R, mahasiswa Universitas Pakuan, menerima ratusan pesan teror dan ancaman setelah diduga menghina aparat saat berunjuk rasa di DPR Halaman all [535] url asal
BOGOR, KOMPAS.com- R (20 tahun),) mahasiswa Universitas Pakuan (Unpak) Bogor mengalami teror setelah mengikuti aksi demonstrasi menolak revisi Undang-Undang (UU) Pilkada di depan gedung DPR, Jakarta pada Kamis (22/8/2024).
R menerima teror setelah videonya yang diduga menghina pangkat tamtama viral di media sosial.
“Dapat ancaman di media sosial dari beberapa pesan Instagram maupun Whatsapp (WA). Oleh karena itu saya menonaktifkan media sosial saya dan ancamannga berupa perkataan yang seharusnya tidak keluar dari mulut petugas,” ujar R saat ditemui Kompas.com, Jumat (24/8/2024).
R menyebutkan, ada sekitar 800 pesan bernada ancaman yang ia terima di aplikasi WhatsApp miliknya.
Ia pun heran nomor pribadinya bisa tersebar hingga diserbu oleh ratusan pesan teror tersebut.
"Pas saya buka handphone tiba-tiba ada 800 chat di WA dari nomor tidak dikenal yang kebanyakan dari instansi. Pesan ancamannya kaya ‘gue cari lu’, ‘saya samperin kampusmu’,” ungkap R.
Setelah video R yang diduga menghina aparat tersebar luas, kampus Universitas Pakuan juga didatangi sejumlah orang tak dikenal yang hendak mencari R.
Kejadian ini terekam dalam sebuah video yang diunggah di akun media sosial Instagram @bemkbm_unpak, yang menunjukkan sekelompok orang mendatangi kampus dan menginterogasi mahasiswa yang baru saja tiba dari demonstrasi di Jakarta.
“Penggerudukan Militer, telah terjadi penggerudukan militer terhadap mahasiswa Universitas Pakuan,” bunyi keterangan di video tersebut.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Unpak Bogor Andi Chairunnas, membenarkan ada kejadian tersebut dan dan menyayangkan tindakan oknum yang mendatangi kampus Universitas Pakuan.
“Cuma yang saya sayangkan adalah ornamen mereka masuk (ke dalam kampus) itu menyalahi aturan. Saya masih punya dokumen CCTV, saya sampaikan siapa anggota yang masuk sebelas orang, mau cari mahasiswa itu (R) saya tidak terima. Mereka dari Kedung Halang Brimob,” ungkap Andi.
Pihak kampus dan orang-orang tersebut lalu melakukan mediasi dan sepakat menyelesaikan masalah secara kekeluargaan.
R juga telah menyampaikan permintaan maaf kepada pihak-pihak terkait.
“Permasalahan jadi trending viral di media sudah selesai dan kami sudah sama-sama duduk bersama dan mendapatkan kata mufakat. Mas R sudah menyampaikan secara lisan untuk memohan maaf kepada semua unsur agar tidak terulang perbuatan yang sudah dilakukan,” tutur Andi.
Sementara itu, perwakilan Resimen 1 pasukan pelopor Brimob Kedung Halang Bogor, Restu Eko Prayogi mengatakan pihaknya menerima permintaan maaf R.
"Terkait permasalahan yang sempat viral yakni mahasiswa yang mengolok-olok Tamtama, kami perwakilan Brimob se-nusantara menerima permintaan maaf yang tadi disampaikan di ruangan," ujar Restu.
Ia berharap, seluruh rekan Brimobnya juga bisa menerima permintaan maaf yang telah disampaikan oleh mahasiswa tersebut, agar masalah ini tidak berlanjut dan situasi dapat kembali kondusif.