JAKARTA, investor.id – Outlook pertumbuhan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) pada 2025 tergolong konservatif. Tidak ada kejutan dalam panduan kinerja perseroan hingga tahun depan. Lantas, bagaimana dengan prospek saham MEDC?
Medco menargetkan produksi minyak dan gas (migas) stabil di 145-150 mboepd pada 2025, serta pertumbuhan penjualan listrik sebesar 10% menjadi 4,5 GWh dari 4,1 GWh pada 2024. Penjualan listrik tersebut akan didorong oleh Ijen Geothermal, yang dijadwalkan COD (commercial operation date) pada kuartal I-2025.
Adapun target belanja modal (capital expenditure/capex) Medco pada 2025 juga terbilang datar sebesar US$ 430 juta. Meski demikian, perseroan mengalokasikan capex yang lebih tinggi di lini minyak dan gas hingga US$ 400 juta dari US$ 350 juta pada 2024. Biaya tunai tetap di bawah US$ 10/boe.
“Namun, manajemen Medco menambahkan panduan baru, yaitu target ROE (return on equity) di atas 15%, lebih tinggi dari estimasi kami yang sebesar 12%,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas, Timothy Wijaya dan Christian Sitorus dalam risetnya.
Emiten berkode saham MEDC tersebut juga telah mengumumkan rencana pembagian dividen interim 2024 sebesar Rp 15,75 per saham, naik dari Rp 15 per saham pada tahun buku 2023. Dividen interim MEDC menyiratkan imbal hasil (yield) dividen sebesar 1,3%.
Secara operasional, MEDC membagi asetnya berdasarkan 2 kriteria, yaitu aset yang memberikan nilai dan aset pertumbuhan. Aset yang memberikan nilai adalah aset yang sedang dieksplorasi lebih lanjut untuk meningkatkan kemampuan produksi, antara lain Blok B Natuna, Corridor, dan Bualuang.
Sedangkan Blok Forel dan West Belut Natuna akan mulai beroperasi pada semester II-2024 dan bakal menghasilkan sekitar 31 mboepd untuk MEDC dibandingkan 12 mboepd pada 2024. Sementara itu, di Blok Corridor, tengah dilakukan survei seismik untuk mendeteksi peluang di dekat lapangan, dengan peningkatan sekitar 18 mboepd pada 2034.
MEDC juga memiliki aset pertumbuhan yang ditargetkan dapat dimonetisasi seperti Oman 48, yang menjalani studi seismik pada kuartal IV-2024, fase 2B Senoro-Toili yang diharapkan menghasilkan tambahan 75 mmboe, Bangkanai dengan volume pertumbuhan tambahan sebesar 81 mmboe, serta Tanzania yang memiliki beberapa penemuan lepas pantai.
Rekomendasi dan Target Harga Saham
Di sisi lain, MEDC melalui Medco Power beroperasi pada 3 pilar utama, yaitu geotermal, gas to power (monetisasi gas), dan solar PV. Saat ini, kapasitas terpasang sebesar 882 MW + 51 MWp, dengan tambahan 504 MW + 2.025 MWp yang ditargetkan pada 2030.
“Sebagian besar pertumbuhan diharapkan dari Pulau Bulan Solar PV berkapasitas 600 MW yang baru saja memperoleh izin bersyarat pada September 2024 dan akan dilanjutkan ke FID (final investment decision) pada akhir 2025 dan COD (commercial operation date) dijadwalkan pada 2028,” ungkap Timothy.
Proyek tersebut merupakan konsorsium dengan PacificLight Renewables dan Gallant Venture dengan biaya proyek (gross) sebesar US$ 3 miliar. Sedangkan capex ekuitas bersih senilai US$ 300 juta.
“Dengan target ekspor sebesar 600 MW ke Singapura, perusahaan berencana membangun panel surya 2,7 GWp beserta sistem penyimpanan baterai. Proyek utama lainnya adalah Ijen geothermal (110 MW) dan ekspansi DEB (215 MW),” jelas dia.
Dengan berbagai faktor tersebut, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan peringkat beli untuk saham Medco (MEDC). Tidak ada kejutan dalam panduan perusahaan. Adapun target harga saham MEDC berbasis SOTP (sum of the parts) tetap dipatok sebesar Rp 1.700.
Risiko utamanya jika harga minyak lebih rendah dan kinerja keuangan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN).
Editor: Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News