JAKARTA, KOMPAS.com – Kubu Presiden dan Wakil Presiden RI terpilih, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka membantah bahwa program makan bergizi gratis dipangkas menjadi Rp 7.500 per anak.
Isu tersebut awalnya dimunculkan oleh seorang ekonom Verdhana Sekuritas, Heriyanto Irawan. Ia mengaku pernah dirinya diajak mendiskusikan program makan bergizi gratis untuk anak-anak oleh tim sinkronisasi Prabowo.
Salah satu pembahasannya adalah mengenai keinginan Prabowo mengefisienkan pagu anggaran Rp 71 triliun agar dapat digunakan secara maksimal dan menjangkau sebanyak mungkin anak-anak.
Dari situ, Heriyanto melihat ada keinginan dari pihak Prabowo untuk bisa menjalankan program makan bergizi gratis secara maksimal, tanpa perlu menambahkan atau mengurangi pagu anggaran Rp 71 Triliun.
Menurut Heriyanto, opsi yang kemudian dimunculkan oleh tim sinkronisasi dalam diskusi adalah menurunkan alokasi biaya makanan per anak, dari rencana Rp 15.000 menjadi Rp 7.500.
"Yang menarik buat saya, Bapak Ibu sekalian adalah, setelah dikomunikasikan angka itu Rp 71 triliun, kemudian tugasnya Pak Presiden terpilih ke tim ekonomi ini adalah untuk memikirkan, apakah biaya makanan per hari itu bisa enggak diturunin, lebih hemat dari Rp 15.000," ujar Heriyanto dalam acara Market Outlook 2024, yang disiarkan lewat kanal YouTube, Selasa (16/7/2024).
"Mungkin ke Rp 9.000, ke Rp 7.500 kira-kira begitu. Dan kita bisa pahami kalau sebagai politisi, tentunya beliau mau programnya itu menyentuh sebanyak mungkin rakyat," sambung dia.
Tak pernah diskusi dengan Heriyanto
Anggota Tim Gugus Tugas Sinkronisasi Prabowo-Gibran Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi membantah pernah membahas soal program makan bergizi gratis dengan Heriyanto Irawan.
Hasan mengatakan, Tim Gugus Tugas Sinkronisasi Prabowo-Gibran belum pernah membahas pemangkasan program makan bergizi gratis menjadi Rp 7.500 per anak seperti diungkapkan Heriyanto.
"Saya ingin menyampaikan bahwa tidak ada pembahasan itu sama sekali di tim dan tim sinkronisasi," ujar Hasan dalam konferensi pers di Jakarta, kemarin.
Menurut Hasan, fokus utama dari Prabowo dan Gibran adalah memberikan menu makanan yang sesuai standar kecukupan gizi.
Dia lantas memastikan bahwa pemangkasan anggaran makanan bergizi gratis menjadi Rp 7.500 per anak, hanyalah isu belaka.
"Itu hanya pernyataan atau mungkin saja ide dari ekonom tersebut. Bukan statement resmi dari tim," kata Hasan.
Pilot project makan gratis dirancang
Lebih lanjut, ia menyampaikan saat ini sedang dilakukan pilot project atau studi pendahuluan program makan bergizi gratis.
Pelaksanaan pilot project juga tak hanya dilakukan di satu daerah saja. Selain itu, pilot project tersebut akan direplikasi lagi setiap tiga bulan.
"Jadi untuk mendapatkan kesimpulan yang lebih objektif terhadap keadaan beberapa daerah di Indonesia," ucap Hasan lagi.
Namun, Hasan belum bisa menjawab secara pasti kapan program makan bergizi gratis dijalankan pemerintahan Prabowo-Gibran.
Hasan Nasbi mengatakan, pemerintahan sekarang masih dijalankan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Sementara Prabowo masih dalam transisi.
"Lebih baik nanti kita tanyakan setelah Pak Prabowo dilantik ya," ungkap dia
Rp 15.000 per anak sudah ideal
Gibran Rakabuming Raka sendiri pernah membantah soal isu tersebut. Ia menyebut belum ada kepastian terkait anggaran makan bergizi gratis.
Anak sulung Presiden RI Joko Widodo ini juga mengatakan anggaran Rp 15.000 per anak untuk makan bergizi gratis sudah ideal.
"(Dari awal anggarannya Rp 15.000) betul. Sudah ideal segitu, dan sudah diujicobakan di beberapa tempat. Termasuk Solo hari Senin ada uji coba makan siang gratis," kata Gibran di Solo, Jawa Tengah, Kamis (18/7/2024) lalu.
Selain itu, Gibran menyampaikan, uji coba makan bergizi gratis dengan anggaran Rp 15.000 per anak yang dijalankan selama ini berjalan lancar.
Dengan begitu, menurut dia, belum ada kepastian terkait pengurangan anggaran makan bergizi gratis menjadi Rp 7.500.
"Belum ada kepastian untuk pengurangan itu. Selama ini uji cobanya Rp 15.000. Tunggu aja kepastiannya ya," jelas Gibran.