#30 tag 24jam
Menakar Dampak Pemangkasan Suku Bunga Acuan Terhadap Perbankan, Saham dan Rupiah
Keputusan BI dan The Fed pangkas suku bunga acuannya di bulan September 2024 menyulut sentimen positif bagi sejumlah sektor. [871] url asal
#bi-rate #kredit-bank #penurunan-suku-bunga #suku-bunga #suku-bunga-acuan #suku-bunga-kartu-kredit #suku-bunga-kredit #suku-bunga-penjaminan #suku-bunga-kredit #suku-bunga #suku-bunga-penjaminan #beri
(Kontan - Terbaru) 23/09/24 23:09
v/15454895/
Reporter: Adrianus Octaviano, Pulina Nityakanti, Siti Masitoh, Sugeng Adji Soenarso | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - FOKUS. Era suku bunga tinggi tampaknya akan segera berakhir setelah pada pekan lalu Bank Indonesia (BI) memangkas BI rate 25 basis poin (bps) menjadi 6% dan Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Fed memangkas suku bunga acuan sebesar 50 bps menjadi 4,75% - 5%.
Pemangkasan suku bunga ini terjadi di tengah kondisi inflasi yang mulai mereda dan pertumbuhan ekonomi mulai tersendak akibat suku bunga tinggi yang berlangsung cukup lama.
Keputusan bank sentral Indonesia dan AS memangkas suku bunga menjadi angin segar bagi pertumbuhan ekonomi yang diharapkan dapat meningkat.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan pemangkasan suku bunga tersebut dilakukan setelah mempertimbangkan asesmen perkembangan dan prospek ekonomi global maupun domestik.
Menurut Perry, keputusan BI memangkas suku bunga konsisten dengan tetap rendahnya perkiraan inflasi tahun 2024 dan 2025 berada di kisaran 2,5% plus minus 1% sesuai sasaran pemerintah dan BI. Demikian juga dengan penguatan stabilitas nilai tukar rupiah dan upaya untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional.
Sementara itu, Gubernur The Fed Jerome Powell, seperti dikutip dari Reuters, mengatakan keputusan pemangkasan suku bunga tersebut mencerminkan keyakinan mereka bahwa inflasi bergerak secara berkelanjutan menuju 2% dan menilai bahwa risiko untuk mencapai sasaran ketenagakerjaan dan inflasi secara seimbang.
Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berharap pemangkasan suku bunga bisa berdampak positif bagi perekonomi nasional maupun global.
Menkeu mengatakan, pemangkasan suku bunga era suku bunga tinggi yang berlangsung lama atau higher for longer telah berdampak signifikan terhadap kinerja perekonomian utamanya di negara-negara berkembang, sehingga dengan penurunan suku bunga ini, menjadi Langkah positif bagi pertumbuhan ekonomi.
Dampak ke Perbankan

Penurunan suku bunga akan membawa dampak positif terhadap industri perbankan. Pemangkasan suku bunga terutama BI rate adakan berdampak pada turunnya Cost of Fund bank sehingga berdampak positif terhadap profitabilitas bank.
Selain itu, penurunan suku bunga akan membuka ruang bagi bank menurunkan suku bunga kredit dan mengakselerasi pertumbuhan kredit.
“Tentu saja pemotongan suku bunga tersebut akan diikuti oleh pemotongan suku bunga baik suku bunga Dana Pihak Ketiga maupun kredit pada gilirannya,” ujar Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae kepada Kontan.co.id.
Ia juga berpendapat jika penurunan bunga DPK dan kredit terealisasi maka akan berdampak positif pada perekonomian Indonesia karena secara umum dapat mendorong kenaikan investasi, konsumsi, dan kredit perbankan.
Dian menjelaskan penurunan bunga pun akan meningkatkan keuntungan nasabah korporasi sementara bagi nasabah konsumen bakal mengurangi biaya cicilan kredit.
Alhasil, ini juga secara tidak langsung meningkatkan daya serap kredit konsumen karena dengan cicilan yang relatif sama dapat memperoleh nilai kredit yang lebih besar.
“Sektor konsumsi yang antara lain meliputi sektor properti (KPR) dan otomotif diperkirakan mendapat dampak positif,” tambahnya.
Tak hanya itu, sektor tambang khususnya tambang emas diperkirakan juga memiliki efek domino dari penurunan bunga. Sebab, penurunan suku bunga identik dengan kenaikan uang beredar dan dalam kondisi uang beredar yang meningkat biasanya masyarakat cenderung meningkatkan pembelian safe haven aset.
Dampak ke Saham

Penurunan suku bunga juga dinilai berdampak positif terhadap mayoritas sektor di pasar saham dan berpotensi meningkatkan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Maka saham-saham big caps dan blue chips akan menjadi target pembelian pelaku pasar terutama investor asing.
“Jadi, saham yang laggard tersebut sangat berpeluang kinerjanya untuk bisa membaik setelah penurunan suku bunga. Sebab, secara valuasi menjadi lebih menarik juga, karena saat ini sudah turun dalam,” ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas.
Bahkan menurutnya, kinerja keuangan sejumlah emiten big caps berpotensi membaik seiring pemangkasan suku bunga. Sebagai gambaran, penurunan suku bunga BI akan jadi sentimentpositif yang dapat mendorong kredit emiten perbankan.
Sentimen positif penurunan suku bunga juga turut dirasakan sektor yang memiliki utang berbunga yang sifatnya floating karena akan ada penurunan beban keuangan. Sukarno melihat saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) layak dipertimbangkan investor.
Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta melihat kinerja emiten ektor otomotif, seperti PT Astra International Tbk (ASII) akan terkena dampak positif pemangkasan suku bunga. Ia melihat penurunan bunga kredit bakal mendorong peningkatan permintaan kredit kendaraan.
Penguatan Rupiah

Rupiah juga menjadi salah satu yang langsung mendapat sentimen positif pemangkasan suku bunga The Fed. Hal itu terlihat saat rupiah mulai menguat level Rp 15.000 an setelah The Fed sebelumnya memberi sinyal pemangkasan suku bunga di September.
Pada Kamis (19/9) setelah pengumuman pemangkasan suku bung The Fed, rupiah menguat 0,63% ke Rp 15.239 per dolar AS di pasar Spot. Penguatan rupiah diprediksi masih akan berlangsung hingga akhir tahun ini.
Senior Economist KB Valbury Sekuritas Fikri C. Permana memproyeksi pemangkasan suku bunga membuat rupiah berpotensi menguat untuk jangka pendek. Ia memprediksi sampai akhir Oktober 2024, rupiah berada di kisaran Rp 15.000 - Rp 15.300 per dolar AS. Sementara sampai akhir tahun, ia memprediksi rupiah masih berada di level Rp 15.000 per dolar AS.
Hal senada juga dikatakan Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede. Menurutnya, rupiah bakal berada di level Rp 15.000 an sampai akhir dan sulit turun dari level tersebut.
"Walau The Fed menurunkan 50bps, tetapi US Treasury naik dan indeks dolar walau sempat melemah, tetapi di awal pembukaan hari ini cukup menguat," terangnya.
Berbagai sentimen positif dari pemangaksan suku bunga ini diharapkan bisa berdampak pada pertumbuhan ekonomi Indonesia dan mendorong kembali daya beli masyarakat yang saat ini sudah mulai lesu.
Suku Bunga Acuan Turun, Bank Digital Berpeluang Pangkas Bunga Simpanan dan Kredit
Turunnya BI Rate menjadi 6% diproyeksikan ikut berdampak positif terhadap kinerja bank-bank digital tanah air. [720] url asal
#penurunan-suku-bunga #suku-bunga #suku-bunga-acuan #suku-bunga-kartu-kredit #suku-bunga-simpanan #bank-digital #allo-bank-indonesia #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan - Terbaru) 23/09/24 20:34
v/15451788/
Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Turunnya suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6% diproyeksikan ikut berdampak positif terhadap kinerja bank-bank digital tanah air.
Direktur Utama PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) atau Allo Bank Indra Utoyo mengatakan, dengan diturunkannya BI Rate, diharapkan biaya dana dapat mulai turun sehingga margin bunga bersih dari aktivitas intermediasi dapat lebih kompetitif.
Menurutnya, selama ini, Allo Bank cukup terdampak atas tekanan persaingan dana pihak ketiga (DPK) yang semakin meningkat, dimana tekanan persaingan paling signifikan terjadi pada produk deposito mengingat banyak bank yang menawarkan suku bunga lebih tinggi.
"Secara keseluruhan, perekonomian Indonesia akan terkena dampak positif dari penurunan BI Rate khususnya seperti properti dan consumer goods, dimana BI Rate yang lebih rendah akan mendorong kredit yang lebih murah," kata Indra kepada Kontan.co.id, Senin (23/9).
Indra menyebut, pihaknya selalu berusaha untuk menyesuaikan tingkat suku bunga produk pendanaan dengan kondisi yang ada. Allo Bank belum lama ini meningkatkan tingkat suku bunga produk pendanaan yang efektif per awal Agustus 2024.
"Sehingga kami tentunya akan melakukan analisa terlebih dahulu sebelum melakukan perubahan suku bunga," katanya.
Di samping itu, kata Indra value proposition yang di tawarkan Allo bank ke nasabah tidak hanya terkait tingkat suku bunga, namun juga banyak fitur-fitur lainnya dan keunggulan kompetitif perusahaan.
Termasuk dukungan ekosistem yang mendorong acquisition, engagement, monetization; infrastruktur phygital untuk memberikan akses perbankan optimal; dan kapabilitas IT dan data terdepan. Sehingga selain suku bunga, nasabah dapat menikmati berbagai benefit lainnya.
Lebih lanjut Indra mengungkapkan, sebagai bank umum berbasis digital, sistem pengambilan keputusan kredit di Allo Bank dikelola dengan sangat cepat dan terotomasi dengan bantuan decision engine dengan mempertimbangkan banyak data termasuk credit history dan non-traditional data lainnya.
"Seperti behaviour calon debitur, mengingat umumnya pinjaman dengan platform digital memiliki pagu yang lebih kecil namun dengan jumlah aplikasi pinjaman yang lebih banyak," ucapnya.
Dengan mempertimbangkan kondisi makro ekonomi yang penuh tantangan seperti saat ini, Allo Bank memproyeksikan pertumbuhan single digit untuk DPK dan kredit hingga akhir tahun 2024.
Adapun Rustarti Suri Pertiwi, Direktur Keuangan Bank Raya melihat bahwa turunnya suku bunga akan berdampak positif terhadap kinerja perusahaan, baik dari sisi aset, dengan harapan demand kredit akan naik, sehingga mendorong pertumbuhan kredit Perusahaan.
"Selain itu, dari sisi liabilitas dapat semakin memperbaiki biaya dana, yang akan berdampak pada peningkatan efisiensi perusahaan," katanya.
Menurut wanita yang akrab disapa Tiwi ini, hampir semua segmen akan mendapat dampak positif dari turunnya bunga acuan, baik dari segmen mikro sampai dengan segmen korporasi.
Karena secara umum, penurunan suku bunga diharapkan akan meningkatkan demand kredit, yang berdampak langsung pada peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat di segala segmen.
"Bank secara berkala melakukan evaluasi suku bunga simpanannya, termasuk deposito. Dalam evaluasinya, Bank tidak hanya melihat tingkat suku bunga acuan, tetapi juga mempertimbangkan kondisi likuiditas bank serta suku bunga peers," jelasnya.
Adapun dari sisi likuiditas, selama ini Bank Raya masih mampu menjaga kinerjanya. Untuk posisi Juni 2024, LDR Bank Raya tercatat di kisaran 80%, Rasio Liquidity Coverage Ratio (LCR) dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) Bank Raya juga tetap terjaga di atas 100% (minimum ketentuan regulator), yaitu untuk LCR di kisaran 220% dan NSFR sekitar 135%.
Sama dengan suku bunga simpanan, untuk suku bunga kredit, Bank Raya juga disebut akan mengkaji secara berkala dengan hati-hati, yaitu tidak hanya memperhatikan tingkat suku bunga acuan dan suku bunga yg diterapkan peers, tetapi juga faktor lainnya seperti sektor ekonomi serta faktor ekonomi lainnya yang dapat berdampak pada kualitas portofolio kredit.
Sampai dengan akhir tahun, baik untuk target DPK dan Kredit, Bank Raya pun masih tetap optimistis mencatat pertumbuhan positif sesuai dengan target Perusahaan, terutama untuk portofolio digital, baik kredit digital maupun simpanan digital, yang selama ini secara konsisten menjadi fokus pertumbuhan bisnis Bank Raya.
Senior Vice President LPPI, Trioksa Siahaan juga menilai dampak turunnya suku bunga ke kinerja bank digital akan positif seperti halnya ke bank lain.
"Dengan bunga yang turun harapannya dapat kembali memperbesar margin bunga dan ekspansi kredit," ujar Trioksa.
Ia memproyeksikan, semua segmen umumnya akan terdampak positif dengan turunnya suku bunga sementara yang terdampak negatif hampir tidak ada karena bank digital cenderung akan positif dengan turunnya beban bunga.
"Harapannya turunnya bunga acuan akan diikuti dengan turunnya bunga deposito dan bunga kredit namun kembali lagi, bergantung pada tingkat likuiditas bank dan biaya dana bank sebelum menyesuaikan bunga deposito dan bunga kredit," tandasnya.