JAKARTA, investor.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) menyusut tipis 1,41 poin (0,02%) ke level 7.787,5 pada penutupan perdagangan Rabu (23/10/2024). Ini mengakhiri penguatan delapan hari berturut-turut. Tapi dua saham naik gila-gilaan sampai mentok batas Auto Rejection Atas (ARA).
Sebanyak 243 saham terpantau naik, 323 saham turun, dan 228 saham stagnan. Adapun total nilai transaksi di bursa hari ini mencapai Rp 14,16 triliun. Volume perdagangan sebanyak 33,68 miliar saham dengan frekuensi sebanyak 1.369.150 kali.
Mayoritas sektor saham terkoreksi pada penutupan pasar hari ini. Pelemahan terdalam terjadi di sektor properti 0,9%. Diikuti, pelemahan di sektor barang baku 0,5%, sektor infrastruktur 0,4%, sektor barang konsumsi non primer 0,1%, dan sektor kesehatan 0,1%.
Sedangkan penguatan terjadi pada sektor transportasi 1,2%, sektor barang konsumsi primer 0,8%, sektor perindustrian 0,4%, sektor keuangan 0,3%, dans ektor teknologi 0,04%. .
Sementara itu, saat IHSG hari ini memerah, indeks saham Asia mayoritas malah menguat. Hang Seng (Hong Kong) melonjak 1,2%, Shanghai (China) menguat 0,5%, dan Straits Times (Singapura) naik 0,3%. Sedangkan Nikkei (Jepang) jatuh 0,8%.
Saat IHSG hari ini ditutup melemah, ada dua saham naik gila-gilaan sampai mentok batas Auto Rejection Atas (ARA) dan masuk top gainers.
Saham ARA
Dua saham ARA tersebut adalah PT Bank IBK Indonesia Tbk (AGRS) melonjak 34,5% menjadi Rp 109 dan PT Grand House Mulia Tbk (HOMI) melejit 24,4% menjadi Rp 366.
Selain dua saham ARA tersebut, ada tiga saham lainnya yang juga masuk top gainers. Ketiganya adalah PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) melesat 26,7% menjadi Rp 90, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) naik 18,7% menjadi Rp 304, dan PT Lenox Pasifik Investama Tbk (LPPS) menguat 13,8% menjadi Rp 82.
Pilarmas Investindo Sekuritas mengatakan IHSG hari ini melemah terpengaruh World Economic Outlook edisi Oktober 2024 dari IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2024 sebesar 5% sementara untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 2025 hingga 2029 diproyeksi sebesar 5,1%.
“Hal itu memberikan gambaran tidak menunjukan kenaikan secara signifikan pertumbuhan ekonomi dalam negeri,” tulis Pilarmas dalam risetnya, Rabu (23/10/2024).
Proyeksi tersebut, tambah Pilarmas, tentunya mengalami perbedaan dengan apa yang ditarget oleh pemerintahan Prabowo dimana memproyeksi pertumbuhan ekonomi mencapai 8%. Tentunya pelaku pasar dalam negeri menunggu langkah dan strategi yang dilakukan pemerintahan baru. “Pasar juga fokus perhatian pada rapat perdana kabinet Merah Putih hari ini, pasar menantikan perkembangan arah kebijakan kabinet baru tersebut,” papar Pilarmas.
Editor: Indah Handayani (handayani@b-universe.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News