#30 tag 24jam
Dikaitkan dengan Leimena, Maarif Institute: Tidak Ada Lagi Kerja Sama
Maarif Institute sebut tak lagi kerja sama dengan Leimena, apalagi NGO pro-Israel. [530] url asal
#hubungan-leimena-ajc #leimena-pro-ngo-israel #maarif-institute #lima-intelektual-nahdliyin-israel
(Republika - Khazanah) 23/07/24 18:01
v/11816201/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Maarif Institute memberikan klarifikasi tentang kaitannya dengan Institut Leimena. Sebagai informasi, lembaga yang namanya diambil dari sosok tokoh bangsa, Prof Ahmad Syafii Ma'arif (1935-2022), itu masuk dalam daftar mitra Leimena, yang tercatat berkolaborasi dengan American Jewish Committee (AJC).
Menurut Direktur Eksekutif Maarif Institute Andar Nubowo, lembaga yang dipimpinnya ini memang pernah bermitra dengan Institut Leimena, yakni dalam konteks penyelenggaraan program Literasi Keagamaan Lintas Budaya atau Cross Cultural Religious Literacy (CCRL).
Namun, lanjut dia, kerja sama itu berlangsung ketika Maarif Institute masih dipimpin pendahulunya, yakni Abd Rohim Ghozali. Sejak Desember 2023, kolaborasi tersebut pun sudah berakhir.
"Saat ini dan sejak saya ditunjuk sebagai direktur eksekutif Maarif Institute pada 15 Mei 2024, tidak ada lagi kerja sama dengan Institut Leimena dan apalagi AJC," kata Andar Nubowo kepada Republika, Selasa (23/7/2024).
Dilansir dari laman Institut Leimena, Literasi Keagamaan Lintas Budaya atau CCRL adalah sebuah program pelatihan yang bertujuan menguatkan eksistensi dan kolaborasi damai antar-agama di Indonesia. Ini dilakukan dengan meningkatkan kapasitas guru-guru madrasah sehingga mereka terdorong untuk mengintegrasikan prinsip literasi keagamaan lintas budaya dalam pengajaran di kelas.
Program ini telah menghasilkan alumni. Merujuk pada data yang dirilis pada 5 Juli 2024, CCRL telah meluluskan 8.352 peserta dan alumni, 56 program internasional bersertifikat, 28 kursus upgrading daring, 17 webinar internasional, dan 15 hybrid upgrading workshop.
Institut Leimena juga telah bermitra dengan banyak organisasi di Indonesia, termasuk antara lain Masjid Istiqlal, Lembaga Pengembangan Pesantren PP Muhammadiyah (LP2PPM), Maarif Institute, dan Universitas Alkhairaat Palu Sulawesi Tengah.
PBNU larang kerja sama ....
Sebelumnya, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengeluarkan surat instruksi penegasan kembali terkait pelarangan hubungan kerja sama dengan lembaga-lembaga yang berafiliasi dengan Israel. Seruan ini muncul usai kehebohan publik atas lima orang Nahdliyin yang sowan beberapa waktu lalu dengan Presiden Israel, di tengah gonosida yang masih dialami penduduk Palestina di Jalur Gaza.
Surat resmi PBNU tersebut dikeluarkan dengan nomor 2020/PB.03/A.1.03.08/99/07/2024. Isinya mempertegas instruksi yang muncul pada era kepengurusan KH Said Aqil Siroj pada 2021 lalu.
Yang dimaksud dengan "lembaga berafiliasi dengan Israel" dalam konteks ini adalah Institut Leimena. Tercatat, pada 19 Mei 2023 di laman Institut Leimena, Institut Leimena bekerja sama dengan Masjid Istiqlal menyelenggarakan diskusi panel terkait CCRL di Aula Al Fattah, Masjid Istiqlal, Rabu (3/5/2023).
Salah seorang pembicara dalam acara itu adalah Dr Ari Gordon, Direktur Hubungan Muslim-Yahudi American Jewish Committee (AJC). Dalam rilis yang ditampilkan web Institut Leimena itu, Gordon mengeklaim bahwa AJC merupakan lembaga non-politik yang "mendorong kerja sama antara agama Islam dan Yahudi", termasuk dalam memerangi Islamofobia dan antisemitisme.
Ari mengatakan, banyak persoalan dunia yang memecah belah umat Islam dan Yahudi. Padahal, dalam konteks negara Amerika Serikat (AS), kedua kelompok itu sama-sama minoritas di Negeri Paman Sam.
Sementara itu, di laman resmi AJC, jelas-jelas tercantum bahwa American Jewish Committee merupakan sebuah lembaga yang "mendukung hak Israel untuk eksis dalam perdamaian dan keamanan." Lebih lanjut, menanggapi tragedi di Jalur Gaza yang berlangsung sejak 7 Oktober 2023 hingga kini, AJC secara implisit menilai peristiwa itu bukan genosida, melainkan disebabkan oleh serangan Hamas. Tindakan para pejuang Hamas ini dinilainya sebagai "pembantaian terburuk yang menimpa kaum Yahudi sejak Holocaust."
Dikaitkan dengan Institut Leimena dan NGO Pro-Israel, Ini Klarifikasi Alkhairaat
PB Alkhairaat mengaku 'kecolongan' bahwa Institut Leimena terkait NGO pro-Israel. [637] url asal
#alkhairaat #ajc #hubungan-leimena-ajc #leimena-pro-ngo-israel #lima-intelektual-nahdliyin-israel
(Republika - Khazanah) 23/07/24 14:39
v/11799794/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengurus Besar (PB) Alkhairaat menyampaikan klarifikasi tentang kerja sama yang dilakukan Universitas Alkhairaat (Unisa) Palu dan Alkhairaat Palu bersama dengan Institut Leimena. Pasalnya, Institut Leimena ternyata merupakan lembaga swadaya masyarakat atau non-govermental organization (NGO) yang terkait dengan American Jewish Committee (AJC), sebuah organisasi global yang mendukung Israel.
Sekretaris Majelis Kerja Sama Luar Negeri PB Alkhairaat Khairan Muhammad Arif mengatakan Universitas Alkhairaat membenarkan adanya kerja sama dengan Institut Leimena. Namun, pihaknya sebelumnya tidak mengetahui bahwa NGO tersebut ternyata bekerja sama dengan AJC yang pro-Israel.
"Sebagai salah seorang abna (kader) dan pengurus PB Alkhairaat, saya ingin mengklarifikasi bahwa Universitas al-Khairaat sebelumnya tidak melihat bahwa Institut Leimena ini terafiliasi dan terkait dengan NGO pro-Israel. Kami melihatnya (Institut Leimena) sebagai institut yang konsen terhadap kajian-kajian sosial dan keagamaan," ujar Khairan saat dihubungi Republika.co.id, Selasa (23/7/2024).
Dia mengatakan, Alkhairaat sangat peduli terhadap dakwah Islam dan perjuangan Palestina untuk merdeka melawan penjajahan Israel. Sebagai lembaga pendidikan dan dakwah yang berdiri sebelum kemerdekaan RI, menurut dia, Alkhairaat juga sangat memahami watak zionisme yang memusuhi Islam.
"Oleh karenanya, Ketua Utama Alkhairaat Sayid Alwi bin Saggaf al-Jufri sangat marah dan kecewa terhadap kerja sama antara Unisa (Universitas Alkhairaat) dengan NGO pro-Israel ini. Saat mengetahui afiliasi NGO itu dengan Israel, maka beliau segera memerintahkan rektornya agar segera menyetop kerja sama tersebut," kata Khairan.
Sebelumnya, Ketua Utama Alkhairaat Habib Sayyid (HS) Alwi bin Saggaf al-Jufri juga telah menjelaskan posisi Alkhairaat terkait Institut Leimena dan AJC yang pro-Israel. Hal itu disampaikannya melalui Media Alkhairaat, beberapa hari yang lalu.
Habib Alwi bahkan memberikan teguran keras kepada Rektor Universitas Alkhairaat (Unisa) dan juga Ketua Dewan Pengurus Yayasan Alkhairaat SIS al-Jufri. Itu tertuang melalui surat nomor: 465/C-VIII/KUT/2024 tertanggal 19 Juli 2024.
Dalam surat itu, Habib Alwi mengatatakan, seharusnya simbol bangsa penjajah dan biadab ini (Israel) tidak boleh sama sekali hadir di lingkungan Perhimpunan Alkhairaat. Sebab, kedatangannya berlawanan dengan prinsip etika dan kedamaian.
“Apa pun kondisinya, Saudara (rektor) dianggap sengaja memicu gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat. Ini kesalahan fatal yang Saudara lakukan telah mencoreng nama baik perhimpunan ini. Perbuatan itu telah melanggar norma organisasi dalam AD/ART Perhimpunan Alkhairaat,” jelas Habib Alwi.
“Atas pertimbangan itu, saya perintahkan agar saudara memutuskan hubungan kerja sama dengan Institut Leimena, serta semua pihak yang memiliki hubungan kepentingan dengan kaum zionis Israel,” demikian bagian akhir dari surat teguran itu.
Selanjutnya...
Sebelumnya diberitakan, Alkhairaat Palu Sulawesi Tengah dan Universitas Alkhairaat Palu, Sulawesi Tengah, masuk dalam daftar lembaga mitra Institut Leimena. Diketahui, lembaga non-profit yang berdiri sejak 2005 ini aktif berkolaborasi dengan American Jewish Committee (AJC), sebuah NGO yang jelas-jelas menyuarakan dukungan terhadap Israel.
Selama setahun terakhir, AJC telah bekerja sama dengan Institut Leimena untuk mengajarkan kelas “Pengantar Yudaisme” selama tiga jam kepada para pendidik agama di Indonesia, termasuk sesi “Tanya Apa Saja.” Ini sebagai bagian dari program sertifikat Cross Cultural Religious Literacy (CCRL) atau Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB).
“Pada tahun pertamanya saja, pelatihan CCRL telah menjangkau lebih dari 2.400 pendidik agama di 34 provinsi di Indonesia,” kata Dr Ari Gordon, Direktur Bidang Hubungan Muslim-Yahudi AJC, seperti dikutip dari laman Jewishlink.news.
Dilansir dari laman resminya, American Jewish Committee atau AJC merupakan sebuah lembaga yang "mendukung hak Israel untuk eksis dalam perdamaian dan keamanan." Uniknya, AJC didirikan jauh sebelum negeri zionis itu ada, yakni pada 11 November 1906. Mengutip New York Times, AJC adalah "puncak organisasi-organisasi Yahudi yang ada di Amerika."
Bukan hanya di Amerika Serikat (AS), organisasi tersebut juga melebarkan sayap hingga ke pelbagai wilayah, termasuk Uni Emirat Arab, Jerman dan Israel sendiri. Menanggapi tragedi di Jalur Gaza yang berlangsung sejak 7 Oktober 2023 hingga kini, AJC secara implisit menilai peristiwa itu bukan sebagai genosida, melainkan disebabkan oleh serangan Hamas. Itu dinilainya sebagai "pembantaian terburuk yang menimpa kaum Yahudi sejak Holocaust."
Kerja Sama dengan Leimena Institute, UMI Tegaskan Tak Pernah Dukung Israel
UMI menegaskan bermitra dengan Leimena Institute hanya pada persoalan membangun pemahanan lintas budaya. [414] url asal
#leimena-institute #ajc #ari-gordon #umi #yayasan-wakaf-umi #palestina
(MedCom) 23/07/24 11:55
v/11785783/
Jakarta: Univeristas Muslim Indonesia (UMI) menegaskan tidak pernah mendukung Israel. Ini menyusul pemberitaan kerja sama Leimena Institute yang dianggap pro Israel dengan sejumlah organisasi di Indonesia, termasuk Yayasan Wakaf Universitas Muslim Indonesia."Hal ini memberikan keterangan bantahan perihal Kerja sama UMI dengan Leimena Institut yang dituduh ingin membentuk opini positif terhadap Israel," tulis UMI dalam keterangan tertulis yang diterima Medcom.id, Selasa, 23 Juli 2024.
UMI menegaskan bermitra dengan Leimena Institute hanya pada persoalan membangun pemahanan lintas budaya. UMI sebagai lembaga pendidikan dan dakwah konsisten sangat mendukung, berjuang, dan mendoakan kemerdekaan Palestina.
Bahkan, tahun ini Yayasan Wakaf UMI telah mencanangkan untuk menerima mahasiswa baru dari warga Palestina dengan beasiswa full.
"Terkait adanya pemberitaan akhir-akhir ini yang salah satunya menyebutkan Yayasan Wakaf Universitas Muslim Indonesia sebagai salah satu lembaga pendidikan yang dikait-kaitkan dengan lembaga yang bekerja sama dengan Institut Leimena yang dianggap pro Israel, adalah
tidak benar," tegas UMI.
Konsistensi UMI berdiri bersama Palestina dibuktikan dengan solidaritas UMI terhadap Palsetina dari berbagai bentuk. Misalnya, memberikan bantuan kemanusiaan senilai Rp2 miliar pada 9 November 2023 yang diterima langsung oleh Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Zuhair.
UMI juga aktif mengkampanyekan solidaritas terhadap Palestina di berbagai event internal maupun eksternal, seperti saat jalan santai Milad ke-70 UMI yang menampilkan atribut dukungan terhadap Palestina. Dukungan ini juga muncul di seminar internasional di PPS UMI beberapa waktu lalu.
Di tingkatan Fakultas, UMI juga terus membangun soldaritas seperi Fakultas Kedokteran UMI yang sampai saat ini masih menggalang dana untuk Palestina dan membuat petisi solidaritas untuk Palestina. Pada kegiatan eksternal, UMI juga tampil dengan membawa isu perdamaian untuk Palsetina.
Pimpinan UMI mengikuti Semiloka Moderasi beragama dan Penandatanganan MoU yang digelar oleh Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama pada 17-19 Juli 2024 di Jakarta.
"Sederet aksi solidaritas di atas membuktikan bahwa UMI merupakan perguruan tinggi yang terus konsisten berdiri bersama negara yang telah diakui Kemerdekaannya sejak 1922 (berdasar Nota Transyordania) dan Persetujuan batas oleh negara penjajah Prancis dan Britania," tulis UMI.
Sebagai perguruan tinggi yang bercirikan lembaga pendidikan dan dakwah, UMI memegang semangat Islam Wasathiyah yang mengandung makna memegang teguh akidah dan senantiasa menghargai perbedaan atau toleransi dalam konteks membangun Bangsa Indonesia.
Sebelumnya, salah satu program unggulan Leimena Institute, yakni Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) atau Cross Cultural Religious Literacy (CCRL), disebut-sebut berafiliasi dengan Israel. Ini lantaran keterlibatan Ari Gordon, Direktur Muslim Yahudi The America Jewish Committee (AJC), sebuah NGO yang pro terhadap Israel.
| Baca juga: Dukung Perdamaian Dunia, UMI Terlibat di Konferensi Internasional Literasi Antar Budaya |
(REN)
Daftar Lembaga Mitra Leimena Terkait AJC Pro Israel, dari Muhammadiyah Hingga Istiqlal
AJC Bermitra dengan Leimena untuk lakukan dialog Yahudi dan Israel [804] url asal
#leimena #leimena-pro-ngo-israel #hubungan-leimena-ajc #ajc-pro-israel #ngo-pro-israel #lima-intelektual-nahdliyin-israel #intelektual-muda-nahdliyin #lima-nahdliyin-temui-presiden-israel #presiden-isr
(Republika - Khazanah) 20/07/24 16:21
v/11458962/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengeluarkan surat instruksi penegasan kembali terkait pelarangan hubungan kerja sama dengan lembaga-lembaga yang berafiliasi dengan Israel. Surat resmi tersebut dikeluarkan dengan nomor 2020/PB.03/A.1.03.08/99/07/2024 yang mempertegas surat instruksi sebelumnya pada era kepengurusan KH Said Aqil Siroj pada 2021 lalu.
Lembaga yang dimaksud adalah Leimena Institute. Lantas siapa Leimena Institute? Dikutip dari laman resminya, Institut Leimena adalah lembaga non profit yang berdiri pada 2005, Institut Leimena dibentuk sebagai respons atas perkembangan situasi bangsa dan negara, serta harapan para pimpinan lembaga gereja aras nasional.
BACA JUGA:Adidas Coret Bella Hadid dari Iklan Sepatu Usai Dikritik Israel, Netizen Serukan Boikot
Partisipasi warga gereja dalam membangun bangsa dan negara sebetulnya telah mendapat perhatian umat Kristiani sejak lama. Oleh karena itu, Sidang Raya X DGI/PGI 1984 di Ambon memutuskan agar PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia) membentuk lembaga kajian yang dinamai Akademi Leimena dengan Letjen. T.B. Simatupang sebagai ketua yang pertama.
Pada 2004, atas masukan dan harapan dari para pimpinan lembaga gereja aras nasional, beberapa pengurus Akademi Leimena sepakat untuk mendirikan Institut Leimena sebagai lembaga kajian independen yang mencerminkan perkembangan keberagaman gereja dewasa ini.
Para pendiri, sekaligus anggota Board of Trustees yang pertama adalah Jakob Tobing, Mangara Tambunan, Matius Ho, Radja Kami Sembiring Meliala, dan Viveka Nanda Leimena.
Di antara program unggulan Leimena Institute adalah Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) yang dalam bahasa Inggris, sebagaimana dijelaskan Ari Gordon, Direktur Muslim Yahudi The America Jewish Committee (AJC), sebuah NGO yang pro terhadap Zionis Israel Gordon adalah dengan istilah Cross Cultural Religious Literacy (CCRL).
Yaitu sebuah pendekatan berpikir, bersikap, dan bertindak untuk dapat bekerja sama dengan orang yang berbeda agama dan kepercayaan (kompetensi kolaboratif), berlandaskan pada pemahaman akan kerangka moral, spiritual, dan pengetahuan diri pribadi (kompetensi pribadi) dan orang lain yang berbeda agama dan kepercayaan (kompetensi komparatif).
LKLB didasarkan pada keyakinan bahwa kesadaran dan kebaikan bersama bagi umat manusia akan tercapai bukan ketika keragaman agama dan kepercayaan ditolak atau bahkan dilebur menjadi keseragaman, tetapi justru ketika keragaman tersebut diteguhkan dan dikelola bersama oleh para penganutnya yang berbeda melalui proses evaluasi, komunikasi, dan negosiasi untuk menanggapi berbagai peluang dan tantangan yang dihadapi, baik dalam konteks lokal maupun global.
LKLB menyediakan suatu kerangka untuk bekerja sama dengan pihak lain dalam membahas dan menyelesaikan tantangan global bersama, tanpa mengorbankan substansi keyakinan sendiri.
Program ini telah menghasilkan alumni. Merujuk pada data yang dirilis pada 5 Juli 2024, LKLB telah meluluskan 8.352 peserta dan alumni, 56 program internasional bersertifikat tentang pengenalan LKLB, 28 online upgrading course, 17 webinar internasional, dan 15 hybrid upgrading workshop.
Lembaga ini juga telah bermitra dengan banyak organisasi di Indonesia. Menurut laman resminya, di antara organisasi yang bekerja sama adalah:
1. Masjid Istiqlal
2. Lembaga Pengembangan Pesantren PP Muhammadiyah (LP2PPM)
3. Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah
4. Maarif Institute
5. Alkhairaat Palu Sulawesi Tengah
6. Universitas Alkhairaat Palu Sulteng
7. Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
8. Yayasan Wakaf UMI Universitas Muslim Indonesia
9. RBC Institute A Malik Fadjar
10. The Sanneh Institute
11, Templeton Religion
12. Bridge Projects.
Sebagaimana diketahui, upaya lobi Yahudi untuk melakukan penetrasi terhadap pemahaman hubungan antara Indonesia dan Israel dilakukan dengan berbagai cara.
Salah satunya, melalui dialog lintas agama dan budaya. Salah satu lembaga yang bekerjasama aktif melakukan hal tersebut adalah Leimena Institute. Kerja sama ini secara jelas ditegaskan langsung oleh Ari Gordon, Direktur Muslim Yahudi The America Jewish Committee (AJC), sebuah NGO yang pro terhadap Zionis Israel. Ari Gordon, belakangan batal mengisi kuliah umum di Masjid Istiqlal pada Rabu 17 Juli 2024 lalu.
Dikutip dari..
Siapa AJC?
Dlansir dari laman resminya, American Jewish Committee (AJC) merupakan sebuah lembaga global yang "mendukung hak Israel untuk eksis dalam perdamaian dan keamanan." AJC, uniknya, didirikan jauh sebelum entitas zionis itu ada, yakni pada 11 November 1906.
Mengutip New York Times, AJC adalah "puncak organisasi-organisasi Yahudi yang ada di Amerika." Basisnya bertebaran bukan hanya di Negeri Paman Sam, melainkan juga antara lain Uni Emirat Arab dan Jerman.
Menanggapi tragedi kemanusiaan di Jalur Gaza yang berlangsung sejak Oktober 2023 hingga kini, AJC secara implisit menampik peristiwa itu sebagai sebuah genosida. Organisasi ini justru menuding Hamas sebagai pelaku "pembantaian terburuk yang menimpa kaum Yahudi sejak Holocaust."
Pendakwah asal Indonesia yang bergiat di Amerika Serikat (AS), Imam Shamsi Ali mengingatkan organisasi-organisasi masyarakat (ormas) Islam di Tanah Air. Pasalnya, menurut dia, kini lembaga global yang pro-zionisme terus menggencarkan penetrasi.
"Saat ini, AJC menembus banyak ke jantung dunia akademik, termasuk universitas Islam negeri (UIN) dan institusi-institusi Islam. Kalau tidak paham dan kurang strategi, kita bisa dipakai sebagai stempel untuk tujuan mereka," kata Imam Shamsi Ali, dalam keterangan tertulis yang telah dikonfirmasi, Republika.co.id, Rabu (17/7/2024).
Imam Shamsi Ali menyoroti penetrasi AJC di Indonesia. Lebih lanjut, dai kelahiran Sulawesi Selatan itu meminta Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, sebagai dua ormas Islam terbesar di Tanah Air, untuk waspada.
Daftar Lembaga Mitra Leimena Terkait AJC Pro Israel, dari Muhammadiyah Hingga Istiqlal
AJC Bermitra dengan Leimena untuk lakukan dialog Yahudi dan Israel [960] url asal
#leimena #leimena-pro-ngo-israel #hubungan-leimena-ajc #ajc-pro-israel #ngo-pro-israel #lima-intelektual-nahdliyin-israel #intelektual-muda-nahdliyin #lima-nahdliyin-temui-presiden-israel #presiden-isr
(Republika - Khazanah) 20/07/24 16:21
v/11439354/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengeluarkan surat instruksi penegasan kembali terkait pelarangan hubungan kerja sama dengan lembaga-lembaga yang berafiliasi dengan Israel. Surat resmi tersebut dikeluarkan dengan nomor 2020/PB.03/A.1.03.08/99/07/2024 yang mempertegas surat instruksi sebelumnya pada era kepengurusan KH Said Aqil Siroj pada 2021 lalu.
Lembaga yang dimaksud adalah Leimena Institute. Lantas siapa Leimena Institute? Dikutip dari laman resminya, Institut Leimena adalah lembaga non profit yang berdiri pada 2005, Institut Leimena dibentuk sebagai respons atas perkembangan situasi bangsa dan negara, serta harapan para pimpinan lembaga gereja aras nasional.
Partisipasi warga gereja dalam membangun bangsa dan negara sebetulnya telah mendapat perhatian umat Kristiani sejak lama. Oleh karena itu, Sidang Raya X DGI/PGI 1984 di Ambon memutuskan agar PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia) membentuk lembaga kajian yang dinamai Akademi Leimena dengan Letjen. T.B. Simatupang sebagai ketua yang pertama.
Pada 2004, atas masukan dan harapan dari para pimpinan lembaga gereja aras nasional, beberapa pengurus Akademi Leimena sepakat untuk mendirikan Institut Leimena sebagai lembaga kajian independen yang mencerminkan perkembangan keberagaman gereja dewasa ini.
Para pendiri, sekaligus anggota Board of Trustees yang pertama adalah Jakob Tobing, Mangara Tambunan, Matius Ho, Radja Kami Sembiring Meliala, dan Viveka Nanda Leimena.
Di antara program unggulan Leimena Institute adalah Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) yang dalam bahasa Inggris, sebagaimana dijelaskan Ari Gordon, Direktur Muslim Yahudi The America Jewish Committee (AJC), sebuah NGO yang pro terhadap Zionis Israel Gordon adalah dengan istilah Cross Cultural Religious Literacy (CCRL).
Yaitu sebuah pendekatan berpikir, bersikap, dan bertindak untuk dapat bekerja sama dengan orang yang berbeda agama dan kepercayaan (kompetensi kolaboratif), berlandaskan pada pemahaman akan kerangka moral, spiritual, dan pengetahuan diri pribadi (kompetensi pribadi) dan orang lain yang berbeda agama dan kepercayaan (kompetensi komparatif).
LKLB didasarkan pada keyakinan bahwa kesadaran dan kebaikan bersama bagi umat manusia akan tercapai bukan ketika keragaman agama dan kepercayaan ditolak atau bahkan dilebur menjadi keseragaman, tetapi justru ketika keragaman tersebut diteguhkan dan dikelola bersama oleh para penganutnya yang berbeda melalui proses evaluasi, komunikasi, dan negosiasi untuk menanggapi berbagai peluang dan tantangan yang dihadapi, baik dalam konteks lokal maupun global.
LKLB menyediakan suatu kerangka untuk bekerja sama dengan pihak lain dalam membahas dan menyelesaikan tantangan global bersama, tanpa mengorbankan substansi keyakinan sendiri.
Program ini telah menghasilkan alumni. Merujuk pada data yang dirilis pada 5 Juli 2024, LKLB telah meluluskan 8.352 peserta dan alumni, 56 program internasional bersertifikat tentang pengenalan LKLB, 28 online upgrading course, 17 webinar internasional, dan 15 hybrid upgrading workshop.
Lembaga ini juga telah bermitra dengan banyak organisasi di Indonesia. Menurut laman resminya, di antara organisasi yang bekerja sama adalah:
1. Masjid Istiqlal
2. Lembaga Pengembangan Pesantren PP Muhammadiyah (LP2PPM)
3. Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah
4. Maarif Institute
5. Alkhairaat Palu Sulawesi Tengah
6. Universitas Alkhairaat Palu Sulteng
7. Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
8. Yayasan Wakaf UMI Universitas Muslim Indonesia
9. RBC Institute A Malik Fadjar
10. The Sanneh Institute
11, Templeton Religion
12. Bridge Projects.
Sebagaimana diketahui, upaya lobi Yahudi untuk melakukan penetrasi terhadap pemahaman hubungan antara Indonesia dan Israel dilakukan dengan berbagai cara.
Salah satunya, melalui dialog lintas agama dan budaya. Salah satu lembaga yang bekerjasama aktif melakukan hal tersebut adalah Leimena Institute. Kerja sama ini secara jelas ditegaskan langsung oleh Ari Gordon, Direktur Muslim Yahudi The America Jewish Committee (AJC), sebuah NGO yang pro terhadap Zionis Israel. Ari Gordon, belakangan batal mengisi kuliah umum di Masjid Istiqlal pada Rabu 17 Juli 2024 lalu.
Dikutip dari..
Menanggapi pertanyaan dari The Jewish Link mengenai kurangnya pengakuan resmi terhadap agama Yahudi di Indonesia, dia menyatakan bahwa negara ini sedang bergumul dengan beberapa masalah yang berkaitan dengan pelestarian demokrasi yang beragam, yang memiliki mayoritas Muslim, namun tidak memiliki karakter Islam secara eksplisit dalam konstitusi, sebanyak 87 persen warga negara beragama Islam-dan menurutnya akan ada perubahan di bidang ini di tahun-tahun mendatang.
Gordon mengatakan bahwa meskipun ada beberapa hubungan perdagangan swasta yang terbatas dengan perusahaan-perusahaan yang berbasis di Israel, Indonesia dan Israel tidak memiliki hubungan diplomatik.
Kebijakan resmi pemerintah Indonesia mendukung “solusi dua negara,” dan dalam banyak percakapan di sana, dia mendengar optimisme bahwa segala sesuatunya dapat berubah jika dan seiring dengan membaiknya hubungan Israel-Palestina, dan tidak ada seorang pun yang dia ajak bicara yang mengatakan bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi.
Sebelumnya, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengeluarkan surat instruksi penegasan kembali terkait pelarangan hubungan kerja sama dengan lembaga-lembaga yang berafiliasi dengan Israel. Surat resmi tersebut dikeluarkan dengan nomor 2020/PB.03/A.1.03.08/99/07/2024 yang mempertegas surat instruksi sebelumnya pada era kepengurusan KH Said Aqil Siroj pada 2021 lalu.
"Merujuk Surat Edaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Nomor 4207/C.1.034/09/2021 tanggal 13 Shafar 1443 H/20 September 2021 M sebagaimana terlampir, dengan ini kami tegaskan bahwa instruksi untuk menghentikan dan/atau menangguhkan semua program/proyek kerja sama yang berhubungan dengan Institut Leimena, Institute for Global Engagement (IGE), dan American Jewish Committee (AJC), baik yang masih dalam rencana maupun yang sedang berjalan, tidak pernah dicabut dan masih berlaku hingga saat ini," isi surat edaran tersebut.
Wakil Ketua Umum PBNU, Amin Said Husni menegaskan, surat pelarangan kerja sama dengan lembaga-lembaga yang berafiliasi dengan Israel yang terbit di masa Kiai Said ditegaskan kembali pada masa kepengurusan Gus Yahya.
"Sebetulnya kebijakan untuk menangguhkan atau menghentikan kerja sama dengan lembaga-lembaga internasional, seperti ACJ yang disebutkan secara eksplaisit di dalam surat itu 'kan sudah terbit pada kepengurusan PBNU periode yang lalu ketika Ketua Umumnya KH Said Aqil Siroj," ujar Amin Said dalam siaran pers yang diterima Republika.co.id, Sabtu (20/7/2024).
Amin mengatakan, pelarangan hubungan atau kerja sama dengan lembaga yang disebutkan dalam surat instruksi itu seperti Institut Leimena, Institute for Global Engagement (IGE), American Jewish Committee (AJC), dan sejenisnya, tidak pernah dicabut sejak 2021 lalu.
AJC Pro-Israel Tembus Dunia Akademik, NU dan Muhammadiyah Diminta Hati-hati
Imam Shamsi Ali juga klarifikasi nama dirinya yang masih dikutip AJC. [465] url asal
#ajc #muhammadiyah #nahdlatul-ulama #imam-shamsi-ali #nahdliyin-menghadap-presiden-israel #pertemuan-nahdliyin-presiden-israel #lobi-yahudi
(Republika - Khazanah) 17/07/24 17:00
v/11088287/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lima orang Nahdliyin mengunjungi Israel dan sowan kepada presiden entitas zionis tersebut, Isaac Herzog, baru-baru ini. Sontak saja, pertemuan itu menuai sorotan dari publik Indonesia, baik dalam maupun luar negeri.
Pendakwah asal Indonesia yang bergiat di Amerika Serikat (AS), Imam Shamsi Ali mengingatkan organisasi-organisasi masyarakat (ormas) Islam di Tanah Air. Pasalnya, menurut dia, kini lembaga global yang pro-zionisme terus menggencarkan penetrasi.
"Saat ini, AJC menembus banyak ke jantung dunia akademik, termasuk universitas Islam negeri (UIN) dan institusi-institusi Islam. Kalau tidak paham dan kurang strategi, kita bisa dipakai sebagai stempel untuk tujuan mereka," kata Imam Shamsi Ali dalam keterangan tertulis yang telah dikonfirmasi oleh Republika, Rabu (17/7/2024).
Dilansir dari laman resminya, American Jewish Committee atau AJC merupakan sebuah lembaga global yang "mendukung hak Israel untuk eksis dalam perdamaian dan keamanan." AJC, uniknya, didirikan jauh sebelum entitas zionis itu ada, yakni pada 11 November 1906.
Mengutip New York Times, AJC adalah "puncak organisasi-organisasi Yahudi yang ada di Amerika." Basisnya bertebaran bukan hanya di Negeri Paman Sam, melainkan juga antara lain Uni Emirat Arab dan Jerman.
Menanggapi tragedi kemanusiaan di Jalur Gaza yang berlangsung sejak Oktober 2023 hingga kini, AJC secara implisit menampik peristiwa itu sebagai sebuah genosida. Organisasi ini justru menuding Hamas sebagai pelaku "pembantaian terburuk yang menimpa kaum Yahudi sejak Holocaust."
Imam Shamsi Ali menyoroti penetrasi AJC di Indonesia. Lebih lanjut, dai kelahiran Sulawesi Selatan itu meminta Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah--sebagai dua ormas Islam terbesar di Tanah Air--untuk waspada.
Klarifikasi
Dilansir dari laman resminya, AJC juga pernah mengundang Imam Shamsi Ali. Bahkan, dai asal Indonesia ini juga pernah diminta menjadi anggota Majelis Muslim-Yahudi, yang dibentuk lembaga pro-zionis tersebut.
"Tapi, setelah duduk beberapa bulan, khususnya ketika Gaza diserang besar-besaran tahun 2008 (era presiden Obama), saya tinggalkan (majelis itu). Masalahnya, saya dianggap kurang moderat karena kritis kepada Israel dalam pertemuan-pertemuan mereka (AJC)," ungkap Direktur Jamaica Muslim Center di New York City itu.
"AJC inilah yang dulu mengundang KH Yahya Staquf bertemu Benjamin Netanyahu. Bahkan, jauh sebelumnya juga Gus Dur ke Israel, diberi penghargaan. Intinya, mereka sekarang ini all-out mengambil hati orang Islam agar menerima Israel. Cover-nya, dialog antar-agama," sambung dia.
Imam Shamsi menuturkan, sekitar bulan Desember 2023, Imam Besar Masjid Istiqlal KH Nasaruddin Umar diundang AJC selama sebulanan di AS. Menurutnya, walaupun mengampanyekan program-program dari RI, termasuk beasiswa S2 dan S3 bagi program Istiqlal, Kiai Nasaruddin "dipergunakan" dalam beberapa acara AJC untuk "menetralkan" wajah penjajahan Israel atas Palestina.
"Saya bisa menulis banyak. Karena kalau bicara Yahudi ini, saya bukan 'qiila wa qaala' (katanya, katanya --Red), tetapi saya tahu dari first-hand, bergaul dengan mereka. Saya kalau dialog antar-agama, tidak akan tanggung-tanggung. Namun, kalau sudah sampai ke kejujuran dan kemanusiaan, saya punya sikap," tutup dia.