#30 tag 24jam
Peluncuran Buku 100 Orang Koperasi Indonesia, Ferry Juliantono Terima Penghargaan
Waketum Dekopin Ferry Juliantono menerima penghargaan pada acara peluncuran dan bedah buku Apa dan Siapa 100 Orang Koperasi Indonesia di Jakarta, Kamis (10.10.2024).... | Halaman Lengkap [279] url asal
#koperasi #dewan-koperasi-indonesia #bedah-buku #ferry-j-juliantono #tokoh-nasional
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 12/10/24 13:48
v/16358230/
JAKARTA - Wakil Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) Ferry Juliantono menerima penghargaan pada acara peluncuran dan bedah buku "Apa dan Siapa 100 Orang Koperasi Indonesia di Jakarta, Kamis (10/10/2024). Buku yang ditulis Irsyad Muchtar ini mengangkat profil 100 tokoh koperasi Indonesia, termasuk Ferry Juliantono, atas dedikasi dan pengalamannya dalam memajukan koperasi di Tanah Air.Buku setebal 224 halaman tersebut menggambarkan kisah para pemimpin koperasi yang telah berhasil memajukan lembaga koperasi di tengah dinamika sosio-ekonomi politik Indonesia. ?Buku ini mendokumentasikan perjuangan tokoh-tokoh koperasi dalam menghadapi tantangan zaman, membuktikan bahwa koperasi yang dikelola dengan baik mampu bersaing dengan usaha skala besar,? kata Irsyad.
Ferry Juliantono sendiri merupakan salah satu tokoh yang diakui berkat kontribusinya dalam memperkuat koperasi dan ekonomi kerakyatan. Sebagai politisi dan pengurus organisasi koperasi, ia pernah menduduki berbagai posisi strategis, termasuk Sekretaris Dewan Pembina Induk KUD (Inkud), Wakil Ketua Umum Dekopin, dan Ketua Dekopinwil DKI Jakarta. Dedikasinya terlihat dalam upayanya membangkitkan Inkud sebagai koperasi milik para petani.
Acara peluncuran buku tersebut juga diiringi dengan pemberian penghargaan kepada tokoh-tokoh koperasi yang dinilai telah berjasa dalam memajukan ekonomi berbasis gotong royong. Menurut Irsyad, penghargaan ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi banyak pihak untuk terus relevan di tengah perubahan ekonomi global yang semakin didominasi oleh modal besar dan teknologi.
Melalui buku ini, Irsyad juga menyoroti pentingnya pengembangan koperasi yang lebih kuat dan progresif. "Kami berharap peluncuran buku ini menjadi ventilasi di tengah pekatnya sistem kapitalisme yang makin menjauhkan cita-cita Founding Fathers untuk kesejahteraan rakyat," tambahnya.
Nama-nama besar dalam koperasi Indonesia, seperti Prof Sri Edi Swasono, Romanus Woga, dan Ferry Juliantono, turut diulas dalam buku ini, Menggambarkan perjuangan mereka dalam mengembangkan ekonomi kerakyatan melalui koperasi.
FISIP UNAS Gelar Bedah Buku Karya Irma Indrayani
Buku ini berjudul “Pengaruh Asing Dalam Kebijakan Nasional Studi Kasus Pengembangan Industri Pesawat Terbang”. [925] url asal
#fisip-unas #unas #universitas-nasional #bedah-buku #buku #irma-indrayani #industri-pesawat-terbang #habibie #dosen-unas #dosen
(MedCom) 27/07/24 09:56
v/12281266/
Jakarta: Program studi Doktor Ilmu Politik FISIP UNAS menggelar bedah buku karya Dr. Irma Indrayani, M.Si. Buku ini berjudul “Pengaruh Asing Dalam Kebijakan Nasional Studi Kasus Pengembangan Industri Pesawat Terbang”.Ketua Program Studi Doktor Ilmu Politik FISIP UNAS, T.B. Massa Djafar menyampaikan selamat dan apresiasi kepada penulis yang telah menyelesaikan penulisan bukunya. Ia melanjutkan, judul buku karya dosen FISIP UNAS ini merupakan judul yang menarik.
Menurutnya, judul buku yang ditulis bukan sesuatu yang asing, mengingat adanya pengaruh negara luar dalam industri pesawat. Buku yang ditulis, kata Massa Djafar, juga merupakan bagian dari spirit perjalanan sejarah bangsa Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat.
Massa Djafar juga mengatakan, negara yang berdaulat tidak terlepas dari intervensi asing. Intervensi asing bisa masuk ke berbagai sektor salah satunya adalah industri pesawat.
“Oleh karena itu, kita harus lebih membangun negara yang lebih berdaulat agar tidak diintervensi oleh asing dan hal ini bisa terjadi jika kita memiliki satu spirit nasionalisme,” ujar Massa Djafar dalam sambutannya pada pembukaan kegiatan bedah buku.
Dosen Program studi Doktor Ilmu Politik FISIP UNAS, Eddy Guridno didaulat memandu diskusi. Kemudian Prof. Dr. Didin S Damanhuri dan Prof. Aleksius Jemadu, Ph.D turut menjadi pengulas dalam diskusi buku.
Kegiatan ini dihadiri oleh para pakar dan akademisi yaitu Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Periode 2014-2016/Guru Besar UNAS Prof. Dr. Yuddy Chrisnandi, S.H., S.E., M.E., Guru Besar UNAS yang juga sebagai Peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Dr. Syarif Hidayat, para Dosen di lingkungan UNAS serta mahasiswa.
Didin S. Damanhuri sebagai pembedah pertama menyatakan, Industri Pesawat Terbang di Indonesia merupakan Reverse Engineering (RE). Pilihan Habibie yang mempertimbangkan Indonesia sebagai negara kepulauan yang dalam praktiknya merupakan perakitan dan pengembangan dari CASA Spanyol.
PT DI berkembang dengan dukungan penuh dari Presiden Suharto yang sangat kuat dan memerintah selama 32 tahun. Reverse Engineering yang merupakan pelopor yang spektakuler adalah yang dilakukan Jepang dengan pilihan industri manufaktur (Otomotif, Elektronik, Telekomunikasi dst) dengan ditopang oleh peran negara yang aktif tapi demokratis dan keberhasilan menguasai pasar ekspor.
Namun juga ada Partai LDP sebagai partai pelopor yang sangat kuat serta adanya konstruksi Japan Incorporated (baik Industri maupun Politik). Kemudian menjadi raw model yang juga sukses besar dari Korea Selatan.
Dalam pengembangan industri substitusi impor di Indonesia (terutama berasal dari Jepang) tidak berhasil mengulang sukses Jepang maupun Korsel, selain sebagai Perakit. Sementara industri pesawat terbang sebagai Proyek RE-nya Habibie berhasil dalam produksi CN 235.
"Tapi karena yang over subsidised dan belum sempat jadi unggulan expor serta belum menciptakan backward and foreward linkage dengan sub-sub industri lainnya, keburu Presiden Suharto lengser karena krismon (krisis moneter)," kata Didin.
Sayangnya di era reformasi yang berparadigma sangat liberal, kata Didin, tidak mampu memanfaatkan warisan industri yang dikembangkan Habibie yang menurut Buku Irma Indrayani, karena terlalu banyak kepentingan elit politik.
Menurut Didin, hampir semua elit itu kurang punya visi dan kebijakan industri. Pembedah kedua, Aleksius Jemadu menyatakan pembangunan teknologi tidak berlangsung dalam ruangan yang kosong, tetapi sangat ditentukan oleh struktur ekonomi politik global; networks, configurations, atau webs – pengaturan kompleks yang berfungsi sebagai landasan ekonomi politik internasional.
Setiap struktur berisi sejumlah lembaga negara dan non-negara, organisasi, dan aktor lain yang menentukan aturan dan proses yang mengatur akses terhadap perdagangan, keuangan, pengetahuan dan keamanan. Struktur ekonomi politik global menentukan the rules of the game.
Menurut Didin, setiap struktur menghasilkan kompetisi dan ketegangan karena ketergantungan teknologi biayanya mahal dan pertanda kelemahan dan kerentanan (vulnerability). The Global North tidak akan memberikan teknologinya kepada The Global South.
"Kemajuan teknologi harus dibangun dari dalam negeri. Berharap pada generosity negara maju hanyalah ilusi," tegas Didin.
Lebih lanjut Aleksius mengatakan, buku ini telah menawarkan eksplanasi tentang hakekat pembangunan teknologi di negara berkembang dari perspektif ekonomi politik. Pengalaman industri pesawat terbang di Indonesia menunjukkan resiko kegagalan atau kemandekan terjadi bila teknologi disubordinasikan kepada kepentingan politik para elit pemimpin.
Selain itu, pembangunan teknologi perlu dipahami dalam konteks struktur ekonomi politik global khususnya yang berkaitan dengan struktur produksi dan perdagangan serta struktur pengetahuan dan teknologi.
Irma Indrayani mengatakan, buku yang ia tulis adalah hasil dari disertasi yang dielaborasi menjadi buku agar lebih mudah dibaca untuk khalayak luas. “Jadi pada dasarnya saya ingin memberi suatu wawasan bahwa dalam berbangsa dan bernegara, dalam membuat kebijakan, tidak lepas dari pengaruh dari luar dalam hal ini: asing. Sebagai suatu bangsa harus mampu melihat positioning kita agar nantinya dapat bernegosiasi atau berdiplomasi terhadap apa yang ingin kita capai dalam menghadapi tekanan-tekanan dari luar,” kata Irma.
Ia berharap, dengan lahirnya buku ini adanya kesadaran dan pemahaman mengenai politik global dan pengaruhnya terhadap politik nasional. “Dengan begitu kita bisa mengambil atau membuat kebijakan yang berpihak pada bangsa sendiri sehingga dapat memajukan negara kita,” ucapnya.
Buku yang ditulis oleh Dr. Irma Indrayani, M.Si. mengkaji mengenai studi ekonomi politik terkait dengan kebijakan pemerintah Indonesia terhadap industri pesawat terbang nasional periode pasca Orde Baru. Buku ini menganalisis kontestasi para aktor dalam negeri yang memiliki pengaruh dalam kebijakan pengembangan industri pesawat terbang nasional.
Tujuan buku ini, utamanya, adalah untuk menunjukkan bahwa industri pesawat terbang merupakan industri strategis yang melibatkan rancang bangun sarana/prasarana, manufaktur, teknologi, finansial yang tinggi, serta menuntut adanya kerja sama antarnegara, baik secara bilateral maupun multilateral. Kemampuan suatu negara membangun industri pesawat terbang adalah indikator utama kemajuan ilmu pengetahuan dan kekuatan ekonomi negara tersebut.
Negara yang sudah sanggup memproduksi pesawat terbang bisa dipastikan sanggup memproduksi alat lain seperti mobil dan kapal laut. Namun, dalam konteks Indonesia, tidak adanya political will dari pemerintah dalam mengembangkan industri strategis ini, menjadikan industri pesawat terbang nasional menjadi terhenti atau tidak berkembang.
| Baca juga: Perpusnas Gandeng 2 Perpustakaan Rusia, Ini Benefitnya |
(CEU)
Ketua MPR Ungkap Penyakit Masyarakat: Susah Lihat Orang Senang, Senang Lihat Orang Susah
Bamsoet menjelaskan lewat buku ini, Prof. Paiman membuktikan kesuksesan tidak pernah bersifat diskriminatif, atau memihak berdasarkan strata ekonomi. [579] url asal
#mpr #bedah-buku #bambang-soesatyo #penyakit-masyarakat
(MedCom) 05/07/24 11:44
v/9744307/
Jakarta: Ketua MPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengungkapkan penyakit masyarakat yang kerap menghambat kesuksesan seseorang, yakni susah melihat orang senang, senang melihat orang susah. Penyakit ini harus dihindari.Hal tersebut disampaikan Bamsoet saat bedah buku 'Pikiran dan Ide Prof. H. Paiman Raharjo'. Dia menjadi saksi perjalanan kehidupan Prof. Paiman, yang mengawali karier sebagai tukang sapu, kemudian melanjutkan pendidikan hingga lulus S3 di UNPAD, hingga sukses menjabat sebagai Rektor Universitas Moestopo, dan dipercaya sebagai Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi.
Dengan mengutip pemikiran Barbara Tuchman Wertheim, seorang sejarawan dan penulis Amerika Serikat, yang dua kali memenangkan penghargaan Pulitzer, Bamsoet mengungkapkan buku adalah pembawa peradaban. Buku melingkupi segenap aspek kehidupan, dapat menjadi sahabat, pembimbing, transformator, dan rumah tempat bernaung bagi ribuan ide dan gagasan. Buku akan menjadi legasi pemikiran yang tidak akan lekang oleh waktu, yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
"Di dalam buku ini terdapat tulisan inspiratif hasil berbagai pertemuan Prof. Paiman dengan berbagai kalangan, baik di kantor, di jalanan, di angkringan, dan lainnya. Dari obrolan tersebut, Prof. Paiman mengakui siapa pun orangnya, tanpa melihat pangkat dan tingkat pendidikan, mereka juga memiliki pemikiran tersendiri tentang dunia politik, pendidikan, karier, persahabatan, dan sebagainya, yang adakalanya sangat unik. Berbagai pemikiran yang unik-unik itulah yang ada di dalam buku ini," ujar Bamsoet saat membuka bedah buku 'Pikiran dan Ide Prof. Paiman Raharjo' di kantor Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Jakarta, Kamis, 4 Juli 2024.
Bamsoet menjelaskan lewat buku ini, Prof. Paiman membuktikan kesuksesan tidak pernah bersifat diskriminatif, atau memihak berdasarkan strata ekonomi, kelas sosial, atau berbagai label atributif sosial lainnya. Kesuksesan akan menjadi milik siapa saja yang mau bekerja keras, pantang menyerah, serta menyandarkan diri pada nilai-nilai dan norma agama.
"Dari buku ini kita bisa belajar, bahwa hidup itu seperti maraton, yang harus dijalani dan dinikmati setiap prosesnya. Bukan lari sprint yang hanya berorientasi pada perolehan hasil yang serba cepat. Hidup meniscayakan kita untuk melewati proses yang panjang untuk mencapai sebuah kesuksesan. Tidak bisa secara serta merta, apalagi dengan menghalalkan segala cara," jelas Bamsoet.
| Baca Juga: Bamsoet Terima Wejangan Zulhas, Tak Ubah Pilpres Kembali ke MPR |
Ketua Dewan Pembina Depinas SOKSI (Ormas Pendiri Partai Golkar) ini menerangkan dalam konteks ke-Indonesiaan, buku ini mengajak untuk berkontemplasi, jurang kesenjangan sosial-ekonomi masih menjadi realitas sosial yang harus disikapi dengan bijaksana. Persoalan lain yang mengemuka, bahkan dalam kehidupan bermasyarakat yang ada di sekitar, masih sering dijumpai contoh perilaku yang tidak bertanggung jawab, tidak jujur, dan diskriminatif, yang terlanjur dianggap lazim sebagai fenomena sosial.
"Dalam konteks pembangunan di Indonesia, buku ini juga mengajak pembaca untuk menata dan meneguhkan kembali orientasi pembangunan nasional. Misalnya, sebagai negara agraris dan kepulauan, arah pembangunan Indonesia tidak seharusnya hanya cenderung pada pembangunan negara industri saja. Sebutan negara agraris bagi negara yang masih menggantungkan impor hasil pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan, tentunya menjadi suatu paradoks," terang Bamsoet.
Dia menambahkan dalam konteks kehidupan politik di Tanah Air, keteladanan perilaku dari para elite politik masih menjadi persoalan tersendiri. Tidak jarang, syahwat politik dapat membutakan mata hati para elite politik, yang terus merasa haus akan kekuasaan. Sehingga tidak sadar kapan harus menghentikan ambisi politik demi kepentingan yang lebih besar.
"Pesan moral yang dapat kita jadikan cerminan dari buku ini adalah jalan kehidupan tidak selamanya mulus, terkadang kita dihadapkan pada berbagai tantangan yang menghadang. Di sisi lain, kita pun tidak boleh bersikap apatis dan pesimis, karena masih banyak tokoh masyarakat dan tokoh bangsa, yang kisah perjalanan hidupnya dapat kita jadikan inspirasi, seperti kisah Prof. Paiman," ujar Bamsoet.
(AZF)