KIM Plus Mengepung \'Banteng\' di Jakarta, Jawa Tengah, dan Sumatra Utara

KIM Plus Mengepung 'Banteng' di Jakarta, Jawa Tengah, dan Sumatra Utara

PDIP dikepung oleh super koalisi atau KIM Plus di Jateng, Jakarta dan Sumatra Utara.

(Bisnis.Com) 29/08/24 07:37 14803676

Bisnis.com, JAKARTA -- Pilkada 2024, khususnya di level provinsi, akan menghadirkan tanding klasik antara PDI Perjuangan (PDIP) dengan koalisi besar yakni Koalisi Indonesia Maju alias KIM Plus.

KIM Plus adalah gabungan partai politik baik yang mengusung Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka maupun yang tidak mengusung pasangan presiden dan wakil presiden terpilih tersebut.

Partai yang bergabung dalam KIM Plus antara lain Golkar, Gerindra, Demokrat, PAN, PKS, Nasdem, PKB ditambah dengan partai non parlemen seperti PPP, PSI, hingga Partai Prima.

Munculnya KIM Plus sempat dikhawatirkan memunculkan kotak kosong. Namun Putusan MK No.60/PUU-XXII/2024 yang mengubah ketentuan ambang batas pencalonan, telah mengubah konstelasi politik.

PDIP yang semula diperkirakan bakal absen di Jakarta, akhirnya bisa bernafas lega. Mereka mengusung sosok Pramono Anung-Rano Karno. Nama Pramono sejatinya jauh dari kalkulasi politik. Ia jarang muncul ke publik dan cenderung dekat dengan lingkaran Istana.

Sebelum Pramono, PDIP sempat dikabarkan akan mengusung Anies Baswedan. Anies bahkan sudah mengenakan pakaian tenun warna merah. Anies juga sudah berada di kantor DPP PDIP bersama Rano Karno. Namun dukungan kepada Anies batal diberikan karena sejumlah alasan.

Sementara itu, lawan Pramono di Jakarta adalah Ridwan Kamil dan Suswono. Ridwan Kamil adalah sosok yang memiliki elektabilitas tinggi. Sedangkan Suswono adalah politikus PKS dan bekas birokrat pada era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono alias SBY.

Di sisi lain, putusan MK juga berhasil mengubah konstelasi politik di sejumlah daerah. Di Banten, misalnya, putusan MK telah memberi jalan bagi PDIP untuk mengusung Airin Rachmi Diany. Manuver PDIP kemudian memanaskan internal Golkar, sebab Airin adalah bagian dari klan politik Chasan Sochib, tulang punggung Golkar di Banten.

Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia akhirnya berubah arah. Ia meninggalkan pasangan Andra Soni-Dimyati Natakusumah dan kembali mengusung Airin. Bahlil berdalih bahwa kader Golkar banyak yang bagus sehingga wajar kalau mau didekati partai lain.

Manuver PDIP dan balik arahnya Golkar itu mengacaukan skenario calon tunggal di Banten. Malah yang terjadi sekarang, di level kota dan kabupaten, KIM Plus pecah kongsi ada yang memilih mengusung calonnya sendiri bahkan bergabung dengan calon PDIP.

Meski demikian, skema Banten tersebut tidak berlaku untuk daerah-daerah tertentu. Di Jakarta, PDIP akan melawan Ridwan Kamil yang didukung oleh mayoritas partai politik, Sumatra Utara mereka dikepung oleh koalisi Bobby Nasution, dan di Jawa Tengah yang dikenal kandang banteng, mereka akan dikepung partai politik pendukung Ahmad Luthfi dan Taj Yasin. Bagaimana kans PDIP di tiga daerah tersebut?

Peta KIM Plus Vs PDIP:

Kim Plus Vs PDIP di Sumut

PDI Perjuangan (PDIP) resmi mengusung mantan Panglima Kostrad Letjen Purn Edy Rahmayadi sebagai calon gubernur Sumatra Utara. Edy Rahmayadi adalah calon petahana yang hampir tidak bisa maju karena seluruh partai politik, kecuali PDIP dan Hanura, mengusung Bobby Nasution.

PDIP mampu mengusung calon sendiri karena selain putusan MK, mereka memperoleh 21 kursi atau lebih dari 20% kursi di DPRD Sumut. Ini di luar dukungan dari Hanura yang memiliki 5 kursi di parlemen.

Edy menjadi bakal cagub Sumut setelah menerima surat tugas dari PDIP. Ia akan menghadapi menantu Presiden Joko Widodo (Jokowi), Bobby Nasution yang diusung oleh koalisi super besar. Kursi pengusung Bobby bahkan mencapai 76 kursi.

"Saya dan jajaran DPP, jajaran Satgas dari pusat, kami ditugaskan oleh Ketua Umum PDI Perjuangan untuk menyerahkan tugas partai kepada Bapak Letnan Jenderal Edy Rahmayadi nanti menjadi Gubernur Sumatera Utara," ujar Ketua DPP PDIP Komarudin Watubun dilansir dari Antara, Sabtu (10/8/2024).

Bobby Nasution
Bobby Nasution

Komarudin Watubun menjelaskan dalam surat tugas tersebut, Edy Rahmayadi diminta untuk melaksanakan sejumlah tugas termasuk melakukan konsolidasi internal serta melakukan pemetaan politik untuk menghadapi Pilkada 2024 mendatang.

"Letnan Jendral Purnawirawan Edy Rahmayadi sebagai calon Gubernur Sumatera Utara untuk melaksanakan konsolidasi pada tahun 2024 kepada PDI-P, DPC hingga ranting dan anak ranting untuk pemenangan," kata dia.

Sementara itu, Bobby Nasution mengaku sudah menyiapkan sejumlah strategi untuk nanti melawan Edy Rahmayadi.

Dia membocorkan salah satu strategi itu adalah menyiapkan program yang belum pernah ada di masa pemerintahan Edy Rahmayadi.

Selain itu, dia juga akan berdoa dan juga menjalin kebersamaan agar bisa menang melawan Edy Rahmayadi. "Ya tentu disiapkan semua doa, disiapkan program khusus, dan tentu juga nanti akan disiapkan kebersamaan, gitu saja," tuturnya di Jakarta, Jumat (23/8/2024).

Berkaitan dengan itu, Bobby juga mengaku telah mendapatkan surat rekomendasi dari Partai Gerindra siang tadi. Surat tersebut, menurut Bobby akan dibawa ke KPUD sebagai salah satu bentuk dukungan dari Partai Gerindra.

"Hari ini alhamdulillah terima kasih kepada Partai Gerindra, kita menerima P1 KWK yang tadi baru saja diserahkan ke saya," katanya.

Adu Kuat Dua Jenderal

PDI Perjuangan (PDIP) resmi mengusung kadernya, Jenderal TNI Purn Andika Perkasa sebagai calon Gubernur Jawa Tengah. Andika telah menerima rekomendasi yang diserahkan langsung oleh Megawati Soekarnoputri. Pasangannya adalah mantan Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi.

Pasangan Andika-Hendrar telah mendaftarkan ke KPU Jawa Tengah. Lazimnya pendaftaran, mereka diarak oleh para pendukungnya.

Andika-Hendrar akan melawan duet Ahmad Luthfi dan Taj Yasin Maimoen. Taj Yasin adalah mantan wakil gubernur periode 2018-2023. Waktu itu ia berpasangan dengan sosok Ganjar Pranowo, kader PDIP.

Pasangan Andika-Hendrar hanya diusung PDI Perjuangan alias PDIP. PDIP adalah partai pemenang pemilu baik di pusat maupun di Jawa Tengah. Di pusat PDIP meraup 110 kursi atau di kisaran angka 18%. Sementara itu di Jawa Tengah, PDIP memperoleh 23 kursi.

Andika Perkasa
Andika Perkasa

Secara matematis, dukungan terhadap Andika-Hendrar jauh lebih rendah dibandingkan koalisi pendukung Ahmad Luthfi-Taj Yasin yang dikenal sebagai KIM Plus. KIM Plus terdiri dari banyak partai politik, mulai dari Gerindra, Golkar, Nasdem, PKS, Demokrat dan PAN. Hanya PKB yang belum menentukan sikap meski belakangan mereka mulai tertarik untuk mengusung Ahmad Luthfi.

Koalisi ini, tanpa PKB, menguasai 44 kursi di DPRD Jateng. Sementara jika memasukan PKB dalam koalisi gemuk ini, KIM Plus mendominasi parlemen Jateng dengan perolehan 54 kursi.

Melenggang di Jakarta

PDIP telah mendaftarkan pasangan bakal calon gubernur dan wakil gubernurnya yakni Pramono Anung dan Rano Karno. Pasangan Pramono-Rano hanya diusung satu partai yang merepresentasikan 15 kursi di DPRD DKI Jakarta.

Sementara itu, calon KIM Plus di Jakarta adalah Ridwan Kamil dan Suswono. Ridwan Kamil adalah mantan Gubenur Jawa Barat dan Wali Kota Bandung. Sementara itu, Suswono merupakan politikus PKS dan mantan Menteri Pertanian era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Pramono Anung - Rano Karno
Pramono Anung - Rano Karno

Pasangan KIM Plus kalau mau melihat kontelasi politik di Jakarta, didukung oleh mayoritas partai parlemen di Jakarta sebanyak 91 kursi. Sementara itu, PDIP hanya memperoleh 15 kursi di DPRD DKI Jakarta pada periode 2024-2029.

Secara matematis, pasangan Ridwan Kamil dan Suswono, unggul dibandingkan Pramono-Rano. Selain didukung koalisi besar, Ridwan Kamil adalah tokoh yang dikenal memiliki popularitas dan elektabilitas yang cukup bersaing.

#pdip #kim-plus #pilkada-2024 #pilkada-jakarta #super-koalisi #bobby-nasution #pilgub-sumut #jokowi #menantu-jokowi #joko-widodo #jokowi

https://kabar24.bisnis.com/read/20240829/15/1795094/kim-plus-mengepung-banteng-di-jakarta-jawa-tengah-dan-sumatra-utara