#30 tag 24jam
Kisah Arny Kantongi Rp 40 Juta/Bulan Gegara Tak Sengaja Jual Bakso, Kok Bisa?
Arny Nuraeni mungkin tak menyangka jika bisnis yang ia bangun bisa sebesar sekarang. Sebab, bisnis dengan nama Bakso Diet Bandung dibangun tanpa sengaja. [409] url asal
#peluang-usaha #saatnya-jadi-bos #solusi-ukm
(detikFinance - SolusiUKM) 29/04/24 14:00
v/11049213/
Jakarta - Arny Nuraeni mungkin tak menyangka jika bisnis yang ia bangun bisa sebesar sekarang. Sebab, bisnis dengan nama Bakso Diet Bandung dibangun tanpa sengaja.
Wanita berdomisili Bandung itu bercerita, dulu ia menderita autoimun. Oleh dokter, ia dianjurkan menghindari makanan 'tepung-tepungan'. Padahal, bakso merupakan makanan favoritnya di mana di luaran bakso banyak mengandung tepung.
Ia berinisiatif membuat bakso untuk dikonsumsi sendiri. Bakso itu ia buat dengan full daging. Pada 2016, bakso itu masih ia konsumsi sendiri, namun lama-kelamaan ia mendapat pesanan dari teman-temannya sesama komunitas diet. Hal ini juga yang menjadi latar belakang penamaan bisnisnya yakni Bakso Diet Bandung.
"Terus kenapa diet? Soalnya kebanyakan customer saya itu yang lagi menjalankan pola makan sehat, kaya diet, menghindari tepung-tepungan yang gluten, kaya punya penyakit autoimun, diabetes, terus sama alergi gluten," katanya kepada detikcom, Minggu (28/4/2024).
Sejak itu, ia mulai serius terhadap bisnis ini. Pada 2019, ia ikut program UMKM Juara Jabar dan dari situ usahanya terus berkembang karena adanya pendampingan, mulai dari perizinan, penjualan secara online, hingga mengikuti bazar.
Ia menuturkan, modal awal yang dikeluarkan untuk membuat usaha ini tidak besar. Ia menyebut, modal itu datang ketika pesanan masuk. Sementara, untuk alat-alat menggunakan peralatan memasak yang sudah ada.
Kisah Arny Kantongi Rp 40 Juta/Bulan Gegara Tak Sengaja Jual Bakso, Kok Bisa? Foto: Dok. Pribadi |
Kala itu, ia menyebut modal untuk mengolah 1 kg daging sekitar Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. "Cuma berapa ya, misalkan beli 1 kg paling saya ngeluarin Rp 200 ribu-300 ribu," katanya.
"Misalkan orang mau buka usaha kalau kita punya keinginan, punya kemauan untuk memulai usaha ternyata tidak dengan perlu modal besar, yang penting kita punya keahlian dan ada kepercayaan dari customer. Mereka juga kan kalau beli pasti langsung 'Ini uangnya buat bayar'. Kita bisa pakai dulu jadiin modal," ungkapnya.
Saat ini, Arny mengaku, dalam sepekan melakukan produksi 3-4 kali. Setiap produksi, ia mengolah 10-15 kg daging.
Produk Arny dijual secara online maupun offline yang terdiri dari tiga kemasan. Kemasan 1 porsi ia banderol dengan harga Rp 35.000, kemasan 200 gram Rp 50.000 dan kemasan 500 gram Rp 110.000.
Ia juga melayani makan di tempat (dine in) di mana untuk per porsinya Rp 35.000-45.000. Gerai Bakso Diet Bandung berlokasi di Bandung Indah Plaza.
Arny mengaku, dalam sebulan ia mengantongi omzet hingga Rp 40 juta. "Saya satu bulan itu bisa sampai dapat omzet Rp 30-40 juta," katanya.
(acd/ara)
Cerita Penerus Generasi ke-4 Bisnis Jamu Gendong di Jakarta
Meski sudah jarang terlihat namun ternyata di Jakarta ada satu keluarga yang masih melestarikan resep jamu hingga generasi keempat. [750] url asal
(detikFinance - SolusiUKM) 29/04/24 14:00
v/11049214/
Jakarta - Jamu gendong sudah menjadi tradisi sehat warga Indonesia, meski sudah jarang terlihat namun ternyata di Jakarta ada satu keluarga yang masih melestarikan resep jamu hingga generasi keempat.
Suryati (38) ikut meramaikan acara Penyerahan Sertifikat Inskripsi Warisan Budaya Dunia Kamis (25/4/2024). Bersama ibunda yang merupakan ketua Laskar Jamu Gendong Suryati ikut membagikan jamu kepada tamu undangan. Usai mengikuti acara tersebut dengan ramah Suryati bercerita kepada detikcom saat dirinya menerima tongkat estafet sebagai peracik jamu generasi keempat.
"Saya belajar jamu dari tahun 2005 setelah lulus sekolah itu saya sudah mulai, akhirnya benar-benar jualan sendiri itu di tahun 2008. Saya jualan di depan kantor kebetulan pas di dalam ada lowongan saya masuk, meskipun sudah di kantor saya tetap jualan jamu. Justru saya setiap hari jualan dari lantai ke lantai," cerita Suryati.
Suryati juga mengaku bahwa dalam membuat jamu memerlukan ketelitian sebab tingkat kesulitan dalam meracik jamu yang paten memerlukan waktu yang lama, meski telah akrab dengan jejamuan sedari kecil ia masih membutuhkan waktu hingga 4 tahun untuk benar - benar khatam.
Kini Suryati telah menguasai 10 jenis jamu yang bisa dibuatnya secara langsung, namun dari 10 jenis jamu ada jamu yang membuatnya terkesan karena tingkat kesulitan yang tinggi yaitu jamu beras kencur.
"Paling susah jamu beras kencur, karena beras kencur itu kaya cewek lagi dapet jadi sensi banget nggak boleh salah sedikit, entah kita kemasannya kurang bersih sedikit itu nanti cepat basi cepat banget basi, jadi beras kencur itu amat sangat sensitif dibanding kunyit asem, itu paling awet dibanding jamu yang lain," lanjut Suryati.
Wanita yang sempat berdinas di Dinas Pariwisata DKI Jakarta mbak Sur sapaan akrabnya memutuskan untuk resign karena telah dikaruniai dua anak, usai fokus membesarkan anak tawaran itu datang langsung dari ibundanya untuk kembali meracik jamu.
Bersama Lasmi, mbak Sur kerap menerima orderan jamu dari berbagai acara. Bahkan mbak Sur kini memiliki 4 karyawan yang siap membantu dalam meladeni orderan. Selain itu ia kini sehari-hari beraktivitas di lingkungan Kementerian Kesehatan yang menyiapkan ratusan botol jamu untuk disajikan kepada para karyawan hingga menteri.
"Setiap harinya karyawan datang, turun dari mobil jemputan mereka minum jamu dulu baru masuk ke ruangan masing-masing, nah kalo pejabat Eselon 1, Eselon 2, pak Sekjen, pak Wamen dan pak Menteri itu ada botol jamu kecil-kecil itu saya yang bertugas mengantar," terang Suryati.
Mbak Sur juga kerap sibuk dengan permintaan jamu di luar Kemenkes, seperti pesanan di Puskesmas, BPOM dan lembaga lainnya. Hal itu membuat Mbak Sur mengambil KUR BRI untuk melengkapi stok permodalan jamunya, melalui BRI Unit Pasar Santa Suryati mendapatkan KUR BRI senilai Rp 100 juta.
"Saya baru ambil KUR 2 bulan ini di BRI Unit Pasar Santa Rp 100 juta untuk pengembangan modal, karena Puskesmas sudah mulai mengadakan jamu terus pesanan di BPOM terus ada juga Kementerian Kesehatan tapi cabangnya di rutan Salemba itu ada suplai ke sana jadi untuk modal itu aja," jelas Suryati.
Dengan kesibukannya sehari-hari mengolah jamu, Mbak Sur kini mampu mengumpulkan pundi-pundi uang hingga Rp 20 juta dalam satu bulannya. Ia juga bersyukur kini telah memiliki rumah pribadi dan tidak lagi mengontrak.
"Penghasilan perbulan ada sekitar Rp 20 juta, dari usaha jamu ini pencapaian yang sudah saya dapatkan terutama tempat tinggal tadinya saya ngontrak setelah dibantu KUR akhirnya saya sudah nggak ngontrak meskipun rumah itu kecil cuma sekarang saya sudah nggak ngontrak lagi, saya udah tinggal mikirin makan aja," kata Suryati.
Kini Suryati mengikuti jejak langkah keberhasilan sang ibunda yaitu Lasmi, bukan hanya berhasil dari segi finansial keduanya juga bahkan berhasil lolos dari pandemi COVID-19 meski Indonesia mengalaminya hingga merenggut banyak nyawa. Baik Mbak Sur maupun Lasmi bersyukur berkat jamu keduanya 'tak tersentuh COVID-19'
"Waktu COVID-19 itu karyawan setiap hari di Kemenkes yang masuk cuma 25 % karena sisanya WFH, beberapa ada juga yang kena COVID-19 tapi saya beruntung selama pandemi belum sekalipun saya kena. Bahkan saat pilek, batuk dan bersin saya diswab hasilnya negatif dokter pada bingung kenapa bisa negatif. Pada saat itu kuncinya ya saya minum jamu," jelas Suryati.
Jamu temu lawak, kunyit asam dan mpon-mpon menjadi primadona kala itu untuk menangkal virus COVID-19, selain pandemi jamu juga bisa menjadi kunci sehat ala Lasmi yang kini berusia 51 tahun. Bukan hanya sekedar meracik, Lasmi juga turut minum jamu untuk kesehatan badannya.
"Kalau saya memang jamu itu sebelum kita edarkan ke konsumen, kita sudah nyobain dulu jadi selama ada COVID-19 itu dari pertama sampai terakhir saya beryukur nggak kena. Bagi saya jangan sakit baru minum jamu, sebelum sakit harus minum jamu," tutup Lasmi.
(hns/hns)
Kisah Lasmi, Usaha Jamu Gendong hingga Raup Omzet Puluhan Juta
Lasmi memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI, tepatnya pada tahun 2015 dan 2022 Lasmi mendapatkan KUR dengan nominal Rp 50 juta dan Rp 100 juta. [625] url asal
#bri #kur-bri #bank-bri #jamu #bri-fellowship #bri-fellowship
(detikFinance - SolusiUKM) 29/04/24 14:00
v/11049215/
Jakarta - Bersama empat orang jamu gendong lainnya, Lasmi berlenggak lenggok menghibur tamu undangan di panggung Graha Insan Pendidikan Berprestasi Kompleks Kemendikbud dalam acara Penyerahan Sertifikat Inskripsi Warisan Budaya Dunia, Kamis (25/4/2024). Ketua Laskar Jamu Gendong itu juga turut menyuguhkan jamu kepada tamu undangan.
Lasmi kecil merupakan anak dari penjual jamu di pasar daerah Sukoharjo, Jawa Tengah. Pada usia 12 tahun ia digembleng ibunda untuk meneruskan selempang dan bakul jamu yang telah turun temurun, Lasmi merupakan generasi ketiga yang meneruskan resep jamu tradisional.
"Dulu awal mula saya umur 12 tahun ikutin ibu saya yang juga penjual jamu gendong, saya sudah generasi ke 3 dan yang ke 4 saat ini anak saya. Dulu hanya ikut ibu jualan di pasar dari situ saya jualan, belajar naikin turunin (bakul jamu gendong) kalo orang nggak biasa gendong kan susah ya nurunin naikin gitu," cerita Lasmi saat berbincang dengan detikcom usai mengikuti acara di Kemendikbud, Kamis (25/4/2024).
Usai mendapatkan bekal ilmu yang cukup, Lasmi merantau ke Surabaya bersama sang suami pada tahun 1982. Namun usai mencoba peruntungan di sana Lasmi kurang beruntung, ia lantas diajak sang kakak untuk mencoba mengadu nasib di Jakarta pada tahun 1988.
Berada di ibu kota Lasmi membawa semangat juang yang tinggi, bahkan meski banjir sekalipun Lasmi tetap berjualan jamu gendongnya dan dibawa keliling ke Kawasan Tegal Parang, Mampang hingga Kuningan Barat, Jakarta Selatan. Namun lambat laun langganan Lasmi mulai banyak, dengan stok yang kian banyak ia berkeliling dengan cara bersepeda.
Kini Lasmi patut berbangga atas jerih payah yang ia lakukan sebab selain menjadi ketua Laskar Jamu Gendong Lasmi kini dapat bekerja di lingkungan Kementerian Kesehatan, sehari-harinya Lasmi dipercaya meracik jamu untuk para karyawan. Selain itu orderan dari luar kantor juga sangat banyak salah satunya menyiapkan 7.000 botol jamu untuk pemecahan rekor MURI di Bogor dan berbagai orderan jamu lainnya. Omzet Lasmi yang dulu Rp 100 ribu sehari kini mencapai Rp 20 juta dalam satu bulan.
"Dulu waktu merintis paling Rp 100 ribu sudah paling banyak itu awal mulanya, sekarang omzet per bulannya bisa sampai Rp 10 - 15 jutaan. Karena kita bukan hanya 1 tempat aja memang semua itu bulanan jadi di tempat yang lain bisa Rp 10 juta di sini Rp 5 juta jadi ya keseluruhannya bisa sampai Rp 20 juta," tegas Lasmi.
Lasmi memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI, tepatnya pada tahun 2015 dan 2022. Lasmi mendapatkan KUR dengan nominal Rp 50 juta dan Rp 100 juta yang diambilnya di BRI Unit Pasar Minggu. Dana segar tersebut dimanfaatkan ketika ada orderan jamu dalam jumlah besar dan dibelikan bahan - bahan jamu. Kini keberhasilan dalam usaha jamu membuatnya memiliki rumah pribadi.
Tak mau sukses sendirian, Lasmi berupaya merangkul pegiat jamu gendong lainnya, ia mengajak para mbok-mbok jamu gendong untuk mengikuti seminar usaha dengan target untuk meningkatkan penjualan rekan seperjuangannya, namun hal itu tak mudah sebab para penjual jamu gendong lebih memilih berjualan ketimbang belajar.
"Saya door to door ngajak mereka itu susah, dari pada diajak nambah ilmu atau latihan kadang-kadang gini 'ah saya mending jualan saya dapat duit, kalo ikut pelatihan kan nggak dapat duit' padahal, kalo ikut pelatihan menambah ilmu dan justru bisa menambah pendapatan," lanjut Lasmi.
Namun upayanya tersebut lama-lama membuahkan hasil, kini Laskar Jamu Gendong yang diketuai oleh Lasmi beranggotakan 700 anggota aktif yang menjajakan jamu gendong se Indonesia. Terbaru Lasmi mewakili para pegiat jamu gendong Indonesia untuk menerima sertifikat salinan penetapan Budaya Sehat Jamu sebagai warisan budaya tak benda dunia UNESCO.
Dalam sambutan acara tersebut Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek Hilmar Farid mengatakan penghargaan tersebut menjadi upaya melestarikan dan memajukan kebudayaan sekaligus membagikannya kepada dunia.
"Setelah ditetapkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO, selain bangga kita juga punya tugas untuk terus melestarikan warisan ini sebagai kontribusi Indonesia untuk peradaban dunia," Jelas Hilmar Farid.
(hns/hns)
Kisah Pemilik Ayam Bakar Madu Hijrah, dari Posisi Top Manajemen Jadi Pengusaha
Pandemi COVID-19 mengubah kehidupan Erfianty (43) yang sebelumnya bekerja dan berposisi di top manajemen sebuah perusahaan finance kini menjadi entrepreneur [641] url asal
#bri #kur-bri #qris-bri #bri-fellowship #ayam-bakar-madu
(detikFinance - SolusiUKM) 28/04/24 14:00
v/11049216/
Jakarta - Pandemi COVID-19 mengubah kehidupan Erfianty (43) yang sebelumnya bekerja dan berposisi di top manajemen sebuah perusahaan finance kini menjadi entrepreneur sukses di bidang kuliner yaitu ayam bakar madu hijrah.
Bermula dari tidur yang tidak nyaman setiap malamnya karena bayang-bayang pekerjaan, membuat Erfianty memutuskan untuk hijrah menjadi pengusaha ayam bakar. Usahanya sempat membuatnya kaget karena seolah langsung mendapatkan "durian runtuh" terutama orderan dari penjualan online yang meningkat pesat, dalam satu hari Anty sapaan akrabnya pernah mendapatkan omzet hingga Rp 18 juta.
"Mulanya itu dari teras kecil hanya tiga ekor ayam, 1 ekor dipotong 4 jadi 12 potong, start up nya karena di rumah penjualannya online gofood dan grabfood. Pada saat itu pertama saya on aplikasi langsung masuk orderan jadi saya diluar ekspektasi dan sangat bersemangat," Cerita Anty saat ditemui di kios Ayam Bakar Madu Hijrah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Rabu (24/4/2024).
Pandemi COVID-19 seakan mengunci warga dalam beraktivitas membuat usaha Anty kian melesat, orderan demi orderan dari aplikasi onlinenya memaksa Anty untuk terus berada di dapur kecilnya, dalam satu hari Anty harus melayani 150 orderan dari masing-masing aplikasi. Hal itu tak membuat Anty berpuas diri, ia justru mencari lapak kecil untuk memudahkan warga mengenal produknya.
"Penjualan online saya cukup direspon jadi saya punya jalan untuk menyewa lapak bulanan, pada saat itu saya ditawarkan BRI ada fasilitas KUR kebetulan saya dapatnya yang tanpa bunga jadi 0 persen, alhamdulillah lancar akhirnya saya bisa sewa kios kecil tahunan modalnya dari KUR BRI," lanjut Anty
Dana segar senilai Rp 35 juta dari KUR BRI dimanfaatkan Anty untuk menyewa kios kecil, dari kios itulah usaha Anty kian dikenal oleh masyarakat Jagakarsa bahkan lahan parkir untuk ojek online yang mengambil pesanan ayam bakar harus luber kemana-mana, namun seiring berjalannya waktu pada tahun 2022-2023 usaha ayam bakar madu hijrah mulai lesu.
Bagaikan permainan roller coaster yang tengah dalam posisi turunan curam tentu membuat Anty sedikit kaget, pasca pandemi masyarakat mulai beraktivitas secara normal penjualan ayam bakar madu hijrah merosot hingga 70 persen. Sempat recovery dan mencari solusi Anty turut bergabung dengan berbagai komunitas UMKM hingga binaan dari Kementerian, berbagai dinas, hingga BUMN.
Akhirnya Anty memutuskan untuk membuka lapak yang lebih besar untuk pengunjung yang mau dine in, lagi-lagi Anty terbantu dengan KUR BRI. Pada tahun 2023 Anty mendapatkan KUR dengan nominal Rp 50 juta, uang tersebut langsung digunakan untuk sewa kios dua lantai tahunan dan sejumlah meja serta peralatan lainnya.
"Tahun 2023 kemarin saya dapat KUR BRI Rp 50 juta untuk pindah kios, bukan hanya untuk sewa tapi juga untuk peremajaan alat, dari lapak kecil saya butuh bangku juga, alhamdulillah dari situ penjualan mulai normal saya pun terus mengembangkan menu hingga nasi box," tutur Anty.
Kini rata-rata omzet harian ayam bakar madu hijrah mulai dari Rp 1,8 juta hingga Rp 6 juta, penjualan ayam dine in turut membantu, omzet tersebut tak langsung dibuat hura-hura. Anty terus mengembangkan menu hingga kini terdapat 14 menu selain ayam bakar, ada juga sambal kemasan dan nasi box yang dapat dipesan secara langsung maupun online.
Atas perjuangannya dalam bidang enterpreneur Anty mendapatkan sejumlah penghargaan, salah satunya piagam kategori Merchant Idaman dari Grabfood, Anty juga didapuk menjadi Mitra Mentor Bimbel GrabMerchant Jabodetabek yang akan berlangsung pada Mei 2024 selama enam bulan.
Tak lupa atas usaha ayam bakar madu hijrahnya ini turut membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar Jagakarsa, salah satunya Hawa Cahyani (19) siswi SMK yang tengah menunggu ijazah kini turut membantu Anty, ilmu dari jurusan akuntansi dari SMK memudahkannya beradaptasi untuk urusan pembukuan dan aplikasi.
"Saya kelas 12 sekarang sudah tinggal nunggu ijazah, sambil mengisi waktu luang jadi saya bekerja sambil menabung untuk kuliah nanti" Jelas Hawa.
Bekerja mulai pukul 10 pagi hingga 9 malam membuatnya cepat beradaptasi dalam urusan memanggang ayam maupun ikan, ia juga nampak cekatan dalam menerima orderan. Kini Hawa tengah menabung untuk bersiap kuliah pada tahun depan.
(hns/hns)
Tips Dagang Ala Ayam Bakar Madu Hijrah, Ada 'Sedekah Langit'
Masyarakat kini semakin modern hal itu membuat Ayam Bakar Madu Hijrah turut mengikuti trend dengan menyiapkan scan QRIS BRI, [550] url asal
#bri #bri-fellowship #qris-bri #ayam-bakar-madu
(detikFinance - SolusiUKM) 28/04/24 14:00
v/11049217/
Jakarta - Ayam bakar menjadi menu yang dapat dengan mudah diterima oleh kebanyakan lidah masyarakat Indonesia, bermula dari dapur rumahan kecil Ayam Bakar Madu Hijrah kini sukses membuat Anty menjadi Mitra Mentor Bimbel GrabMerchant Jabodetabek simak tips and triknya.
Ditemui detikcom di kios Ayam Bakar Madu Hijrah di jalan Sirsak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Rabu (24/4/2024) Owner Ayam Hijrah, Anty blak blakan tentang kiat-kiat usaha ayam bakar.
1. Berani Mencoba
Keberanian Erfianty dalam membuka usaha dimulai dengan 3 ekor ayam yang dipotong 12 bagian, sebelumnya resep masakannya dites food kepada anak dan para tetangga. Tanpa malu Anty menanyakan kekurangan apa dari resep buatannya lalu apakah laik jual atau tidak.
2. Membuka Penjualan Online.
Hari pertama Anty membuka penjualan melalui aplikasi menu ayam bakarnya langsung diorder hingga tiga kali oleh satu pelanggan yang sama, hal itu memberikan sinyal untuk Anty meningkatkan stok ayam. Berjalannya waktu orderan terus meningkat hingga 150 order dalam satu aplikasi, saat itu Anty membuka toko online hingga 4 aplikasi.
3. Membuka Kios dan Branding
Sadar akan orderan yang terus meningkat, Anty memberanikan diri membuka kios serta mengukuhkan nama brand Ayam Hijrah miliknya sebagai hak atas kekayaan intelektual (HaKI) selain itu brandnya tersebut juga bersertifikat Halal.
4. Memanfaatkan KUR (Kredit Usaha Rakyat)
Membuka kios tentu memerlukan modal yang tak sedikit, saat itu Anty ditawari pinjaman KUR oleh BRI Unit Jagakarsa. Beruntung pada saat pandemi program KUR tanpa adanya bunga alias 0 persen. KUR senilai Rp 35 juta digunakannya untuk membuka kios dan menambah peralatan.
5. Menambah Karyawan
Seiring kesibukan dapur yang terus ngebul membuat Anty kewalahan, ia lantas membuka lapangan kerja untuk membantunya dalam urusan membakar ayam hingga meladeni orderan online. Saat itu Anty dibantu 5 karyawan.
6. Ikut Pelatihan dan Grup UMKM
Dunia enterpreneur yang baru digelutinya tak membuat Anty cepat puas, ia turut ikut dalam pelatihan - pelatihan yang dilakukan oleh Kementerian, dinas - dinas terkait dan juga BUMN ilmu tersebut yang membuatnya berkenalan dengan para pelaku UMKM lainnya yang dijadikannya teman berdiskusi dalam menghadapi penjualan yang naik ataupun turun.
7. Mengembangkan Menu Bisnis
Omzet penjualan yang sudah bagus tak cukup baginya, Anty juga tidak menghabiskan omzet untuk hura-hura, sebaliknya ia justru melihat peluang lain seperti mengembangkan menu yang tengah hits seperti ayam geprek, sambal kemasan hingga nasi box.
8. Rutin Ikut Bazar
Bazar jadi salah satu ladang omzet tambahan, Anty juga tak bosan-bosannya mengikuti berbagai bazar. Selain mendulang omzet tambahan bazar juga diikuti untuk branding nama Ayam Bakar Madu Hijrahnya.
9. Sedekah Langit
Niat berbagi namun sekaligus meningkatkan penjualan ayam dilakukan Anty dengan nama Sedekah Langit, ia rutin menggalang sumbangan dari rekan-rekannya untuk saling berbagi ke panti asuhan setiap jumatnya. Anty membuat paket senilai Rp 50 ribu untuk dua porsi, dari situ ia mampu mengumpulkan muzakki atau donatur hingga 100 porsi lebih. Selain mendapatkan pendapatan kegiatan itu juga mendulang pahala.
10. Pembayaran Digital
Masyarakat kini semakin modern hal itu membuat Ayam Bakar Madu Hijrah turut mengikuti trend dengan menyiapkan scan QRIS BRI, Anty mengungkapkan bahwa saat ini mayoritas pembayaran sudah digital salah satunya dengan QRIS.
Diketahui QRIS dapat dicetak oleh Bank BRI caranya cukup mudah seperti memiliki rekening, menyiapkan identitas diri, menyiapkan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) atau akta pendirian usaha, mengisi formulir, pilih antara opsi EDC+QRIS dinamis atau statis, mengisi kolom yang sudah disediakan, menunggu verifikasi nantinya jika BRI akan datang ke lokasi usaha untuk memasang QRIS.
(hns/hns)