Pahit getir perjalanan hidup telah menempa seorang Suargana Pringganu, Kepala Perwakilan Konsulat Republik Indonesia di Songkhla, Thailand, untuk tetap mengingat bahwa di mana pun dan kepada siapa pun harus berkata baik atau tidak sama sekali.
Haru biru pengalaman menjadi seorang diplomat, dari yang tadinya tak tahu sama sekali apa itu dunia diplomasi, telah membentuk pribadi ayah dari dua orang anak ini untuk memberi lebih dari yang diterima.
Kariernya sebagai diplomat, ditambah sekian tahun sebagai akuntan plus juga dosen hampir tiga dekade, ikut menanamkan mimpi yang juga hampir tersimpan dalam sanubari setiap diplomat di Indonesia yakni menjadi kepala perwakilan tertinggi negara alias duta besar.
Berikut penuturan lengkap Suargana kepada wartawan Investor Daily Iwan Subarkah Nurdiawan di ruang kerjanya di Konsulat Republik Indonesia di Songkhla, Thailand, belum lama ini:
Seperti apa perjalanan karier Anda hingga akhirnya sampai pada pencapaian saat ini?
Saya tuh waktu kecil justru pernah nggak naik kelas, waktu kelas satu SD pada tahun 1980-an. Waktu itu tinggal di Bekasi. Tapi, kemudian saya sekeluarga pindah ke Jakarta karena kakak sakit. Ia dirawat kurang lebih selama setahun.
Orang tua kami punya lima anak. Saya yang anak kedua akhirnya ikut merawat kakak karena adik-adik masih kecil. Sakitnya itu kalau sekarang kanker. Jadi, setelah tidak naik kelas itu, bukannya ngulang kelas satu atau lanjut sekolah, saya malah jadi nggak sekolah.
Setelah itu kakak akhirnya meninggal, saya masuk sekolah lagi. Tapi, dari tadinya dari kelas satu tidak naik, tidak ngulang kelas, tiba-tiba malah masuk kelas tiga. Dalam keadaan belum bisa baca tulis, masih belum lancar ngitung. Hasilnya dapat ranking, tapi yang belakang.
Setelah kelas empat, suatu ketika gara-gara satu tugas dimarahi guru. Dari situlah saya terpacu untuk berusaha terus mengejar hingga di akhir kelas empat masuk tiga besar. Kebiasaan masuk ranking ini berlanjut hingga SMA.
Saat SMA saya bisa mempertahankan nilai baik sehingga masuk kuliah di Administrasi Fiskal, Universitas Indonesia (UI). Itu sebenarnya bukan pillihan utama. Waktu itu pilihnya justru Pertambangan, Gas, dan Petrokimia di UI juga. Dari situlah awal mula belajar pajak dan akuntansi.
Apa kegiatan Anda selain kuliah?
Saya terus didorong untuk kerja di kantor akuntan publik. Kerja formal pertama saya dapatkan pada Januari 1995 yaitu di Kantor Akuntan Santoso Harso Kusumo Ernst and Young (EY). Jadi masih mahasiswa, kerja di kantor akuntan, plus sambil tetap ngajar juga (sebagai asisten dosen).
Kemudian pindah kerja ke kantor akuntan Deloitte Touche. Di situ tetap diperbolehkan sambil ngajar. Bahkan mereka punya gagasan apa yang diajarkan di kampus diajarkan ke teman-teman di kantor. Dari Deloitte pindah lagi ke EY tapi waktu itu namanya Sarwoko Sanjaya.
Tiba-tiba, pada tahun 1997 ada teman yang menunjukkan, eh ini Departemen Luar Negeri buka lowongan. Waktu itu ‘kan kalo pengumuman lewat koran-koran. Saya bilang sama teman, tapi ‘kan kita bukan bidangnya. Akhirnya, saya abaikan lowongan itu.
Tapi, nggak lama setelah itu, satu kejadian membuat saya berbalik mau mempertimbangkan lowongan itu. Waktu itu saya lagi mencari beasiswa S2. Salah satunya saya ingat ingin ke Inggris.
Nah, mintalah saya ke kampus, surat rekomendasi. Tapi waktu itu jawabannya kurang enak. Kira-kira begini: Anda kan lebih aktif di kantor akuntan, Anda ‘kan di kampus cuma mengampu dua mata kuliah, ya mintanya ke kantor akuntan dong kalau gitu.
Saya pikir, ini kok kayak orang mau maju kayak dipersulit ya. Lalu teringat pengumuman lowongan Deplu tersebut. Di pengumuman itu disebutkan, kalau diterima langsung S2 karena di Deplu itu otomatis mendapatkan pendidikan S2.
Jadi, bagi saya lebih karena ada peluang untuk S2. Tapi, belum paham kerja di Deplu itu kayak apa. Belum tahu apa itu diplomat. Pokoknya kalau diterima berarti S2, gitu aja. Akhirnya kirim lamaran ke Deplu dan lolos.
Karena situasi lagi saat itu lagi menjelang krisis moneter, tidak langsung kerja, tidak langsung pendidikan. Akhirnya saya masih tetap sambil ngajar dan masih tetap di kantor akuntan.
Setelah ada panggilan dari Deplu untuk masuk pusdiklat baru berhenti dari kantor akuntan. Tapi masih bisa ngajar sampai semester itu selesai.
Di mana Anda kemudian ditempatkan?
Mungkin karena background-nya banyak di kantor akuntan, penempatan pertama di biro keuangan. Baru masuk biro keuangan ada penawaran untuk menjadi anggota satgas (satuan tugas) yang ke Timor Timur. Karena ada jiwa ingin mengalami sesuatu yang baru ikutlah. Namanya satgas P3TT tahun 1999. Tiba di Dili ditempatkannya kalau sekarang di Oecusse. Itu enclave-nya Timor Timur.
Setelah beberapa penempatan lain saya ditugaskan ke Bangkok. Dari Bangkok masuk ke Direktorat Asia Selatan dan Tengah, kemudian pindah ke Pusat Kajian Kebijakan Wilayah Asia Pasifik terus penugasan lagi ke Beijing. Dari Beijing masuk ke sekretariat Inspektorat Jenderal. Dari situ baru ke Songkhla.
Mulai kapan Anda meninggalkan kegiatan yang terkait fiskal dan kemudianfullke penugasan di Kemlu?
Kayaknya tahun 1998 pas krismon (krisis moneter) itu. Sekarang kadang-kadang masih suka baca tentang ilmu fiskal, tentang pajak, tentang keuangan negara, aturan-aturan baru. Hanya sekadar untuk refresh saja.
Apa kiat-kiat yang Anda terapkan untuk bisa sampai seperti sekarang?
Nah ini dia. Mungkin pertama bukan semangat mengejar, bukan karena saya pernah ketinggalan (kelas). Saya tuh tumbuh sebenarnya dari situasi yang miskin. Jadi, salah satu kakek saya itu, dari Bapak ya, seorang tukang becak di Pangkalan Asem, Jl Suprapto, Jakarta Pusat. Ketika SD saya suka lihat Kakek lagi narik becak.
Waktu di SD tinggal kelas itu kayak jadi bahan becandaan teman-teman. Itu yang membuat saya berpikir kalau sekolah harus serius. Waktu kuliah di UI ada yang saya jadikan semacam benchmark. Teman seangkatan namanya Eko Prasodjo, yang pernah jadi wakil menteri PAN-RB.
Kalau dalam pekerjaan sehari-hari saya kalau melakukan sesuatu itu harus dengan persiapan. Makanya kalau di kantor ini saya punya check list. Saya buat sendiri. Mulai dari kebutuhan kendaraan, hotel, ini dan itu. Kalau mau ada kegiatan besar, kami lihat check list-nya, jangan sampai ada yang kelupaan atau missed.
Apa sebenarnya filosofi hidup Anda, yang mungkin bisa menginspirasi orang lain?
Kalau filosofi hidup yang saya sampaikan tadi kalau di kantor, kalau di status beberapa akun media sosial saya, dalam ajaran agama Nabi ‘kan bilang berkata baik atau diam. Kalau di status akun sosial media saya itu saya tulis, “If we can't say something nice, don't say anything at all”. Jadi, saya berusaha kalau bicara ya bicara yang enak. Dan saya pikir ini juga yang menjadi syarat seseorang menjadi diplomat.
Karena, diplomat itu tidak mutlak orang yang pintar, tidak mutlak orang jurusan HI (hubungan internasional) juga. Di angkatan saya itu ada sarjana pertanian, ada sastra, ada sejarah. Banyak background. Diplomat itu harus punya karakter psikologi tertentu, yang mana, yang bisa itu yang karakteristiknya harus sama gitu ya. Misalnya kalau diplomat introvert ya agak susah.
Tapi, bukan berarti diplomat itu tipe kuadrannya orang yang rame. Nggak juga. Tetapi ketika berhadapan dengan orang lain, dia bisa mengajak bicara. Terus bicaranya santun, tidak menyerang. Bisa punya prinsip tapi tidak harus frontal. Jadi prinsip yang jadi filosofi saya itu, “If we can't say something nice, don't say anything at all”.
Apa nilai-nilai hidup yang Anda pegang yang bisa dibagikan ke orang lain, khususnya di lingkungan kerja?
Kalau yang di kantor, ke teman-teman, ini yang saya dapat dari orang tua. Saya ingat banget ketika saya baru masuk Deplu, bapak saya itu mengajarkan bahwa kalau kita dibayar segini, kita harus memberikan kepada negara, kepada orang yang memberi gaji kita itu kalau bisa lebih, jangan kurang.
Itu yang saya sampaikan ke teman-teman di kantor sini. Karena ketika kita bertugas di luar negeri, tentu standar yang kita dapatkan bukan standar Indonesia, tapi negara setempat. Tapi sumber uangnya ‘kan dari uang rakyat. Dari uang pajak rakyat. Jadi, saya tekankan kita harus bisa memberikan lebih terhadap uang yang kita terima dari rakyat itu.
Kalau dikelompokkan dalam suatu tipe, tipe kepemimpinan seperti apa yang Anda jalankan selama ini?
Tipe kepemimpinan saya lebih banyak ngajak ngobrol. Saya kalau menggambarkan diri saya sendiri ya, ‘kan kalau kuadran orang tuh tipe orang istilahnya ada yang orangnya commanding, suka memerintah. Terus ada tipe kuadran dua, misalnya tipe orang yang rame. Kayak artis. Saya bukan tipe satu bukan tipe dua.
Terus ada tipe kuadran tiga itu yang analitis, pemikir. Terus tipe kuadran empat yang banyak sebagai pendorong, suporter, promotor. Saya melihat diri saya lebih antara tipe tiga dan empat.
Saya juga menjaga kenyamanan dalam bekerja dengan tidak menggunakan kata-kata yang kasar, yang keras, kepada siapa pun di kantor. Karena, kita sama-sama sedang mencari nafkah di kantor ini.
Bagaimana kalau perlakuan atau pendekatan yang Anda terapkan di dalam keluarga?
Nah ini dia. Saya harus akui, justru setelah masing-masing berkeluarga interaksinya nggak seintens waktu kita masih kecil. Tapi alhamdulillah “kan sekarang ada WA Group. Karena kakak pertama meninggal, saya jadi yang tertua sekarang. Tapi, saya tidak menggunakan pendekatan saya yang paling tua. Justru yang paling banyak jadi motor itu adik saya yang perempuan yang langsung di bawah saya. Bahkan, kalau ngumpul pun lebih sering di adik yang perempuan ini.
Bagaimana Anda membagi waktu sebagai seorang diplomat yang super sibuk?
Menjadi diplomat ini ya kalau orang liat mungkin enak ya, punya kesempatan hidup di luar negeri. Tapi, buat yang menjalaninya belum tentu seindah yang dibayangkan orang lain. Rumput tetangga itu selalu terlihat lebih hijau. Misalnya, saat Idulfitri pun anak saya yang kecil ujian sekolah lokal di sana. Jadi, ada pengorbanan-pengorbaban yang memang harus dilakukan. Ada momen-momen bersama keluarga yang terpaksa hilang.
Apa yang masih ingin Anda kejar dalam karier atau pun dalam hidup?
Dalam karier, saya rasa kalau kita bicara karier, karier fungsional saya diplomat. Dan mimpi setiap diplomat itu bahkan ketika baru masuk ke dunia diplomasi pasti bayangannya ingin mencapai jenjang ambassador atau duta besar. Tapi yang namanya dubes itu sudah masalah kepercayaan. Termasuk kepercayaan dari Allah. Jadi, mimpi saya adalah mudah-mudahan Allah memberikan saya kesempatan untuk sampai ke situ.
Tentang Jalan Kaki dan Makan
Suargana Pringganu, yang pernah menjabat sebagai Sekretaris Inspektorat Jenderal Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia periode 2018-2022, mengaku harus pandai-pandai berhemat agar uang saku yeng terbatas saat dulu sekolah mencukupi. Tak jarang, ia harus berjalan kaki saat pulang sekolah, agar kebutuhan lain yang muncul juga bisa terpenuhi.
“Kadang karena lapar banget, (saya) jadi jajan lebih. Tapi, biar uang bekal tetap cukup, caranya pas pulang jalan kaki sampai Terminal Senen, baru naik bis sekali, lanjut jalan lagi ke rumah,” ujar Suargana.
Ia mengaku, saat SMP mendapat bekal Rp 500 rupiah per hari. Kalau itu, tahun 1980-an, tarif naik bemo dan bis untuk pelajar masing-maing Rp 100. Sehingga pulang pergi membutuhkan Rp 400. Kemudian, sisanya yang Rp 100 digunakan untuk membeli minuman Rp 50 dan Rp 50 untuk roti.
Kebiasaaan ini berlanjut sampai SMA. Suatu hari ia mendapat jadwal praktikum IPA kedua. Pulang sekolah bermain dulu ke rumah teman di Gunung Sahari. Di situ mereka pada merokok. Sementara uang jajan Suargana hanya Rp 500. “Akhirnya saya ngumpulin uang sampai Rp 1.000. Zaman itu segitu sudah besar. Akhirnya bisa ikut patungan untuk beli rokok.
Hingga suatu hari, selaku anak tertua setiap sore Suargana mempunyai tugas mompa air untuk mandi sekeluarga. Waktu itu masih pakai pompa tangan. “Bapak pulang kerja bawa roti. Ibu tanya itu roti dari mana? Ternyata bapak juga sama, sering pulang jalan kaki biar uangnya bisa ditabung. Cuma Bapak nabung untuk beli roti buat anak-anaknya, saya nabung untuk patungan beli rokok,” ungkap dia.
Selesai mompa air, lanjut Suargana, ia masuk kamar mandi lalu nangis sejadi-jadinya. “Sejak itu saya bersumpah tidak akan merokok sampai uang itu nggak ada artinya buat saya. Tapi sampai sekarang saya tidak merokok. Satu batang pun tidak pernah lagi.
Karena keterbatasan uang itu, Suargana mengaku, saat kecil sering hanya makan sekali dalam sehari. Kebiasaan ini justru tetap berlanjut sampai saat ini. “Pagi nggak sarapan, siang nggak makan, makan hanya malam saja. Makan hanya sekali sehari. Sudah jadi kebiasaan yang kalau diubah malah jadi sakit,” pungkas dia. (sn)
BIODATA
Nama: Suargana Pringganu
Jabatan:
Kepala Perwakilan Kesembilan Konsulat Republik Indonesia di Songkhla, Thailand. Jabatan diplomatiknya adalah menteri.
Pendidikan:
Sarjana Ilmu Administrasi Fiskal dan master Hubungan Internasional dari Universitas Indonesia.
Status:
Menikah dan memiliki dua anak.
Karier:
2018- 2022 - Sekretaris Inspektorat Jenderal Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia
2016-2018 – Miniter Counsellor KBRI di Beijing, China
2014-2016 – Deputi Direktur Perencanaan Kebijakan untuk Asia Pasifik, Kemlu RI
2009-2013 - Sekretaris Pertama untuk UN ESCAP di KBRI Bangkok, Thailand
2007-2009 – Deputi Direktur Kantor Staf Khusus Presiden Urusan Hubungan Internasional/Juru bicara presiden
2006 – Kepala Bagian Biro Administrasi Kemlu RI
2004-2006 – Wakil Konsul Konsulat Jenderal RI di Vancouver, Kanada
2002-2004 – Sekretaris Kedua KBRI di Port Moresby, Papua Nugini
1999 – Biro Keuangan Kemlu RI
1994-1999 – Dosen Fiskal di Universitas Indonesia
1995-1998 – Konsultan di sejumlah Kantor Akuntan Publik di Jakarta, Indonesia
Editor: Iwan Subarkah (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News