KPPU mengawasi industri gula yang oligopolistik akibat kebijakan impor. Mereka usulkan kebijakan untuk persaingan sehat dan harga gula yang adil bagi konsumen. [503] url asal
Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) terus mengawasi industri gula yang dinilai semakin oligopolistik akibat kebijakan impor yang memperkuat dominasi pelaku usaha besar. KPPU mengusulkan kebijakan yang mendorong persaingan lebih sehat agar harga gula dapat lebih kompetitif dan adil bagi konsumen.
Ketua KPPU M. Fanshurullah Asa, menyatakan bahwa industri gula adalah salah satu sektor prioritas yang selalu dipantau secara konsisten oleh KPPU.
"Kami sudah melakukan berbagai kajian dan memberikan saran dan pertimbangan kepada Presiden dan Menteri terkait untuk pembenahan industri tersebut. Bahkan penegakan hukum juga telah dilakukan atas berbagai persoalan seperti proses lelang gula ilegal, distribusi gula, hingga jasa survei gula impor," ujar Fanshurullah dalam keterangan tertulis, Senin (4/11/2024).
Sebagai informasi, KPPU telah dua kali memberikan saran dan pertimbangan terkait industri gula kepada Pemerintah. Pada Januari 2004, KPPU menyoroti mekanisme penunjukan importir yang berpotensi menciptakan hambatan pasar dan kartel.
Pada September 2010, KPPU menyarankan Presiden RI untuk menyempurnakan kebijakan tata niaga gula dengan menetapkan harga secara rigid di setiap level distribusi, termasuk HET di tingkat konsumen.
Fanshurullah juga mendorong Pemerintah untuk membangun road map industri gula nasional yang mampu menghasilkan harga kompetitif dan meninjau ulang kebijakan dana talangan, agar harga gula petani selalu berada di atas harga dasar gula.
KPPU telah menangani beberapa kasus di industri gula, termasuk kasus No. 4/KPPU-L/2005 yang melibatkan persekongkolan tender lelang gula ilegal. KPPU menerima laporan tentang penyimpangan dalam lelang barang bukti tindak pidana kepabeanan, yang dilakukan oleh Kejaksaan Negeri Jakarta Utara melalui PT. Balai Mandiri Prasarana pada 4 Januari 2005 di Hotel Sheraton Media.
Lelang tersebut tidak sesuai ketentuan, dengan hanya dua peserta dan tidak diumumkan dalam harian umum nasional. Kasus ini melibatkan PT Angels Products, PT Bina Muda Perkasa, Sukamto Effendy, dan Ketua Panitia Lelang. KPPU menjatuhkan denda masing-masing Rp 1 miliar kepada PT Angels Products, PT Bina Muda Perkasa, dan Sukamto Effendy.
KPPU berhasil membuktikan adanya persaingan semu dalam lelang tersebut dan ketiga terlapor membayarkan denda pada tahun 2008. Ada juga Perkara No. 8/KPPU-I/2005 tentang dugaan pelanggaran Pasal 5 ayat (1), Pasal 17, dan Pasal 19 dalam penyediaan jasa survei gula impor oleh PT. Sucofindo dan PT. Surveyor Indonesia.
Selain itu, terdapat Perkara No. 5/KPPU-L/2006 terkait dugaan pelanggaran Pasal 19 huruf a dan d dalam distribusi gula pasir oleh PT Perkebunan Nusantara XI (PTPN XI) dan 11 peserta lelang gula.
Fanshurullahmenilai bahwa penetapan Harga Acuan Penjualan pada industri ini tidak efisien, terutama karena mengacu pada pabrik yang belum produktif atau menggunakan mesin tua, sehingga membuat harga gula domestik lebih tinggi dibandingkan negara lain.
Ketidakefisienan ini memaksa Indonesia untuk tetap melakukan impor gula guna memenuhi kebutuhan nasional. Dengan kebutuhan gula tahunan sebesar 2,93 juta ton dan produksi nasional hanya mencapai 2,38 juta ton, masih dibutuhkan impor sebesar 708 ribu ton per tahun.
Tercatat pangsa pasar produsen gula konsumsi dikuasai secara berurutan oleh PT Sinergi Gula Nusantara (PT SGN), Sugar Group, dan Gunung Madu. Dalam kondisi ini, kebijakan Pemerintah harus mampu membatasi potensi penyalahgunaan kekuatan oligopoli pelaku usaha di industri tersebut.
Sejak masa lampau, gula menjadi komoditas yang banyak peminatnya. Keuntungannya bahkan sampai menjadi andalan perekonomian sejak era kolonial. [689] url asal
Sejak masa lampau, gula menjadi komoditas yang banyak peminatnya. Keuntungannya bahkan sampai menjadi andalan perekonomian sejak era kolonial.
Pada gula ternyata bukan rasanya saja yang manis tetapi juga keuntungan di baliknya. Gula menjadi salah satu bahan makanan pokok yang telah diandalkan sejak masa lampau.
Bahkan banyak catatan sejarah yang menyebut kekayaan atas gula di Nusantara yang juga mengundang banyak negara datang, tak hanya rempahnya. Komoditas gula di dunia dilirik dengan harga jual yang besar sampai-sampai keuntungannya diandalkan menjadi sumber ekonomi zaman dahulu.
Berdasarkan beberapa informasi yang telah dikumpulkan, ternyata manisnya keuntungan gula menjadi alasan kolonialisme berlangsung lama di Hindia Belanda. Begini perjalanan manisnya gula sejak era kolonial hingga modern.
Konon populernya gula diawali dengan kebiasaan masyarakat Papua Nugini mengunyah batang tebu. Foto: Getty Images/ilbusca
Asal Mula Gula
Melansir Sugar.org, gula pertama kali ditemukan sejak 8.000 tahun sebelum masehi. Konon gula ditemukan secara domestik oleh suku di Papua Nugini yang memiliki kebiasaan mengunyah batang tebu.
Tebu kemudian menjadi populer dan banyak ditanam di beberapa negara Asia Tenggara, China, dan India melalui para pedagang. Memasuki abad pertama Masehi, gula yang telah dikristalisasi pertama kali dikenalkan oleh masyarakat Romawi dan Yunani sebagai obat.
Pada abad pertama, gula justru dimanfaatkan untuk pengobatan gangguan pencernaan dan sakit perut. Tetapi di Asia, gula kristal menjadi populer sebagai pemanis pada Dinasti Gupta di India.
Berawal dari Tanam Paksa
Populernya gula di tanah Hindia Belanda tak terlepas dari kedatangan pemerintah Belanda. Melihat potensi tanah yang subur, salah satu kebijakan dalam tanam paksa adalah menanam tebu di beberapa wilayah di Hindia Belanda.
Pada abad ke-17, Vereenigde Oost Indische Compagnie mulai fokus pada perkembangan perkebunan gula di Jawa. Bahkan banyak produksi gula yang dikembangkan dengan lebih canggih.
Para peneliti dalam Jurnal Riset Ekonomi dan Manajemen yang terbit pada 2016 bahkan menyebutkan adanya kewajiban menyisihkan tanah untuk menanam gula pada 1825-1830. Gubernur Jenderal Johannes Van Den Bosch menetapkan 20% tanah desa di Jawa harus ditanami tanaman ekspor seperti tebo, teh, dan kopi.
Pabrik Gula Terbesar
Mengutip Good News From Indonesia, setidaknya ada empat pabrik gula terbesar yang menjadi peninggalan Belanda di Indonesia. Ada Pabrik Gula Sragi, Pabrik Gula Kalibagor, Pabrik Gula Djatiroto, dan Jatibarang.
Merujuk pada waktu pembangunan dan lini waktu penerapan tanam paksa, Pabrik Gula Sragi menjadi pabrik pertama yang sudah disetujui pada 1836 tetapi pembangunan konstruksinya baru dimulai 1837.
Setelah Indonesia merdeka, baru kemudian pabrik tersebut dinasionalisasi pada 10 Desember 1857. Di Banyumas Pabrik Gula Kalibagor menyusul didirikan pada 1839, disusul Jatibarang pada 1840, dan Pabrik Gula Djatiroto pada 1901.
Sejak era kolonial hingga modern, Indonesia pernah menjadi salah satu daftar negara pemasok gula terbesar di dunia. Foto: Getty Images/ilbusca
Pernah Menjadi Pemasok Terbesar
Akhir-akhir ini kebijakan impor gula menjadi sorotan usai ditetapkannya Tom Lembong sebagai tersangka korupsi impor gula. Padahal di masa lampau Indonesia pernah berjaya sebagai eksportir gula ke beberapa negara di dunia.
Dimulai sejak masih diawasi oleh pemerintah VOC, penjualan gula ke luar negeri menjadi salah satu sumber ekonomi yang menguntungkan. Banyak profesor dan ahli ekonomi yang sampai penasaran dengan pengelolaan gula di Indonesia atau Hindia Belanda pada era kolonial.
Di masa modern, pada 2020, Indonesia juga tercatat sebagai salah satu produsen gula terbesar ke-12 di dunia. Dalam satu tahun Indonesia berhasil memproduksi hingga 2,7 juga ton gula yang mendatangkan pendapatan bagi banyak petani.
Jakarta: Batang sorgum banyak diolah menjadi pakan ternak. Namun, berkat inovasi Pusat Riset Teknologi Tepat Guna Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), batang sorgum bisa diubah menjadi gula semut (brown sugar).
Pusat Riset Teknologi Tepat Guna BRIN membuat mesin canggih, Roller Press. “Proses pengolahan gula dari tanaman sorgum memerlukan peralatan dan mesin,” kata periset Pusat Riset Teknologi Tepat Guna BRIN, Sandi Darniadi, dalam unggahan di akun Instagram @brin_indonesia dikutip Kamis, 31 Oktober 2024.
Sandi menuturkan lini mesin pengolahan gula sorgum lengkap yaitu mesin ekstraksi, mesin evaporasi atau pengental, mesin pemasak gula (open pan cooker), dan mesin pengering (oven dehydrator). Kini, teknologi mesin pengolah sorgum telah dimanfaatkan oleh Sorgum Center Indonesia (SGI). Mesin Roller Press memiliki keunggulan ideal untuk mengolah sorgum menjadi brown sugar yang dapat dikonsumsi secara sehat. Berikut ini keunggulan mesin Roller Press:
Keunggulan mesin Roller Press
1. Efisiensi tinggi
Dapat memberikan perasan batang sorgum dengan maksimum, sehingga memberikan rendemen nira yang tinggi.
2. Kualitas gula terjamin
Bisa mendeteksi kadar gula dengan memberikan kualitas sesuai standar produk.
3. Go-green
Mesin ini didesain menggunakan teknologi hemat energi, sehingga lebih ramah lingkungan dan mendukung keberlanjutan.
Proses pengolahan
Berikut ini proses pengolahan batang sorgum menjadi brown sugar:
Batang sorgum dibelah dan dibersihkan
Batang sorgum kemudian dimasukkan ke dalam mesin Roller Press untuk diekstraksi niranya
Nira sorgum dikentalkan memakai mesin evaporator hingga menghasilkan gula cair atau nektar
Gula cair ini kemudian dimasak dalam mesin open pan cooker sampai mengental dan mengkristal
Setelah gula mengeras, ia dihancurkan menggunakan mesin disc mill untuk menjadi gula semut
Alternatif gula rendah kalori
Gula sorgum menjadi alternatif sehat dengan kalori lebih rendah dibandingkan dengan gula pasir serta mengandung vitamin dan mineral yang bermanfaat bagi tubuh.
Rasanya yang unik dan kandungan gizinya menjadikannya pilihan menarik bagi masyarakat yang ingin mengurangi konsumsi gula putih tanpa mengorbankan rasa manis dalam makanan dan minuman mereka.
Kehadiran teknologi ini diharapkan dapat memperluas pemanfaatan sorgum di Indonesia, tidak hanya sebagai bahan pangan alternatif, tetapi juga produk kesehatan bernilai tambah tinggi. (Nithania Septianingsih)
Pabrik gula milik BUMN berupaya mewujudkan swasembada dengan menggenjot kesejahteraan petani tebu. Hal ini dilakukan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) atau Sugar Co yang merupakan subholding gula PT Perkebunan Nusantara III (Persero).
Direktur Keuangan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), Hariyanto menegaskan komitmen dalam mewujudkan swasembada gula nasional diiringi penguatan petani, sehingga membawa dampak peningkatan kesejahteraan petani.
"Program Makmur ini salah satu rangkaian, bahwa kami harus bersinergi mensukseskan swasembada gula. Ekosistem sangat penting karena kita tidak bisa bergerak sendiri-sendiri, dari mulai benih, pupuk, pendanaan dari perbankan, hingga pabrik gula sebagai off taker. Yang terpenting pencapaian swasembada gula diiringi dengan penguatan petani dengan membantu akses permodalan, benih hingga saprodi, sarana produksi," kata Hariyanto dalam keterangannya, ditulis Minggu (7/7/2024).
Salah satu kendala yang dihadapi petani tebu adalah akses dan ketersediaan saprodi di antaranya pupuk yang dibutuhkan tanaman untuk proses pertumbuhan dan peningkatan produktivitas. Hal ini disampaikan Rolis Wikarsono Ketua Dewan Pimpinan Cabang Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPC APTRI) PG Pradjekan.
"Lahan kami sekitar 6.500an hektare (ha) di hampir seluruh kabupaten Situbondo telah ter-cover Program Makmur, Program Mari Kita Majukan Usaha Rakyat, kami mendapatkan jaminan pupuk yang asli dan prosesnya hanya dua tiga hari, harganya kompetitif," ungkap Rolis.
Petani mitra PG Pradjekan merupakan petani tebu yang pertama mengakses Program Makmur tiga tahun yang lalu. Dampak dari program tersebut kini dirasakan oleh para petani, selain jaminan ketersediaan pupuk, peningkatan produktivitas hingga peningkatan pendapatan petani.
"Tahun ini peningkatan produktivitas luar biasa, sebelumnya di 76 kini menjadi 110 ton per ha, rendemen naik, pendapatan petani juga naik," jelas Mohammad Sholeh Kusuma, General Manager PG Pradjekan.
Kenaikan produktivitas tersebut dinilai cukup signifikan, mencapai 45% dari semula 76 ton per ha menjadi 110 ton per ha, kenaikan rendemen mencapai 9,9% dari 8,14% menjadi 8,94%, sehingga pendapatan petani meningkat dari semula Rp 53,4 juta per ha menjadi Rp 69,4 kita per ha.
Sementara itu, Direktur Keuangan dan Umum PT Petrokimia Gresik, Robby Setiabudi Madjid memberikan apresiasi atas peningkatan produktivitas yang diraih oleh petani tebu mitra PG Pradjekan dan pihaknya menyakini melalui sistem bagi hasil dengan petani, ditambah dengan kinerja SGN petani akan tambah makmur.
"Setelah kami berdiskusi dengan mitra tadi kebetulan pabrik gula Prajekan ternyata rangking 1 terkait rendemen seluruh SGN. Selain itu, kami berterima kasih pada semua ekosistem yang berada di Program Makmur ini kami karena mensukseskan juga ketahanan pangan nasional," pungkas Robby.
Gelar Teknologi serta Seremonial Panen dan Tanam Tebu bertujuan meningkatkan kepercayaan petani dalam memanfaatkan ekosistem program Makmur serta aplikasi teknologi Smart Precision Farming pada komoditas tebu. Dalam kesempatan tersebut selain dilakukan prosesi tanam tebu perdana, juga dilakukan demo pemupukan yang menggunakan pesawat nir awak (drone).