#30 tag 24jam
Menko PMK Ajak Pemda Aktifkan Tim Pemberantasan TBC
Tingginya angka pengidap TBC di Indonesia sebagai ancaman serius yang membutuhkan perhatian khusus. Halaman all [393] url asal
#tbc #pemerintah-daerah-pemda #penyakit-tuberkulosis #pratikno-menko-pmk
(Kompas.com) 07/11/24 16:00
v/17677415/
BOGOR, KOMPAS.com - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno mengajak pemerintah daerah semangat dalam pemberantasan penyakit tuberkulosis (TBC).
Pratikno menggarisbawahi tingginya angka TBC di Indonesia sebagai ancaman serius yang membutuhkan perhatian khusus.
“Kita termasuk salah satu negara dengan kasus TBC tertinggi di dunia. Hal ini harus kita berikan perhatian yang sangat khusus,” kata Pratikno dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintahan Pusat dan Daerah Tahun 2024 di Sentul International Convention Center, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (7/11/2024).
Pratikno menekankan pentingnya peran serta pemerintah daerah (Pemda) dalam mendukung program pemberantasan TBC secara komprehensif.
Menurutnya, Pemda perlu mengaktifkan tim-tim khusus yang berfokus pada pemberantasan penyakit ini.
Dia menyarankan setiap memasukkan program pemberantasan TBC dalam perencanaan dan penganggaran. Dukungan di tingkat daerah diyakini memperkuat gerak cepat program ini di seluruh Indonesia.
“Kita butuh dukungan penuh dari Bapak-Ibu Kepala Daerah untuk mengaktifkan tim pemberantasan TBC di daerah. Ini harus menjadi prioritas bersama,” ujar Pratikno.
Menurutnya, tanpa adanya aksi lapangan yang terencana dan didukung oleh anggaran memadai, sulit menurunkan angka kasus TBC secara signifikan.
Pratikno menyebutkan perlunya dukungan anggaran dari Pemda, terutama dalam aksi-aksi lapangan seperti pengaktifan pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) dan pos pelayanan terpadu (Posyandu) sebagai garda terdepan.
Peran puskesmas menjadi sangat penting dalam melakukan pemeriksaan awal dan pemantauan pasien, sehingga rantai penularan TBC bisa ditekan.
Selaras dengan pernyataan Pratikno program ini merupakan bagian dari langkah quick win yang menjadi prioritas pemerintah dalam waktu dekat.
Pemerintah menargetkan penurunan angka TBC dengan cepat, mengingat penyakit ini tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga pada produktivitas tenaga kerja Indonesia.
“Program quick win ini tidak akan berjalan tanpa adanya dukungan penuh dari seluruh elemen pemerintah daerah,” ucap Pratikno.
Usai Caplok PTBC, Laba OCBC NISP (NISP) Lompat 25%
OCBC NISP mencatatkan kinerja positif di kuartal III-2024. - Halaman all [405] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #ocbc-nisp #nisp #bank-commonwealth #ptbc #laba-ocbc #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 31/10/24 19:50
v/17295917/
JAKARTA, investor.id - PT Bank OCBC NISP Tbk (OCBC) kembali mencatatkan kinerja yang semakin tangguh sampai dengan kuartal III-2024. Pertumbuhan kinerja ini juga didukung dari aksi korporasi perseroan yang telah mengakuisisi PT Bank Commonwealth (PTBC) pada Mei 2024.
Perseroan membukukan laba bersih Rp 3,82 triliun pada akhir September 2024, meningkat 25,24% secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan laba bersih ini didorong oleh pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) yang naik sebesar 10,03% (yoy) menjadi Rp 8,12 triliun, seiring dengan penurunan beban cadangan kerugian penurunan nilai atas aset keuangan.
“Memasuki kuartal ketiga tahun ini, bank semakin tangguh dengan mencatatkan kinerja yang tumbuh secara konsisten. Pertumbuhan aset yang mencapai 16% dan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 8% mencerminkan kepercayaan nasabah yang semakin besar terhadap OCBC," ungkap Parwati Surjaudaja, Presiden Direktur OCBC dalam keterangannya, Kamis (31/10/2024).
Adapun, total aset yang dicatatkan perseroan sebesar Rp 287 triliun, tumbuh 16,19% (yoy) per September 2024. Dengan penyaluran kredit meningkat 11,79% (yoy) menjadi Rp 161,78 triliun. Di mana kredit ritel tumbuh sebesar Rp 10,6 triliun atau 21% (yoy), dan kredit perbankan bisnis tumbuh sebesar Rp 6,4 triliun atau 7% (yoy).
Kualitas Kredit Membaik
Meningkatnya penyaluran kredit juga diimbangi dengan kualitas kredit yang membaik. Tercermin dari rasio kredit bermasalah bruto (NPL gross) dan loan at risk yang turun masing-masing 0,1% dan 0,2%, sehingga masing-masing menjadi 1,8% dan 5,6% pada kuartal III-2024.
Selain itu, Return on Equity (ROE) meningkat menjadi 13,9%. Kondisi likuiditas NISP juga tercatat sehat dengan Liquidity Coverage Ratio (LCR) sebesar 259,5%, jauh di atas ketentuan regulator.
Dari sisi pembiayaan, per 30 September 2024, Bank telah menyalurkan pembiayaan berkelanjutan (sustainable financing) sebesar Rp35,54 triliun, dimana 45,3% di antaranya merupakan penyaluran dalam bentuk sustainability-linked loan dan green financing.
“Dengan penurunan suku bunga BI baru-baru ini, diharapkan membuka ruang bagi bank untuk mengakselerasi pertumbuhan kredit, guna membantu mendorong pertumbuhan ekonomi. Tentunya, dengan senantiasa berpegang teguh pada prinsip kehati-hatian, OCBC terus berkomitmen untuk mendukung aspirasi nasabah baik individu dan bisnis,” tutur Parwati.
Editor: Nida Sahara (niidassahara@gmail.com )
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
WHO Catat Kasus Penderita Tuberkulosis di Dunia Meningkat
Kasus tuberkulosis atau TBC di dunia meningkat dan pendanaan mulai menurun [556] url asal
#tbc #pengobatan-tbc #infeksi-tbc #tuberkulosis
(Bisnis.Com - Terbaru) 31/10/24 12:09
v/17252933/
Bisnis.com, JAKARTA - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menerbitkan laporan baru mengenai TBC yang mengungkapkan bahwa sekitar 8,2 juta orang baru didiagnosis menderita TBC pada tahun 2023.
Ini merupakan jumlah tertinggi yang tercatat sejak WHO memulai pemantauan TBC global pada tahun 1995. Angka ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dari 7,5 juta orang yang dilaporkan. pada tahun 2022, menempatkan TBC kembali sebagai penyakit menular pembunuh utama pada tahun 2023, melampaui COVID-19.
Dilansir dari News Medical, laporan Tuberkulosis Global WHO tahun 2024 menyoroti kemajuan yang beragam dalam perjuangan global melawan TBC, dengan tantangan yang terus-menerus seperti kekurangan dana yang signifikan.
Meskipun jumlah kematian terkait TBC menurun dari 1,32 juta pada tahun 2022 menjadi 1,25 juta pada tahun 2023, jumlah total orang yang tertular TBC sedikit meningkat menjadi sekitar 10,8 juta pada tahun 2023.
Dengan penyakit ini yang secara tidak proporsional mempengaruhi masyarakat di 30 negara dengan beban berat, India (26%), Indonesia (10%), Tiongkok (6.8%), Filipina (6.8%) dan Pakistan (6.3%) secara keseluruhan menyumbang 56% dari total kasus penyakit ini. beban TBC global. Menurut laporan tersebut, 55% orang yang mengidap TBC adalah laki-laki, 33% adalah perempuan, dan 12% adalah anak-anak dan remaja muda.
Pada tahun 2023, kesenjangan antara perkiraan jumlah kasus TBC baru dan yang dilaporkan menyempit menjadi sekitar 2,7 juta, turun dari tingkat pandemi COVID-19 yang berjumlah sekitar 4 juta pada tahun 2020 dan 2021. Hal ini menyusul upaya besar nasional dan global untuk pulih dari COVID-19. gangguan terkait layanan TBC. Cakupan pengobatan pencegahan TBC telah dipertahankan untuk orang yang hidup dengan HIV dan terus meningkat untuk kontak serumah dengan orang yang didiagnosis TBC.
Namun, TBC yang resistan terhadap banyak obat masih menjadi krisis kesehatan masyarakat. Tingkat keberhasilan pengobatan untuk TB yang resistan terhadap beberapa obat atau resistan terhadap rifampisin (MDR/RR-TB) kini telah mencapai 68%. Namun, dari 400.000 orang yang diperkirakan menderita MDR/RR-TB, hanya 44% yang didiagnosis dan diobati pada tahun 2023.
Untuk pertama kalinya, laporan ini memberikan perkiraan persentase rumah tangga yang terkena dampak TBC yang menghadapi biaya besar (melebihi 20% pendapatan rumah tangga tahunan) untuk mengakses diagnosis dan pengobatan TBC di semua negara-negara berkembang dan berkembang. Hal ini menunjukkan bahwa separuh rumah tangga yang terkena dampak TBC menghadapi dampak yang sangat besar.
Sejumlah besar kasus TBC baru disebabkan oleh 5 faktor risiko utama: kurang gizi, infeksi HIV, gangguan penggunaan alkohol, merokok (terutama di kalangan pria), dan diabetes. Untuk mengatasi masalah-masalah ini, serta faktor-faktor penting lainnya seperti kemiskinan dan PDB per kapita, diperlukan tindakan multisektoral yang terkoordinasi.
“Kita dihadapkan pada banyak tantangan berat: kekurangan pendanaan dan beban keuangan yang sangat besar bagi mereka yang terkena dampak, perubahan iklim, konflik, migrasi dan pengungsian, pandemi, dan tuberkulosis yang resistan terhadap obat, yang merupakan pendorong signifikan resistensi antimikroba,” kata Dr Tereza Kasaeva. , Direktur Program Tuberkulosis Global WHO. “Sangat penting bagi kita untuk bersatu di semua sektor dan pemangku kepentingan, untuk menghadapi masalah-masalah mendesak ini dan meningkatkan upaya kita.”
Pendanaan global untuk pencegahan dan perawatan TBC semakin menurun pada tahun 2023 dan masih jauh di bawah target. Negara-negara berpendapatan rendah dan menengah (LMICs), yang menanggung 98% beban TBC, menghadapi kekurangan dana yang signifikan. Hanya US$ 5,7 miliar dari target pendanaan tahunan sebesar US$ 22 miliar yang tersedia pada tahun 2023, setara dengan hanya 26% dari target global.
Program Quick Win Prabowo-Gibran dengan Anggaran Rp 121 Triliun, Apakah Itu?
Prabowo akan luncurkan program quick win untuk 2025, dengan anggaran meningkat menjadi Rp 121 triliun, dari sebelumnya Rp 113 triliun. Program apa ini [579] url asal
#prabowo #gibran #quick-win #makan-bergizi-gratis #banggar-dpr #tbc #sdm #kementerian-keuangan
(Bisnis Tempo) 23/10/24 17:14
v/16890298/
TEMPO.CO, Jakarta - Presiden terpilih Prabowo Subianto akan meluncurkan program quick win atau Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) untuk 2025, dengan anggaran yang meningkat menjadi Rp 121 triliun, naik dari sebelumnya Rp 113 triliun. Program quick win ini dirancang sebagai inisiatif yang dapat dicapai dalam waktu satu tahun.
Kenaikan anggaran untuk PHTC ini diumumkan oleh Kementerian Keuangan, sebagai hasil pembahasan dalam rapat panitia kerja (Panja) B DPR RI. Kepala Pusat Kebijakan APBN Badan Kebijakan Fiskal, Wahyu Utomo, menjelaskan bahwa tambahan anggaran sebesar Rp 8 triliun akan dialokasikan untuk penanganan tuberkulosis (TBC).
Daftar program quick win yang disahkan DPR
Berikut adalah rincian program unggulan Prabowo-Gibran beserta alokasi anggarannya yang telah disetujui oleh DPR RI:
- Program Makan Siang Bergizi Gratis dengan anggaran sebesar Rp 71 triliun.
- Pemeriksaan kesehatan gratis, termasuk cek tekanan darah, gula darah, rontgen, dan skrining penyakit katastropik, dengan anggaran Rp 3,2 triliun.
- Peningkatan kualitas rumah sakit di daerah dari tipe D ke tipe C, serta pengadaan sarana, prasarana, dan alat kesehatan, dengan anggaran Rp 1,8 triliun.
- Renovasi sekolah yang mencakup ruang kelas, mebel, dan fasilitas MCK (mandi, cuci, kakus) di 22 ribu sekolah, dengan anggaran Rp 20 triliun.
- Pembangunan sekolah unggulan terintegrasi, dengan anggaran Rp 4 triliun.
- Pembangunan lumbung pangan nasional melalui intensifikasi lahan pertanian seluas 80 ribu hektare dan pembuatan sawah baru seluas 150 ribu hektare, dengan dukungan sarana dan prasarana, yang dialokasikan Rp 15 triliun.
Ketua Banggar DPR: kita harapkan menjawab kebutuhan pasar tenaga kerja
“Kita harapkan program quick win presiden terpilih mempercepat kualitas SDM (sumber daya manusia) yang masih tertinggal. Kebijakan ini juga kita harapkan menjawab kebutuhan pasar tenaga kerja yang kian kompetitif,” ujar Said.
Banggar DPR RI juga sepakat untuk memberikan keleluasaan dalam realokasi anggaran untuk kebutuhan kementerian dan lembaga baru, karena penyusunan tersebut merupakan wewenang konstitusional presiden dan wakil presiden terpilih.
Analis: mempengaruhi emiten dan sektor saham
Para analis memprediksi bahwa program quick win akan mempengaruhi beberapa emiten dan sektor saham. Program-program tersebut, dengan total biaya mencapai Rp121 triliun, direncanakan untuk dilaksanakan setelah pelantikan hingga 2025.
Kiswoyo Adi Joe, Kepala Investasi di Nawasena Abhipraya Investama, berpendapat bahwa sektor yang paling cepat merasakan dampak dari program quick win Prabowo Subianto adalah emiten produsen susu dan peternakan. Menurutnya, program yang terkait dengan pangan akan lebih cepat terealisasi. “Sektor konsumen ini kan kebutuhannya besar. Program makan bergizi gratis sepertinya sudah dipersiapkan dengan baik,” kata Kiswoyo saat dihubungi Tempo, Rabu, 16 Oktober 2024.
Salah satu program quick win Prabowo Subianto adalah program makan bergizi gratis dengan anggaran Rp 71 triliun, yang akan mencakup 15,42 juta orang di 514 kabupaten/kota.
Kiswoyo Adi Joe memperkirakan bahwa emiten seperti PT Ultra Jaya Milk Industry Tbk (ULTJ), PT Garudafood (GOOD), dan PT Indofood Sukses Makmur (ICPB) akan terdampak oleh program ini. Kiswoyo memproyeksikan bahwa harga saham ICPB akan mencapai level 13.000 dan ULTJ di angka 2.000 pada akhir 2024.
Selain itu, program pemeriksaan kesehatan gratis yang mencakup tes tekanan darah, gula darah, rontgen, dan skrining penyakit katastropik, dengan anggaran Rp 3,2 triliun, juga diperkirakan berdampak pada emiten di sektor kesehatan dan laboratorium. Pemerintah mendatang berkomitmen menurunkan angka tuberkulosis (TBC) menjadi 272 per 100.000 penduduk.
Sementara itu, analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, berpendapat bahwa banyak saham yang telah ter-price in atau mengalami kenaikan harga karena terafiliasi dengan program Prabowo-Gibran, bahkan sebelum kabinet baru dilantik pada 20 Oktober 2024. “Sebagian sudah sejak lama ter-price in,” kata Nafan pada Rabu.
SUKMA KANTHI NURANI | NABILA AZZAHRA A | MELYNDA DWI PUSPITA | HAMMAM IZZUDDIN
Jurus Taiwan Pikat Konsumen Indonesia
Taiwan gencar memikat konsumen Indonesia - Halaman all [579] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #taiwan #ctbc #teto #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 08/10/24 23:59
v/16182700/
JAKARTA, Investor.id -Indonesia merupakan negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, dengan populasi sekitar 270 juta jiwa. Taiwan pun gencar berusaha memikat konsumen Indonesia. Salah satu caranya adalah dengan menyelenggarakan Taiwan Excellence Happy Run 2024 di Ancol, Minggu (6/10/2024). Hal ini bertujuan untuk memperkuat hubungan antara Taiwan dan Indonesia.
Acara ini bertujuan untuk menunjukkan daya saing dan nilai inovatif produk unggulan Taiwan di pasar global. Area pameran Taiwan Excellence menampilkan 49 produk unggulan dari 20 perusahaan pemenang penghargaan Taiwan Excellence. Produk-produk tersebut mencakup berbagai industri, mulai dari elektronik konsumen, gaya hidup, olahraga dan rekreasi, hingga kesehatan.
Ambassador of Taipei Economic and Trade Office (TETO) di Indonesia, John C. Chen menerangkan, acara ini menggabungkan olahraga dan kegiatan sosial, dan sangat disukai oleh masyarakat Indonesia. “Yang paling penting, melalui acara ini mereka dapat mempromosikan citra serta kualitas dari produk Taiwan Excellence kepada masyarakat Indonesia, serta mendapatkan dukungan antusias dari masyarakat,” ucap dia dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Selasa (8/10/2024).
Selain itu, beberapa jenama besar Taiwan yang sudah lama beroperasi di pasar Indonesia juga mensponsori acara ini, seperti EVA Air, China Airlines, Starlux Airlines, dan PT Bank CTBC Indonesia. Tidak hanya memberikan dukungan penuh, brand-brand ini juga menyediakan berbagai area interaktif yang menarik bagi para pelari, termasuk stan makanan Taiwan dan area pameran produk.
Sebanyak 5.000 slot pelari habis hanya dalam waktu 10 menit setelah pendaftaran dibuka, dan 1.500 orang dalam daftar tunggu juga terisi dalam waktu singkat. Ini menunjukkan antusiasme besar masyarakat Indonesia terhadap Taiwan Excellence Happy Run.
Perusahaan-perusahaan besar seperti Acer, PX, Victor, Horizon, dan SYM turut berpartisipasi dalam pameran ini. Kehadiran mereka menarik banyak pelari untuk berkunjung dan semakin memperdalam pemahaman serta ketertarikan masyarakat Indonesia terhadap produk-produk buatan Taiwan.
Acara ini juga berkolaborasi dengan PT Bank CTBC Indonesia dan organisasi nirlaba lokal, Lindungi Hutan, dalam mengadakan kegiatan penanaman pohon. Bibit-bibit pohon ini akan ditanam di wilayah Jawa Barat sebagai bagian dari upaya konservasi ekologi. Taiwan Excellence menunjukkan komitmen mereka terhadap keberlanjutan lingkungan, yang sejalan dengan kebijakan green sustainability.
Presiden Direktur PT Bank CTBC Indonesia, Iwan Satawidinata, menyampaikan keikutsertaan mereka untuk menunjukkan bahwa PT Bank CTBC Indonesia mendukung gaya hidup sehat, serta memperkuat citra sebagai lembaga yang peduli terhadap tanggung jawab sosial dan lingkungan. “Kami juga ingin menunjukkan komitmen terhadap pelestarian alam melalui program penanaman pohon ketapang kencana," ujar dia.
Program penanaman pohon ini merupakan bukti nyata komitmen bank terhadap upaya konservasi lingkungan, sejalan dengan tren global dalam pengurangan gas karbon dan memperbaiki kualitas udara. Lebih lanjut, Iwan menekankan bahwa partisipasi Bank CTBC Indonesia di acara ini bertujuan untuk menciptakan citra positif di kalangan masyarakat yang peduli terhadap isu lingkungan. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan brand awareness serta membangun hubungan yang lebih erat dengan komunitas maupun nasabah Bank CTBC Indonesia.
Acara ini kini menjadi agenda tahunan yang dinantikan oleh masyarakat Indonesia. Tidak hanya mempromosikan tren olahraga dan kesehatan, tetapi juga membawa inovasi teknologi dan konsep ramah lingkungan Taiwan ke pasar Indonesia, memperkuat hubungan perdagangan dan budaya antara kedua negara.
Melalui Taiwan Excellence Happy Run, para peserta turut berkontribusi dalam kegiatan sosial dan amal, serta menikmati daya tarik produk Taiwan. Taiwan Excellence akan terus berkolaborasi dengan Indonesia untuk memberikan kontribusi dalam inovasi dan pembangunan berkelanjutan bagi masyarakat lokal. Untuk informasi lebih lanjut tentang produk pemenang Taiwan Excellence dan highlight acara, kunjungi situs web resmi: https://www.taiwanexcellence.org/tw.
Editor: Leonard (severianocruel@yahoo.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
Perluas Penyaluran Kredit ke UKM, Bank CTBC Jalin Kerja Sama dengan Akseleran
Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional melalui pembiayaan yang lebih luas dan inklusif bagi sektor UKM. [310] url asal
#ukm #bank-ctbc #akseleran #ukm #pengembangan-ukm
(Bisnis.Com - Entrepreneur) 01/10/24 17:44
v/15818550/
Bisnis.com, JAKARTA - PT Bank CTBC Indonesia resmi menjalin kerja sama strategis loan channeling dengan platform peer-to-peer (P2P) lending, Akseleran.
Kerja sama ini guna memperluas penyaluran kredit kepada Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Indonesia. Selain itu, kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional melalui pembiayaan yang lebih luas dan inklusif bagi sektor UKM.
Adapun, kerjasama loan channeling tersebut ditandatangani oleh Presiden Direktur Bank CTBC Indonesia, Iwan Satawidinata dan Direktur Utama Akseleran, Christoper Joutua di Jakarta.
Sebagai bagian dari komitmennya untuk mendukung perekonomian Indonesia, PT Bank CTBC Indonesia menganggap penting peran UKM sebagai penggerak utama ekonomi lokal.
Melalui kemitraan strategis dengan Akseleran, PT Bank CTBC Indonesia berharap dapat mempercepat penyaluran kredit yang lebih efisien kepada UKM, sehingga mampu memperkuat posisi mereka dalam pasar yang semakin kompetitif.
Small Business Group Head Bank CTBC Indonesia, Hendrik Komandangi mengatakan, “Kerja sama dengan P2P Lending ini akan terus menjadi bagian strategis untuk menumbuhkan kredit UKM di Bank CTBC Indonesia sebagai komitmen nya mencapai target Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM).”
Presiden Direktur Bank CTBC Indonesia, Iwan Satawidinata, menegaskan, "Kerja sama ini merupakan bagian dari strategi kami dalam memperluas dukungan kepada UKM, sekaligus berkontribusi lebih besar dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sinergi dengan Akseleran akan memungkinkan kami untuk menyalurkan kredit dengan lebih efektif dan berdampak langsung bagi perkembangan UKM di berbagai sektor."
Sementara itu, Direktur Utama Akseleran, Christoper Joutua, mengungkapkan optimismenya terhadap kolaborasi ini, "Bersama Bank CTBC Indonesia, kami akan memperluas jangkauan pembiayaan kepada UKM di Indonesia, membantu mereka mendapatkan akses ke modal usaha yang dibutuhkan. Ini adalah langkah penting dalam memperkuat ekosistem keuangan yang inklusif dan berkelanjutan."
Kolaborasi ini juga mendukung visi pemerintah dalam meningkatkan inklusi keuangan dan mendorong kontribusi sektor UKM dalam perekonomian nasional. Dengan UKM menyumbang lebih dari 60% Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, kerjasama ini diharapkan dapat mempercepat laju pertumbuhan ekonomi yang lebih merata di seluruh wilayah Indonesia.
Dikira TBC, Ternyata Benjolan Kanker Limfoma Hodgin
Kanker limfoma hodgin tidak selalu menunjukkan gejala khas benjolan-benjolan. Ada yang nyeri punggung dikira saraf kejepit. Bahkan ada benjolan dikira TBC. - Halaman all [690] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #limfoma #kanker-limfoma #tbc #limfoma-hodgkin #takeda #kanker #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 29/09/24 17:53
v/15729019/
JAKARTA,investor.id – Kanker limfoma hodgin tidak selalu menunjukkan gejala khas benjolan-benjolan. Ada yang nyeri punggung dikira saraf kejepit. Bahkan ada benjolan dikira TBC.
“Limfoma adalah salah satu jenis kanker yang menyerang sistem limfatik, bagian penting dari sistem kekebalan tubuh manusia,” ujar pakar hematologi-onkologi, dr Andhika Rachman, SpPD-KHOM, dalam bincang-bincang untuk memperingati Bulan Kesadaran Limfoma yang digelar Takeda di Jakarta, Kamis (26/9/2024).
dr Andhika memaparkan, ada dua jenis utama limfoma, yaitu Limfoma Hodgkin dan non-Hodgkin. Limfoma Hodgkin, meskipun lebih jarang ditemukan, memiliki ciri khas sel Reed-Sternberg dan sering kali menyerang orang dewasa muda serta mereka yang berusia di atas 55 tahun.
Di Indonesia, kesadaran mengenai Limfoma Hodgkin masih sangat rendah. Gejala-gejalanya yang tidak spesifik sering kali membuat penyakit ini sulit dikenali, dan banyak pasien baru mengetahui bahwa mereka mengidap kanker setelah penyakitnya mencapai tahap lanjut.
Menurut data Globocan 2022, di wilayah Asia Tenggara tercatat 12.308 kasus baru Limfoma Hodgkin dan 4.410 kematian. Di antara negara lain di Asia Tenggara, Indonesia mencatatkan 1.294 kasus baru dengan kematian sebanyak 373 kasus.2 Angka ini naik dari data Globocan di tahun 2020 yang mencatat 1.188 kasus baru dengan 363 kematian.
Waspadai Gejala
Dr dr Andhika Rachman, SpPD-KHOM menjelaskan bahwa kondisi Limfoma Hodgkin di Indonesia masih kurang terdiagnosis dengan baik. “Banyak pasien baru datang ke dokter setelah penyakit mereka sudah memburuk. Tidak jarang, mereka juga mengalami salah diagnosis karena gejalanya yang tidak spesifik dan sering menyerupai penyakit lain,” keluh dr Andhika.
Karena itu, masyarakat perlu mewaspadai beberapa gejala seperti munculnya benjolan di area kelenjar getah bening, yang dapat disertai dengan gejala sistemik yang kita sebut sebagai B symptoms.
“Gejala lain demam lebih dari 38oC tanpa penyebab yang jelas, keringat berlebihan di malam hari, serta penurunan bobot badan lebih dari 10% dalam 6 bulan berturut-turut tanpa disertai diet dan penyakit lain,” jelas dr Andhika.
dr Andhika menyarankan, apabila mengalami gejala seperti itu, segera temui dokter untuk mendapatkan pemeriksaan yang menyeluruh. Karena semakin cepat Limfoma Hodgkin didiagnosis, semakin besar peluang untuk memulai pengobatan yang tepat, dan semakin tinggi angka kelangsungan hidup pasien.
Salah Diagnosa
Pentingnya kesadaran terhadap gejala awal juga disampaikan oleh para pasien yang berbagi cerita mereka dalam acara ini. Intan Khasanah, seorang penyintas Limfoma Hodgkin, menceritakan betapa panjang dan sulitnya perjalanan yang ia tempuh sebelum akhirnya mendapatkan diagnosis yang tepat.
"Awalnya, saya didiagnosis TB setelah melalui pemeriksaan biopsi. Saat itu ada 2 benjolan seukuran kelereng yang muncul di leher kanan saya persis setelah saya terkena demam tinggi selama 3 hari. Akhirnya, selama 8 bulan saya rutin minum obat sembari melakukan kontrol ke RS. Namun semakin lama kondisi saya malah semakin parah, hingga koma dan masuk ICU. Ternyata ketika saya melakukan pengecekan ulang di dokter dan RS berbeda, diagnosis yang muncul adalah Limfoma Hodgkin, dan saat itu sudah terlanjur stadium 4. Mungkin terdengar aneh, tapi saya justru merasa lega saat dapat diagnosis itu. Yang ada di pikiran saya, ‘akhirnya misteri terpecahkan’” cerita Intan.
“Meski setelahnya tentu perjalanan yang saya alami sama sekali tidak mudah, seperti rollercoaster, penuh ups and downs, terlebih saya berobat sambil tetap aktif sekolah, kuliah, dan bekerja selama 7 tahun penuh, saya tidak menyangka akhirnya bisa mendapat remisi total,” ujar Intan.
Perjuangan melawan salah diagnosis juga dialami oleh Ias, seorang pasien Limfoma Hodgkin lainnya. Ia berbagi kisah bagaimana awalnya ia didiagnosis saraf terjepit, karena gejalanya mirip. “Saya merasakan sakit punggung, demam tinggi, keringat berlebih, dan berat badan turun drastis. Bahkan setelah menjalani MRI, tidak ditemukan sel kanker. Saya juga sempat dicurigai TB, dan baru setelah biopsi dan pemeriksaan PET-CT scan, saya mengetahui bahwa saya menderita Limfoma Hodgkin, bertepatan dengan hari ulang tahun saya,” cerita Ias.
Ias bercerita, tantangan terberat yang saya alami adalah panjangnya proses pengobatan. Saya sempat mengalami remisi satu kali, yaitu pada September 2023. Namun, remisi tersebut tidak berlangsung lama. Pada Januari 2024 terdeteksi sel kanker aktif (relapse) dan hingga kini, remisi belum tercapai, dan sel kanker masih aktif berdasarkan PET-CT SCAN yang baru saja dilakukan di September 2024 kemarin,” ujar Ias.
Editor: Mardiana Makmun (mardiana.makmun@investor.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
Mau Berantas TBC, Program Prioritas Prabowo Ditambah Lagi Jadi Rp 121 T
Pemerintah menambah anggaran quick win Rp 8 triliun untuk APBN 2025, fokus pada pengentasan TBC, pembangunan RS, dan program gizi gratis. [350] url asal
#tbc #anggaran-kesehatan #prabowo-subianto #program-prioritas #apbn-2025
(detikFinance - Terbaru) 26/09/24 10:10
v/15582896/
Banten - Pemerintah telah menambah anggaran percepatan atau quick win sebesar Rp 8 triliun untuk pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025. Dengan demikian, anggarannya kini menjadi sebesar Rp 121 triliun untuk tahun anggaran.
Adapun anggaran quick win ini diperuntukkan dalam mendukung pelaksanaan program-program prioritas Presiden dan Wakil Presiden Terpilih, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.
Kepala Pusat Kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara BKF Kementerian Keuangan Wahyu Utomo mengatakan, tambahan anggaran Rp 8 triliun itu dialokasikan untuk dipergunakan dalam pengentasan penyakit menular Tuberkulosis (TBC).
"Memang itu perkembangan terkini. Pembahasan di Panja B (DPR) waktu itu ada aspirasi untuk memunculkan salah satunya quick win untuk pengentasan TBC, itu Rp 8 triliun," kata Wahyu, dalam acara Media Gathering di Anyer, Banten, Rabu (25/9/2024).
Wahyu menjelaskan, anggaran ini diambil dari anggaran belanja lain-lain. Program pengentasan TBC ini masuk ke dalam anggaran di lingkup Kementerian Kesehatan tahun 2025.
Selain untuk penuntasan TBC, alokasi anggaran untuk program quick win di Kementerian Kesehatan juga dialokasikan untuk pembangunan RS lengkap berkualitas di daerah Rp 1,8 triliun. Langkah ini melalui peningkatan RS tipe D menjadi tipe C di daerah serta sarana prasarana dan alat kesehatannya.
Anggaran sebesar Rp 3,2 triliun juga dialokasikan untuk pemeriksaan kesehatan gratis. Pemeriksaan akan diberikan pada 52,2 juta orang, meliputi pemeriksaan tensi, gula darah, foto rontgen untuk screening penyakit katastropik.
Selanjutnya, pemerintah juga menyiapkan dana untuk program quick win makan bergizi gratis (MBG) sebesar Rp 71 triliun. Program ini menyasar ibu hamil, ibu menyusui, balita serta peserta didik di seluruh jenjang pendidikan.
Berikutnya, pemerintah mengalokasikan sejumlah anggaran untuk sektor Pendidikan melalui Kementerian PUPR, Kemendikbudristek, dan Kementerian Agama. Sebesar Rp 20 triliun akan dipergunakan untuk renovasi sekolah, dan Rp 2 triliun untuk pembangunan fisik sekolah unggulan di 4 lokasi.
Terakhir, ada program yang berkaitan dengan pangan yang disalurkan melalui Kementerian Pertanian. Dialokasikan dana sebesar Rp 15 triliun untuk lumbung pangan nasional, daerah dan desa. Rinciannya, program menyasar intensifikasi 80.000 hektar lahan dan ekstensifikasi (cetak awah) 150.000 hektare.
Simak Video: Hasil Rapat Sekjen Koalisi Prabowo: Ada 17 Program Prioritas-45 Pakar
Apa yang Perlu Kita Ketahui tentang Tuberkulosis? - kumparan.com
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang umumnya menyerang paru-paru tetapi dapat mempengaruhi berbagai organ lain dalam tubuh. [1,342] url asal
#tuberkulosis #tbc #penyakit #indonesia
(Kumparan.com - News) 16/09/24 13:46
v/15091466/
Tuberkulosis (TB) adalah salah satu penyakit menular tertua dan paling mematikan yang pernah dihadapi manusia. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang umumnya menyerang paru-paru tetapi dapat mempengaruhi berbagai organ lain dalam tubuh.
Meskipun TB sudah ada selama ribuan tahun, penyakit ini tetap menjadi masalah kesehatan global yang signifikan hingga saat ini, terutama di negara-negara berkembang. Artikel ini akan mengulas secara mendalam apa itu TB, bagaimana bakteri penyebabnya bekerja, bagaimana cara penularannya, gejalanya, tantangan pengobatannya, dan upaya global untuk mengatasi epidemi ini.
Tuberkulosis telah dikenal sejak zaman kuno, dengan bukti keberadaannya ditemukan dalam mumi Mesir kuno. Penyakit ini disebut juga sebagai "consumption" karena tampak seolah mengonsumsi penderitanya dari dalam, menyebabkan penurunan berat badan yang parah dan kelemahan fisik. Mycobacterium tuberculosis ditemukan oleh Robert Koch pada tahun 1882, memberikan terobosan penting dalam pemahaman kita tentang penyakit ini.
Keunikan dari bakteri penyebab TB adalah kemampuan mereka untuk masuk ke dalam keadaan dorman, menciptakan kondisi yang disebut TB laten. Pada keadaan ini, bakteri tetap hidup di dalam tubuh tetapi tidak menyebabkan gejala aktif. Hal ini menyebabkan sulitnya eradikasi TB secara total, karena TB laten dapat bertahan bertahun-tahun tanpa terdeteksi dan tiba-tiba aktif ketika sistem kekebalan tubuh melemah.
Selain itu, Mycobacterium tuberculosis memiliki dinding sel yang tebal dan kompleks, membuatnya kebal terhadap banyak jenis antibiotik. Inilah yang menyebabkan pengobatan TB harus dilakukan dengan menggunakan kombinasi obat dalam jangka waktu yang panjang, biasanya selama 6 bulan atau lebih. Bahkan, dalam beberapa kasus, bakteri ini mengembangkan resistansi terhadap obat-obatan, yang disebut sebagai Multidrug-Resistant TB (MDR-TB) dan Extensively Drug-Resistant TB (XDR-TB), menambah tantangan dalam pengobatannya.
Penularan TB terjadi melalui udara. Ketika seseorang dengan TB aktif batuk, bersin, berbicara, atau meludah, bakteri TB dapat tersebar dalam tetesan udara yang kemudian dihirup oleh orang lain. Meskipun penularan TB terjadi melalui udara, tidak semua orang yang terpapar akan langsung terinfeksi. Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang sehat mampu menahan infeksi tersebut dalam bentuk TB laten. Namun, individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti penderita HIV, malnutrisi, atau diabetes, lebih rentan untuk mengalami TB aktif.
Penularan TB juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Tempat-tempat dengan ventilasi yang buruk dan padat penduduk menjadi titik penularan yang ideal untuk TB. Misalnya, penjara, rumah sakit, atau permukiman kumuh memiliki risiko penularan yang lebih tinggi karena orang-orang yang tinggal di sana sering kali terpapar bakteri dalam jarak yang sangat dekat.
Gejala TB aktif bervariasi tergantung pada organ yang terinfeksi. Pada umumnya, TB paru ditandai dengan batuk yang berlangsung selama lebih dari dua minggu, sering disertai dahak, dan dalam beberapa kasus bisa mengeluarkan darah. Selain itu, penderita TB sering mengalami demam ringan yang berlangsung lama, keringat malam, dan penurunan berat badan yang signifikan.
Namun, TB yang menyerang organ lain dapat menyebabkan gejala yang berbeda. Misalnya, TB tulang dan sendi dapat menyebabkan nyeri dan pembengkakan, sementara TB kelenjar getah bening menyebabkan pembengkakan di leher atau area lain. TB meningitis, yang menyerang selaput otak, bisa memunculkan gejala seperti sakit kepala hebat, demam tinggi, dan kaku leher. Karena gejalanya bervariasi, banyak kasus TB ekstrapulmoner sering kali terlambat didiagnosis, terutama di daerah dengan akses layanan kesehatan yang terbatas.
Salah satu konsep penting yang harus dipahami tentang TB adalah TB laten. Ini adalah kondisi di mana seseorang telah terinfeksi bakteri TB, tetapi sistem kekebalannya mampu menahan bakteri tersebut, sehingga mereka tidak mengalami gejala. Orang dengan TB laten tidak menular, tetapi mereka berisiko mengembangkan TB aktif di kemudian hari, terutama jika sistem kekebalan tubuh mereka melemah.
Diperkirakan sekitar 1,7 miliar orang di seluruh dunia memiliki TB laten. Tanpa pengobatan, sekitar 5-10% dari mereka akan mengembangkan TB aktif di suatu saat dalam hidup mereka. TB laten merupakan salah satu hambatan terbesar dalam upaya eliminasi TB karena orang yang terinfeksi mungkin tidak sadar bahwa mereka membawa bakteri tersebut dan dapat mengalami reaktivasi kapan saja.
Diagnosis TB melibatkan serangkaian tes yang dirancang untuk mendeteksi bakteri TB dalam tubuh. Salah satu metode yang paling umum adalah tes Mantoux atau tes tuberkulin, di mana larutan tuberkulin disuntikkan ke dalam kulit. Reaksi kulit yang terbentuk diukur untuk menentukan apakah seseorang telah terinfeksi TB. Tes ini biasanya digunakan untuk mendeteksi TB laten.
Untuk mendeteksi TB aktif, pemeriksaan dahak sering kali digunakan. Sampel dahak pasien diperiksa di bawah mikroskop untuk mencari bakteri TB atau diuji dengan alat molekuler seperti GeneXpert yang mampu mendeteksi resistensi obat. Selain itu, sinar X dada sering digunakan untuk melihat kerusakan pada paru-paru yang khas akibat TB. Pada kasus TB ekstrapulmoner, biopsi jaringan atau pemeriksaan cairan tubuh lainnya mungkin diperlukan.
Pengobatan TB standar melibatkan penggunaan kombinasi antibiotik selama setidaknya 6 bulan. Pada fase awal, pasien biasanya diberikan 4 jenis obat, yaitu isoniazid, rifampicin, pyrazinamide, dan ethambutol. Setelah dua bulan, pengobatan dilanjutkan dengan dua obat, yaitu isoniazid dan rifampicin, selama empat bulan lagi.
Biaya pengobatan TB sangat bervariasi tergantung pada negara dan jenis pengobatannya. Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, pengobatan TB biasanya disubsidi oleh pemerintah atau didanai oleh organisasi internasional seperti Global Fund, sehingga pasien tidak perlu membayar. Namun, untuk kasus TB resisten obat, pengobatannya jauh lebih mahal karena durasi pengobatan lebih lama (bisa mencapai 18 bulan atau lebih) dan menggunakan obat-obatan yang lebih mahal dan memiliki efek samping yang lebih serius.
Indonesia menghadapi sejumlah masalah klasik terkait TB, termasuk:
Keterlambatan Diagnosis: Banyak pasien TB terlambat terdiagnosis karena kurangnya kesadaran masyarakat tentang gejala TB, terutama TB ekstrapulmoner.
Stigma Sosial: TB sering dianggap sebagai penyakit memalukan atau dikaitkan dengan kondisi sosial-ekonomi yang rendah, sehingga orang enggan mencari pengobatan.
Kepatuhan Pengobatan yang Rendah: Karena durasi pengobatan yang panjang, banyak pasien menghentikan pengobatan mereka terlalu dini, yang berkontribusi pada munculnya MDR-TB.
Beban Ko-infeksi dengan HIV: TB adalah penyebab utama kematian di antara penderita HIV di Indonesia. Ko-infeksi ini meningkatkan kompleksitas pengobatan dan memperburuk prognosis pasien.
Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap meningkatnya kasus TB di Indonesia adalah:
Vaksin Bacillus Calmette-Guérin (BCG) adalah satu-satunya vaksin yang tersedia untuk melawan TB, tetapi efektivitasnya sangat bervariasi. BCG terutama efektif dalam melindungi bayi dan anak kecil dari bentuk TB yang berat, seperti TB meningitis dan TB milier. Namun, vaksin ini tidak memberikan perlindungan yang kuat pada orang dewasa terhadap TB paru.
Di Indonesia, vaksinasi BCG adalah bagian dari program imunisasi nasional, tetapi perlindungan yang diberikan pada orang dewasa sering kali tidak memadai, sehingga vaksin BCG tidak bisa menjadi solusi jangka panjang dalam mencegah TB di masyarakat luas.
Eliminasi TB adalah tujuan ambisius yang telah menjadi fokus berbagai upaya global, terutama dalam konteks Sustainable Development Goals (SDGs). Namun, berbagai tantangan mengadang, mulai dari resistensi obat, diagnosis yang terlambat, hingga TB laten yang sulit dideteksi. Tanpa intervensi yang lebih agresif, sulit untuk membayangkan TB dapat benar-benar dieliminasi dalam waktu dekat.
Salah satu strategi penting adalah memperkuat program DOTS (Directly Observed Treatment, Short-course), di mana pasien TB dipantau langsung untuk memastikan mereka menyelesaikan pengobatan mereka dengan benar. Selain itu, diperlukan pendekatan inovatif dalam pengembangan vaksin baru yang lebih efektif bagi orang dewasa serta metode deteksi dini yang lebih cepat dan akurat.
Upaya global dalam memerangi TB dipimpin oleh organisasi internasional seperti World Health Organization (WHO) melalui inisiatif End TB Strategy yang bertujuan untuk mengurangi jumlah kasus TB secara signifikan pada tahun 2030. Namun, pencapaian target ini masih penuh tantangan, terutama di negara-negara berkembang dengan infrastruktur kesehatan yang terbatas.
Tantangan lain termasuk munculnya strain TB yang resisten terhadap obat, masalah pendanaan yang tidak mencukupi, serta kebutuhan untuk meningkatkan kolaborasi antar negara dalam hal pengendalian TB lintas batas. Selain itu, perubahan iklim dan urbanisasi yang cepat juga diperkirakan akan mempengaruhi epidemiologi TB di masa depan.
Kesimpulan
Tuberkulosis tetap menjadi salah satu ancaman kesehatan global terbesar. Meskipun telah ada kemajuan dalam diagnosis dan pengobatannya, tantangan yang dihadapi dalam upaya pencegahan dan eliminasi masih besar, terutama di negara-negara berkembang. Menyadari pentingnya diagnosis dini, kepatuhan pengobatan, serta pendekatan multi-sektoral dalam pengendalian TB adalah kunci untuk mengurangi dampak penyakit ini.
Masa depan bebas TB akan membutuhkan kolaborasi yang erat antara pemerintah, organisasi internasional, komunitas medis, dan masyarakat umum. Dengan kerja sama global yang kuat, harapan untuk mengatasi TB bisa menjadi kenyataan, meskipun jalan menuju eliminasi TB masih panjang.
Bank DKI raih dua penghargaan di ajang penghargaan contact center
Bank DKI meraih dua penghargaan dalam ajang penghargaan pusat kontak (contact center) nasional, "The Best Contact Center Indonesia (TBCCI) 2024" ... [267] url asal
#bank-dki #tbcci-2024 #icca #call-center-bank-dki #layanan-bank-dki
(Antara) 15/09/24 20:19
v/15130962/
Jakarta (ANTARA) - Bank DKI meraih dua penghargaan dalam ajang penghargaan pusat kontak (contact center) nasional, "The Best Contact Center Indonesia (TBCCI) 2024" yang diadakan Indonesia Contact Center Association (ICCA).
Kedua penghargaan yang diraih, yakni "The Best Reporting Team-Gold" dan "The Best Agent Inbound-Gold" yang diberikan atas upaya Bank DKI memberikan layanan terbaik kepada nasabah melalui pusat kontak Bank DKI.
"Penghargaan ini merupakan bukti nyata komitmen Bank DKI untuk terus memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh nasabah, utamanya inovasi dan kualitas layanan pada contact center Bank DKI," ujar Direktur Utama Bank DKI Agus H Widodo dalam keterangannya di Jakarta, Minggu.
Sekretaris Perusahaan Bank DKI, Arie Rinaldi menyampaikan capaian ini menunjukkan inovasi dan peningkatan kualitas layanan yang dilakukan oleh Bank DKI, khususnya di bidang pusat kontak berjalan sesuai harapan.
"Penghargaan ini akan menjadi motivasi bagi kami untuk terus berupaya meningkatkan standar layanan, sejalan dengan kebutuhan nasabah yang terus berkembang," kata Arie.
Ajang "The Best Contact Center Indonesia (TBCCI) 2024" diadakan untuk mengembangkan industri "contact center" di Indonesia. Ajang ini diikuti oleh berbagai perusahaan multi-industri yang memiliki layanan "contact center" dengan skala nasional.
Pelaksanaan TBCCI 2024 melibatkan 68 perusahaan sebagai partisipan, dengan total 1.114 peserta untuk memperebutkan berbagai kategori lomba individu, kategori program inovasi dan kategori lomba kerja tim (team work).
Adapun pusat kontak Bank DKI terdiri atas "call center" pada nomor 1500-351 yang melayani nasabah 24 jam 7 hari seminggu dan WhatsApp bisnis Bank DKI pada nomor +6281901500351. Pusat kontak tersebut sebagai upaya untuk memberikan layanan terbaik dan memudahkan akses nasabah untuk menghubungi Bank DKI.
Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Sri Muryono
Copyright © ANTARA 2024
Tantangan Pengendalian Tuberkulosis di Indonesia - kumparan.com
Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis, dan menyebar melalui udara, umumnya dari penderita yang batuk, bersin, dan bicara. [880] url asal
#tantangan #pengendaliantuberkulosis #indonesia #penyakit #tbc
(Kumparan.com) 15/09/24 16:43
v/15059742/
Tuberkulosis (TB) telah menjadi masalah kesehatan global selama berabad-abad, termasuk di Indonesia. Sebagai salah satu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis, TB menyebar melalui udara, umumnya dari penderita aktif yang batuk, bersin, atau berbicara.
Walaupun ada kemajuan dalam upaya pengendalian, TB masih menjadi ancaman serius, terutama dengan munculnya TB yang resisten terhadap obat-obatan (MDR-TB). Di Indonesia, TB menjadi salah satu prioritas kesehatan utama, mengingat tingginya jumlah kasus yang terus meningkat setiap tahunnya.
Pada semester pertama tahun 2024, Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat 30.000 kasus TB baru di Jakarta selama enam bulan pertama. Angka ini mencerminkan beban besar yang dihadapi Indonesia dalam pengendalian penyakit ini.
Artikel ini akan membahas sejarah TB di Indonesia, epidemiologi global, ASEAN, dan Indonesia, cara penularan, pengobatan dan pencegahan, faktor-faktor yang berkontribusi pada peningkatan kasus TB, serta tantangan dan rekomendasi penguatan program pengendalian TB di Indonesia.
Penyakit TB pertama kali tercatat di Indonesia pada masa kolonial. Pada saat itu, TB dikenal sebagai penyakit yang sangat mematikan, terutama di kalangan orang miskin dan padat penduduk. Pada era kemerdekaan, pemerintah Indonesia mulai melakukan upaya pengendalian TB secara lebih serius dengan pembentukan Program Nasional Pengendalian TB (NTP). Program ini bertujuan untuk meningkatkan deteksi dini, pengobatan yang tepat, serta pencegahan penularan melalui edukasi kesehatan masyarakat.
Secara global, TB merupakan salah satu penyakit menular paling mematikan. Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada tahun 2021, TB menginfeksi sekitar 10,6 juta orang dan menyebabkan hampir 1,6 juta kematian.
Sejak 2022, negara dengan beban kasus tertinggi infeksi TB di dunia adalah India, dan Indonesia. Di ASEAN, Indonesia menempati peringkat pertama sebagai negara dengan jumlah kasus TB terbanyak.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari satu juta kasus TB setiap tahun. Penyebaran TB meliputi semua kelompok umur, namun sebagian besar terjadi pada orang dewasa produktif. Selain itu, angka resistensi terhadap obat (MDR-TB) juga meningkat, menambah kompleksitas pengendalian penyakit ini.
TB menular melalui udara, ketika seseorang menghirup droplet kecil yang mengandung bakteri Mycobacterium tuberculosis. Droplet ini dapat dikeluarkan saat penderita batuk, bersin, atau berbicara. Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti penderita HIV/AIDS, diabetes, atau malnutrisi, memiliki risiko lebih tinggi untuk tertular.
Penularan TB juga dapat terjadi di tempat-tempat umum dengan ventilasi buruk, seperti rumah sakit, puskesmas, dan sarana transportasi publik yang padat. Hal ini memperkuat pentingnya pengendalian infeksi di tempat-tempat tersebut.
Pengobatan TB melibatkan kombinasi antibiotik yang harus dikonsumsi secara teratur selama enam hingga sembilan bulan. Pengobatan ini harus diselesaikan hingga tuntas untuk mencegah resistensi obat. Kasus TB yang tidak diobati atau tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan komplikasi serius, termasuk MDR-TB, yang memerlukan pengobatan lebih lama dan lebih kompleks.
1. Vaksinasi BCG (Bacillus Calmette-Guérin) untuk anak-anak guna mencegah bentuk TB yang berat.
2. Edukasi kesehatan masyarakat tentang pentingnya etika batuk dan kebersihan pernapasan.
3. Skrining rutin pada kelompok berisiko tinggi, seperti petugas kesehatan dan orang yang tinggal di rumah dengan penderita TB.
Beberapa faktor yang berperan dalam peningkatan kasus TB di Indonesia antara lain:
1. Kepadatan penduduk: Kota-kota besar seperti Jakarta memiliki populasi padat, meningkatkan risiko penularan.
2. Stigma sosial: Banyak penderita TB yang enggan untuk mendapatkan diagnosis atau pengobatan karena takut dikucilkan.
3. Pandemi COVID-19: Pandemi ini telah menyebabkan gangguan dalam layanan kesehatan, termasuk program deteksi dan pengobatan TB.
4. Meningkatnya resistensi obat: Kasus MDR-TB di Indonesia menjadi tantangan besar dalam pengobatan dan memerlukan penanganan khusus.
5. Kemiskinan adalah faktor yang turut berkontribusi pada sulitnya mengendalikan penyakit TB.
Pengendalian TB di Indonesia menghadapi beberapa tantangan utama, di antaranya:
1. Deteksi dini yang masih rendah: Masih banyak kasus TB yang tidak terdiagnosis karena keterbatasan akses ke layanan kesehatan.
2. Ketidakpatuhan pengobatan: Banyak penderita TB yang tidak menyelesaikan pengobatan mereka, sehingga meningkatkan risiko resistensi obat.
3. Sarana kesehatan yang terbatas: Di beberapa daerah, fasilitas kesehatan yang memadai untuk diagnosis dan pengobatan TB masih kurang.
4. Beban multiburden: Kombinasi TB dengan penyakit lain seperti HIV/AIDS, diabetes melitus, dan gangguan mental memperumit pengobatan dan penanganan kasus.
Untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut, beberapa langkah yang bisa diambil adalah:
1. Peningkatan deteksi dini: Program skrining yang lebih intensif harus diterapkan di seluruh fasilitas kesehatan, terutama di daerah dengan beban kasus tinggi.
2. Edukasi masyarakat: Kampanye kesehatan yang lebih luas harus dilakukan untuk mengurangi stigma terhadap penderita TB dan meningkatkan kesadaran tentang pentingnya pengobatan yang tepat.
3. Peningkatan akses ke pengobatan: Pemerintah perlu memastikan bahwa semua penderita TB, termasuk yang mengalami resistensi obat, mendapatkan pengobatan yang tepat tanpa hambatan biaya.
4. Pengendalian infeksi di tempat umum: Penggunaan masker, ventilasi yang baik, dan protokol kebersihan di tempat umum harus ditegakkan untuk mencegah penyebaran TB.
5. Pemanfaatan teknologi: Deteksi genomik berbasis teknologi baru dapat mempercepat identifikasi kasus TB dan MDR-TB, sehingga memudahkan pengobatan dan pelacakan.
6. Peningkatan kualitas hidup masyarakat, dengan lingkungan, air dan udara yang bersih dan sehat, disertai pemberantasan kemiskinan dan penguatan Pembangunan yang merata bagi seluruh lapisan Masyarakat.
Pengendalian TB di Indonesia merupakan tantangan yang kompleks, mengingat tingginya beban penyakit, munculnya kasus resistensi obat, serta dampak pandemi COVID-19. Namun, dengan strategi yang tepat, termasuk deteksi dini, peningkatan akses ke layanan kesehatan, dan edukasi masyarakat, Indonesia memiliki peluang untuk mengurangi beban TB di masa depan.
Penggunaan teknologi mutakhir dan kolaborasi antarinstansi juga menjadi kunci untuk memutus rantai penularan dan mencapai target eliminasi TB pada tahun 2030.
Tempat Kerja Ditargetkan Bebas TBC pada 2030
Tempat kerja ditargetkan bebas dari penyakit infeksi tuberculosis (TBC) pada 2030. Faktanya saat ini sebanyak 35% usia produktif di Indonesia terinfeksi TBC. Hal ini dapat menurunkan produktivitas ker [342] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #tuberkulosis #tbc #program-bebas-tuberkulosis-di-tempat-kerja #otsuka #jumlah-penderita-tbc-di-indonesia #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 04/08/24 18:14
v/13270773/
JAKARTA, investor.id – Tempat kerja ditargetkan bebas dari penyakit infeksi tuberculosis (TBC) pada 2030. Faktanya saat ini sebanyak 35% usia produktif di Indonesia terinfeksi TBC. Hal ini dapat menurunkan produktivitas kerja sehingga menjadi perhatian Otsuka yang menginisiasi program Bebas Tuberkulosis di tempat kerja.
Human Capital & Corporate Communications Director Otsuka Group, Sudarmadi Widodo memaparkan, menurut data WHO Global TB Report 2022, saat ini masih terdapat 10,6 juta orang di dunia jatuh sakit karena tuberkulosis dan menyebabkan 1,3 juta orang meninggal karenanya.
“Indonesia termasuk delapan negara yang menyumbang 2/3 kasus tuberkulosis di seluruh dunia, menempati posisi kedua setelah India. Beban kasus baru di Indonesia sebanyak 1.060.000 kasus dengan kematian sebanyak 134.000 jiwa atau setara dengan 15 kematian per jam akibat Tuberkulosis,” papar Sudarmadi Widodo.
Faktanya, lanjut Sudarmadi, cakupan penemuan kasus tuberkulosis pada usia produktif (25 - 54 tahun) di Indonesia adalah sekitar 35%. Namun jika ditarik usia 15 - 60 tahun maka menjadi sekitar 70% dari total keseluruhan, sehingga data tersebut memberikan kontribusi yang sangat signifikan dalam penyebaran Tuberkulosis di Indonesia.
Terkait itu, Otsuka yang telah menginisiasi program Bebas Tuberkulosis di tempat kerja, kembali menggandeng puluhan perusahaan untuk menandatangani komitmen penanggulangan Tuberkulosis di tempat kerja. Penandatangan tersebut dilaksanakan pada acara Hari Anak Nasional yang bertema ‘Anak Bebas TBC, Indonesia Maju’. Peringatan yang diselenggarakan di Gedung Sate, Bandung juga dihadiri oleh Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin dan Penjabat Gubernur Jawa Barat Bey Machmudin.
Sudarmadi menegaskan, Otsuka terus berkomitmen untuk mendukung target Eliminasi Tuberkulosis 2030 dan bebas Tuberkulosis pada 2050 dengan program Free TBC at Workplaces. Targetnya membebaskan tempat kerja dari tuberkulosis dan mengeliminasi sitgma negatif pasien tuberculosis.
“Kami berhasil mengajak puluhan perusahaan untuk dapat berkomitmen dalam program bebas Tuberkulosis di tempat kerja pada Hari Anak Nasional 2024. Targetnya, lebih banyak lagi perusahaan untuk bergabung bersama kami dalam mengeliminasi Tuberkulosis sehingga tidak hanya tercipta lingkungan kerja yang sehat, namun juga terbebasnya masyarakat Indonesia dari Tuberkulosis,” tutup Sudarmadi Widodo.
Editor: Mardiana Makmun (mardiana.makmun@investor.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News