#30 tag 24jam
TETO Apresiasi Kerja Sama Indonesia-Taiwan yang Semakin Kuat di 2024
Total investasi Taiwan di Indonesia berada di peringkat lima besar investasi asing di Indonesia. [498] url asal
#teto #taiwan #indonesia-taiwan #investasi-taiwan-di-indonesia #john-chen #hari-nasional-taiwan
(MedCom - Internasional) 09/10/24 14:12
v/16203255/
Jakarta: Taipei Economic and Trade Office (TETO), Kantor perwakilan Taiwan di Indonesia, menggelar "Resepsi Hari Nasional Republik of China (Taiwan) ke-113" di Hotel Borobudur Jakarta pada Selasa, 8 Oktober 2024.Perayaan Hari Nasional Taiwan ini dihadiri oleh para pejabat pemerintah, anggota legislatif, diplomat, komunitas Tionghoa, pengusaha Taiwan, cendekiawan, dan insan media, yang berjumlah lebih dari 800 orang.
Kepala TETO John Chen dalam pidatonya mengatakan tahun ini merupakan tonggak penting bagi Taiwan dan Indonesia. Taiwan berhasil menyelesaikan pemilihan presiden dan wakil presiden langsung yang ke-8, yang meletakkan dasar bagi demokrasi. Tata kelola konstitusional kembali inovatif, dan ketahanan demokrasinya yang kuat telah sangat diakui oleh komunitas internasional.
"Indonesia juga berhasil memilih presiden baru secara damai dan stabil. Pemerintahan baru kedua negara akan mencapai hasil kerja sama substantif yang lebih baik berdasarkan interaksi kuat yang sudah ada sebelumnya," kata John Chen.
Dalam hal ekonomi dan perdagangan, Taiwan telah berhasil mempromosikan "Kebijakan Baru ke Arah Selatan" selama delapan tahun.
Pada paruh pertama tahun ini, total volume perdagangan dengan 18 negara Kebijakan Baru ke Arah Selatan mencapai US$83,5 miliar, atau tingkat pertumbuhan tahunan sebesar 12,43%, dan ekspor mencapai US$50,2 miliar. Ini merupakan rekor tertinggi untuk periode yang sama di tahun-tahun sebelumnya.
Saat ini, total investasi Taiwan di Indonesia berada di peringkat lima besar investasi asing di Indonesia, dan telah menciptakan sekitar 1 juta lapangan kerja bagi masyarakat Indonesia.
Hubungan Indonesia-Taiwan
John Chen mengungkapkan, hubungan bilateral antara Taiwan dan Indonesia semakin erat dalam satu tahun terakhir."Indonesia adalah sumber pekerja migran terbesar di Taiwan dan sumber pelajar asing terbesar kedua di Taiwan," ujar John Chen.
Saat ini terdapat 400.000 warga negara Indonesia yang tinggal, bekerja dan belajar di berbagai wilayah di Taiwan.
"Taiwan merasa terhormat menjadi rumah kedua bagi teman-teman dari Indonesia, dan kami ingin mengucapkan terima kasih kepada penduduk baru Indonesia atas dedikasi dan upaya mereka di Taiwan," ungkap John Chen.
Kontribusi Taiwan di Kancah Global
John Chen menegaskan, sebagai anggota komunitas internasional yang bertanggung jawab, Taiwan berupaya untuk bergabung dengan organisasi internasional, dan memberikan kontribusi kepada komunitas dunia melalui berbagai cara, memperdalam kemitraan global, menggunakan kekuatan dan kepemimpinan yang baik. Dengan upaya-upaya ini, Taiwan telah menerima dukungan yang semakin besar dari komunitas internasional.Ia menyebutkan, baru-baru ini, negara-negara mitra yang berpandangan sama dengan Taiwan, seperti Amerika Serikat, Australia, dan Parlemen Eropa, dengan tegas mendukung Taiwan, dan bersama-sama menentang distorsi yang sengaja dilakukan oleh Tiongkok terhadap Resolusi Majelis Umum PBB 2758, yang dikaitkan secara tidak benar dengan "prinsip satu China".
"Persatuan negara-negara demokratis adalah kekuatan utama untuk menahan ekspansi Tiongkok. Pemerintah Taiwan berterima kasih kepada semua pihak atas dukungan mereka bagi Taiwan dan atas segala upaya mereka dalam menjaga perdamaian di Selat Taiwan," tegas John Chen.
Taiwan, kata John Chen, akan memegang teguh nilai-nilai kebebasan dan demokrasi, dan terus memperdalam kemitraan dengan Indonesia dan negara-negara yang memiliki cita-cita serupa, serta bekerja sama untuk mewujudkan demokrasi, perdamaian, dan kemakmuran.
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(WIL)
Jurus Taiwan Pikat Konsumen Indonesia
Taiwan gencar memikat konsumen Indonesia - Halaman all [579] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #taiwan #ctbc #teto #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 08/10/24 23:59
v/16182700/
JAKARTA, Investor.id -Indonesia merupakan negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, dengan populasi sekitar 270 juta jiwa. Taiwan pun gencar berusaha memikat konsumen Indonesia. Salah satu caranya adalah dengan menyelenggarakan Taiwan Excellence Happy Run 2024 di Ancol, Minggu (6/10/2024). Hal ini bertujuan untuk memperkuat hubungan antara Taiwan dan Indonesia.
Acara ini bertujuan untuk menunjukkan daya saing dan nilai inovatif produk unggulan Taiwan di pasar global. Area pameran Taiwan Excellence menampilkan 49 produk unggulan dari 20 perusahaan pemenang penghargaan Taiwan Excellence. Produk-produk tersebut mencakup berbagai industri, mulai dari elektronik konsumen, gaya hidup, olahraga dan rekreasi, hingga kesehatan.
Ambassador of Taipei Economic and Trade Office (TETO) di Indonesia, John C. Chen menerangkan, acara ini menggabungkan olahraga dan kegiatan sosial, dan sangat disukai oleh masyarakat Indonesia. “Yang paling penting, melalui acara ini mereka dapat mempromosikan citra serta kualitas dari produk Taiwan Excellence kepada masyarakat Indonesia, serta mendapatkan dukungan antusias dari masyarakat,” ucap dia dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Selasa (8/10/2024).
Selain itu, beberapa jenama besar Taiwan yang sudah lama beroperasi di pasar Indonesia juga mensponsori acara ini, seperti EVA Air, China Airlines, Starlux Airlines, dan PT Bank CTBC Indonesia. Tidak hanya memberikan dukungan penuh, brand-brand ini juga menyediakan berbagai area interaktif yang menarik bagi para pelari, termasuk stan makanan Taiwan dan area pameran produk.
Sebanyak 5.000 slot pelari habis hanya dalam waktu 10 menit setelah pendaftaran dibuka, dan 1.500 orang dalam daftar tunggu juga terisi dalam waktu singkat. Ini menunjukkan antusiasme besar masyarakat Indonesia terhadap Taiwan Excellence Happy Run.
Perusahaan-perusahaan besar seperti Acer, PX, Victor, Horizon, dan SYM turut berpartisipasi dalam pameran ini. Kehadiran mereka menarik banyak pelari untuk berkunjung dan semakin memperdalam pemahaman serta ketertarikan masyarakat Indonesia terhadap produk-produk buatan Taiwan.
Acara ini juga berkolaborasi dengan PT Bank CTBC Indonesia dan organisasi nirlaba lokal, Lindungi Hutan, dalam mengadakan kegiatan penanaman pohon. Bibit-bibit pohon ini akan ditanam di wilayah Jawa Barat sebagai bagian dari upaya konservasi ekologi. Taiwan Excellence menunjukkan komitmen mereka terhadap keberlanjutan lingkungan, yang sejalan dengan kebijakan green sustainability.
Presiden Direktur PT Bank CTBC Indonesia, Iwan Satawidinata, menyampaikan keikutsertaan mereka untuk menunjukkan bahwa PT Bank CTBC Indonesia mendukung gaya hidup sehat, serta memperkuat citra sebagai lembaga yang peduli terhadap tanggung jawab sosial dan lingkungan. “Kami juga ingin menunjukkan komitmen terhadap pelestarian alam melalui program penanaman pohon ketapang kencana," ujar dia.
Program penanaman pohon ini merupakan bukti nyata komitmen bank terhadap upaya konservasi lingkungan, sejalan dengan tren global dalam pengurangan gas karbon dan memperbaiki kualitas udara. Lebih lanjut, Iwan menekankan bahwa partisipasi Bank CTBC Indonesia di acara ini bertujuan untuk menciptakan citra positif di kalangan masyarakat yang peduli terhadap isu lingkungan. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan brand awareness serta membangun hubungan yang lebih erat dengan komunitas maupun nasabah Bank CTBC Indonesia.
Acara ini kini menjadi agenda tahunan yang dinantikan oleh masyarakat Indonesia. Tidak hanya mempromosikan tren olahraga dan kesehatan, tetapi juga membawa inovasi teknologi dan konsep ramah lingkungan Taiwan ke pasar Indonesia, memperkuat hubungan perdagangan dan budaya antara kedua negara.
Melalui Taiwan Excellence Happy Run, para peserta turut berkontribusi dalam kegiatan sosial dan amal, serta menikmati daya tarik produk Taiwan. Taiwan Excellence akan terus berkolaborasi dengan Indonesia untuk memberikan kontribusi dalam inovasi dan pembangunan berkelanjutan bagi masyarakat lokal. Untuk informasi lebih lanjut tentang produk pemenang Taiwan Excellence dan highlight acara, kunjungi situs web resmi: https://www.taiwanexcellence.org/tw.
Editor: Leonard (severianocruel@yahoo.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
TETO Dorong Resolusi 2758 Majelis Umum PBB Agar Tidak Diselewengkan
Taipei Economic and Trade Office (TETO) mendorong resolusi 2758 Majelis Umum PBB agar tidak diselewengkan oleh China. - Halaman all [1,387] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #teto #john-chen #pbb #majelis-umum-pbb #resolusi-2758 #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 23/09/24 20:24
v/15462580/
JAKARTA, investor.id – Taipei Economic and Trade Office (TETO) mendorong resolusi 2758 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar tidak diselewengkan oleh China. Ia juga mengharapkan agar sistem PBB tidak mengecualikan Taiwan.
“Saya, dengan ini, menyerukan kepada PBB agar dapat proaktif dalam mengambil tindakan dan menghadapi niat buruk China yang telah menyalahartikan Resolusi 2758 Majelis Umum PBB,” tutur Representatif TETO John Chen lewat keterangan resmi yang di terima di Jakarta, Senin (23/9/2024).
Ia menerangkan, penyalahartian ini menjadi ancaman serius bagi status quo di Selat Taiwan serta perdamaian dan stabilitas di kawasan Indo Pasifik.
John Chen juga menyerukan kepada Sekretariat PBB untuk menegakkan netralitas, berhenti secara keliru menerapkan Resolusi 2758 Majelis Umum PBB, juga berhenti merampas hak rakyat dan media Taiwan untuk mengunjungi, menghadiri, atau meliput pertemuan dan acara PBB.
“Praktik diskriminatif sekretariat PBB telah secara serius melanggar Pasal 2 Ayat 1 Piagam PBB mengenai tujuan PBB yaitu ‘penghormatan terhadap prinsip persamaan hak dan penentuan nasib sendiri’ dan prinsip-prinsip lain yang dianut oleh PBB, termasuk inklusivitas dan universalitas,” ujarnya.
Sistem PBB didirikan untuk memajukan kepentingan publik dan melayani masyarakat di seluruh dunia. Oleh karena itu, akses ke PBB seharusnya menjadi hak semua orang, bukan hanya karena pertimbangan politik kemudian mengabaikan hak asasi manusia (HAM) dari rakyat Taiwan.
Chen menambahkan, pihaknya menyerukan kepada sekretariat PBB untuk segera mengakhiri kebijakan diskriminatif terhadap rakyat Taiwan. Ia mendukung PBB mencari cara yang tepat untuk mengakomodasi partisipasi Taiwan, guna berkontribusi dalam mewujudkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Sebelumnya, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Majelis Umum PBB Philemon Yang menyerukan dengan lantang pada sidang Majelis Umum PBB tahun ini bahwa negara-negara anggota PBB harus memperkuat kerja sama internasional untuk menghadapi serangkaian tantangan global. Ini termasuk perubahan iklim dan eskalasi konflik regional.
Di sisi lain, kata Chen, pemerintah China semakin intensif dalam meningkatkan upaya dan tindakan provokatifnya di Laut China Timur, Laut China Selatan, dan Selat Taiwan.
“China dengan sengaja mendistorsi Resolusi 2758 Majelis Umum PBB yang disahkan pada 1971 untuk menyangkal status yang layak bagi Taiwan, dan dengan sengaja mengaitkan resolusi tersebut dengan “Prinsip Satu China” untuk menekan hak sah Taiwan dalam berpartisipasi secara bermakna di PBB dan badan-badan khusus PBB,” tegas Chen.
Resolusi 2758 Majelis Umum PBB tidak menyebutkan Taiwan pada keseluruhan teks, juga tidak menyatakan Taiwan adalah bagian dari China, apalagi mengesahkan China untuk mewakili Taiwan di PBB. Oleh karena itu, resolusi tersebut tidak ada hubungan dengan Taiwan.
Anggota Internasional
Usaha keras Taiwan selama beberapa dekade dinilai telah membuktikan kepada komunitas internasional bahwa Taiwan adalah anggota internasional yang bertanggung jawab dan dapat diandalkan, serta mitra yang sangat krusial dan sebuah kekuatan untuk kebaikan.
“Oleh karena itu dengan memasukkan Taiwan ke dalam sistem PBB akan memungkinkan komunitas internasional secara keseluruhan mendapat manfaat dari Taiwan,” imbuhnya.
Adapun tema sidang Majelis Umum PBB tahun ini bertujuan untuk tidak meninggalkan siapa pun, yang juga merupakan komitmen inti Agenda Pembangunan Berkelanjutan pada 2030.
Sangat penting bagi Taiwan untuk dimasukkan ke dalam sistem PBB demi menjamin tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) di tahun 2030, lanjut Chen.
“Sekali lagi saya menyerukan kepada teman-teman dari seluruh lapisan masyarakat di Indonesia untuk terus mendukung partisipasi Taiwan dalam sistem PBB. Hanya dengan menerima partisipasi penuh Taiwan kita dapat menciptakan dunia yang damai, berkelanjutan, dan indah yang menghargai martabat manusia di generasi sekarang dan yang akan datang,” pungkasnya.
Sidang ke-79 Majelis Umum PBB sedang diadakan di New York, Amerika Serikat, dengan tema “Unity in diversity, for the advancement of peace, sustainable development and human dignity for everyone everywhere” atau “Kesatuan dalam keberagaman, untuk memajukan perdamaian, pembangunan berkelanjutan, dan martabat masyarakat di seluruh dunia”.
Namun, di balik tujuan baik ini, pihak Taiwan menyayangkan 23,5 juta penduduk Taiwan masih dikecualikan dari sistem PBB.
Chen menilai, sistem PBB tidak hanya mencegah pemerintah Taiwan untuk menghadiri pertemuan dan acara PBB, tetapi juga melarang pemegang paspor Taiwan, serta media dan jurnalis Taiwan untuk masuk ke lingkungan dan kawasan PBB atapun untuk meliput pertemuan dan acara terkait. Hal ini sangat berlawanan dengan tema dari Sidang Majelis Umum PBB.
Pemerintah China disebut telah memperluas niat buruk dengan menyalahartikan Resolusi 2758 Majelis Umum PBB. Ini dimanfaatkan untuk menekan partisipasi Taiwan dalam berbagai platform internasional dan di berbagai kesempatan menyebarkan narasi palsu bahwa resolusi tersebut merupakan dasar hukum kedaulatan Beijing atas Taiwan, yang faktanya sangat bertentangan.
Saat ini, semakin banyak negara yang menyampaikan kritik mereka terhadap interpretasi China yang menyimpang terhadap Resolusi 2758 Majelis Umum PBB.
Antara lain pada laporan implementasi tahunan “Common Foreign and Security Policy” Uni Eropa (UE) yang disahkan pada Februari 2024 menegaskan bahwa Taiwan dan China tidak saling membawahi satu sama lain. Dan, hanya pemerintah Taiwan yang dipilih secara demokratis yang dapat mewakili rakyat Taiwan secara internasional.
Pada April 2024 Mark Baxter Lambert selaku Deputi Asisten Sekretaris, Biro Asia Timur dan Pasifik Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat (AS) menjelaskan posisi AS terhadap Resolusi 2758 Majelis Umum PBB di German Marshall Fund, yang adalah lembaga pemikir di Washington. Isinya menyebutkan resolusi tersebut tidak mendukung, tidak setara, dan tidak mencerminkan konsensus China terhadap “Prinsip Satu China”.
Pada 30 Juli 2024, Aliansi Antar-Parlemen untuk China (IPAC) yang terdiri dari lebih 250 anggota parlemen dari 38 negara di seluruh dunia dan UE mengesahkan “Model Resolusi IPAC terhadap Resolusi 2758 Majelis Umum PBB” menunjukkan dukungan nyata untuk Taiwan.
Senat Parlemen Australia dan Dewan Perwakilan Rakyat Parlemen Belanda baru-baru ini juga mengeluarkan mosi yang menyatakan Resolusi 2758 Majelis Umum PBB tidak menetapkan kedaulatan China atas Taiwan, juga tidak mempunyai kualifikasi untuk mengecualikan partisipasi Taiwan dalam organisasi internasional.
Republik China (Taiwan) adalah negara yang berdaulat, merdeka dan tidak berafiliasi dengan Republik Rakyat China. Hanya pemerintah yang dipilih oleh rakyat Taiwan dapat mewakili 23,5 juta penduduk Taiwan di dunia internasional. Republik Rakyat China tidak pernah memerintah Taiwan dan Taiwan jelas bukan bagian dari Republik Rakyat China, tegas Chen.
Hal ini merupakan status quo Selat Taiwan saat ini dan juga merupakan fakta objektif yang diakui secara internasional.
“Upaya pemerintah China untuk memaksakan “Prinsip Satu China” kepada negara-negara lain dan organisasi internasional telah melanggar kemerdekaan politik negara lain dan hanya akan meningkatkan antipati rakyat Taiwan dan komunitas internasional,” tukasnya.
Dengan menggunakan Resolusi 2758 Majelis Umum PBB sebagai senjata, TETO menilai pemerinteh China terus menyebarluaskan narasi palsu Taiwan adalah bagian dari China demi membangun dasar hukum menggunakan kekerasan untuk menyerang Taiwan di masa depan.
Dalam beberapa tahun terakhir, China secara sepihak menyatakan bahwa Selat Taiwan dan perairan 10 mil di lepas pantai timur Taiwan akan ditetapkan sebagai laut teritorial China. Kemudian, China mengabaikan risiko keselamatan penerbangan regional dan secara sepihak mengumumkan perubahan rute penerbangan M503, W122 dan W123.
Ditambah lagi baru-baru ini China mengumumkan “Coast Guard Law” yang memungkinkan personelnya untuk memasuki perairan yang disengketakan dan naik serta memeriksa kapal dengan maksud memperkuat klaim teritorial palsu dan memperluas pengaruh China.
“Langkah-langkah tersebut menunjukkan Beijing berupaya mengubah status quo secara sepihak di Selat Taiwan, memperluas otoritarianisme di kawasan Indo Pasifik, dan merupakan ancaman serius bagi perdamaian dan keamanan global,” beber John Chen.
Adapun Taiwan adalah mitra dagang dan ekonomi penting yang memainkan peran krusial dalam rantai pasokan global. Taiwan memiliki klaster industri semikonduktor terlengkap di dunia yang memproduksi lebih dari 60% chip semokonduktor dan 92% chip tercanggih bagi kebutuhan global.
Apabila China meggunakan kekerasan untuk menyerang Taiwan, ujar Chen, diperkirakan akan menyebabkan kerugian ekonomi global yang sangat besar yaitu lebih dari U$ 10 triliun atau sekitar 10% dari total GDP global.
“Serta skala kerugian yang lebih besar dari perang Rusia-Ukraina dan pandemi Covid-19. Di sisi lain, Selat Taiwan adalah jalur penting transportasi laut dan transportasi udara global. Lebih dari 40% kargo maritim global melewati Selat Taiwan,” ucapnya.
Jika China menggunakan kekerasan untuk menyerang Taiwan, maka akan merugikan masyarakat di seluruh dunia, terutama akan sulit menjamin keselamatan 400.000 orang warga negara Indonesia yang berada di Taiwan. Pada saat yang sama, hal ini akan berdampak serius pada arus transportasi laut, transportasi udara dan perdagangan di kawasan Indo-Pasifik dan global.
Pada 23 Mei 2024, Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB Stéphane Dujarric menyoroti hal ini. Ia menyatakan, semua negara anggota PBB mempunyai tugas dan kewajiban untuk menjaga moral dan martabat yang tercantum di Piagam PBB.
Mengenai China dan Selat Taiwan, ia mendesak pihak-pihak terkait untuk menahan diri dari tindakan yang dapat meningkatkan ketegangan di kawasan.
Editor: Grace El Dora (graceldora@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News