#30 tag 24jam
Pesan 'Pembangkangan' Hamas di Balik Penunjukan Yahya Sinwar
Pemimpin Palestina ini adalah musuh nomor satu Israel. [652] url asal
#yahya-sinwar-gantikan-haniyeh #yahya-sinwar-dipilih #pemimpin-hamas-yahya-sinwar #pimpinan-hamas #yahya-sinwar-pimpin-hamas #pernyataan-yahya-sinwar #yahya-sinwar-gantikan-ismail-haniyeh
(Republika - Khazanah) 07/08/24 07:06
v/13613881/
REPUBLIKA.CO.ID, Kelompok perjuangan Palestina, Hamas, telah menunjuk Yahya Sinwar sebagai pemimpin politik baru menggantikan Ismail Haniyeh yang syahid dalam sebuah serangan Israel di Teheran, Iran, pekan lalu. Pengumuman ditunjuknya Sinwar dilakukan pada Selasa (6/8/2024) saat terjadinya ketegangan di Timur Tengah yang menunggu bagaimana pembalasan Iran terhadap Israel atas pembunuhan Haniyeh di tanahnya.
Dianggap sebagai arsitek dari serangan 7 Oktober terhadap Israel, Sinwar akan mencoba untuk mendorong gerakan ini melewati masa-masa yang tidak menentu di seluruh wilayah tersebut dari sebuah lokasi yang tidak diketahui di Gaza, dilaporkan Aljazirah.
Pemimpin Palestina yang berbasis di Gaza ini adalah musuh nomor satu Israel. Dengan memilih Sinwar sebagai kepala biro politik, Hamas mengirimkan pesan pembangkangan kepada pemerintah Israel. Meski demikian, masih belum jelas bagaimana Sinwar akan dapat berkomunikasi dengan sesama anggota Hamas, menjalankan operasi politik sehari-hari dari gerakan tersebut, dan mengawasi negosiasi gencatan senjata Gaza saat bersembunyi. Para pejabat Israel tidak merahasiakan keinginan mereka untuk membunuhnya.
Lahir pada tahun 1962 di Khan Younis, Sinwar sering digambarkan sebagai salah satu pejabat tinggi Hamas yang paling tidak kenal kompromi. Dia ditangkap oleh Israel berulang kali pada awal 1980-an karena keterlibatannya dalam aksi anti-pendudukan di Universitas Islam di Gaza.
Setelah lulus, ia membantu membangun jaringan pejuang untuk melakukan perlawanan bersenjata terhadap Israel. Kelompok ini kemudian bermetamorfosis menjadi Brigade Izzuddin al-Qassam, sayap militer Hamas.
Sinwar bergabung dengan Hamas sebagai salah satu pemimpinnya segera setelah kelompok ini didirikan oleh Shekh Ahmad Yasin pada tahun 1987. Tahun berikutnya, ia ditangkap oleh pasukan Israel dan dijatuhi empat hukuman seumur hidup - setara dengan 426 tahun penjara - atas dugaan keterlibatannya dalam penangkapan dan pembunuhan dua tentara Israel dan empat orang yang dicurigai sebagai mata-mata Palestina.
Dia menghabiskan 23 tahun di penjara Israel di mana dia belajar bahasa Ibrani. Dia pun menjadi pakar dalam urusan Israel dan politik dalam negeri. Ia dibebaskan pada 2011 sebagai bagian dari kesepakatan pertukaran tahanan yang membebaskan tentara Israel Gilad Shalit, yang ditangkap oleh Hamas.
Setelah dibebaskan, Sinwar dengan cepat naik kembali ke jajaran Hamas. Pada 2012, ia terpilih menjadi anggota biro politik kelompok tersebut. Sinwar ditugaskan untuk berkoordinasi dengan Brigade Al Qassam.
Dia memainkan peran politik dan militer utama selama serangan tujuh pekan Israel terhadap Gaza pada tahun 2014. Tahun berikutnya, Amerika Serikat mencap Sinwar sebagai "teroris global yang ditunjuk secara khusus".
Pada 2017, Sinwar menjadi pemimpin Hamas di Gaza, menggantikan Haniyeh, yang terpilih sebagai ketua biro politik kelompok tersebut. Tidak seperti Haniyeh, yang telah melakukan perjalanan regional dan menyampaikan pidato selama perang yang terus berlanjut di Gaza, hingga pembunuhannya, Sinwar tetap bungkam sejak 7 Oktober.
Pesan Yahya Sinwar saat diwawancara..
Dalam sebuah wawancara dengan Vice News pada tahun 2021, Sinwar mengatakan meskipun warga Palestina tidak menginginkan perang karena biayanya yang mahal, mereka tidak akan "mengibarkan bendera putih".
"Untuk waktu yang lama, kami mencoba perlawanan damai dan populer. Kami berharap bahwa dunia, orang-orang yang merdeka dan organisasi-organisasi internasional akan mendukung rakyat kami dan menghentikan penjajahan yang melakukan kejahatan dan pembantaian terhadap rakyat kami. Sayangnya, dunia hanya diam dan menonton," katanya.
Sinwar kemungkinan besar menggambarkan Great March of Return, di mana warga Palestina melakukan protes setiap minggu selama berbulan-bulan di perbatasan Gaza pada tahun 2018 dan 2019, tetapi menghadapi tindakan keras Israel yang menewaskan lebih dari 220 orang dan melukai lebih banyak lagi.
Sinwar kemungkinan besar menggambarkan Great March of Return, di mana warga Palestina melakukan protes setiap minggu selama berbulan-bulan di perbatasan Gaza pada tahun 2018 dan 2019, tetapi menghadapi tindakan keras Israel yang menewaskan lebih dari 220 orang dan melukai lebih banyak lagi.
Ketika ditanya tentang taktik Hamas, termasuk menembakkan roket tanpa pandang bulu yang dapat membahayakan warga sipil, Sinwar mengatakan bahwa warga Palestina berjuang dengan cara yang mereka miliki. Ia menuduh Israel sengaja membunuh warga sipil Palestina secara massal, meskipun memiliki persenjataan yang canggih dan akurat.
"Apakah dunia mengharapkan kami menjadi korban yang berperilaku baik ketika kami dibunuh, kami dibantai tanpa membuat suara?" kata Sinwar.
Siapa Yahya Sinwar, Mengapa Ia Dipilih Gantikan Ismail Haniyeh?
Penunjukkan Yahya Sinwar mengirimkan sinyal kuat ke Israel. [1,078] url asal
#yahya-sinwar #yahya-sinwar-gantikan-haniyeh #pemimpin-hamas-yahya-sinwar #biro-politik-hamas #yahya-sinwar-dipilih #perlawanan-palestina
(Republika - News) 07/08/24 05:38
v/13601717/
REPUBLIKA.CO.ID, GAZA – Kelompok perlawanan Palestina, Hamas, mengumumkan pemimpin mereka di Gaza, Yahya Sinwar sebagai kepala biro politik menggantikan Ismail Haniyeh yang syahid pekan lalu. Siapa tokoh itu dan apa pesan penunjukannya sebagai kepala biro politik?
Patut dicatat, Hamas memiliki sejumlah tokoh yang berada di posisi yang lebih aman di luar Palestina. Sementara Sinwar saat ini bersama warga Gaza tengah bertahan dari gempuran brutal Israel di wilayah terkepung tersebut.
Selain itu, Sinwar juga dilihat sebagai sosok yang lebih frontal dalam perlawanannya terhadap Israel. Ia Dianggap sebagai arsitek serangan 7 Oktober terhadap Israel. Pihak Israel tak menutup-nutupi niatan mereka menghabisi Sinwar. Para petinggi militer penjajah bahkan menyatakan bahwa Sinwar saat ini “hidup dalam waktu pinjaman”.
Artinya, penunjukkan Sinwar adalah juga pesan penting terhadap Israel: Bahwa perlawanan di Gaza tak akan mengendur. Penunjukkan ini bisa dilihat dalam kerangka tantangan kepada entitas penjajah.
“Saya pikir fokus pada Gaza, dan fokus pada Sinwar, adalah sinyal pembangkangan yang besar,” kata analis politik senior Aljazirah, Marwan Bishara. “Dan fakta bahwa Hamas tidak akan kehilangan Gaza, bahwa Hamas akan tetap menjadi kekuatan di Gaza, dan karenanya pemimpinnya tetap ada di sana.”
Analisis dari American Enterprise Institute’s Critical Threats Project, Institute for the Study of War dan CNN melansir bahwa hampir setengah dari batalion militer Hamas di Gaza utara dan tengah telah membangun kembali beberapa kemampuan tempur mereka. Hal ini menyangkal klaim Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa mereka berhasil melumpuhkan pejuang Hamas.
Sayap militer Hamas, yang dikenal sebagai Brigade al-Qassam, dibagi menjadi 24 batalyon yang tersebar di seluruh wilayah, menurut militer Israel. Per 1 Juli, hanya tiga dari 24 batalyon ini yang tidak lagi bisa bertempur secara efektif karena dihancurkan oleh militer Israel, menurut penilaian CTP dan ISW. Delapan batalyon tempur efektif, mampu melaksanakan misi melawan tentara Israel di darat di Gaza.
Sedangkan 13 sisanya telah terdegradasi, hanya mampu melakukan serangan gerilya secara sporadis dan sebagian besar tidak berhasil. Batalyon di Gaza tengah adalah yang paling sedikit mengalami kerusakan di jalur tersebut, menurut sumber dan analisis militer Israel. Sumber-sumber Israel mengatakan mereka belum “menangani” batalyon-batalyon tersebut secara memadai karena mereka diyakini menyandera banyak orang Israel.
Analisis CTP, ISW dan CNN mengenai kemampuan Hamas untuk menyusun kembali fokus pada 16 batalyon di Gaza tengah dan utara, yang merupakan target serangan Israel yang paling lama berjalan. Tujuh dari 16 batalyon ini telah mampu menyusun dan membangun kembali beberapa kemampuan militer mereka setidaknya sekali dalam enam bulan terakhir. Semua ini berada di bagian utara Jalur Gaza yang diluluhlantakkan Israel.
“Dia [Sinwar] telah melejit ke posisi berpengaruh di Hamas, memimpin Hamas di Gaza. Pilihan Hamas untuk menunjuknya sebagai pemimpin gerakan tersebut kini menempatkan Gaza sebagai pusat perhatian, bukan hanya kejadian di lapangan, namun tentu saja dinamika dalam gerakan Hamas,” kata Nour Odeh, seorang analis politik Palestina yang berbasis di Ramallah kepada Aljazirah. “Dan ini benar-benar mengirimkan sinyal, sejauh menyangkut negosiasi gencatan senjata, bahwa Gazalah yang mengambil keputusan.”
Hizbullah menyambut baik penunjukan Sinwar pada Selasa malam, dan menyebutnya sebagai pesan yang kuat kepada Israel dan Amerika Serikat, dan menunjukkan bahwa Hamas bersatu dalam pengambilan keputusan. “Memilih saudara Yahya Sinwar dari jantung Jalur Gaza yang terkepung – yang berada di garis depan dengan pejuang perlawanan dan di antara anak-anak bangsanya, di bawah reruntuhan, blokade, pembunuhan dan kelaparan – menegaskan kembali bahwa tujuan yang ingin dicapai musuh yakni membunuh para pemimpin telah gagal,” kata kelompok itu dalam sebuah pernyataan.
Sinwar kini akan mencoba mendorong gerakan tersebut melewati masa-masa yang tidak menentu di seluruh wilayah dari lokasi yang tidak diketahui di Gaza. Pemimpin Palestina yang tinggal di Gaza adalah musuh publik nomor satu di Israel. Jadi, dengan memilihnya sebagai kepala biro politik, Hamas mengirimkan pesan pembangkangan kepada pemerintah Israel.
Namun masih belum jelas bagaimana Sinwar dapat berkomunikasi dengan sesama anggota Hamas, menjalankan operasi politik sehari-hari gerakan tersebut, dan mengawasi perundingan gencatan senjata di Gaza sambil bersembunyi.
Lahir pada 1962 di Khan Younis, Sinwar sering digambarkan sebagai salah satu pejabat tinggi Hamas yang paling tidak kenal kompromi. Dia ditangkap berulang kali oleh Israel pada awal tahun 1980an karena keterlibatannya dalam aktivisme anti-pendudukan di Universitas Islam di Gaza.
Setelah lulus, ia membantu membangun jaringan pejuang untuk melakukan perlawanan bersenjata melawan Israel. Kelompok tersebut kemudian menjadi Brigade Qassam, sayap militer Hamas. Sinwar bergabung dengan Hamas sebagai salah satu pemimpinnya segera setelah kelompok itu didirikan oleh Syekh Ahmad Yasin pada tahun 1987.
Tahun berikutnya, ia ditangkap oleh pasukan Israel dan dijatuhi empat hukuman seumur hidup – setara dengan 426 tahun penjara – karena tuduhan keterlibatan dalam penangkapan dan pembunuhan dua tentara Israel dan empat tersangka mata-mata Palestina. Dia menghabiskan 23 tahun di penjara Israel di mana dia belajar bahasa Ibrani dan menjadi ahli dalam urusan Israel dan politik dalam negeri.
Dia dibebaskan pada tahun 2011 sebagai bagian dari kesepakatan pertukaran tahanan yang mencakup pembebasan tentara Israel Gilad Shalit, yang telah ditangkap oleh Hamas.
Setelah dibebaskan, Sinwar dengan cepat kembali naik pangkat di Hamas. Pada tahun 2012, ia terpilih menjadi anggota biro politik kelompok tersebut dan ditugaskan untuk berkoordinasi dengan Brigade Qassam.
Dia memainkan peran utama politik dan militer selama tujuh minggu serangan Israel terhadap Gaza pada tahun 2014. Tahun berikutnya, Amerika Serikat mencap Sinwar sebagai “teroris global yang ditetapkan secara khusus”.
Pada tahun 2017, Sinwar menjadi ketua Hamas di Gaza, menggantikan Haniyeh, yang terpilih sebagai ketua biro politik kelompok tersebut. Berbeda dengan Haniyeh, yang telah melakukan perjalanan regional dan menyampaikan pidato selama perang yang berlanjut di Gaza, hingga pembunuhannya, Sinwar bungkam sejak 7 Oktober.
Namun dalam sebuah wawancara dengan Vice News pada tahun 2021, Sinwar mengatakan bahwa meskipun orang-orang Palestina tidak ingin berperang karena biayanya yang mahal, mereka tidak akan “mengibarkan bendera putih”. “Untuk waktu yang lama, kami melakukan perlawanan damai dan kerakyatan. Kami berharap dunia, masyarakat bebas dan organisasi internasional akan mendukung rakyat kami dan menghentikan pendudukan yang melakukan kejahatan dan pembantaian rakyat kami. Sayangnya, dunia hanya diam dan menyaksikan,” katanya.
Sinwar kemungkinan menggambarkan Great March of Return, di mana warga Palestina melakukan protes setiap minggu selama berbulan-bulan di perbatasan Gaza pada tahun 2018 dan 2019, namun menghadapi tindakan keras Israel yang menewaskan lebih dari 220 orang dan melukai lebih banyak lagi.
Ketika ditanya tentang taktik Hamas, termasuk menembakkan roket tanpa pandang bulu yang dapat membahayakan warga sipil, Sinwar mengatakan warga Palestina berperang dengan segala cara yang mereka miliki.
Dia menuduh Israel sengaja membunuh warga sipil Palestina secara massal, meski memiliki persenjataan canggih dan tepat sasaran. “Apakah dunia mengharapkan kita menjadi korban yang berkelakuan baik saat kita dibunuh, agar kita dibantai tanpa membuat keributan?” kata Sinwar.