaya membangkitkan ekonomi yang rapuh akibat penurunan berkelanjutan di sektor properti dan rekor rendahnya tingkat kepercayaan konsumen, yang terus menghambat pemulihan ekonomi negara tersebut.
Manufaktur Indonesia
Di dalam negeri, Pilarmas mengatakan, tekanan datang dari indeks manufaktur Indonesia yang masih berada di zona kontraksi. S&P Global mencatat bahwa PMI Manufaktur Indonesia pada bulan Oktober berada di angka 49,2, sama seperti bulan sebelumnya, yang mengindikasikan aktivitas manufaktur yang stagnan. Perlambatan ini disebabkan oleh penurunan output dan pesanan baru, yang turut dipengaruhi oleh ketidakpastian global.
“Kondisi ini dapat berdampak pada pemutusan hubungan kerja sebagai upaya efisiensi di sektor industri, yang pada akhirnya akan menurunkan daya beli masyarakat dan mempengaruhi perekonomian nasional,” jelas Pilarmas.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa laju inflasi tahunan Indonesia turun menjadi 1,71% pada Oktober 2024, yang merupakan level terendah sejak Oktober 2021. Angka ini masih berada dalam kisaran target bank sentral sebesar 1,5% hingga 3,5%. Laju inflasi inti mencapai level tertinggi dalam 15 bulan terakhir, yaitu sebesar 2,21%, naik dari 2,09% pada September.
Secara bulanan, Indeks Harga Konsumen (IHK) mencatat kenaikan tipis sebesar 0,08% pada Oktober, yang merupakan kenaikan bulanan pertama dalam enam bulan terakhir setelah penurunan 0,12% pada September.
Pada sesi pertama hari ini, saham-saham yang mengalami kenaikan ERTX, GPSO, EMDE, JIHD, KONI. Sedangkan saham-saham yang mengalami penurunan terbesar KLAS, TAXI, SILO, BDKR, BEBS.
Pilarmas merekomendasikan saham WIKA untuk perdagangan di sesi I. “Kami merekomendasikan WIKA buy dengan support dan resistance di level 372-414,” tutup Pilarmas.
Editor: Indah Handayani (handayani@b-universe.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News