KOMPAS.com - Pada hari Sabtu, 27 Juli, Zeng Zhiying membuat debutnya di Olimpiade dalam pertandingan tenis meja tunggal putri di South Paris Arena 4.
Meski harus mengakui kekalahan pada babak penyisihan, atlet berusia 58 tahun yang mewakili Chile ini tetap merasa bangga dengan perjalanan Olimpiade pertamanya.
Perjalanan Zeng ke Olimpiade penuh dengan kisah inspiratif tentang ketekunan dan semangat pantang menyerah.
"Saya sangat bersemangat. Saya begitu gelisah. Saat pemanasan, saya tidak bisa berdiri diam, tidak bisa duduk diam," kata Zeng tentang debutnya di Olimpiade, seperti dikutip Xinhua.
Lahir di China, Zeng awalnya pensiun dari tenis meja kompetitif setelah gagal terpilih untuk tim China pada Olimpiade Los Angeles 1984, dan pindah ke Chile beberapa tahun kemudian untuk melatih di sebuah sekolah.
"Ada sedikit ketakutan dan kegugupan mengetahui betapa besarnya acara ini. Pelatih saya berkata, 'kamu sudah banyak mengikuti acara besar, apa yang kamu takutkan? Ini hanya kompetisi.' Tapi ini, bagaimanapun, adalah Olimpiade. Ini bukan kompetisi biasa. Jadi saya merasa sangat bersemangat," ujar Zeng.
"Saya bisa mendengar anak-anak saya bersorak dari tribun. Tentu saja, saya ingin menang. Tapi saya tidak merasa terlalu sedih, karena ini adalah olahraga. Suami saya, anak-anak saya, semua orang yang saya cintai dan pedulikan ada di sana meneriakkan nama saya. Saya merasa sangat puas," tambahnya.
Lawan yang Tangguh dan Dukungan Keluarga
Zeng memberikan pujian tinggi kepada lawannya yang berusia 46 tahun, Mariana Sahakian dari Lebanon.
"Saya pikir saya bermain dengan baik hari ini. Namun, lawan saya sangat sabar. Dia sedikit gugup di set pertama, tetapi kemudian dia terus bermain dengan gayanya. Saya ingin mengganggunya tetapi gagal, jadi saya pikir dia bermain sangat baik dan gayanya sangat bagus," katanya.
Berbicara tentang dukungan keluarganya, Zeng mengatakan, "Ayah dan saudara saya pasti menonton di televisi. Ayah saya berusia 92 tahun. Sejak saya kecil, dia berperan besar dalam membuat saya bermain tenis meja. Dia melihat saya bergabung dengan tim provinsi China, lalu ke tim nasional."
Xinhua/Wang Dongzhen Mariana Sahakian dari Lebanon bertanding dalam pertandingan penyisihan tunggal putri tenis meja melawan Zeng Zhiying dari Chile di Olimpiade Paris 2024 di Paris, Prancis, pada 27 Juli 2024. (Xinhua/Wang Dongzhen)"Itu adalah impian keluarga kami, impian saya, untuk masuk ke Olimpiade. Itu tidak terwujud sebelumnya. Tapi tidak apa-apa. Saya akhirnya mewujudkan impian itu untuknya," kata Zeng, yang baru mulai bermain tenis meja secara kompetitif lagi selama pandemi COVID-19.
"Ayah saya mengirimkan pesan video kemarin untuk menyemangati saya. Itu sangat emosional bagi saya," katanya.
Kenangan dan Rencana Masa Depan
Dia juga mengenang ibunya yang telah meninggal, yang juga merupakan pelatih tenis meja, dengan penuh emosi.
"Ibu saya adalah pelatih di tim provinsi Henan selama lebih dari 30 tahun. Dia meninggal pada tahun 1997, jadi sayang sekali dia tidak hidup untuk melihat saya mencapai Olimpiade," kata Zeng.
Zeng merasa, ibunya telah mengawasinya sepanjang perjalanan ini. "Saya percaya dia masih melihatnya entah bagaimana," katanya.
Berbicara tentang rencana masa depannya, Zeng mengatakan selama dia tetap tidak cedera, dia akan terus bermain.
"Bahkan jika saya tidak bisa bermain di level ini, saya masih bisa bermain di level Masters. Selama kamu bahagia, kamu bisa melakukannya. Ini menambah begitu banyak nilai dan makna dalam hidup saya, jadi saya akan terus bermain," katanya.
Perjalanan Zeng Zhiying di Olimpiade adalah contoh nyata bagaimana semangat dan tekad bisa mengatasi segala rintangan.
Dari awal karirnya yang penuh harapan di China hingga akhirnya mewujudkan impian Olimpiadenya di usia yang tidak muda lagi, Zeng mengajarkan kita semua bahwa tidak ada kata terlambat untuk mengejar dan meraih impian.
Sumber: Xinhua News Agency
Disclaimer: artikel ini diolah menggunakan kecerdasan buatan terutama untuk penerjemahannya, kemungkinan kesalahan translasi dan konteks yang meleset bisa saja terjadi. Mohon bijak untuk memanfaatkannya.