#30 tag 24jam
5 Hal dari Pro Kontra Nasab Ba Alawi Muara Keturunan Habib Ini Sudah Keterlaluan
Pro kontra nasab habaib di Indonesia telah melampaui batas [875] url asal
#nasab-habib #pro-kontra-nasab-habib #polemik-nasab-habib #nasab-habib-tidak-sambung #nasab-habib-terputus #ba-alawi #nasab-ba-alawi #nasab-ba-alawi-terputus #nasab-habaib
(Republika - Khazanah) 11/08/24 17:31
v/14193676/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Mengikuti polemik tersambung atau tidaknya nasab Ba Alawi yang menjadi muara garis keturunan habib di Indonesia dengan Rasulullah SAW, memunculkan kesimpulan tentang hal-hal yang sudah kelewatan, dari kedua belah pihak.
Padahal, sudah sepatutnya, dalam tradisi keilmuan Islam, mesti disertai dengan adab, akhlak, dan amanah ilmiyah. Republika.co.id, mencatat setidaknya ada lima hal yang sudah kelewatan dari pro kontra nasab habaib, yaitu sebagai berikut:
Pertama, hilangnya sikap adil dalam berpikir dan bersikap, sebagai ciri utama pengkaji ilmu. Kedua belah saling merasa dirinya benar. Satu hal yang sangat tidak dianjurkan dalam tradisi keilmuan Islam. Imam asy-Syafii pernah menuturkan demikian:
رأيى صواب يحتمل الخطأ، ورأى غيرى خطأ يحتمل الصواب
“Pendapatku benar namun mungkin saja salah, tetapi pendapat orang lain salah, dan bisa jadi benar.”
Kedua, terlalu berlebihan membanggakan nasab
Tak ada yang istimewa dari nasab. Nasab tidak akan menyelamatkan seseorang dari api neraka atau mengantarkannya dengan mudah menuju surga. Tak sedikit dari oknum habib yang merendahkan nasab orang lain sembari meninggikan dan mensucikan nasabnya.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ يَفْتَخِرُونَ بِآبَائِهِمْ الَّذِينَ مَاتُوا إِنَّمَا هُمْ فَحْمُ جَهَنَّمَ أَوْ لَيَكُونُنَّ أَهْوَنَ عَلَى اللَّهِ مِنْ الْجُعَلِ الَّذِي يُدَهْدِهُ الْخِرَاءَ بِأَنْفِهِ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبِّيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَفَخْرَهَا بِالْآبَاءِ إِنَّمَا هُوَ مُؤْمِنٌ تَقِيٌّ وَفَاجِرٌ شَقِيٌّ النَّاسُ كُلُّهُمْ بَنُو آدَمَ وَآدَمُ خُلِقَ مِنْ تُرَابٍ
Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Hendaklah mereka segera berhenti dari membangga-banggakan nenek moyang mereka yang telah mati, -hanyasanya nenek moyang mereka adalah arang neraka Jahannam- atau mereka lebih hina di sisi Allah dari hewan yang mendorong kotoran dengan hidungnya, sesungguhnya Allah telah menghapus dari kalian seruan Jahiliyyah dan berbangga-bangga dengan nenek moyang, (yang ada) hanyalah mukmin yang bertakwa atau pendosa yang celaka, semua manusia adalah anak Adam, sedangkan Adam tercipta dari tanah." (HR Tirmidzi).
Dalam Sunan al-kubra, Imam al-Bukhari menukilkan riwayat tengan nasihat Rasulullah SAW kepada putrinya Fatimah agar tidak membanggakan nasab.
مَعْشَرَ قُرَيْشٍ اشْتَرُوا أَنْفُسَكُمْ لَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ لَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا يَا عَبَّاسُ بْنَ عَبْدِ الْمُطَلِّبِ لَا أُغْنِي عَنْكَ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا يَا صَفِيَّةُ عَمَّةَ رَسُولِ اللَّهِ لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا يَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَلِينِي مَا شِئْتِ لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا
Artinya: “Wahai golongan orang Quraisy! Peliharalah diri kalian karena aku tidak dapat sedikit pun di hadapan Allah. Wahai Bani Abdi Manaf! Aku tidak dapat sedikit pun di hadapan Allah. Wahai Abbas bin Abdul Muthalib! Aku tidak dapat sedikit pun di hadapan Allah. Wahai Shafiyah bibi Rasulullah! Aku tidak dapat sedikit pun di hadapan Allah. Wahai Fatimah putri Muhammad! Mintalah kepadaku apa saja yang kamu mau (dari hartaku), sungguh aku tidak dapat sedikit pun di hadapan Allah.” (HR Bukhari dalam Sunan al-Kubra).
Baca juga: Jubir Al-Qassam Abu Ubaidah: Yahya Sinwar Resmi Dibaiat, Bukti Hamas Kuat Semakin Solid
Ketiga, hilangnya adab dan munculnya saling membenci. Kedua belah pihak saling membenci satu sama lain. Kebencian ini bahkan melibatkan para muhibbin (pecinta) masing-masing. Fenomena ini sangat bahaya jika diteruskan, bisa merusak persaudaraan umat Muslim.
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: (لاَ تَحَاسَدُوْا، وَلاَتَنَاجَشُوْا، وَلاَ تَبَاغَضُوْا، وَلاَ تَدَابَرُوْا، وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخوَانَاً، الْمُسْلِمُ أَخُوْ الْمُسْلِمِ، لاَ يَظلِمُهُ، وَلاَ يَخْذُلُهُ، وَلاَ يَكْذِبُهُ، وَلايَحْقِرُهُ، التَّقْوَى هَاهُنَا – وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ – بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ). رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Dari Abu Hurairah RA dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ”Janganlah kalian saling dengki, melakukan najasy, saling membenci, saling membelakangi dan sebagian dari kalian menjual apa yang dijual saudaranya. Jadilah kalian semua hamba–hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, sehingga dia tidak boleh menzhaliminya, menghinanya, mendustakannya dan merendahkannya. Takwa itu letaknya di sini –sambil menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali– cukuplah seseorang itu dalam kejelekan selama dia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap muslim lainnya haram dan terjaga darah, harta dan kehormatannya.” (HR Muslim)
Keempat...
Riset ini pun menuai pro kontra di media sosial bahkan sampai di akar rumput, hingga jajaran elite Pengurus Besar Nahdlatul harus angkat bicara.
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar turut angkat bicara menyoal polemik nasab habib di Indonesia. Menurut Kiai Miftakhul, isu yang gaduh ini cuma diembuskan segelintir orang.
Masalah ini sudah bukan soal dzurriyah Ba'alawi melawan dzurriyah Wali Songo, melainkan arahnya sudah ke jamaah NU.
"Gangguan sudah sudah nyata, bukan dzon lagi, tapi jelas dialamatkan kepada NU dan bertubi-tubi. Hati-hati, itu pola Wahabi," ujar Kiai Miftachul.
Kiai Miftakhul mengingatkan bahwa NU memuliakan orang bukan karena nasab atau garis keturunan, suku dan etnis, tetapi keilmuan, kebaikan dan ketakwaan seseorang.
Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf yang akrab disapa Gus Yahya dalam channel Youtube TVNU Televisi Nahdlatul Ulama pada Juli 2023, mengatakan bahwa yang namanya catatan kalau dicari tidak mungkin lengkap.
Dalam diskusi dan bantah-bantahan yang terjadi, ada yang berpendapat tidak ada catatan 700 tahun. Ternyata setelah diteliti tidak ada catatan hanya 100 tahun dan seterusnya.
"Tapi yang namanya catatan tidak mungkin lengkap, tidak mungkin bisa betul-betul lengkap dan berurutan, pencatatan itu membutuhkan tradisi tersendiri dan tradisi mencatat di lingkungan Islam itu baru, apalagi di lingkungan Arab," kata Gus Yahya.
Maksud Gus Yahya menjawab penjelasan Kiai Imaduddin bahwa tidak ada catatan yang menjelaskan habib atau Ba’alawi nasabnya sampai ke Nabi Muhammad SAW.
Gus Yahya menjelaskan, meski catatannya tidak ada, tapi riwayat secara lisan atau oral dari mulut ke mulut itu ada. Kalau merujuknya hanya ke catatan, nanti nasabnya Nabi Muhammad SAW sampai ke Nabi Ibrahim, sumbernya dari mana, nanti repot.
Kalau nutfah nubuwwah, dijelaskan Gus Yahya, dari laki-laki maupun perempuan martabatnya sama saja. Kalau yang pegang nasab dari laki-laki halus dimuliakan, maka nasab yang turun dari perempuan juga harus dimuliakan.
Baca juga:11 Kondisi Sebenarnya Perekonomian Israel Akibat Perangi Gaza yang Ditutup-tutupi
Gus Yahya mengatakan, sebaiknya husnuzan (berprasangka baik) saja. "Jadi soal nasab, menurut saya yang ribut-ribut itu kurang kerjaan," ujar Gus Yahya.
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ahmad Fahrur Rozi yang akrab disapa Gus Fahrur menyampaikan bahwa meyakini habib nasabnya tersambung kepada Nabi Muhammad SAW. Jadi percaya terhadap habib keturunan Nabi Muhammad SAW tentu tidak masalah.
Gus Fahrur mengatakan, kalau Kiai Imaduddin tidak percaya bahwa habib keturunan Nabi Muhammad SAW maka silakan, tapi jangan mengatasnamakan NU.
Lantas Benarkah Kakek Habib Luthfi Bin Yahya Pekalongan Termasuk Pendiri NU?
PBNU perintahkan menarik buku sejarah kontroversial [826] url asal
#buku-penyimpangan-sejarah-nu #buku-sejarah-nu #sejarah-nahdlatul-ulama #pbnu-buku-penyimpangan-sejarah-nu #kakek-habib-luthfi-bin-yahya #kakek-habib-luthfi-pekalangan #nasab-ba-alawi #nasab-habib #nas
(Republika - Khazanah) 30/07/24 19:56
v/12688747/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Beredarnya Buku Pelajaran Ahlussunnah Waljamaah Ke-NU-an Jilid I untuk Kelas 2 yang diterbitkan oleh RMI PCNU Kabupaten Tegal yang juga beredar di lingkungan satuan-satuan Pendidikan Ma’arif NU, memicu polemik.
Buku tersebut memuat pernyataan sejarah yang disebut tak sesuai dengan fakta. Buku itu menyatakan bahwa salah satu pendiri NU adalah Kakek dari Habib Lutfhi bin Yahya Pekalongan, Yaitu Habib Hasyim bin Yahya. Benarkah demikian?
BACA JUGA:Dampak Foto dengan Presiden Israel, Nurul: Tiap Hari Terlintas untuk Mengakhiri Hidup Saya
Pemerhati sejarah NU yang juga anggota Tim Kerja Museum NU, Riadi Ngasiran, menjelaskan mengutip Statuten Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama (HBNO), didapati fakta bahwa tidak menyebutkan nama Habib Hasyim bin Yahya sebagai salah satu pendiri NU.
Dia menyebutkan, memang ada satu tokoh yang meskipun tidak disebut resmi dalam statuten pendirian NU, 31 Januari 1926, tapi justru menjadi Inspirator berdirinya NU yaitu Syekhona Muhammad Kholil Al-Bankalany.
“Kisah-kisah awal pendirinya NU, sebagai asbabul wurudnya, tak lepas dari Ulama Pesantren yg menjadi guru para Kiai pada zaman itu,” kata dia, kepada Republika.co.id, Selasa (30/7/2024).
Dia menilai, pernyataan Habib Luthfi tersebut adalah klaim sepihak. “Ya klaim sepihak tidak bisa dijadikan pijakan sebagai sumber sejarah. Sumber sejarah adalah fakta, bukan dongeng. Kalau ada sumber lisan, itu pun harus diverifikasi usianya sezaman atau tdak,” ujar dia.
“KH As'ad Syamsul Arifin menjadi sumber lisan, tetapi usianya sezaman dengan muassis NU. Apalagi, pelaku langsung yang terlibat dalam proses awal berdirinya NU,” papar dia.
Riadi menjelaskan frase “tidak mau ditulis” dalam pernyataan buku tersebut juga dipertanyakan. Jika kalimat itu langsung disampaikan pelaku bisa dipahami. Misalnya, KH Masykur, Pimpinan Tertinggi Markas Barisan Sabilillah di Malang pada zaman Revolusi.
Setelah merdeka, beliau tidak mau ditulis, setidaknya tidak menonjolkan diri sehingga, semasa hidup beliau hanya ingin adanya masjid yang berdiri sebagai bentuk penghormatannya.
“Maka berdirilah Masjid Sabilillah di Kota Malang. Sesudah itu, selepas wafat beliau baru kita gali jejak perjuangannya. Sehingga, KH Masykur dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional,” tutur dia.
Riadi menekankan, tetapi di luar itu, seperti yang sering disebutkan Habib Luthfi bin Yahya, bahwa kakeknya berperan atas berdirinya NU, perlu dikaji lebih dalam dengan bukti-bukti primer.
Misalnya, apakah ada nama tersebut pada dokumen rapat, berita surat kabar sezaman, dan risalah atau memoar tokoh sezaman. “Bila semua sumber, baik primer maupun sekunder, tidak ada bisa dikatakan bahwa hal itu belum bisa dikategorikan sebagai Kebenaran sejarah,” ujar dia.
Ketua Umum...
Sementara itu, Lembaga Pendidikan Ma'arif Nahdlatul Ulama (LP Ma'arif NU) menarik buku di lingkungan pendidikan Ma'arif NU. Penarikan buku tersebut dilakukan karena telah terjadi distorsi sejarah pendirian Nahdlatul Ulama (NU) di dalamnya.
Dalam surat instruksi Nomor 635/PP/SU/LPM-NU/VII/2024 yang ditandatangani Ketua LP Ma'arif NU, Muhammad Ali Ramdhani dan Sekretaris LP Ma'arif NU Harianto Oghie, disampaikan bahwa menindaklanjuti Keputusan Rapat Pleno Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tanggal 27-28 Juli 2024 di Jakarta.
Berkaitan dengan beredarnya Buku Pelajaran Ahlussunnah Waljamaah Ke-NU-an Jilid I untuk Kelas 2 yang diterbitkan oleh RMI PCNU Kabupaten Tegal yang juga beredar di lingkungan satuan-satuan Pendidikan Ma’arif NU, yang isinya telah terjadi distorsi sejarah pendirian Nahdlatul Ulama (NU).
Oleh karena itu, demi menghindarkan beredarnya pemahaman yang keliru dan salah paham di tengah santri dan siswa-siswi Ma’arif NU, maka LP Ma’arif NU PBNU menginstruksikan untuk:
Pertama, menarik buku tersebut dan dilarang untuk diajarkan dalam lingkup satuan Pendidikan Ma’arif NU.
Kedua, kepada seluruh guru atau murid yang memegang buku tersebut agar menyerahkan ke kepala satuan Pendidikan Ma’arif NU atau ke pengurus Ma’arif NU terdekat di wilayahnya masing-masing.
Ketiga, menelaah kembali buku-buku Mata Pelajaran Ke-NU-an atau Ke-Aswaja-an yang diterbitkan oleh Pengurus LP Ma’arif NU Wilayah/ Cabang di setiap satuan pendidikan baik madrasah maupun sekolah.
Keempat, pengurus LP Ma’arif NU Wilayah wajib melaporkan kepada Pengurus LP Ma’arif NU PBNU setiap buku yang diterbitkannya baik berkaitan Sejarah NU, Sejarah Tokoh NU, dan Sejarah LP Ma’arif NU.
Baca juga: Ini Bakal Cawagub Sumut dengan Elektabilitas Tertinggi Menurut Survei Terbaru LSI
Kelima, kepada seluruh guru dalam lingkup LP Maarif NU, baik yang mengajarkan mata pelajaran Ke-aswaja-an dan Ke-NU-an atau mata pelajaran apapun agar selalu berkoordinasi dengan pengurus LP Maarif NU di tingkat MWC NU, PCNU, atau PWNU terdekat jika sekiranya menemukan hal-hal yang janggal dan tidak sesuai nilai-nilai ideologi dan falsafah berbangsa yang diajarkan oleh para kiai dan ulama di lingkungan NU selama ini.
Keenam, jika Pengurus LP Ma’arif NU Wilayah/ Cabang tidak memperhatikan hal yang dimaksudkan poin 1 dan 2 di atas, maka Pengurus LP Ma’arif NU PBNU akan mengambil tindakan sebagaimana mestinya.
Ketujuh, pengurus LP Ma’arif NU PBNU akan segera membentuk Tim Penelaah untuk melakukan penelitian secara menyeluruh dan mendalam terhadap Buku Ajar Ke-NU-an dan Ke-Aswaja-an yang diterbitkan Pengurus LP Ma’arif NU Wilayah dan Cabang, sebagaimana amanat Keputusan Rapat Pleno PBNU tanggal 27-28 Juli 2024.
Ketua Umum...
Lantas Benarkah Kakek Habib Luthfi Bin Yahya Termasuk Pendiri NU?
PBNU perintahkan menarik buku sejarah kontroversial [812] url asal
#buku-penyimpangan-sejarah-nu #buku-sejarah-nu #sejarah-nahdlatul-ulama #pbnu-buku-penyimpangan-sejarah-nu #kakek-habib-luthfi-bin-yahya #kakek-habib-luthfi-pekalangan #nasab-ba-alawi #nasab-habib #nas
(Republika - Khazanah) 30/07/24 19:56
v/12678444/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Beredarnya Buku Pelajaran Ahlussunnah Waljamaah Ke-NU-an Jilid I untuk Kelas 2 yang diterbitkan oleh RMI PCNU Kabupaten Tegal yang juga beredar di lingkungan satuan-satuan Pendidikan Ma’arif NU, memicu polemik.
Buku tersebut memuat pernyataan sejarah yang disebut tak sesuai dengan fakta. Buku itu menyatakan bahwa salah satu pendiri NU adalah Kakek dari Habib Lutfhi bin Yahya Pekalongan, Yaitu Habib Hasyim bin Yahya. Benarkah demikian?
Pemerhati sejarah NU yang juga anggota Tim Kerja Museum NU, Riadi Ngasiran, menjelaskan mengutip Statuten Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama (HBNO), didapati fakta bahwa tidak menyebutkan nama Habib Hasyim bin Yahya sebagai salah satu pendiri NU.
Dia menyebutkan, memang ada satu tokoh yang meskipun tidak disebut resmi dalam statuten pendirian NU, 31 Januari 1926, tapi justru menjadi Inspirator berdirinya NU yaitu Syekhona Muhammad Kholil Al-Bankalany.
“Kisah-kisah awal pendirinya NU, sebagai asbabul wurudnya, tak lepas dari Ulama Pesantren yg menjadi guru para Kiai pada zaman itu,” kata dia, kepada Republika.co.id, Selasa (30/7/2024).
Dia menilai, pernyataan Habib Luthfi tersebut adalah klaim sepihak. “Ya klaim sepihak tidak bisa dijadikan pijakan sebagai sumber sejarah. Sumber sejarah adalah fakta, bukan dongeng. Kalau ada sumber lisan, itu pun harus diverifikasi usianya sezaman atau tdak,” ujar dia.
“KH As'ad Syamsul Arifin menjadi sumber lisan, tetapi usianya sezaman dengan muassis NU. Apalagi, pelaku langsung yang terlibat dalam proses awal berdirinya NU,” papar dia.
Riadi menjelaskan frase “tidak mau ditulis” dalam pernyataan buku tersebut juga dipertanyakan. Jika kalimat itu langsung disampaikan pelaku bisa dipahami. Misalnya, KH Masykur, Pimpinan Tertinggi Markas Barisan Sabilillah di Malang pada zaman Revolusi.
Setelah merdeka, beliau tidak mau ditulis, setidaknya tidak menonjolkan diri sehingga, semasa hidup beliau hanya ingin adanya masjid yang berdiri sebagai bentuk penghormatannya.
“Maka berdirilah Masjid Sabilillah di Kota Malang. Sesudah itu, selepas wafat beliau baru kita gali jejak perjuangannya. Sehingga, KH Masykur dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional,” tutur dia.
Riadi menekankan, tetapi di luar itu, seperti yang sering disebutkan Habib Luthfi bin Yahya, bahwa kakeknya berperan atas berdirinya NU, perlu dikaji lebih dalam dengan bukti-bukti primer.
Misalnya, apakah ada nama tersebut pada dokumen rapat, berita surat kabar sezaman, dan risalah atau memoar tokoh sezaman. “Bila semua sumber, baik primer maupun sekunder, tidak ada bisa dikatakan bahwa hal itu belum bisa dikategorikan sebagai Kebenaran sejarah,” ujar dia.
Ketua Umum...
Sementara itu, Lembaga Pendidikan Ma'arif Nahdlatul Ulama (LP Ma'arif NU) menarik buku di lingkungan pendidikan Ma'arif NU. Penarikan buku tersebut dilakukan karena telah terjadi distorsi sejarah pendirian Nahdlatul Ulama (NU) di dalamnya.
Dalam surat instruksi Nomor 635/PP/SU/LPM-NU/VII/2024 yang ditandatangani Ketua LP Ma'arif NU, Muhammad Ali Ramdhani dan Sekretaris LP Ma'arif NU Harianto Oghie, disampaikan bahwa menindaklanjuti Keputusan Rapat Pleno Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tanggal 27-28 Juli 2024 di Jakarta.
Berkaitan dengan beredarnya Buku Pelajaran Ahlussunnah Waljamaah Ke-NU-an Jilid I untuk Kelas 2 yang diterbitkan oleh RMI PCNU Kabupaten Tegal yang juga beredar di lingkungan satuan-satuan Pendidikan Ma’arif NU, yang isinya telah terjadi distorsi sejarah pendirian Nahdlatul Ulama (NU).
Oleh karena itu, demi menghindarkan beredarnya pemahaman yang keliru dan salah paham di tengah santri dan siswa-siswi Ma’arif NU, maka LP Ma’arif NU PBNU menginstruksikan untuk:
Pertama, menarik buku tersebut dan dilarang untuk diajarkan dalam lingkup satuan Pendidikan Ma’arif NU.
Kedua, kepada seluruh guru atau murid yang memegang buku tersebut agar menyerahkan ke kepala satuan Pendidikan Ma’arif NU atau ke pengurus Ma’arif NU terdekat di wilayahnya masing-masing.
Ketiga, menelaah kembali buku-buku Mata Pelajaran Ke-NU-an atau Ke-Aswaja-an yang diterbitkan oleh Pengurus LP Ma’arif NU Wilayah/ Cabang di setiap satuan pendidikan baik madrasah maupun sekolah.
Keempat, pengurus LP Ma’arif NU Wilayah wajib melaporkan kepada Pengurus LP Ma’arif NU PBNU setiap buku yang diterbitkannya baik berkaitan Sejarah NU, Sejarah Tokoh NU, dan Sejarah LP Ma’arif NU.
Baca juga: Ini Bakal Cawagub Sumut dengan Elektabilitas Tertinggi Menurut Survei Terbaru LSI
Kelima, kepada seluruh guru dalam lingkup LP Maarif NU, baik yang mengajarkan mata pelajaran Ke-aswaja-an dan Ke-NU-an atau mata pelajaran apapun agar selalu berkoordinasi dengan pengurus LP Maarif NU di tingkat MWC NU, PCNU, atau PWNU terdekat jika sekiranya menemukan hal-hal yang janggal dan tidak sesuai nilai-nilai ideologi dan falsafah berbangsa yang diajarkan oleh para kiai dan ulama di lingkungan NU selama ini.
Keenam, jika Pengurus LP Ma’arif NU Wilayah/ Cabang tidak memperhatikan hal yang dimaksudkan poin 1 dan 2 di atas, maka Pengurus LP Ma’arif NU PBNU akan mengambil tindakan sebagaimana mestinya.
Ketujuh, pengurus LP Ma’arif NU PBNU akan segera membentuk Tim Penelaah untuk melakukan penelitian secara menyeluruh dan mendalam terhadap Buku Ajar Ke-NU-an dan Ke-Aswaja-an yang diterbitkan Pengurus LP Ma’arif NU Wilayah dan Cabang, sebagaimana amanat Keputusan Rapat Pleno PBNU tanggal 27-28 Juli 2024.
Ketua Umum...
Pertanyaan Besar kepada Mereka yang Meragukan Nasab Ba Alawi Muara Para Habib
Ulama disebut bersepakat tentang ketersambungan nasab Ba Alawi [751] url asal
#nasab-ba-alawi #keabsahan-ba-alawi #kebenaran-ba-alawi #nasab-habib #nasab-habaib #nasab-habib-indonesia #nasah-habib-indonesia-terputus #nasab-dalam-islam
(Republika - Khazanah) 29/07/24 15:27
v/12533668/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Polemik ketersambungan nasab Ba Alawi kepada Rasulullah SAW masih munai pro dan kontra. Bagi mereka yang meragukan nasab Ba Alawi, sebuah pertanyaan dilontarkan para kubu pendukung Ba Alawi. Jika nasab sadah (tuan-tuan) Ba Alawi itu diragukan, berarti semua ulama salah?
Pertanyaan ini dilontarkan pegiat keislaman sekaligus alumnus Pesantren Sidogiri Jawa Timur M Fuad Abdul Wafi (Gus Wafi), murid KH Idrus Romli.
Dia menggarisbawahi beberapa hal. Pertama kalau kajian tersebut benar, berarti semua gurunya salah. "Apa iya guru-guru yang dahulu mendidik saya, sekaligus ulama yang arif yang allamah, salah semua?"
“Baik yang di Sidogiri atau yang lain, berarti salah semua dong,” kata Gus Wafi dikutip dari wawancara di NabawyTV, Senin (29/7/2024).
Kedua, Nahdlatul ulama yang di dalamnya banyak kiai yang sangat mengagumi Ba Alawi
Ini ada banyak orang. Contohnya almaghfur lahu KH Maimoen Zubair, KH Ahmad Nawawi bin Abdul Jalil dan KH Abdul Alim bin Abdul Jalil pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri, atau Syaikhuna Kholil Bangkalan, Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari.
Kalau mau menggunakan ulama di Nusantara, ada Syekh Yasin bin Isa al-Fadani, Syekh Muhammad Mahfud bin Abdul Manan at-Tarmasi, Syekh Nawawi al-Bantani, yang alim bahkan allamah (menguasai sejumlah ilmu).
Salah satu kitab yang ditulisnya kemudian dipelajari di seluruh pesantren adalah Nihayatuz Zain fi Irsyadil Mubtadi’in, itu mengakui saadah Ba Alawi.
“Kalau kajian yang membatalkan nasab Ba Alawi diakui, maka konsekuensinya sangat berat, mereka dianggap salah selama ini,” kata dia.
Sementara itu, mantan mufti Mesir, Syekh Ali Jumah, menyatakan nasab para sadah Balawi sudah menjadi kesepakatan para ulama,
“Sah dengan ijma (konsensus) para ulama. Jika ada satu orang fasiq muncul lalu mempertanyakan nasab yang mulia ini, terserah saja itu urusan dia dengan Tuhannya dan dia bebas dengan pendapatnya. Tapi Ba Alawi sah nasabnya, menurut kita sesuai dengan ijma ulama. Kami belum menemukan ada yang meragukan nasab Ba Alawi sepanjang sejarah. Kalau dikatakan kakek moyang mereka tidak ditemukan di kitab fulan, atau kakek mereka tidak ditemukan di kitab fulan yang lain, kami katakan urus saja hidupmu. Dan teruslah duduk dengan selalu merasa ragu. Hasbunallah wa ni’mal wakil. Maka ucapan seperti ini yang meragukan nasab yang sudah jelas, suatu kebodohan. Dan hanya Allah yang lebih mengetahui,” ujar Syekh Ali Jumah.
Pro kontra...
Riset ini pun menuai pro kontra di media sosial bahkan sampai di akar rumput, hingga jajaran elite Pengurus Besar Nahdlatul harus angkat bicara.
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar turut angkat bicara menyoal polemik nasab habib di Indonesia. Menurut Kiai Miftakhul, isu yang gaduh ini cuma diembuskan segelintir orang. Masalah ini sudah bukan soal dzurriyah Ba'alawi melawan dzurriyah Wali Songo, melainkan arahnya sudah ke jamaah NU.
"Gangguan sudah sudah nyata, bukan dzon lagi, tapi jelas dialamatkan kepada NU dan bertubi-tubi. Hati-hati, itu pola Wahabi," ujar Kiai Miftachul.
Kiai Miftakhul mengingatkan bahwa NU memuliakan orang bukan karena nasab atau garis keturunan, suku dan etnis, tetapi keilmuan, kebaikan dan ketakwaan seseorang.
Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf yang akrab disapa Gus Yahya dalam channel Youtube TVNU Televisi Nahdlatul Ulama pada Juli 2023, mengatakan bahwa yang namanya catatan kalau dicari tidak mungkin lengkap.
Dalam diskusi dan bantah-bantahan yang terjadi, ada yang berpendapat tidak ada catatan 700 tahun. Ternyata setelah diteliti tidak ada catatan hanya 100 tahun dan seterusnya.
"Tapi yang namanya catatan tidak mungkin lengkap, tidak mungkin bisa betul-betul lengkap dan berurutan, pencatatan itu membutuhkan tradisi tersendiri dan tradisi mencatat di lingkungan Islam itu baru, apalagi di lingkungan Arab," kata Gus Yahya.
Maksud Gus Yahya menjawab penjelasan Kiai Imaduddin bahwa tidak ada catatan yang menjelaskan habib atau Ba’alawi nasabnya sampai ke Nabi Muhammad SAW.
Gus Yahya menjelaskan, meski catatannya tidak ada, tapi riwayat secara lisan atau oral dari mulut ke mulut itu ada. Kalau merujuknya hanya ke catatan, nanti nasabnya Nabi Muhammad SAW sampai ke Nabi Ibrahim, sumbernya dari mana, nanti repot.
Kalau nutfah nubuwwah, dijelaskan Gus Yahya, dari laki-laki maupun perempuan martabatnya sama saja. Kalau yang pegang nasab dari laki-laki halus dimuliakan, maka nasab yang turun dari perempuan juga harus dimuliakan.
Gus Yahya mengatakan, sebaiknya husnuzan (berprasangka baik) saja. "Jadi soal nasab, menurut saya yang ribut-ribut itu kurang kerjaan," ujar Gus Yahya.
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ahmad Fahrur Rozi yang akrab disapa Gus Fahrur menyampaikan bahwa meyakini habib nasabnya tersambung kepada Nabi Muhammad SAW. Jadi percaya terhadap habib keturunan Nabi Muhammad SAW tentu tidak masalah.
Gus Fahrur mengatakan, kalau Kiai Imaduddin tidak percaya bahwa habib keturunan Nabi Muhammad SAW maka silahkan, tapi jangan mengatasnamakan NU.
Ditanya Soal Nasab Ba Alawi Muara Habib Indonesia, Begini Jawaban Mantan Mufti Mesir
Polemik keabsahan nasab Ba Alawi masih menghangat di media sosial [597] url asal
#ba-alawi #nasab-ba-alawi #keabsahan-ba-alawi #kebenaran-ba-alawi #nasab-habib #nasab-habaib #nasab-habib-indonesia #nasah-habib-indonesia-terputus
(Republika - Khazanah) 29/07/24 07:42
v/12496651/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Beredar secara viral, saat mantan Mufti Agung Mesir, Syekh Ali Jum’ah, ditanya perihal keabsahan nasab Baalawi yang menjadi muara nasab para habib di Indonesia. Apa jawabannya?
Syekh Ali Jum’ah mengatakan, “Sah dengan ijma (konsensus) para ulama. Jika ada satu orang fasiq muncul lalu mempertanyakan nasab yang mulia ini, terserah saja itu urusan dia dengan Tuhannya dan dia bebas dengan pendapatnya. Tapi Ba Alawi sah nasabnya, menurut kita sesuai dengan ijma ulama. Kami belum menemukan ada yang meragukan nasab Ba Alawi sepanjang sejarah. Kalau dikatakan kakek moyang mereka tidak ditemukan di kitab fulan, atau kakek mereka tidak ditemukan di kitab fulan yang lain, kami katakan urus saja hidupmu. Dan teruslah duduk dengan selalu merasa ragu. Hasbunallah wa ni’mal wakil. Maka ucapan seperti ini yang meragukan nasab yang sudah jelas, suatu kebodohan. Dan hanya Allah yang lebih mengetahui.”
Pendapat Syekh Ali Jum’ah ini sejalan dengan apa yang disampaikan Imam an-Nabhani dalam kitab Riyadh al Jannah. Dia menyebutkan sebagai berikut:
«إن سادتنا آل باعلوي، قد أجمعت الأمة المحمدية في سائر الأعصار و الأقطارِ، على أنهم من أصح أهل بيتِ النبوة نسباً، وأثبتهم حسباً، و أكثرهم علماً و عملاً و فضلاً و أدباً. وهم كلهم من أهل السنة والجماعة، على مذهب إمامنا الشافعي رضي الله عنه
“Sesungguhnya para sadat kita Ba Alawi telah berijma umat Nabi Muhammad SAW di seluruh masa dan daerah bahwa sesungguhnya mereka termasuk dari paling sahihnya nasab ahli bait Nabi, dan paling tetap pangkatnya, dan paling banyak ilmu, amal, keutamaan, dan akhlaknya. Dan mereka semuanya dari Ahlussunnah Wal Jamaah Mazhab Imam Sayfi’i.”
Riset ini pun menuai pro kontra di media sosial bahkan sampai di akar rumput, hingga jajaran elite Pengurus Besar Nahdlatul harus angkat bicara.
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar turut angkat bicara menyoal polemik nasab habib di Indonesia. Menurut Kiai Miftakhul, isu yang gaduh ini cuma diembuskan segelintir orang. Masalah ini sudah bukan soal dzurriyah Ba'alawi melawan dzurriyah Wali Songo, melainkan arahnya sudah ke jamaah NU.
"Gangguan sudah sudah nyata, bukan dzon lagi, tapi jelas dialamatkan kepada NU dan bertubi-tubi. Hati-hati, itu pola Wahabi," ujar Kiai Miftachul.
Kiai Miftakhul mengingatkan bahwa NU memuliakan orang bukan karena nasab atau garis keturunan, suku dan etnis, tetapi keilmuan, kebaikan dan ketakwaan seseorang.
Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf yang akrab disapa Gus Yahya dalam channel Youtube TVNU Televisi Nahdlatul Ulama pada Juli 2023, mengatakan bahwa yang namanya catatan kalau dicari tidak mungkin lengkap.
Dalam diskusi dan bantah-bantahan yang terjadi, ada yang berpendapat tidak ada catatan 700 tahun. Ternyata setelah diteliti tidak ada catatan hanya 100 tahun dan seterusnya.
"Tapi yang namanya catatan tidak mungkin lengkap, tidak mungkin bisa betul-betul lengkap dan berurutan, pencatatan itu membutuhkan tradisi tersendiri dan tradisi mencatat di lingkungan Islam itu baru, apalagi di lingkungan Arab," kata Gus Yahya.
Maksud Gus Yahya menjawab penjelasan Kiai Imaduddin bahwa tidak ada catatan yang menjelaskan habib atau Ba’alawi nasabnya sampai ke Nabi Muhammad SAW.
Gus Yahya menjelaskan, meski catatannya tidak ada, tapi riwayat secara lisan atau oral dari mulut ke mulut itu ada. Kalau merujuknya hanya ke catatan, nanti nasabnya Nabi Muhammad SAW sampai ke Nabi Ibrahim, sumbernya dari mana, nanti repot.
Kalau nutfah nubuwwah, dijelaskan Gus Yahya, dari laki-laki maupun perempuan martabatnya sama saja. Kalau yang pegang nasab dari laki-laki halus dimuliakan, maka nasab yang turun dari perempuan juga harus dimuliakan.
Gus Yahya mengatakan, sebaiknya husnuzan (berprasangka baik) saja. "Jadi soal nasab, menurut saya yang ribut-ribut itu kurang kerjaan," ujar Gus Yahya.
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ahmad Fahrur Rozi yang akrab disapa Gus Fahrur menyampaikan bahwa meyakini habib nasabnya tersambung kepada Nabi Muhammad SAW. Jadi percaya terhadap habib keturunan Nabi Muhammad SAW tentu tidak masalah.
Gus Fahrur mengatakan, kalau Kiai Imaduddin tidak percaya bahwa habib keturunan Nabi Muhammad SAW maka silahkan, tapi jangan mengatasnamakan NU.
Gus Wafi Tantang Sebutkan Ulama Besar yang Batalkan Nasab Ba Alawi
Gus Wafi menunggu hal itu sampai Dajjal keluar dua kali. [578] url asal
#gus-wafi #nasab-ba-alawi #nasab-habaib #begal-nasab-habaib #habaib
(Republika - Khazanah) 13/07/24 17:32
v/10656651/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Gus Wafi mengidentifikasi 12 hal yang dipermasalahkan penuduh nasab Ba Alawi tak tersambung kepada Nabi Muhammad SAW. Namun itu semua dapat dirangkum menjadi dua hal besar, sebagaimana terurai berikut ini.
Pertama, klaim tak tertulis
Maksudnya adalah pada abad ke-4, 5, 6, 7, 8, 9, nama Ubaidillah tak tercatat sebagai anak Ahmad bin Isa al-Muhajir.
Jauh sebelum klaim tersebut menyebar luas, mayoritas riwayat nasab, dan ini merupakan kaidah ilmu nasab yang diterapkan sejak lama, bahwa Ahmad al-Muhajir memiliki anak yang bernama Abdullah. Kemudian karena Abdullah ini tawadhu sekali, dia merasa tidak pantas menyandang nama itu, sehingga dia menyebut dirinya sebagai hamba Allah yang kecil atau Ubaidillah. Hal ini sudah berkali-kali disampaikan ulama Ba Alawi dari berbagai zaman.
Di Indonesia, Ketua Umum Rabithah Alawiyah Habib Taufiq bin Abdulqodir Assegaf berkali-kali menyampaikan hal yang sama. Dia menjelasakan nasab tersebut agar orang-orang mengetahui silsilah Ba Alawi sekaligus mengajarkan kepada banyak orang untuk selalu tawadhu, seperti yang dilakukan Ubaidillah.
Kedua, para penuduh nasab Ba Alawi tak tersambung kepada Rasulullah mengeklaim bahwa Imam Ahmad bin Isa tidak memiliki gelar al-muhajir
Padahal, mayoritas sejarawan yang membahas riwayatnya menyebut bahwa sang imam memang melakukan hijrah bersama anaknya yang bernama Abdullah alias Ubaidillah ke Hadhramaut.
Gus Wafi kemudian menyebut sebuah kaidah, kalau ingin menjawab pertanyaan, maka harus diketahui apa maksud pertanyaan tersebut sekaligus apa tujuannya. Kalau tujuannya ingin mengetahui ilmu nasab, maka kita sampaikan, tak ada satupun ulama nasab di dunia, dari dulu hingga sekarang, bahkan zamannya al-imam al Ubaidili dalam Tahdzibul Ansab, sampai pada sekarang Sayid Murtadha az-Zabidi atau al Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam tsabatnya, yang mengharuskan ada kitab sezaman. “Kita tidak akan menemukan hal itu,” kata Gus Wafi.
Kalaupun kitab semacam itu, maksudnya yang menerangkan orang-orang dalam rantai nasab yang dibahas, hal itu adalah syawahid mutaabi’, atau dalam ilmu hadits disebut pendukung, bukan referensi utama.
Gus Wafi menyebutkan 4 cara menetapkan nasab (kaifiyatu itsbatin nasab). “Apakah tertulis kitab sezaman? Tidak ada,” tegas pendakwah jebolan Pesantren Sidogiri tersebut.
Bahkan yang metodenya diambil oleh si penuduh dalam Kitab al-Mu’qibu karangan Sayid Mahdi ar-Rajai, atau dalam kitab Umdatut Thalib karangan Ibnu Inabah, atau at-Thathaqi dalam kitab al-Ashili, atau al-Muntaqilah at-Thalibiyah, atau Tahdzibul Ansab lil Ubaidili, atau Sirru Silsilatil Alawiyah li Abi Nashr al-Bukhari, “Apakah ada (harus menyebut kitab sezaman) mana kitab sezaman? Tidak ada yang menyebutkan itu” kata Gus Wafi.
Lihat halaman berikutnya >>>
Kedua, ada bayyinah syar’iyyah ahli nasab
Maksudnya adalah penjelasan dan bukti dari orang paham nasab yang menjelaskan nasab orang tersebut.
Ketiga, pengakuan seorang ayah.
Si ayah menjelaskan, nak, kakek dahulu adalah si a, kemudian ke atasnya lagi siapa dan seterusnya.
Keempat syuhrah wal istifadhah
Mana saja dari cara yang tersebut di atas yang terpenuhi, maka selesai sudah nasabnya.
Karena nasab ini, ada yang menyangsikan bahwa Ibnu Hajar bukan ahli nasab. Buktinya tidak punya kitab nasab. Namun pertanyaanya, apakah ahli nasab harus punya kitab nasab? Kalau demikian, maka banyak ahli nasab yang dibatalkan juga. Nasab orang lain bisa juga dibatalkan. Bahkan ahli nasabnya dibatalkan. Tidak ada syarat ahli nasab harus punya kitab nasab.
Ibnu Hajar itu ahli fikih, sedangkan ilmu nasab itu secuil dari ilmu fikih. Jadi wajar kalau dia disebut ahli nasab.
Karena itu, banyak ahli nasab mengakui nasab Ba Alawi. Makanya saya selalu bilang (tantang, - red), sebutkan satu saja ulama ahlus sunnah wal jamaah yang banyak menjadi referensi di berbagai kawasan, yang membatalkan nasab Ba Alawi? “Saya tunggu sampai Dajjal keluar dua kali”
Kisah Gus Wafi Terlibat Debat Nasab Ba Alawi
Gus Wafi menjelaskan Nasab Ba Alawi jelas tersambung kepada Nabi Muhammad [693] url asal
#gus-wafi #habaib #nasab-ba-alawi #nasab-habaib #dzuriyah-nabi-muhammad #dzuriyat-rasulullah
(Republika - Khazanah) 13/07/24 14:16
v/10642983/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Beberapa waktu terakhir, konten digital diramaikan dengan sekelompok orang yang mempermasalahkan nasab Ba Alawi. Mereka menganggap habaib yang ada sekarang bukanlah keturunan Nabi Muhammad. Dasarnya adalah sebuah kajian yang diklaim ilmiah.
Dalam wawancara dengan Nabawi TV, pegiat kajian keislaman sekaligus alumnus Pesantren Sidogiri Jawa Timur M Fuad Abdul Wafi (Gus Wafi) menceritakan bagaimana kisahnya terlibat dalam perdebatan nasab Ba Alawi.
Suatu malam, pegiat kajian turos ini berdiskusi bersama orang-orang Kristen, Yahudi, atheis, dan sejumlah kelompok seputar isu-isu kemanusiaan. “Sama sekali belum terpikir mendiskusikan nasab,” kata Gus Wafi.
Kemudian datanglah beberapa teman kepadanya. “Niatnya bersilaturahmi,” ujar pendakwah tersebut. Setelah berdiskusi panjang teman tersebut mengeluarkan pernyataan, “Sekarang habaib sudah kalah, tidak ada yang berani berdebat dengan si penuduh (bahwa nasab Ba Alawi tak bersambung kepada Nabi Muhammad),” kata Wafi.
Alumnus Sidogiri tersebut kaget. Dia bertanya-tanya, apa masalahnya sehingga para habaib dianggap ‘kalah’. “Ya ini ustaz, tentang nasab Ba Alawi,” kata si teman yang datang ke rumah.
Si penuduh tadi sudah membuat karya yang diklaim ilmiah berbentuk buku. Kesimpulan karya tersebut adalah meragukan ketersambungan nasab para habaib kepada Rasulullah SAW.
Ulama hebat dahulu salah semua?
Ketika mengetahui hal tersebut, yang ada di benak Gus Wafi adalah sebagai berikut
Pertama kalau kajian tersebut benar, apa iya guru-guru yang dahulu mendidik saya, sekaligus ulama yang arif yang allamah, salah semua?
“Baik yang di Sidogiri atau yang lain, berarti salah semua dong,” kata Gus Wafi dalam wawancara tersebut.
Kedua, Nahdlatul ulama yang di dalamnya banyak kiai yang sangat mengagumi Ba ‘Alawi
Ini ada banyak orang. Contohnya almaghfur lahu KH Maimoen Zubair, KH Ahmad Nawawi bin Abdul Jalil dan KH Abdul Alim bin Abdul Jalil pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri, atau Syaikhuna Kholil Bangkalan, Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari.
Lihat halaman berikutnya >>>
Kalau mau menggunakan ulama di Nusantara, ada Syekh Yasin bin Isa al-Fadani, Syekh Muhammad Mahfud bin Abdul Manan at-Tarmasi, Syekh Nawawi al-Bantani, yang alim bahkan allamah (menguasai sejumlah ilmu). Salah satu kitab yang ditulisnya kemudian dipelajari di seluruh pesantren adalah Nihayatuz Zain fi Irsyadil Mubtadi’in, itu mengakui saadah Ba Alawi.
Kemudian Gus Wafi berpikir, kalau kajian yang membatalkan nasab Ba Alawi diakui, maka konsekuensinya sangat berat, mereka dianggap salah selama ini.
Ketika itu Gus Wafi curiga sekaligus penasaran. Maka dia meminta kitab tersebut. “Adakah yang bawa atau file PDF-nya. Ada teman yang hadir saat itu memberikan kitab yang dimaksud. Baik saya akan pelajari, kasih saya waktu satu pekan untuk mengkaji ini,” kata Gus Wafi.
Temuan yang mengejutkan
Setelah sepekan mengkaji buku hasil kajian yang katanya ilmiah itu, Gus Wafi mengaku mendapatkan banyak kesalahan. “Bahkan di halaman pertama, ketika membuat narasi, bahwa kajian yang dimaksud merupakan bagian dari amar maruf nahi munkar, karena menggali nasab yang bagi si penuduh masih bercampur dan syubhat, di situ penulis meyakini, kajian tersebut bukan pakai data ilmiah tapi nafsu pribadi si penuduh,” ujar Gus Wafi.
Alasannya, berdasarkan tradisi ulama yang ada, tidak ada tradisi mengkaji nasab, termasuk di dalamnya mengkaji ikhtilat nasab, termasuk amar maruf nahi munkar. “Kalau kita buka Kitab al-Hawi karya al-hafidz as-Suyuthi, al-imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam Fatawa al haditsiyah atau Fatawa al-kubro, dan ulama yang lain, ketika ada orang mengaku dzuriyah Rasulullah SAW, kemudian tidak bisa dibuktikan, apakah ulama langsung menghajar, memfitnah, merobohkan statemennya, lalu mengajak debat seluruh dunia? Tidak ada,” kata Gus Wafi.
Yang dilakukan ulama adalah berhenti atau tawakuf. “Misalkan antum bukan keturunan rasulullah, andaikan terus menarasikan bahwa dia keturunan Rasulullah, nanti amir yang memberikan semacam tahdzir, kepada si pengaku. Sedangkan ulama dia diam. Itulah kesepakatan para ulama,” kata Gus Wafi.
Al-Hafidz as-Suyuthi dan Imam Ibnu Hajar yang luar biasa alim menjelaskan, ketika menghadapi orang yang mengaku dzuriyat Nabi Muhammad, kemudian tidak bisa dibuktikan, maka masuk kepada masyhurun nasab.
Maksudnya, kalau ada orang yang terkenal di kalangan umum nasabnya tersambung kepada Rasulullah SAW, tapi tak diketahui secara syariat, berarti nasabnya masyhurun nasab wa mahjul fi ilmin nasab. Nasabnya populer, tapi belum diketahui dalam ilmu nasab.
“Tidak ada ulama yang mengatakan, ini nasabnya masyhur, tapi harus diteliti, harus dihujat, tidak ada seperti itu,” kata Gus Wafi.
“Jadi istilah amar maruf nabi munkar dalam membahas nasab adalah kebohongan yang nyata,” tambahnya.