Sejak masa lampau, gula menjadi komoditas yang banyak peminatnya. Keuntungannya bahkan sampai menjadi andalan perekonomian sejak era kolonial. [689] url asal
Sejak masa lampau, gula menjadi komoditas yang banyak peminatnya. Keuntungannya bahkan sampai menjadi andalan perekonomian sejak era kolonial.
Pada gula ternyata bukan rasanya saja yang manis tetapi juga keuntungan di baliknya. Gula menjadi salah satu bahan makanan pokok yang telah diandalkan sejak masa lampau.
Bahkan banyak catatan sejarah yang menyebut kekayaan atas gula di Nusantara yang juga mengundang banyak negara datang, tak hanya rempahnya. Komoditas gula di dunia dilirik dengan harga jual yang besar sampai-sampai keuntungannya diandalkan menjadi sumber ekonomi zaman dahulu.
Berdasarkan beberapa informasi yang telah dikumpulkan, ternyata manisnya keuntungan gula menjadi alasan kolonialisme berlangsung lama di Hindia Belanda. Begini perjalanan manisnya gula sejak era kolonial hingga modern.
Konon populernya gula diawali dengan kebiasaan masyarakat Papua Nugini mengunyah batang tebu. Foto: Getty Images/ilbusca
Asal Mula Gula
Melansir Sugar.org, gula pertama kali ditemukan sejak 8.000 tahun sebelum masehi. Konon gula ditemukan secara domestik oleh suku di Papua Nugini yang memiliki kebiasaan mengunyah batang tebu.
Tebu kemudian menjadi populer dan banyak ditanam di beberapa negara Asia Tenggara, China, dan India melalui para pedagang. Memasuki abad pertama Masehi, gula yang telah dikristalisasi pertama kali dikenalkan oleh masyarakat Romawi dan Yunani sebagai obat.
Pada abad pertama, gula justru dimanfaatkan untuk pengobatan gangguan pencernaan dan sakit perut. Tetapi di Asia, gula kristal menjadi populer sebagai pemanis pada Dinasti Gupta di India.
Berawal dari Tanam Paksa
Populernya gula di tanah Hindia Belanda tak terlepas dari kedatangan pemerintah Belanda. Melihat potensi tanah yang subur, salah satu kebijakan dalam tanam paksa adalah menanam tebu di beberapa wilayah di Hindia Belanda.
Pada abad ke-17, Vereenigde Oost Indische Compagnie mulai fokus pada perkembangan perkebunan gula di Jawa. Bahkan banyak produksi gula yang dikembangkan dengan lebih canggih.
Para peneliti dalam Jurnal Riset Ekonomi dan Manajemen yang terbit pada 2016 bahkan menyebutkan adanya kewajiban menyisihkan tanah untuk menanam gula pada 1825-1830. Gubernur Jenderal Johannes Van Den Bosch menetapkan 20% tanah desa di Jawa harus ditanami tanaman ekspor seperti tebo, teh, dan kopi.
Pabrik Gula Terbesar
Mengutip Good News From Indonesia, setidaknya ada empat pabrik gula terbesar yang menjadi peninggalan Belanda di Indonesia. Ada Pabrik Gula Sragi, Pabrik Gula Kalibagor, Pabrik Gula Djatiroto, dan Jatibarang.
Merujuk pada waktu pembangunan dan lini waktu penerapan tanam paksa, Pabrik Gula Sragi menjadi pabrik pertama yang sudah disetujui pada 1836 tetapi pembangunan konstruksinya baru dimulai 1837.
Setelah Indonesia merdeka, baru kemudian pabrik tersebut dinasionalisasi pada 10 Desember 1857. Di Banyumas Pabrik Gula Kalibagor menyusul didirikan pada 1839, disusul Jatibarang pada 1840, dan Pabrik Gula Djatiroto pada 1901.
Sejak era kolonial hingga modern, Indonesia pernah menjadi salah satu daftar negara pemasok gula terbesar di dunia. Foto: Getty Images/ilbusca
Pernah Menjadi Pemasok Terbesar
Akhir-akhir ini kebijakan impor gula menjadi sorotan usai ditetapkannya Tom Lembong sebagai tersangka korupsi impor gula. Padahal di masa lampau Indonesia pernah berjaya sebagai eksportir gula ke beberapa negara di dunia.
Dimulai sejak masih diawasi oleh pemerintah VOC, penjualan gula ke luar negeri menjadi salah satu sumber ekonomi yang menguntungkan. Banyak profesor dan ahli ekonomi yang sampai penasaran dengan pengelolaan gula di Indonesia atau Hindia Belanda pada era kolonial.
Di masa modern, pada 2020, Indonesia juga tercatat sebagai salah satu produsen gula terbesar ke-12 di dunia. Dalam satu tahun Indonesia berhasil memproduksi hingga 2,7 juga ton gula yang mendatangkan pendapatan bagi banyak petani.
Pertamina EP Subholding Upstream Regional Jawa menargetkan mulai melakukan injeksi CO2 (CO2 Huff and Puff) kapasitas maksimal di Lapangan Jatibarang pada 2031. [202] url asal
IDXChannel - PT Pertamina (Persero) melalui PT Pertamina EP Subholding Upstream Regional Jawa menargetkan mulai melakukan injeksi CO2 (CO2 Huff and Puff) kapasitas maksimal (full scale) di Lapangan Jatibarang pada 2031 mendatang.
Assistant Manager Communication Relation SH Upstream Regional Jawa Danya Dewanti mengatakan, ketika full scale itu dilakukan pada 2031, maka akan ada potensi pengurangan CO2 sebesar 14,6 juta ton per tahun.
"Untuk yang program huff and puff Pertamina EP Jatibarang field ya, jadi sebenarnya ini masih dalam tahap pilot project," ujar Danya dalam acara Media Briefing dan Sharing Session AJP 2024 di Bandung, Jawa Barat, Senin (23/9/2024).
Dia menuturkan, berdasarkan peta jalan yang telah disusun, pihaknya telah melakukan injeksi awal pada 2022 untuk mengevaluasi respons dari reservoir. Selanjutnya pada 2026, mulai mengimplementasikan pola injeksi, dan pada 2029 bakal melakukan pembangunan sebelum akhirnya menerapkan injeksi skala penuh pada 2031.
Namun, diakui Danya, dirinya belum dapat memastikan apakah metode injeksi CO2 ke dalam reservoir ini akan dapat meningkatkan produksi minyak di Jatibarang. Sebab, menurutnya, tujuan awal program ini yaitu untuk mengurangi emisi CO2.
"Saat ini diproyeksikan, target utamanya dekarbonisasi di-set duluan itu pengurangan emisi CO2 kalau berhasil dan bisa digunakan salah satu untuk EOR milestone penting,” kata Danya.