Seorang warga sipil tewas ditembak OTK dalam kios di Distrik Pagaleme, Kabupaten Puncak Jaya, Papua Tengah, Senin malam. Pelaku diduga berjumlah dua orang. - Bagian all [328] url asal
JAYAPURA, iNews.id - Teror penembakan terjadi di Distrik Pagaleme, Kabupaten Puncak Jaya, Papua Tengah. Seorang warga sipil tewas ditembak orang tak dikenal (OTK), Senin (21/10/2024) malam.
Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Ignatius Benny Ady Prabowo mengatakan, awalnya mendapat laporan dari warga terjadinya penembakan di Distrik Pagaleme. Selanjutnya personel dikerahkan untuk olah TKP serta memeriksa saksi-saksi guna mengidentifikasi pelaku dan motif kekerasan menggunakan senjata api yang menyebabkan korban meninggal dunia.
"Pukul 18.50 WIT, keponakan korban bernama Noval (17) datang melapor ke Mako Polres Puncak Jaya telah terjadi penembakan terhadap masyarakat sipil oleh OTK dalam kios di Kompleks Kuburan 7, Kampung Pagaleme,” ujar Ignatius Benny, Selasa (22/10/2024).
Terpisah, Kapolres Puncak Jaya AKBP Kuswara mengatakan, kronologi kejadian bermula saat ada dua OTK berdiri di depan kios korban dengan gerak-gerik yang mencurigakan. Kemudian saksi menyuruh korban untuk menutup kios tetapi tidak dihiraukan.
"Saat saksi sedang menunduk untuk mengambil uang dalam karton guna dihitung, tiba-tiba terdengar bunyi letusan senjata api sebanyak tiga kali," kata Kapolres.
Ketika itu saksi melihat korban bernama Jamaluddin alias Daeng Eppe sudah terkapar di samping kursi dengan wajah berlumuran darah.
Setelah kejadian, anak korban mengirimkan pesan suara via WhatsApp ke group keluarga berisi tangisan dan teriakan memanggil ayahnya yang tewas ditembak. Sementara istri korban berlari keluar kios untuk meminta pertolongan.
“Berselang beberapa menit kemudian, datang adik korban Muhammad Arief dari rumahnya menuju ke TKP dan menyuruh keponakan korban untuk melaporkan kejadian tersebut kepada polisi,” katanya.
Kapolres menambahkan, situasi keamanan di Kota Mulia usai penembakan masih aman terkendali. Polres Puncak Jaya meningkatkan patroli dan kewaspadaan guna mengantisipasi tidak terjadi gangguan keamanan yang sama oleh OTK.
“Kepada masyarakat sekitar Kota Mulia agar tetap tenang dan tidak mudah terhasut isu meresahkan yang dapat mengganggu situasi keamanan,” ucapnya.
Kapolres juga mengimbau kepada masyarakat ketika melihat adanya orang-orang yang mencurigakan agar segera menginformasikan ke aparat. Sehingga polisi dapat melakukan tindakan segera untuk mencegah terjadinya kekerasan yang dapat menimbulkan jatuhnya korban masyarakat.
REPUBLIKA.CO.ID, TIMIKA - Satuan tugas (Satgas) Operasi Damai Cartenz 2024 menyatakan, Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Kodap VIII Intan Jaya pimpinan Lewis Kogoya telah menembak satu orang warga sipil hingga meninggal dunia. Penembakan itu terjadi di Distrik Sugapa Intan Jaya, Provinsi Papua Tengah.
Kepala Operasi Damai Cartenz 2024 Brigjen Pol Faizal Ramadhani melalui rilis di Timika, Selasa, mengatakan bahwa pada pukul 14.55 WIT di Distrik Sugapa KKB menembak Raimon Gustam Kailimang, seorang pekerja proyek Tigi Jaya Permai (TJP) asal Suku Makassar.
"Bunyi tembakan terdengar dari arah Kampung Wandoga, dan personel pasasgat telah menerbangkan drone guna memantau situasi terlihat korban tergeletak di areal bawah Sungai Wabu," katanya, Selasa (13/8/2024).
Menurut Faizal, korban penembakan KKB diidentifikasi bernama Raimon Gustam Kailimang mengalami luka tembak pada bagian kepala yang menembus telinga kiri ke telinga kanan.
"Juga ada luka tembak pada bagian lengan kanan serta dada sebelah kanan dan mengakibatkan korban meninggal dunia," ujarnya.
Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz 2024 Kombes Pol Bayu Suseno menjelaskan penembakan dilakukan oleh KKB Kodap VIII Intan Jaya pimpinan Lewis Kogoya yang mengakibatkan korban meninggal dunia.
"Yang melakukan penembakan yakni KKB Kodap VIII Intan Jaya, Lewis Kogoya dan mengakibatkan korban meninggal," katanya.
Dia menambahkan, pada Selasa, 13 Agustus 2024 sekitar pukul 14.55 WIT di Kali Wabu, korban Raimon Gustam Kailimang bersama rekannya Robi Beliau turun ke kali untuk mengambil air. Setibanya di lokasi untuk menyedot air, tiba-tiba seorang anggota KKB yang membawa senjata panjang mendekati mereka.
"Berdasarkan keterangan saksi dan hasil identifikasi foto, pelaku menembak korban dari jarak sekitar satu meter, selain itu juga memukul Robi Beliau sebelum melarikan diri ke arah Gunung Wabuk," ujarnya.
Jakarta: Acara peringatan 75 tahun Konvensi Jenewa digelar Kedutaan Besar Swiss di Jakarta pada Senin malam. Konvensi ini merupakan landasan dasar hukum kemanusiaan (humaniter) internasional.
Duta Besar Swiss untuk Indonesia Olivier Zehnder menegaskan bahwa Konvensi Jenewa masih sangat relevan hingga saat ini.
“Konvensi tersebut terus menyelamatkan nyawa dengan membatasi kebiadaban dunia, menghormatinya merupakan tanggung jawab bersama dan upaya kesetaraan,” ucap Zehnder, dalam Perayaan 75 Tahun Konvensi Jenewa di Jakarta, Senin, 12 Agustus 2024.
“Mereka yang berkomitmen untuk melindungi warga sipil harus dilindungi dengan cepat, aman, dan tidak memihak, seperti sistem yang harus diasuransikan,” lanjut dia.
Zehnder mengatakan, di tengah meningkatnya tekanan pada kemanusiaan, Konvensi Jenewa mencerminkan dedikasi terhadap prinsip-prinsip yang diabadikan.
Peringatan 75 tahun Konvensi Jenewa, bertepatan dengan Konferensi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah ke-34 yang akan diselenggarakan di Jenewa. Pada kesempatan ini, kata Zehnder, semua negara akan diberi kesempatan untuk memperbarui komitmen mereka dan mengajukan langkah-langkah konkret.
“Konvensi Jenewa realistis dalam tujuannya, bukan untuk mencegah konflik, tetapi untuk menetapkan batasan manusiawi dalam perlindungan korban,” tegasnya.
Penghormatan Hukum Internasional
Namun, kata dia, saat ini konflik di seluruh dunia berlipat ganda jumlahnya, menjadi lebih dari 100. “Hukum humaniter internasional terlalu sering terjadi di banyak wilayah, tindakan kemanusiaan menyebabkan kelaparan yang signifikan dan penduduk menderita kelaparan yang parah dengan kelaparan yang mengancam,” ucapnya.
Di tempat lain, kata Zehnder, penduduk sipil menjadi sasaran dan kekerasan seksual dilakukan secara sistematis sebagai bagian dari konflik.
“Anak di bawah umur dan relevansi eksplosif Perang telah membunuh dan menyerang warga sipil, termasuk anak-anak,” lanjut dia.
Ia menegaskan, Konvensi Jenewa akan menjadi landasan untuk melindungi penduduk sipil, yang diratifikasi secara universal.
“Setiap dari kita, setiap negara, memiliki kewajiban untuk menghormati hukum kemanusiaan internasional dan memastikan bahwa hukum tersebut dihormati meskipun tidak ada timbal balik,” terang Zehnder.
Ia mengajak masyarakat dunia untuk bersatu dalam penghormatan terhadap hukum internasional ini.
“Marilah kita bersatu dalam menyerukan penghormatan penuh terhadap hukum kemanusiaan internasional. Konvensi Jenewa bukan sekadar dokumen hukum. Konvensi ini adalah jalur kehidupan bagi bayi-bayi yang sangat dibutuhkan dunia kita, dan merupakan tugas kita untuk memastikan hukum-hukum ini,” pungkasnya.
KKB/OPM membunuh sopir truk di jalan menuju Kampung Masi, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan. Korban asal Lombok Timur, NTB. - Bagian all [229] url asal
JAKARTA, iNews.id - Seorang warga sipil tewas mengenaskan dibunuh gerombolan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) atau Organisasi Papua Merdeka (OPM) di jalan menuju Kampung Masi, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan. Selain itu truk yang dibawa korban juga dibakar kelompok separatis tersebut.
Kasatgas Humas Ops Damai Cartenz-2024, Kombes Pol Dr Bayu Suseno mengatakan, identitas korban sopir truk bernama Abdul Muzakir asal Lendang Nangka, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Dia tercatat tinggal di Jalan Paradiso, Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo.
Dia menjelaskan, kronologi penyerangan berawal saat korban yang mengendarai truk bersama rekannya membawa 13 penumpang orang asli Papua (OAP), Rabu (31/7/2024). Mereka dalam perjalanan untuk mengambil kayu di Kampung Masi.
"Saat di lokasi mereka diadang enam anggota KKB. Satu orang membawa senjata api SS2 dan lima lainnya memegang parang. Korban Abdul Muzakir berusaha melarikan diri, namun truk mengalami kendala dan berhenti di tengah jalan," ujarnya, Kamis (1/8/2024).
Korban Abdul tewas akibat luka-luka saat kabur lalu dievakuasi ke RSUD Dekai. Sementara rekannya Neri Ommu selamat dan melaporkan ke aparat kejadian penyerangan tersebut.
Keteraangan korban Neri, mereka diadang enam anggota KKB. Para pelaku dari penyelidikan aparat kerap beraksi di wilayah Yahukimo.
"Salah satu pelaku mengenakan kaos loreng, rambut gimbal serta memakai ikat kepala merah, kuning dan hitam," ucapnya.
Menurutnya saat ini Satgas Damai Cartenz dan Polres Yahukimo masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengidentifikasi pelaku.
REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG – Detasemen Polisi Militer (Denpom) IV/5 Semarang telah meminta maaf kepada dua warga Surabaya yang diduga menjadi korban pengeroyokan beberapa anggota TNI. Korban pengeroyokan tersebut adalah seorang pengusaha bernama Jonsun Wakum (31 tahun) dan sopirnya, Farid Catur Ardiansyah (24 tahun).
Kasus pengeroyokan tersebut telah dilaporkan ke Polrestabes Semarang pada Sabtu (27/7/2024). Kuasa hukum Jonsun dan Farid, Setiawan, mengungkapkan, sebelum datang ke Polrestabes Semarang, dia sempat ditemui oleh penyidik Denpom IV/5 Semarang. Denpom, kata Setiawan, membenarkan ada anggotanya yang sekarang diperiksa terkait pengeroyokan terhadap Jonsun dan Farid.
Selain itu, Denpom IV/5 Semarang mengucapkan permohonan maaf kepada korban. “Pada intinya Denpom melakukan permintaan maaf. Kami menerima iktikad baiknya karena meminta maaf dan silaturahmi itu kami anggap sebagai hal yang baik,” ujar Setiawan saat ditemui awak media di Mapolrestabes Semarang, Sabtu (27/7/2024) siang.
“Tapi kami juga tegaskan tadi (kepada Denpom) bahwa proses hukum yang perlu kami laksanakan, mudah-mudahan pihak Denpom dan orang-orang yang terlibat ini juga bisa menghargai. Karena supaya ini tidak terjadi lagi. Supaya ini menjadi edukasi untuk yang lainnya,” tambah Setiawan.
Setiawan mengungkapkan, kedua kliennya dianiaya secara membabi buta. Hal itu karena aksi pengeroyokan turut menggunakan besi tumpul. Dia menambahkan, akibat pengeroyokan itu, Farid, yang merupakan sopir dari Jonsun Wakum, harus mendapat tiga jahitan di kepala. Setiawan menyampaikan, berdasarkan hasil CT Scan, terdapat keretakan di bagian wajah Farid.
“Kalau Pak Jonsun Wakum sendiri lebih parah. Beliau kaki-kakinya pincang, kemudian (mengalami) retak di bagian hidung, kemudian mukanya itu bersimbah darah,” kata Setiawan.
Pada kesempatan itu, Setiawan turut menceritakan kronologis singkat terkait aksi pengeroyokan terhadap kedua kliennya. Peristiwa itu terjadi di depan Hotel Louise Kiene di Jalan Pemuda, Semarang, pada Rabu (24/7/2024), sekitar pukul 03:00 WIB. Ketika itu, Jonsun dan Farid, yang baru saja selesai makan di warung soto di seberang Hotel Louise Kiene, melihat adanya percekcokan antara dua orang dan dua orang. Jonsun dan Farid kemudian berusaha melerai mereka.
“Tapi salah satu orang (yang terlibat percekcokan), yang diduga juga mabuk, yang diduga ada oknum (TNI) juga, mengaku-ngaku anggota, itu tidak terima. Karena mungkin sudah panas, akhirnya oknum ini, menelepon teman-temannya. Akhirnya datang satu motor dengan dua orang, kemudian datang lagi dua motor dengan masing-masing dua orang, kemudian datang lagi satu mobil jenis Ayla atau Cayla, pada saat itulah terjadi (pengeroyokan),” ucap Setiawan.
Dia menambahkan, ketika Jonsun sudah terkapar bersimbah darah, para pelaku masih sempat menginjak-injaknya. “Menurut kami ini bukan seperti diperlakukan layaknya manusia,” katanya.
Ketika membuat laporan ke Polrestabes Semarang, Setiawan turut membawa Farid yang masih tampak mengalami lebam-lebam di bagian wajah. Sementara Jonsun masih menjalani perawatan di RS Bhayangkara Semarang. "(Jonsun) dirawat intensif di sana. Setelah satu hari dirawat di IGD, sekarang baru dirawat hari ketiga," ujar Setiawan.
Setiawan mengungkapkan, oknum anggota TNI yang diduga terlibat dalam pengeroyokan Jonsun dan Farid berjumlah empat orang. Di antara mereka merupakan anggota TNI AU. Namun Setiawan belum dapat mengonfirmasi apakah semuanya merupakan anggota TNI AU.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Alquran merupakan kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat Jibril. Dalam Alquran telah diungkapkan juga kegemaran membunuh kaum Yahudi.
Tidak hanya itu, kaum Yahudi bahkan disebut kerap membuh para nabi yang mengajak manusia untuk baik dan berlaku adil. Setidaknya ada tiga ayat Alquran yang mengungkapkan kegemaran kaum Yahudi membunuh:
1. Surat Ali Imran ayat 21
Dalam ayat ini, Allah menggambarkan kedurhakaan kaum Yahudi dan kegemaran mereka membunuh para nabi. Mereka terbiasa membunuh mereka hanya karena ajarannya dianghap tidak sesuai dengan tradisinya.
Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Allah, membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang benar), dan membunuh manusia yang memerintahkan keadilan, sampaikanlah kepada mereka kabar ‘gembira’ tentang azab yang pedih." (QS Ali Imran [3]:21)
Dalam Tafsir Tahlili Kemenag dijelaskan, dalam ayat ini Allah mencela sikap orang Yahudi di zaman para rasul sebelum Nabi Muhammad, yang dengan taklid buta mengikuti perbuatan nenek moyang mereka. Padahal sesungguhnya mereka sudah mengetahui kesalahan dan kejahatan nenek moyang mereka.
Dengan keterangan ayat ini, bertambah jelaslah keburukan orang Yahudi. Sukar bagi mereka mencari alasan untuk membersihkan diri dengan menyatakan beriman. Kejahatan mereka yang terbukti dalam sejarah, menyebabkan mereka mendapat celaan dan kutukan.
Orang Yahudi di zaman Rasulullah SAW dianggap ikut bersalah, karena mereka tidak menunjukkan sikap tidak setuju terhadap kejahatan nenek moyang mereka. Di samping membunuh para nabi, orang Yahudi zaman dahulu juga telah membunuh para hukama (orang-orang bijaksana), yaitu yang disebut dalam ayat ini sebagai “orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil”. Mereka terdiri dari cerdik pandai, yang menjadikan keadilan itu sebagai tiang keutamaan.
Martabat para hukama′di dalam memberikan petunjuk di bawah martabat para nabi dan demikian pula pengaruh mereka. Membunuh hukama′berarti membunuh akal dan menghancurkan keadilan. Hal ini merupakan dosa besar dan sangat merugikan. Karena itu Allah memberikan peringatan kepada orang Yahudi bahwa mereka akan menerima azab yang pedih di dunia dan di akhirat.
Siapakah yang lebih berhak menerima azab yang pedih itu kalau bukan mereka yang kejam lagi melampaui batas dalam berbuat kejahatan, seperti membunuh para nabi dan para cerdik pandai?
2. Surat Ali Imran Ayat 112
Dalam ayat ini, Allah kembali mengungkapkan keburukan kaum Yahudi yang gemar membunuh. Tercatat dalam sejarah, nabi yang dibunuh oleh kaum Yahudi antara lain adalah Nabi Zakaria dan Nabi Yahya. Bahkan, mereka pun mengejar-ngejar Nabi Isa untuk dibunuh meskipun kemudian Nabi Isa diselamatkan dan diangkat oleh Allah SWT ke langit.
Artinya: “Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas." (QS Ali Imran: 112).
3. Surat Al Maidah Ayat 70
Dalam ayat ini, Allah juga mengungkapkan Bani Israil atau kaum Yahudi yang suka membunuh. Walaupun, menurut Prof M Quraish Shihab, ada perbedaan antara Bani Israil dan Yahudi. Menurut dia, Bani Israil masih ada yang baik. Tapi, kalau Alquran menyebut Yahudi pasti menunjukkan celaan.
Artinya: "Sungguh, Kami benar-benar telah mengambil perjanjian dari Bani Israil dan telah mengutus rasul-rasul kepada mereka. Setiap kali rasul datang kepada mereka dengan membawa apa yang tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka, sebagian (dari rasul itu) mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh." (QS Al-Ma'idah [5]:70)
Ayat ini menerangkan bahwa Allah mengambil janji dari Bani Israil yaitu berupa ikrar mereka untuk beriman kepada Allah dan mengamalkan isi Taurat selaku syariah yang diturunkan Allah kepada mereka. Untuk memberikan penjelasan isi kitab tersebut Allah mengutus rasul-rasul-Nya kepada mereka. Tetapi setiap kali datang kepada mereka seorang rasul yang membawa petunjuk yang tidak sesuai dengan keinginan mereka, mereka perlakukan rasul itu dengan perlakuan yang sangat keji.
Segolongan mereka mendustakan rasul dan sebagian mereka menganiaya dan membunuh rasul. Hal itu menunjukkan betapa jahatnya tingkah laku mereka sehingga petunjuk yang dibawa oleh rasul tidak sedikit pun berkesan di hati mereka, malahan kekufuran dan kezaliman mereka yang semakin bertambah-tambah.
Itulah tiga ayat Alquran yang mengungkapkan keburukan kaum Yahudi yang suka gemar membunuh. Namun, tidak bisa menutup mata juga terhadap ayat-ayat lain yang juga memuji orang Yahudi. Pembacaan Alquran yang tepat dan menyeluruh menunjukkan bahwa Alquran tidak bersifat anti-Semit.
Menurut Alquran, tidak ada ras dan tidak ada orang yang secara ontologis lebih unggul dari yang lain. Bahkan, Alquran memperingatkan orang-orang beriman agar tidak meremehkan kelompok orang lain.
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok)."
Jadi ketika orang Yahudi dikritik atau dipuji dalam Alquran, itu sepenuhnya didasarkan pada tindakan mereka, bukan ras atau agama mereka, seperti halnya dengan Muslim. Misalnya, di dalam Alquran Muslim juga dikritik karena percaya pada hoaks, Allah SWT berfirman:
Artinya: "Mengapa orang-orang mukmin dan mukminat tidak berbaik sangka terhadap kelompok mereka sendiri, ketika kamu mendengar berita bohong itu, dan berkata, “Ini adalah (berita) bohong yang nyata?”(QS An-Nur [24]:12)
Umat Islam juga dikritik karena meninggalkan Alquran sebagai panduan. Allah SWT berfirman:
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Alquran merupakan kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat Jibril. Dalam Alquran telah diungkapkan juga kegemaran membunuh kaum Yahudi.
Tidak hanya itu, kaum Yahudi bahkan disebut kerap membuh para nabi yang mengajak manusia untuk baik dan berlaku adil. Setidaknya ada tiga ayat Alquran yang mengungkapkan kegemaran kaum Yahudi membunuh:
1. Surat Ali Imran ayat 21
Dalam ayat ini, Allah menggambarkan kedurhakaan kaum Yahudi dan kegemaran mereka membunuh para nabi. Mereka terbiasa membunuh mereka hanya karena ajarannya dianghap tidak sesuai dengan tradisinya.
Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Allah, membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang benar), dan membunuh manusia yang memerintahkan keadilan, sampaikanlah kepada mereka kabar ‘gembira’ tentang azab yang pedih." (QS Ali Imran [3]:21)
Dalam Tafsir Tahlili Kemenag dijelaskan, dalam ayat ini Allah mencela sikap orang Yahudi di zaman para rasul sebelum Nabi Muhammad, yang dengan taklid buta mengikuti perbuatan nenek moyang mereka. Padahal sesungguhnya mereka sudah mengetahui kesalahan dan kejahatan nenek moyang mereka.
Dengan keterangan ayat ini, bertambah jelaslah keburukan orang Yahudi. Sukar bagi mereka mencari alasan untuk membersihkan diri dengan menyatakan beriman. Kejahatan mereka yang terbukti dalam sejarah, menyebabkan mereka mendapat celaan dan kutukan.
Orang Yahudi di zaman Rasulullah SAW dianggap ikut bersalah, karena mereka tidak menunjukkan sikap tidak setuju terhadap kejahatan nenek moyang mereka. Di samping membunuh para nabi, orang Yahudi zaman dahulu juga telah membunuh para hukama (orang-orang bijaksana), yaitu yang disebut dalam ayat ini sebagai “orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil”. Mereka terdiri dari cerdik pandai, yang menjadikan keadilan itu sebagai tiang keutamaan.
Martabat para hukama′di dalam memberikan petunjuk di bawah martabat para nabi dan demikian pula pengaruh mereka. Membunuh hukama′berarti membunuh akal dan menghancurkan keadilan. Hal ini merupakan dosa besar dan sangat merugikan. Karena itu Allah memberikan peringatan kepada orang Yahudi bahwa mereka akan menerima azab yang pedih di dunia dan di akhirat.
Siapakah yang lebih berhak menerima azab yang pedih itu kalau bukan mereka yang kejam lagi melampaui batas dalam berbuat kejahatan, seperti membunuh para nabi dan para cerdik pandai?
2. Surat Ali Imran Ayat 112
Dalam ayat ini, Allah kembali mengungkapkan keburukan kaum Yahudi yang gemar membunuh. Tercatat dalam sejarah, nabi yang dibunuh oleh kaum Yahudi antara lain adalah Nabi Zakaria dan Nabi Yahya. Bahkan, mereka pun mengejar-ngejar Nabi Isa untuk dibunuh meskipun kemudian Nabi Isa diselamatkan dan diangkat oleh Allah SWT ke langit.
Artinya: “Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas." (QS Ali Imran: 112).
3. Surat Al Maidah Ayat 70
Dalam ayat ini, Allah juga mengungkapkan Bani Israil atau kaum Yahudi yang suka membunuh. Walaupun, menurut Prof M Quraish Shihab, ada perbedaan antara Bani Israil dan Yahudi. Menurut dia, Bani Israil masih ada yang baik. Tapi, kalau Alquran menyebut Yahudi pasti menunjukkan celaan.
Artinya: "Sungguh, Kami benar-benar telah mengambil perjanjian dari Bani Israil dan telah mengutus rasul-rasul kepada mereka. Setiap kali rasul datang kepada mereka dengan membawa apa yang tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka, sebagian (dari rasul itu) mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh." (QS Al-Ma'idah [5]:70)
Ayat ini menerangkan bahwa Allah mengambil janji dari Bani Israil yaitu berupa ikrar mereka untuk beriman kepada Allah dan mengamalkan isi Taurat selaku syariah yang diturunkan Allah kepada mereka. Untuk memberikan penjelasan isi kitab tersebut Allah mengutus rasul-rasul-Nya kepada mereka. Tetapi setiap kali datang kepada mereka seorang rasul yang membawa petunjuk yang tidak sesuai dengan keinginan mereka, mereka perlakukan rasul itu dengan perlakuan yang sangat keji.
Segolongan mereka mendustakan rasul dan sebagian mereka menganiaya dan membunuh rasul. Hal itu menunjukkan betapa jahatnya tingkah laku mereka sehingga petunjuk yang dibawa oleh rasul tidak sedikit pun berkesan di hati mereka, malahan kekufuran dan kezaliman mereka yang semakin bertambah-tambah.
Itulah tiga ayat Alquran yang mengungkapkan keburukan kaum Yahudi yang suka gemar membunuh. Namun, tidak bisa menutup mata juga terhadap ayat-ayat lain yang juga memuji orang Yahudi. Pembacaan Alquran yang tepat dan menyeluruh menunjukkan bahwa Alquran tidak bersifat anti-Semit.
Menurut Alquran, tidak ada ras dan tidak ada orang yang secara ontologis lebih unggul dari yang lain. Bahkan, Alquran memperingatkan orang-orang beriman agar tidak meremehkan kelompok orang lain.
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok)."
Jadi ketika orang Yahudi dikritik atau dipuji dalam Alquran, itu sepenuhnya didasarkan pada tindakan mereka, bukan ras atau agama mereka, seperti halnya dengan Muslim. Misalnya, di dalam Alquran Muslim juga dikritik karena percaya pada hoaks, Allah SWT berfirman:
Artinya: "Mengapa orang-orang mukmin dan mukminat tidak berbaik sangka terhadap kelompok mereka sendiri, ketika kamu mendengar berita bohong itu, dan berkata, “Ini adalah (berita) bohong yang nyata?”(QS An-Nur [24]:12)
Umat Islam juga dikritik karena meninggalkan Alquran sebagai panduan. Allah SWT berfirman: