SERAM TIMUR, KOMPAS.com - Bank Indonesia (BI) menemukan para pedagang menolak uang logam untuk transaksi di Pulau Geser, Seram Timur, Seram Bagian Timur (SBT), Maluku.
Hal itu ditemukan saat BI menggelar acara Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) 2024 di Pulau Geser, Selasa (22/10/2024).
Awal mulanya, dalam sosialisasi Cinta Bangga Paham (CBP) Rupiah, seorang siswa sekolah dasar (SD) bertanya, ‘kenapa uang logam tidak laku di Pulau Geser?’.
Merespons hal itu, Ketua Tim Rombongan ERB 2024 Maluku Desi Muriany mengatakan bahwa uang logam, dari nilai Rp 50 sampai Rp 1.000, masih berlaku.
“Penjual-penjual itu tidak terima, tidak menerima uang logam. Jadi, uang logam itu mereka kalau ada yang mau bertransaksi, penjualnya enggak mau. Padahal masih berlaku,” ujar Desi saat diwawancarai Kompas.com di lokasi, Selasa.
Desi mengatakan, selama uang logam belum dicabut, masyarakat masih bisa menggunakan untuk keperluan transaksi.
“Jadi, hukumnya itu tidak boleh ditolak. Kalau secara undang-undang kan enggak boleh (ditolak) ya,” kata Desi.
Selanjutnya, Desi mengatakan, BI akan berkoordinasi dengan Bank Maluku agar masyarakat, khususnya pedagang, tidak menolak lagi uang logam dalam bertransaksi.
“Mungkin nanti kami akan coba bicarakan dulu dengan pimpinan juga, dengan rekan-rekan dari perbankan ya. Sosialisasi. Mungkin kami akan sampaikan ke Bank Maluku juga,” kata Desi.
Warga Pulau Geser, Saleman (55) juga mengonfirmasi bahwa uang logam ditolak di daerahnya.
“Iya, sudah lama ditolak. Sudah lima tahun lebih,” kata Saleman.
Saleman, yang berprofesi sebagai nelayan, mengaku memiliki banyak uang logam. Namun, karena tidak lagi digunakan untuk transaksi, ia menyimpan uang-uang logam tersebut.
Di sisi lain, BI bekerja sama dengan TNI Angkatan Laut (AL) menggelar Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) 2024 dengan menyasar 90 pulau di wilayah terdepan, terluar, dan terpencil (3T) di 18 provinsi.
ERB tahun ini telah dimulai pada Februari silam dengan menyasar lima pulau di Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur, yakni Sebatik, Bunyu, Derawan, Maratua, dan Taliyasan menggunakan Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) dr Soeharso-990.
Pada bulan ini, ERB kembali digelar dengan menyasar pulau-pulau di Maluku, antara lain Banda Neira, Gorom, Geser, Buru, dan Manipa menggunakan KRI Teluk Lada-521.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S Budiman mengatakan bahwa tujuan digelarnya ERB untuk menjaga stabilitas ekonomi wilayah terdepan, terluar, dan terpencil (3T).
BI ingin menjamin supaya ekonomi tetap berjalan dengan kehadiran rupiah. BI juga ingin memastikan ketersediaan uang rupiah di seluruh pelosok Indonesia.