#30 tag 24jam
Localpreneur, Spirit Pemberdayaan dari Pengrajin Eceng Gondok
Rama Craft sendiri adalah sebuah UMKM yang didirikan Masjeng sejak 2014 silam di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). [706] url asal
#eceng-gondok #arah-sosial #umkm #pelaku-umkm
(Bisnis.Com - Entrepreneur) 29/10/24 14:00
v/17156705/
Bisnis.com, MAKASSAR - Berbeda dari kebanyakan pelaku usaha, Masjeng menegaskan dirinya tidak begitu berambisi mengejar pencapaian mentereng dari kinerja usahanya. Selama ini dia hanya mencoba mengikuti arus ke mana orang-orang di sekitar mendorongnya.
Prioritasnya malah lebih cenderung mengarah ke arah sosial, di mana memberdayakan masyarakat sekitar menjadi visi utama yang selalu diaplikasikan.
"Kalau dibilang harapan supaya usaha saya tambah besar atau sampai ekspor, ya boleh saja, tapi itu bukan prioritas. Selama ini saya hanya jalani yang terbaik saja," ungkap Masjeng, Owner Rama Craft kepada Bisnis, Kamis (10/10/2024).
Rama Craft sendiri adalah sebuah UMKM yang didirikan Masjeng sejak 2014 silam di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Bergerak di bidang kerajinan tangan, di mana bahan bakunya dari eceng gondok.
Tanaman liar yang kerap menutupi permukaan sungai di Makassar ini disulap menjadi aneka produk seperti tas, tempat tissue, kursi jamur, bantalan kursi, wadah tempat air minum, meja, bossara atau tempat kue dan lain sebagainya.
Semangat Masjeng memberdayakan masyarakat ditunjukkan dari caranya merekrut karyawan. Saat ini, dari lima orang karyawannya, empat di antaranya merupakan perempuan lanjut usia. Sementara satunya lagi adalah laki-laki yang bertugas membuat desain anyaman.
Dia menomor satukan kalangan lanjut usia karena dianggap rentan di dunia kerja. Sulit bagi mereka untuk bekerja meskipun masih memiliki skill yang mumpuni. Padahal di Makassar, banyak dari kalangan ini yang masih membutuhkan penghasilan untuk kebutuhan hidup keluarganya.
Selain karyawan, Masjeng juga memberdayakan masyarakat yang tinggal di pinggiran sungai. Mereka dilatih untuk bisa menjadi pengepul eceng gondok agar mendapat penghasilan tambahan. Cara ini ampuh dalam mendukung perekonomian warga sekitar sungai hingga mengefisienkan kerja usahanya.
"Kami menjadikan mereka pengepul eceng gondok, kami berikan pelatihan, juga bagaimana caranya mengeringkan tanaman ini supaya bisa dijual. Untuk membuat kerajinan, kami beli lah eceng gondok dari mereka. Kami tidak kewalahan, mereka pun juga bisa dapat untung," jelasnya.
Meskipun tidak terlalu berambisi mengejar keuntungan, namun nyatanya Rama Craft cukup mendapatkan perhatian konsumen. Omzetnya terus meningkat dari tahun ke tahun, apalagi setelah mendapatkan dukungan dari PLN melalui program Srikandi Movement 2024.
Berbagai bantuan peralatan seperti mesin jahit berjenis cangklong yang diberikan meningkatkan pendapatannya hingga dua kali lipat. Dari yang sebelumnya hanya mampu memproduksi sekitar 20 buah kerajinan dengan omzet Rp4 juta per bulan, kini sudah menyentuh kapasitas produksi hingga 50 buah dengan omzet rata-rata Rp8 juta per bulan.
"Alhamdulillah PLN melirik dan bersedia membantu kami dari sisi dukungan peralatan serta berbagai pelatihan. Akibatnya pendapatan kami bisa naik rata-rata hingga berlipat-lipat," ungkapnya.
Strategi pemasaran yang diterapkan sebenarnya cukup sederhana, hanya menjual di galeri miliknya serta memanfaatkan berbagai platform media sosial untuk memperluas jangkauan. Namun pendapatan Rama Craft bisa selalu bertumbuh akibat seringnya mereka mengikuti pameran.
Masjeng mengatakan hingga saat ini pihaknya belum pernah melakukan ekspor secara resmi, namun berkat aktifnya Rama Craft di beberapa pameran, banyak orang-orang dari berbagai belahan dunia yang telah membeli produknya.
"Sudah pernah ada orang Jepang yang memborong sandal anyaman sampai 40 pasang, beberapa orang dari Timur Tengah, dan pernah juga ada yang beli di Swiss waktu produk kita dipajang di sana," rincinya.
Tantangan satu-satunya yang dihadapi kini hanya persoalan waktu pembuatan produk. Oleh karena pembuatannya harus dianyam satu persatu, beberapa produk yang cukup besar bisa membutuhkan waktu penyelesaian hingga dua sampai tiga hari.
Harga yang ditawarkan pun cukup beragam mulai Rp25.000 untuk produk seperti tempat pensil dan beberapa pot bunga hingga Rp800.000 untuk kursi dan meja.
Sementara itu General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (Sulselrabar) Budiono mengatakan pemberian bantuan kepada pelaku UMKM perempuan adalah wujud komitmen PLN dalam mendorong dan memberdayakan perempuan di lingkungan sekitar.
Apalagi UMKM Rama Craft yang membuat kerajinan anyaman dari bahan baku eceng gondok tidak hanya bermanfaat untuk peningkatan ekonomi, tetapi juga ramah lingkungan.
"Kami melihat bahwa kegiatan yang dilakukan Rama Craft sangat luar biasa. Tidak hanya memberdayakan ibu-ibu dan kelompok perempuan rentan, tetapi bahan baku yang digunakan yaitu eceng gondok, juga sangat ramah lingkungan," kata Budiono.
Maka dari itu dia optimis bahwa dengan bantuan berupa mesin jahit berjenis cangklong, kapasitas produksi dan variasi produk dari Rama Craft akan semakin meningkat.
“Kami berharap dengan bantuan yang kami berikan, termasuk mesin jahit berjenis cangklong ini, kapasitas produksi akan semakin meningkat dan variasi produk yang dihasilkan oleh Rama Craft akan semakin beragam,” tutupnya.
Melirik Cuan dari UMKM Eceng Gondok
Asuransi BRI Life berkolaborasi dengan perusahaan induk (BBRI) serta BRI Research Intitute berpartisipasi dalam memberdayakan UMKM di daerah. [464] url asal
#umkm #umkm-indonesia #eceng-gondok #wirausaha #bri-life
(MedCom - Ekonomi) 13/08/24 08:35
v/14349155/
Jakarta: Asuransi BRI Life berkolaborasi dengan perusahaan induk (BBRI) serta BRI Research Intitute berpartisipasi dalam memberdayakan UMKM di daerah, salah satunya dengan meresmikan Rumah Pemasaran UMKM Eceng Gondok, Waduk Rawa Pening Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang. Kegiatan ini diharapkan akan mampu meningkatkan penjualan para perajin eceng gondok di sana.Sebelum peresmian dilakukan, telah dilaksanakan berbagai kegiatan pendukung bagi anggota UMKM, antara lain pelatihan legalitas usaha, digitalisasi keuangan dan marketing, serta pendampingan dan pembentukan pojok digital (sentra penjualan digital). BRI Life juga memberikan bantuan berupa peralatan dan perangkat digital guna penunjang penjualan, sosialisasi asuransi serta pemberian produk asuransi mikro Pijar secara cuma-cuma kepada para peserta.
Waduk Rawa Pening dipilih sebagai salah satu tempat pemberdayaan usaha, karena perajin di sekitar waduk telah memanfaatkan eceng gondok yang tumbuh subur dan mengancam ekosistem waduk selama kurun waktu 20 tahun. Melalui perajin UMKM di sini, eceng gondok dapat disulap menjadi produk bernilai, namun para perajin ini masih terkendala dalam memasarkan produk-produknya.
| Baca juga: Pelatihan Kerajinan Eceng Gondok Buka Peluang Kerja Warga Kuningan |
Direktur Utama BRI Life Aris Hartanto berharap kegiatan ini mampu meningkatkan penjualan UMKM Eceng Gondok di Waduk Rawa Pening. "BRI Life secara konsisten mendukung program OJK, untuk meningkatkan literasi keuangan bagi masyarakat. Melalui kegiatan ini, BRI Life juga turut berupaya dalam meningkatkan pendapatan, khususnya bagi anggota UMKM Pengrajin Eceng Gondok Waduk Rawa Pening Semarang," kata dia dalam keterangan resmi, Selasa, 13 Agustus 2024.
Menurut Aris, melalui pendampingan yang diberikan, perajin diberikan edukasi bagaimana cara untuk menambahkan value suatu produk, dengan menambahkan background story mulai dari proses pembuatan produk, sehingga akan didapat keunikan yang lebih inovatif dan kompetitif dari setiap produk yang akan dijual.
UMKM Bengok Craft Binaan BRI Group ini memiliki sedikitnya 30 perajin dan telah menghasilkan berbagai produk yang berbahan dasar eceng gondok seperti tikar, tas, keranjang, figura, sandal, gantungan kunci, media tanam dan lain sebagainya.
Sulap eceng gondok punya nilai jual ekonomi yang tinggi
Di tangan-tangan kreatif pelaku UMKM, mereka menyulap eceng gondok menjadi produk bermanfaat dan memiliki nilai jual ekonomi tinggi, sementara pada umumnya masyarakat menganggap eceng gondok merupakan tanaman tidak berguna, atau menjadi gulma karena dapat merusak ekosistem perairan.
Koordinator UMKM Eceng Gondok Rawa Pening Firman Setiyaji menjelaskan, produk yang dihasilkan UMKM Bengok Craft, menawarkan produk yang berbeda, yakni unik, klasik dan etnik dan berfokus di fashion and craft. Produk eceng gondok yang dihasilkan tetap fungsional dan dapat dipakai sehari-hari.
"Kita ingin membawa produk lokal eceng gondok ini dapat masuk ke pasar global. Untuk itu kami terus berusaha menghasilkan produk yang dapat bersaing di pasaran. Kami mengajak semua anggota perajin untuk dapat melek terkait kewirausahawan. Dengan mengikuti pelatihan yang diberikan BRI Life ini, harapan kami tentunya agar para perajin disini akan lebih paham, terkait managemen keuangan, pemasaran dan bagaimana bisa mengembangkan usaha untuk lebih baik ke depannya," jelas Firman.
(AHL)
Wanita Ini Bangkit dari Kemiskinan Berkat Eceng Gondok, Begini Kisahnya
Di tangan Wiwit Manfaati, eceng gondok berhasil disulap menjadi aneka kerajinan seperti tas dan hampers bernilai tinggi. [678] url asal
#peluang-usaha #eceng-gondok #saatnya-jadi-bos #solusi-ukm
(detikFinance - SolusiUKM) 23/07/24 14:00
v/11762592/
Jakarta - Eceng gondok kerap dianggap sebagai tanaman gulma yang dapat mengancam keberlanjutan ekosistem perairan. Namun, di tangan Wiwit Manfaati, eceng gondok berhasil disulap menjadi aneka kerajinan seperti tas dan hampers bernilai tinggi.
Wiwit bercerita bagaimana tanaman berwarna hijau ini mampu menghidupi dirinya dan keluarganya. Padahal sebelum memutuskan berbisnis, keluarganya dilanda kemiskinan dan ia hanyalah ibu rumah tangga.
"Saya itu memulai usaha tahun 2008, berangkat dari pelatihan di kelurahan kami. Jadi di Kelurahan Kebraon ada pelatihan untuk warga, ada 30 orang, saya satu di antaranya itu. Selama 10 hari bikin kerajinan eceng gondok," ujar Wiwit kepada detikcom, ditulis, Selasa (23/7/2024).
Lulusan sarjana Teknik Informatika ini menyebut bisnis kerajinannya tidak langsung berjalan mulus. Kerap kali ia merasa tak puas dengan hasil karyanya namun terus melakukan perbaikan.
Meski sudah mengikuti beberapa pameran di pusat perbelanjaan, produk buatannya tak kunjung laku. Kritik pedas sempat dilontarkan Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya kala itu.
"Tahun 2010 itu saya kan sering dikasih pameran gratis di mal sama Dinas di sini, tapi nggak laku. Mungkin karena kurang menarik ya, makanya nggak banyak yang beli. Dari situ saya perbaiki produk saya. Sampai ketemu lah sama Bu Risma, terus dikasih tantangan. 'Lah masa kok kayak gini'. Dia kan bilang 'kok jelek sih'. Saya tertantang, saya perbaiki, saya pakai handle kulit, pakai yang berkelas gitu lah, akhirnya mulai bisa diterima pasar," sambung Wiwit.
Ia juga mengaku sempat dibantu Risma untuk rebranding hingga diberi desainer gratis untuk usahanya. Lalu sejak 2012, nama Witrove mulai digunakan, desain terus diperbaiki hingga akhirnya produknya dapat diterima di pasar. Witrove kini lebih fokus melayani pasar kelas menengah atas.
"Awalnya tidak mudah begitu saja. Jungkir baliknya juga banyak. Awalnya saya berangkat dari keluarga miskin, modal pelatihan itu saja. Akhirnya juga bisa usaha ini, bisa menghidupi kami sekeluarga, dan kami bisa branding nama, toko, dan tawaran makin banyak," terang dia.
Foto: Dok. Pribadi |
Wanita yang berdomisili di Kota Surabaya ini bercerita, modal awal merintis bisnis eceng gondok hanya Rp 20 ribu untuk pembuatan kerajinan tas. Modal tersebut dipakai membeli eceng gondok hingga perlengkapan dasar produksi tas.
"Rp 20.000 doang. Kan waktu itu eceng gondok masih Rp 1.500, nah Rp 20 ribu itu saya pakai beli eceng gondok 1 kilo. Terus kemudian saya pakai untuk beli handle tas, kain dalemannya. Terus abis itu, begitu dapat uang saya belanjakan lagi, ya diputar di situ uangnya," imbuhnya.
"Dan itu berhasil menghidupi keluarga sampai sekarang. Penghasilan saya di situ semua. Suami saya pernah ketipu bisnis sama temannya, kita terjerat utang banyak, sekarang kita hidup dari eceng gondok. Ya walaupun awalnya susah payah, apalagi anak tiga, sekolah semua," katanya lagi.
Ia mengaku bisa meraup omzet hingga puluhan juta rupiah per bulan dengan mengolah eceng gondok. Bahkan ia pernah menerima Rp 1,5 miliar pada 2018 untuk pengerjaan proyek selama delapan bulan dari Risma dalam pengerjaan 7.000 buah produk. Namun Wiwit mengaku penjualannya saat ini tidak sebagus seperti sebelum pandemi Covid-19.
Wiwit sempat menjelaskan proses pengolahan eceng gondok menjadi produk kerajinan. Awalnya eceng gondok diambil dari waduk yang berlokasi tak jauh dari rumahnya untuk kemudian dijemur selama satu minggu. Eeceng gondok juga harus melalui proses pengasapan selama satu hari satu malam.
"Kemudian kita asap pakai belerang sama arang. Kita ambil asapnya doang, itu sehari semalam. Abis itu kita jemur lagi supaya nggak lembab. Abis dijemur baru dibawa pulang untuk dianyam," sebutnya.
Ia menjelaskan, banyak tidaknya eceng gondok yang diolah tergantung dari pesanan yang masuk. Wanita yang dulunya aktivis ini memanfaatkan tenaga kerja lokal lewat sistem pemberdayaan. Adapun produk yang dihasilkan mencakup tas, tempat tisu, meja, kursi, sandal, hingga pembatas ruangan.
"Kisaran harga dari Rp 25 ribu sampai Rp 2 juta. Yang paling mahal itu pembatas ruangan, karena besar. Yang paling murah itu kayak piring yang gitu-gitu lah," sebut dia.
Saat ini produk Wiwit dengan brand-nya Witrove berhasil mejeng di gerai Gramedia, MR. DIY, hingga Sarinah. Produk Witrove juga dijual online di media sosial dan e-commerce, hingga berhasil tembus ke pasar luar negeri. Witrove beberapa kali mengikuti pameran di luar negeri, seperti Guangzhou, China, Seoul, Korea Selatan, Belanda, Inggris, hingga Dubai.
(ily/ara)
Unversitas Brawijaya Kembangkan Limbah Pisang dan Enceng Gondok
Limbah pisang dan eceng gondok dikembangkan oleh universitas Brawijaya [372] url asal
#limbah-pisang #eceng-gondok #universitas-brawijaya
(Bisnis.Com) 11/07/24 18:49
v/10442595/
Bisnis.com, MALANG—Universitas Brawijaya (UB) mengembangkan pita mulsa organik dari limbah pisang, enceng gondok dan daun paitan (crotalaria sp) untuk mencegah pertumbuhan gulma dan mengurangi laju evaporasi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dosen Fakultas Pertanian, Rita Parmawati, mengatakan pita mulsa organik merupakan sebuah teknologi yang menggantikan mulsa dari plastik yang dianggap tidak ramah lingkungan karena tidak bisa terurai dengan baik.
“Kelemahan dari penggunaan mulsa plastik terhadap pertumbuhan tanaman adalah dapat menurunkan pertumbuhan dan hasil tanaman, meningkatkan serangan hama, meningkatkan kontaminasi mikroplastik, genangan air, hilangnya struktur tanah dan mengurangi aktivitas mikroorganisme tanah,” katanya, Kamis (11/7/2024).
Dia menjelaskan, teknologi itu akan diterapkan pada saat mendekati musim tanam ke dua di Kabupaten Malaka Nusa Tenggara Timur (NTT), sebab di wilayah itu limbah pisang sangat melimpah.
"Oleh karena itu, kita manfaatkan bersama enceng gondok dan daun paitan untuk dihancurkan, dicacah dan di cetak menjadi sebuah lembaran se lebar 25 cm," katanya.
Fungsinya, kata dia, untuk menekan pertumbuhan gulma dan mengurangi laju evaporasi sampai dengan 40% dan jika terkena matahari pita mulsa organik akan terurai menjadi pupuk.
Saat ini, proses penerapan pita mulsa dilakukan pada skala laboratorium dan sudah pada tahap sosialisasi pada bupati Kabupaten Malaka, dan beberapa gapoktan serta kepala dinas di lingkungan Kabupaten Malaka.
"Kenapa kita pilih Kabupaten Malaka sebagai lokasi penerapan teknologi Pita Mulsa Organik karena berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pertumbuhan pertanian di daerah tersebut masih rendah. Padahal masyarakat Kabupaten Malaka menggantungkan sistem perekonomiannya dari bidang pertanian," katanya.
Rita menambahkan, Kabupaten Malaka juga termasuk wilayah perbatasan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi rendah.
"Permasalahannya disana Produktifitas padi itu mulai tahun 2020 sampe 2022 mengalami penurunan dan kesulitan untuk pasokan benih padi dan ada permasalahan pertanian lain seperti gulma, evaporasi, suhu tanah, dan sistem irigasi. Hal itulah yang saat ini berusaha kita pecahkan dan harapannya produktiftas padi di tahun 2024 itu mengalami kenaikan," ujarnya.
"Kami akan ke Malaka akhir Juli ini. Untuk proses penbuatan Pita Mulsa bagi lahan 10 hektar kami bekerjama dengan pabrik mesin PT. Widjaya Teknik Indonesia (Witech)," katanya.
Untuk keberlanjutan penerapan teknologi, dia menegaskan, masyarakat akan diajarkan pembuatan pita mulsa organic mulai dari pengenalan bahan, mencacah, pembuatan bubur pita, pengeringan dan pengepresan sehingga harapannya masyarakat mampu memproduksi secara mandiri pita mulsa organik. (K24)
