#30 tag 24jam
Pasar Keuangan Global Terpukul, Investor Sebaiknya Pertahankan Alokasi di Aset Stabil
kocok ulang investasi di tengah gejolak pasar keuangan global [706] url asal
#pasar-keuangan #pasar-keuangan-global #strategi-investasi #strategi-investasi-saham #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #market-amp-rekomendasi
(Kontan-Investasi) 05/08/24 20:09
v/13410972/
Reporter: Akmalal Hamdhi | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasar keuangan global terpukul kondisi Amerika Serikat (AS) yang di ambang resesi. Dalam kondisi penuh kekhawatiran ini, investor sebaiknya mengalokasikan ke aset aman terlebih dahulu sambil menunggu perkembangan pasar selanjutnya.
Sinyal pemangkasan suku bunga bank sentral AS Federal Reserve (The Fed) pekan lalu memang membuat pasar saham dunia sumringah, akan tetapi data ekonomi AS yang memburuk telah menyetir anjloknya pasar saham global.
Laporan penggajian nonpertanian (NFP) bulanan AS menunjukkan pertumbuhan pekerjaan turun menjadi 114.000 pada Juli dari 179.000 pada Juni. Sementara, tingkat pengangguran AS naik menjadi 4,3% pada Juli yang menunjukkan kerentanan terhadap resesi.
Akibatnya, bursa saham AS Wall Street ambruk yang turut mengekor bagi pergerakan pasar saham global. Dari dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 3,40% atau 248,47 poin ke level 7.059,65, Senin (5/8).
Head of Investment Research Moduit, Manuel Adhy Purwanto mengamati, tekanan di pasar saat ini akibat munculnya kekhawatiran resesi karena bank sentral Amerika Serikat (AS) alias The Fed yang terlambat menurunkan suku bunga. Asumsi tersebut berdasarkan data ekonomi yang dirilis yakni PMI Manufaktur AS turun ke 46 dan tingkat pengangguran AS naik ke 4,3%.
“Data ini membawa kesimpulan pelaku pasar bahwa ancaman resesi meningkat di AS, yang kemudian memicu kekhawatiran akan terjadinya hard landing,” ungkap Manuel kepada Kontan.co.id, Senin (5/8).
Adapun jika The Fed menaikkan suku bunga dalam jumlah besar, itu dapat menyebabkan resesi yang dikenal sebagai hard landing . Namun, jika The Fed dapat menaikkan suku bunga cukup untuk memperlambat ekonomi dan mengurangi inflasi tanpa menyebabkan resesi, maka telah mencapai apa yang dikenal sebagai soft landing.
Kemudian, lanjut Manuel, tekanan bagi pasar juga diakibatkan Bank Sentral Jepang (BoJ) yang kembali menaikkan suku bunga acuan menjadi 0,1% - 0,25% dari rentang sebelumnya 0% - 0,1%. BoJ juga akan mengurangi program pembelian obligasi yang menimbulkan aksi jual besar-besaran di pasar saham Jepang (Nikkei) dan juga berpengaruh ke global.
Dengan suku bunga Jepang sebelumnya yang berada di 0% selama 17 tahun, membuat investor global banyak melakukan carry trade dengan mengambil pinjaman dalam Yen dengan bunga rendah dan berinvestasi di negara lain dengan ekspektasi return yang lebih tinggi. Sehingga, terjadi penyesuaian portofolio investor global.
“Risiko geopolitik di Timur Tengah dan Korea Utara yang menimbulkan ekskalasi perang lebih luas turut membuat investor cenderung defensif,” tambah Manuel.
Sementara itu, dari domestik, Manuel melihat adanya tekanan pasar akibat pengaruh rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal kedua 2024 sebesar 5,05%. Namun meskipun hasilnya lebih rendah secara kuartalan ataupun tahunan, tetapi masih di atas ekspektasi pasar.
“Dengan kondisi di atas saat ini, pasar memperkirakan Bank Sentral AS akan mempercepat penurunan suku bunga dengan probabilitas penurunan sebesar 50 bps di bulan September,” jelas dia.
Menurut Manuel, pemangkasan suku bunga AS nantinya akan berdampak positif ke Rupiah dan obligasi. Kondisi penurunan pasar saham saat ini juga menjadi kesempatan menarik untuk masuk, namun tetap perlu mempertahankan alokasi portofolio di aset yang lebih stabil seperti obligasi, pendapatan tetap, atau emas.
“Besarnya alokasi disesuaikan dengan profil resiko dan preferensi dari masing-masing investor. Cuma memang dalam kondisi market panik, ada kesempatan membeli aset beresiko di harga murah,” tambahnya.
Perencana Keuangan Finansia Consulting Eko Endarto menilai, kondisi global yang sedang ambruk salah satunya berkaitan dengan masih memanasnya konflik Timur Tengah. Akibatnya, investor mencari keamanan aset dengan mengakumulasi investasi tunai (cash).
“Untuk sementara, ketakutan perang dan imbas ke ekonomi global bisa memengaruhi suplai dan distribusi komoditas. Jadi sementara investor akan mengamankan aset ke kas sambil menunggu kondisi global akan seperti apa,” jelas Eko saat dihubungi Kontan.co.id, Senin (5/8).
Dari dalam negeri, sentimen pasar yang selalu akan naik saat pergantian kepemimpinan telah membuat investor melepas investasi mereka yang tidak prospektif. Dimana, ada peralihan untuk bersiap masuk ke investasi yang lebih aman dan yang biasanya akan naik setelah pelantikan presiden.
Sehingga, Eko menyarankan investor saat ini untuk sementara bisa memegang kas dan emas sebagai aset aman (safe haven). Dalam jangka panjang, saham memang masih bagus, namun setidaknya menunggu jelang pelantikan Presiden, khususnya mencermati saham yang terafiliasi dengan pemerintahan baru.
“Saham yang berhubungan dengan rezim baru dan koleganya kemungkinan naik. Misalnya kalau Erick Thohir jadi Menteri lagi, maka saham yang terafiliasi dengan dirinya akan menarik dan potensi meningkatnya tinggi,” imbuhnya.
Wakil Dirut Bank Mandiri Alexandra Askandar: Jangan Panik Saat Investasi Turun
Setelah reksadana, Wakil Direktur Utama Bank Mandiri (BMRI) Alexandra Askandar menjajaki instrumen saham. [827] url asal
#bank-mandiri #reksadana #investasi-saham #tips-investasi #tips-investasi-buat-pemula #cara-investasi-saham-jangka-panjang #strategi-investasi-saham #alexandra-askandar #berita-nasional #indonesia #pem
(Kontan) 27/07/24 07:00
v/12268408/
Reporter: Nadya Zahira | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Wakil Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) Alexandra Askandar tertarik berinvestasi sejak muda. Perempuan kelahiran tahun 1972 ini berinvestasi karena senang menabung dan ingin membangun kekayaan dalam jangka panjang serta mencapai tujuan keuangan secara mandiri.
Alexandra awalnya berinvestasi di instrumen reksadana. Produk reksadana dikelola oleh manajer investasi profesional sehingga menciptakan rasa tenang. Selain itu, menurut dia reksadana sudah cukup terdiversifikasi, yang artinya risiko investasinya lebih terukur dan tersebar di berbagai instrumen keuangan.
Setelah reksadana, Alexandra mulai menjajaki instrumen saham. Bagi dia, investasi ini cukup menguntungkan dibandingkan dengan jenis investasi lainnya. Menurut Alexandra, meski instrumen saham memiliki sejumlah risiko dan tantangan. Tetapi instrumen ini cukup likuid.
"Awalnya yang mengenalkan instrumen saham itu ibu saya, padahal beliau hanya ibu rumah tangga, dan beliau juga yang mengajarkan saya untuk menabung. Pada awalnya saya membeli saham Telkom (TLKM)," kata Alexandra saat ditemui Kontan.co.id, di Gedung Plaza Mandiri, Jakarta, Jumat (19/7).
Seiring berjalannya waktu, Alexandra mulai membeli saham perbankan karena lebih stabil dibandingkan degan saham di komoditas yang lebih volatile. Kendati begitu, dia mengatakan bahwa investasi saham tetap menghadapi kenaikan dan penurunan, tergantung dari kondisi pergerakan pasar. Maka dari itu, investor harus cerdas dalam merespons fluktuasi tersebut.
"Saya belajar bahwa ketika kondisi pasar sedang kurang menarik, sebaiknya jangan panik. Justru, ini bisa menjadi peluang untuk berinvestasi lebih di harga yang lebih murah," kata dia.
Alexandra menambahkan, selalu ada siklus dalam pasar keuangan. Dengan memiliki pandangan jangka panjang serta tetap tenang, kita bisa memanfaatkan peluang tersebut untuk keuntungan jangka panjang.
Tak hanya berinvestasi di instrumen reksadana dan saham, Alexandra juga menanam investasinya di deposito. Dia menilai, investasi ini dapat memberikan keuntungan finansial dan memiliki profil risiko rendah.
Soal alokasi investasi, Alexandra berbagi tips,ideal untuk investor yang ingin memulai invetasi. Kata dia, investasi bisa dikelompokkan menjadi dua yakni aset likuid dan non likuid.
Aset likuid bisa saham dengan porsi 20%. Jika Investasi saham sebaiknya memahami fundamental perusahaan serta kondisi makro yang bisa mempengaruhi bisnis perusahaan.
Aset likuid lain yang bisa menjadi pilihan adalah obligasi dengan porsi 30%. "Kita bisa membeli obligasi pemerintah atau korporasi yang dapat diperdagangkan, seperti Obligasi Negara Ritel (ORI), Corporate Bonds dari perusahaan terkemuka dengan rating yang bagus," sebut Alexandra.
Deposito dan Reksa Dana Pasar Uang juga bisa menjadi pilihan. Jika deposito bisa dilakukan oleh kita sendiri, "Reksadana seperti rekasana pasar uang yang dikelola oleh manajer investasi bisa menjadi pilihan,
Adapun aset non likuid juga bisa menjadi pilihan. Aset likuid adalah aset yang tidak bergerak. "Pilihannya bisa seperti tanah, rumah, apartemen atau barang tidak bergerak lainnya," kata Alexandra berbagi tips.
Tentu saja, kata Alexandra, investasi harus disesuikan dengan kemampuan masing-masing investor. Investasi bisa dilakukan berkala sesuai kemampuan keuangan. "Yang juga penting, kenali kemampuan kita dalam menerima risiko," ujar ibu dua anak ini.
Tips Investasi
Alexandra menyebutkan, ada tiga strategi yang dia terapkan dalam mengelola investasi. Pertama, melakukan penelitian yang cermat sebelum mengambil keputusan investasi, kedua mendiversifikasi portofolio yang dimilikinya, dan ketiga berpegang pada rencana investasi jangka panjang.
Dia menambahkan, berinvestasi itu tidak instan dan membutuhkan waktu. Maka dari itu, investor harus memiliki pandangan jangka panjang dalam berinvestasi dan tidak terburu-buru ingin melihat hasil. Pasalnya, pasar keuangan bisa naik-turun dalam jangka pendek.
Hal penting lain, investor harus konsisten seperti rutin berinvestasi serta meninjau portofolio secara berkala.
"Ini membantu kita tetap berada di jalur yang benar dan siap menghadapi berbagai perubahan di pasar. Dengan konsistensi dan tujuan yang jelas, kita bisa mencapai tujuan keuangan dengan lebih baik dan terencana," kata dia.
Alexandra menceritakan, perlu kesabaran dan proses yang cukup panjang serta berliku. Dia pun pernah beberapa kali mengalami kerugian karena kesalahan investasi yang dilakukannya. Pada saat itu, Alexandra tidak sabar, dan buru-buru menjual sahamnya saat mengalami penurunan.
"Dalam berinvestasi tentu saya pernah mengalami kerugian, bukan hanya sekali atau dua kali, tapi awalnya sering. Dari cerita buruk ini menjadi pengalaman saya untuk ke depannya. Seharusnya kita tidak boleh panik dalam berinvestasi," tutur dia.
Alexandra menyarankan kepada para investor pemula untuk memilih investasi yang tepat dan sesuai dengan profil risiko. Jika merasa lebih nyaman dengan risiko rendah, hindari produk investasi yang berfluktuasi tinggi seperti saham. Sebaliknya, pilih instrumen yang lebih stabil seperti deposito atau obligasi.
Selain itu, jangan lupa untuk menentukan berapa lama Anda ingin berinvestasi. Apakah jangka pendek (1-3 tahun), menengah (lebih dari 3-10 tahun), atau panjang (lebih dari 10 tahun)?
"Ini penting agar investasi yang dipilih sesuai dengan kebutuhan dan rencana masa depan," kata dia.
Selanjutnya, tentukan berapa banyak dana yang akan diinvestasikan dan pastikan sumber dananya jelas. Dia menegaskan bahwa para investor pemula juga harus memilih perusahaan sekuritas atau bank yang terpercaya dan aman.
"Jadi pastikan relationship manager yang berpengalaman dan bersertifikasi, sehingga mereka dapat memberikan rekomendasi investasi yang tepat," imbuh dia.
Dia juga menyarankan untuk tidak mudah tergoda dengan investasi yang menjanjikan return tinggi dalam waktu singkat dari lembaga yang tidak memiliki izin, tidak diatur, dan tidak diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Tawaran seperti itu berpotensi menjadi investasi bodong.