#30 tag 24jam
Zionis Ribut dengan Sesama Zionis di Internal Israel, Percepat Keruntuhan Israel?
Terjadi perbedaan pendapat yang tajam di internal Israel [475] url asal
#zionis #zionisme #zionis-israel #zionisme-israel #masjid-al-aqsa #kehancuran-israel #keruntuhan-israel #ben-gvir #perang-gaza #jalur-gaza #palestina #tepi-barat #pemukim-tepi-barat
(Republika - Khazanah) 03/09/24 14:00
v/14896192/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, bersumpah pada tanggal 26 Agustus untuk membangun sebuah sinagoge di dalam tempat suci Al-Aqsa, situs suci umat Islam yang dikenal dengan nama Al-Haram Al-Sharif.
Konteks komentarnya adalah “kebencian yang nyata dan mendalam” di antara warga Israel yang diakibatkan oleh upaya Netanyahu dan mitra koalisi pemerintah ekstremisnya untuk melemahkan kekuatan peradilan.
Namun, pertarungan di Mahkamah Agung hanyalah puncak gunung es. Fakta bahwa Israel membutuhkan lima pemilihan umum dalam empat tahun untuk membentuk pemerintahan yang stabil pada Desember 2022 merupakan indikasi konflik politik Israel yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Pemerintah baru mungkin “stabil” dalam hal keseimbangan parlemen, tetapi hal itu mengacaukan negara itu di semua lini, yang mengarah pada protes massal, yang melibatkan kelas militer yang kuat, tetapi semakin terpinggirkan.
Serangan 7 Oktober terjadi pada saat kerentanan sosial dan politik, yang bisa dibilang belum pernah terjadi sebelumnya sejak berdirinya Israel di atas reruntuhan Palestina yang bersejarah pada Mei 1948.
Perang, dan terutama kegagalan untuk mencapai tujuan-tujuannya, memperdalam konflik yang sudah ada. Hal ini menimbulkan peringatan dari para politisi dan militer bahwa negara ini akan runtuh.
Peringatan yang paling jelas datang dari Yitzhak Brik, seorang mantan komandan militer Israel. Ia menulis di Haaretz pada 22 Agustus bahwa “negara ini ... sedang berlari kencang menuju tepi jurang,” dan bahwa negara ini “akan runtuh dalam waktu tidak lebih dari setahun.”
Meskipun Brik, antara lain, menyalahkan kekalahan Netanyahu dalam perang di Gaza, kelas politik anti-Netanyahu percaya bahwa krisis ini terutama terletak pada pemerintah itu sendiri. Solusinya, menurut komentar terbaru yang dibuat oleh Herzog, adalah
Kahanisme merujuk pada Partai Kach dari Rabbi Meir Kahane. Meskipun sekarang dilarang, Kach telah muncul kembali dalam berbagai bentuk, termasuk dalam partai Otzma Yehudit milik Ben-Gvir. Sebagai murid Kahane, Ben-Gvir bertekad untuk mencapai visi sang rabi ekstremis: pembersihan etnis secara menyeluruh terhadap rakyat Palestina.
Ben-Gvir dan rekan-rekannya sepenuhnya menyadari kesempatan bersejarah yang kini tersedia bagi mereka untuk menyulut perang agama yang sangat mereka idam-idamkan. Mereka juga tahu bahwa jika perang di Gaza berakhir tanpa memajukan rencana utama mereka untuk menjajah wilayah-wilayah lain yang diduduki, maka kesempatan itu mungkin tidak akan pernah muncul lagi.
Kesibukan Ben-Gvir yang berhaluan kanan-jauh untuk memenuhi agenda keagamaan Zionis bertentangan dengan bentuk tradisional penjajahan Israel, yang didasarkan pada “genosida bertahap” terhadap warga Palestina dan pembersihan etnis secara perlahan terhadap masyarakat Palestina dari Yerusalem Timur dan Tepi Barat.
BACA JUGA:Protes Keras RS Medistra Soal Jilbab, Siapa Dr Diani? Kakeknya Tokoh Utama Muhammadiyah
Militer Israel percaya bahwa pemukiman ilegal sangat penting, tetapi mereka menganggap koloni-koloni ini dalam bahasa strategis sebagai penyangga “keamanan” bagi Israel.
Pemenang dan pecundang dari perang ideologi dan politik Israel kemungkinan besar akan muncul setelah berakhirnya perang Gaza, yang hasilnya akan menentukan faktor-faktor lain, termasuk masa depan negara Israel, sesuai dengan perkiraan Jenderal Yitzhak Brik sendiri.
Sumber: midleeastmonitor
Ingin Bangun Sinagoge di Masjid Al Aqsa, Israel Banjir Kecaman
Seruan Ben-Gvir pelanggaran terhadap Konvensi Jenewa dan hukum internasional. [303] url asal
#masjid-al-aqsa #sinagoge #sinagoge-di-masjid-al-aqsa #israel #itamar-ben-gvir #yahudi #genosida-gaza #genosida-israel
(Republika - Khazanah) 28/08/24 14:00
v/14802615/
REPUBLIKA.CO.ID, ISTANBUL -- Kecaman mengalir dari seluruh dunia Arab dan Islam menyusul seruan Menteri Keamanan Nasional Israel sayap kanan Itamar Ben-Gvir untuk membangun sinagoge di dalam kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur yang diduduki.
Ben-Gvir mengklaim pada Senin bahwa orang Yahudi memiliki hak berdoa di Masjid Al-Aqsa, dengan mengatakan ia akan membangun sinagoge di lokasi yang menjadi titik api tersebut.
Ini adalah pertama kalinya menteri Israel berbicara secara terbuka tentang pembangunan sinagoge di dalam kompleks masjid. Namun, ia telah berulang kali menyerukan dalam beberapa bulan terakhir untuk mengizinkan orang Yahudi berdoa di lokasi tersebut.
Kementerian Luar Negeri Saudi mengatakan pada Selasa bahwa mereka dengan tegas menolak seruan Ben-Gvir dan provokasi berkelanjutan terhadap sentimen umat Islam di seluruh dunia.
Mereka menekankan perlunya menghormati status historis dan hukum Masjid Al-Aqsa dan memperbarui seruannya kepada masyarakat internasional untuk memikul tanggung jawabnya dan mengakhiri bencana kemanusiaan Palestina.
Ia juga menyerukan pengaktifan mekanisme serius untuk meminta pertanggungjawaban pejabat Israel atas pelanggaran berulang mereka terhadap hukum dan norma internasional.
Palestina mengecam seruan Ben-Gvir sebagai upaya untuk menyeret seluruh wilayah ke dalam perang agama.
Blok pan-Islam tersebut menganggap Israel sepenuhnya bertanggung jawab atas konsekuensi dari pelanggaran berkelanjutan dan serangan sistematis yang memprovokasi sentimen umat Islam di seluruh dunia.
Masjid Al-Aqsa dianggap sebagai situs tersuci ketiga dalam Islam. Orang-orang Yahudi menyebut daerah itu sebagai Temple Mount, yang diyakini sebagai lokasi dua kuil Yahudi kuno.
Israel menduduki Yerusalem Timur, tempat Al-Aqsa berada, selama Perang Arab-Israel tahun 1967. Pada 1980, Israel mencaplok seluruh kota, sebuah tindakan yang tidak pernah diakui oleh masyarakat internasional.
Israel telah menghadapi kecaman internasional atas serangan brutalnya di Jalur Gaza yang telah menewaskan lebih dari 40.400 orang sejak serangan Hamas pada tanggal 7 Oktober, meskipun ada resolusi Dewan Keamanan PBB yang menuntut gencatan senjata segera.
Turki: Seruan Bangun Sinagoge di Masjid Al Aqsa Ancam Stabilitas Global
Turki meminta komunitas internasional dapat mengambil tindakan militer Israel. [168] url asal
#sinagoge-di-masjid-al-aqsa #masjid-al-aqsa #turki #itamar-ben-gvir #genosida-gaza #genosida-israel
(Republika - Khazanah) 28/08/24 14:00
v/14802612/
REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Seruan kepala otoritas keamanan Israel Itamar Ben-Gvir untuk membangun sinagoge di kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem dinilai akan menimbulkan ancaman terhadap stabilitas regional dan global, kata Kementerian Luar Negeri Turki.
"Pernyataan Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, mengenai pembangunan sinagoge di Masjid Al-Aqsa adalah contoh baru dan sangat berbahaya dari upaya Israel untuk mengubah status dan identitas Yerusalem serta tempat suci di Yerusalem," kata Kemenlu Turki melalui sebuah pernyataan pada Selasa (27/8/2024).
Kemenlu Turki menambahkan bahwa serangan yang terus dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina semakin mengancam stabilitas regional dan global setiap harinya.
Ankara meminta komunitas internasional dapat mengambil tindakan untuk bisa menghentikan operasi Israel di Jalur Gaza dan melindungi rakyat Palestina.
Kompleks Masjid Al Aqsa di Bukit Bait Suci, yang juga dikenal umat Islam sebagai Haram al-Sharif, adalah situs tersuci ketiga dalam Islam.
Meski warga Yahudi kini diperbolehkan mengunjungi situs tersebut, tetapi mereka dilarang beribadah di sana karena berpotensi menimbulkan ketegangan antara umat Yahudi dan kaum Muslim.
Ketika Warga Israel Berteriak ke Itamar Ben-Gvir: Anda Teroris, Anda Teroris!
Itamar Ben-Gvir dikritik atas penyerangan di Perbatasan Lebanon [718] url asal
#ben-gvir #menteri-keamanan-israel #israel #perang-gaza #jalur-gaza #palestina #hamas
(Republika - Khazanah) 22/08/24 23:53
v/14525467/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Pada Senin (19/8/2024), sekelompok warga Israel berhadapan dengan Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Itamar Ben-Gvir di sebuah pom bensin dengan menyebutnya sebagai 'teroris' dan menuduhnya 'menghancurkan' negara.
Peristiwa itu terjadi di Israel utara di mana ribuan orang terpaksa mengungsi karena pertempuran dengan Hizbullah Lebanon.
Israel pada Selasa (20/8/2024) mengatakan pasukannya mendeteksi 80 roket yang diluncurkan dari Lebanon menuju permukiman di perbatasan, yang beberapa di antaranya berhasil dicegat dan lainnya menyebabkan kebakaran di dua lokasi terpisah.
Media Israel, Channel 12, melaporkan sekitar 80 roket ditembakkan dari Lebanon sejak Selasa (20/8) pagi. Beberapa roket dicegat, dan sejumlah lainnya mendarat di area terbuka di wilayah Galilea Barat di Israel utara.
Haaretz melaporkan bahwa roket menyebabkan kebakaran di dua lokasi di utara Israel. Petugas pemadam kebakaran berupaya memadamkan api. Sepanjang pagi, menurut surat kabar Israel itu, sirene serangan udara terdengar di beberapa permukiman Israel dekat perbatasan Lebanon.
Sementaran itu, Hizbullah mengatakan melalui pernyataan bahwa pihaknya melancarkan serangkaian serangan pesawat nirawak ke markas besar Brigade Lapis Baja ke-7 Divisi Golan 210 di pangkalan Katzavya. Target serangan itu, kata Hizbullah, adalah para perwira dan tentara Israel yang ditempatkan di pangkalan tersebut.
Namun, militer Israel mengeklaim bahwa pihaknya berhasil mencegat beberapa target (roket dan drone) dan sisanya jatuh di wilayah Dataran Tinggi Golan. Israel tidak memberikan informasi tambahan, termasuk mengenai korban jiwa.
"Setelah sirene berbunyi pada pukul 19.38 di wilayah Shtula, 19.48 di wilayah Shomera dan Fassuta, serta 20.12 di wilayah Mattat, sekitar 40 proyektil teridentifikasi melintas dari Lebanon dan jatuh di wilayah tersebut," menurut pernyataan militer Israel.
Militer Israel mengeklaim telah menargetkan dua bangunan militer Hizbullah di Lebanon selatan.
Mereka juga mengonfirmasi bahwa, sebelumnya pada hari itu, pesawat tempur Israel menargetkan sebuah gedung militer di wilayah Matmoura di Lebanon selatan yang digunakan oleh para operator Hizbullah, serta bangunan militer Hizbullah lainnya di wilayah tersebut.
Hizbullah, kelompok yang bermarkas di Lebanon, dalam pernyataan terpisah mengatakan para pejuangnya menggunakan roket Katyusha untuk menargetkan pangkalan Shomera dan Mattat serta wilayah di sekitarnya, juga artileri berat untuk menyerang lokasi Ramia.
Kekhawatiran akan perang besar-besaran antara Israel dan Hizbullah telah meningkat di tengah serangan lintas batas, terutama setelah pembunuhan komandan senior Hizbullah Fouad Shukr di Beirut pada 30 Juli.
Eskalasi tersebut terjadi di tengah gempuran Israel di Gaza yang telah menewaskan lebih dari 40.170 orang sejak Oktober lalu, menyusul serangan oleh kelompok perjuangan Palestina Hamas.
Sementara itu, Hizbullah Lebanon telah meluncurkan lebih dari 50 roket, menghantam sejumlah rumah pribadi di Dataran Tinggi Golan yang dianeksasi Israel.
Serangan pada Rabu (21/8/2034) itu terjadi sehari setelah Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Antony Blinken bertemu dengan sesama mediator Mesir dan Qatar saat ia terus maju dengan misi diplomatik terbaru untuk mengamankan gencatan senjata dalam perang di Gaza, bahkan ketika Hamas dan Israel mengisyaratkan bahwa tantangan tetap ada.
Dikutip dari laman Telegraph India pada Kamis (22/8/2024), Hamas dalam sebuah pernyataan baru menyebut proposal terbaru yang diajukan kepadanya sebagai "pembalikan" dari apa yang disetujuinya sebelumnya dan menuduh AS menyetujui apa yang disebutnya "persyaratan baru" dari Israel. Tidak ada tanggapan langsung dari AS.
Penanggap pertama di Dataran Tinggi Golan mengatakan mereka merawat seorang pria berusia 30 tahun yang terluka sedang dengan luka pecahan peluru dalam serangan hari Rabu.
Satu rumah dilalap api, dan petugas pemadam kebakaran mengatakan mereka mencegah tragedi yang lebih besar dengan menghentikan kebocoran gas.
Hizbullah mengatakan serangan itu sebagai respons terhadap serangan Israel ke Lebanon pada Selasa malam yang menewaskan satu orang dan melukai 19 orang.
Pada Selasa, Hizbullah meluncurkan lebih dari 200 proyektil ke Israel, setelah Israel menargetkan depot senjata Hizbullah sekitar 80 km dari perbatasan, peningkatan signifikan dalam pertempuran harian.
Israel dan Hizbullah telah saling serang hampir setiap hari selama lebih dari 10 bulan dengan latar belakang perang Israel melawan sekutu Hizbullah yakni Hamas di Gaza, Palestina. Saling serang tersebut telah mewafatkan lebih dari 500 orang di Lebanon, sebagian besar militan tetapi juga termasuk sekitar 100 warga sipil dan non-kombatan dan 23 tentara serta 26 warga sipil di Israel.
Israel merebut Dataran Tinggi Golan dari Suriah dalam perang Timur Tengah 1967 dan kemudian mencaploknya, dengan mengatakan bahwa Israel membutuhkan dataran tinggi yang strategis untuk keamanannya.
Amerika Serikat adalah satu-satunya negara yang mengakui aneksasi Israel, sementara komunitas internasional lainnya menganggap Golan sebagai wilayah Suriah yang diduduki.
Menteri Israel Ingin Ubah Status Quo Masjid Al Aqsa, Uni Eropa Kecam
Uni Eropa menegaskan seruannya agar status quo Al Aqsa dipertahankan. [301] url asal
#itamar-ben-gvir #masjid-al-aqsa #status-quo-masjid-al-aqsa #uni-eropa
(Republika - Khazanah) 14/08/24 15:03
v/14418973/
REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Uni Eropa mengutuk keras pernyataan Menteri Keamanan Israel Itamar Ben-Gvir tentang kemungkinan Israel mengubah posisinya dalam status quo Kompleks Masjid Al Aqsa di Yerusalem, salah satu tempat paling suci bagi umat Islam.
"Uni Eropa mengutuk keras provokasi Menteri Israel Ben-Gvir yang, selama kunjungannya ke Tempat Suci itu, menganjurkan pelanggaran status quo," kata kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Josep Borrell di X pada Selasa (13/8/2024).
Dia mengatakan Uni Eropa menegaskan kembali seruannya agar status quo Al Aqsa terus dipertahankan, termasuk untuk menghormati peran khusus Yordania di situs itu.
Berdasarkan perjanjian perdamaian Israel-Yordania pada 1994, Yordania bertanggung jawab atas administrasi sehari-hari serta pengaturan kunjungan dan ibadah di Masjid Al-Aqsa, dengan pengawasan dan kehadiran pasukan keamanan Israel di sana.
Pernyataan Borell itu muncul sebagai respons atas pernyataan Ben-Gvir dalam sebuah video. Ben-Gvir, yang dalam video itu berpose dengan latar belakang Masjid Al Aqsa, mengatakan Israel akan mengizinkan orang-orang Yahudi untuk beribadah di sana meski hal itu melanggar perjanjian.
Namun, kantor otoritas kepala pemerintahan Israel Benjamin Netanyahu membantah pernyataan Ben-Gvir tersebut.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Mesir mengatakan pada Selasa bahwa penyerbuan oleh para pejabat Israel ke Kompleks Masjid Al Aqsa melanggar hukum internasional dan merusak status hukum Yerusalem.
Kunjungan-kunjungan pejabat Israel ke Al Aqsa sebelumnya telah menuai kemarahan warga Palestina dan kecaman negara-negara Arab. Masjid Al Aqsa yang terletak di kawasan Kota Tua Yerusalem dianggap sebagai situs tersuci ketiga bagi umat Islam. Menurut perjanjian 1967, orang-orang non-Muslim diperbolehkan mengunjungi kompleks itu sebagai wisatawan tetapi mereka dilarang beribadah.
Ben-Gvir, seorang ekstremis sayap kanan, kerap berkunjung ke Al Aqsa. Dia telah berulang kali mendorong orang-orang Yahudi untuk beribadah di sana. Dia menyatakan telah memberi izin untuk melakukan hal itu sebagai wakil dari pemimpin negara.
Cari Gara-Gara, Menteri Israel dan Ribuan Yahudi Beribadah di Masjid Al-Aqsa
Menteri israel Itamar Ben Gvir dinilai memperburuk keadaan dengan beribadah bersama ribuan Yahudi di kompleks Masjid Al-Aqsa. [429] url asal
#israel #kompleks-masjid-al-aqsa #menteri-israel-itamar-ben-gvir #palestina #hamas #jalur-gaza
(MedCom - Internasional) 14/08/24 13:27
v/14409154/
Yerusalem: Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir menuai kecaman internasional usai beribadah bersama ribuan Yahudi di kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem timur yang dianeksas pada Selasa kemarini. Aksi ini dilakukan dalam memprotes pembatasan terhadap orang Yahudi untuk berdoa dan beribadah di kompleks tersebut.
Dalam kunjungannya, Ben-Gvir sempat melontarkan sumpah untuk "mengalahkan Hamas" di Jalur Gaza.
Kompleks Al-Aqsa merupakan situs tersuci ketiga bagi umat Islam dan simbol identitas nasional Palestina, tetapi juga merupakan tempat tersuci bagi agama Yahudi, yang dihormati sebagai situs kuil kuno yang dihancurkan oleh bangsa Romawi pada tahun 70 M.
Meski orang Yahudi dan non-Muslim lainnya diizinkan untuk mengunjungi kompleks masjid di Yerusalem timur yang dianeksasi Israel di jam-jam tertentu, mereka tidak diizinkan beribadah atau menunjukkan simbol-simbol keagamaan.
Mengutip dari Euractiv, Rabu, 14 Agustus 2024, kunjungan kontroversial Ben Gvir tersebut dilakukan di tengah ketegangan selama perang 10 bulan Israel-Hamas, dengan upaya gencatan senjata yang gagal dan Israel bersiap menghadapi ancaman serangan dari Iran dan proksinya.
Baca juga: Gencatan Senjata Gaza Cegah Serangan Iran ke Israel
Kunjungan terakhir Ben Gvir menuai kecaman tajam dari kedua negara Muslim serta kekuatan Barat, termasuk Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Pengabaian Mencolok
Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan Ben-Gvir menunjukkan "pengabaian yang mencolok" terhadap status quo di lokasi tersebut dan mendesak Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk mencegah tindakan seperti itu.
"Tindakan provokatif ini hanya memperburuk ketegangan di saat yang krusial ketika semua fokus seharusnya tertuju pada upaya diplomatik yang sedang berlangsung untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata (Gaza) dan mengamankan pembebasan semua sandera serta menciptakan kondisi untuk stabilitas regional yang lebih luas," katanya.
Beberapa hari sebelumnya Gedung Putih menggunakan bahasa yang keras untuk memanggil anggota kabinet Netanyahu dari sayap kanan lainnya, Menteri Keuangan Bezalel Smotrich, yang mengkritik dorongan Presiden Joe Biden untuk gencatan senjata Gaza.
Dalam beberapa tahun terakhir, pembatasan di kompleks Masjid Al-Aqsa semakin dilanggar oleh para nasionalis garis keras seperti Ben Gvir, yang terkadang memicu reaksi keras dari warga Palestina.
Pada Selasa pagi, ia dan sekitar 2.250 warga Israel lainnya berjalan melalui kompleks Al-Aqsa secara berkelompok, menyanyikan himne Yahudi, di bawah perlindungan polisi Israel, kata seorang pejabat dari Waqf, badan Yordania yang menjadi penjaga situs tersebut, kepada AFP.
Polisi Israel juga "memberlakukan pembatasan" pada jamaah Muslim yang mencoba memasuki masjid, katanya, seraya menambahkan bahwa lebih dari 700 orang Yahudi juga beribadah di sana pada sore hari.
"Menteri Ben Gvir, alih-alih mempertahankan status quo di masjid, justru malah mengawasi operasi Yahudisasi dan mencoba mengubah situasi di dalam Masjid Al-Aqsa," kata seorang pejabat anonim.
(WIL)
Yahudi Ekstrem Serbu Masjid Suci al-Aqsha, Begini Kata Pemerintah Amerika Serikat
Yahudi ekstrem membahayakan keberlangsungan Masjid al-Aqsha. [410] url asal
#masjid-al-aqsha #yerusalem #itamar-ben-gvir #palestina #gaza #israel #tel-aviv #netanyahu #amerika-serikat #operasi-badai-al-aqsa #thufan-al-aqsa #two-state-solution-israel-dan-palestina #solusi-dua-n
(Republika - Khazanah) 14/08/24 07:52
v/14397154/
REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Penyerbuan terhadap kompleks Masjid Al Aqsa di Yerusalem Timur oleh ratusan warga Israel radikal adalah "tidak dapat diterima," kata Departemen Luar Negeri AS pada Selasa (13/8/2024).
"Biarkan saya mengatakan dengan jelas bahwa Amerika Serikat dengan tegas mendukung pelestarian status quo historis terkait situs-situs suci di Yerusalem," kata Wakil Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS Vedant Patel kepada wartawan.
"Tindakan sepihak seperti ini yang membahayakan status quo tersebut adalah tidak dapat diterima," katanya.
Pernyataan itu disampaikan setelah pemukim ilegal Israel serta Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Itamar Ben-Gvir, menteri dari partai Otzma Yehudit Yitzhak Wasserlauf dan anggota Knesset dari Partai Likud Amit Halevi menyerbu kompleks Masjid Al Aqsa untuk memperingati Tisha B'Av, hari puasa tahunan Yahudi yang menandai terjadinya beberapa bencana dalam sejarah Yahudi.
"Dan tidak hanya itu yang tidak dapat diterima, tetapi juga mengalihkan perhatian dari apa yang kami anggap sebagai waktu yang krusial saat kami bekerja untuk menyelesaikan kesepakatan gencatan senjata ini," katanya.
"(Tindakan) Itu mengalihkan perhatian dari tujuan yang telah kami nyatakan untuk wilayah tersebut, yaitu solusi dua negara, negara Palestina dan negara Israel yang berdampingan, hidup dengan martabat dan harmoni," kata Patel.
Caplok Masjidl al-Aqsha
Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri dan Ekspatriat Palestina mengatakan bahwa penyerbuan Masjid al-Aqsa oleh ekstremis di Yahudi bawah perlindungan polisi pendudukan Israel merupakan penargetan terhadap Yerusalem dan tempat-tempat suci umat Kristiani dan Islam. Hal itu juga dinilai sebagai persiapan untuk penerapan pendudukan menyeluruh terhadap Kompleks Masjid al-Aqsa.
Israel diyakini hendak menegakkan kendali terhadap tanah suci umat Islam itu dan melakukan Yahudisasi terhadapnya. Hal tersebut merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional dan resolusi legitimasi internasional, termasuk resolusi UNESCO.
Lihat halaman berikutnya >>>
Kantor berita WAFA melansir, Kementerian tersebut menyerukan dalam sebuah pernyataan kepada komunitas internasional untuk memikul tanggung jawab hukum dan moral terhadap penderitaan rakyat Palestina pada umumnya dan Yerusalem serta kesuciannya pada khususnya. Wilayah tersebut, ditekankan, merupakan bagian integral dari wilayah Palestina yang diduduki sejak 1967.
Serbuan kelompok Yahudi ekstrem semakin lengkap dengan dihadiri Menteri Keamanan Nasional Ben-Gvir mengunjung Kompleks Masjid Al-Aqsha yang disebutnya sebagai Temple Mount. Kunjungan dilakukan setelah anggota Knesset (MK) mengatakan bahwa orang Yahudi berhak untuk berdoa di situs tersebut. Demikian dilaporkan media Israel pada, Selasa.
KAN menyebut Ben-Gvir didampingi oleh Menteri Pembangunan Negev dan Galilea serta Menteri Ketahanan Nasional Yitzhak Wasserlauf, anggota MK Likud Amit Halevi, dan kepala Administrasi Temple Mount, Rabbi Shimshon Elboim. Sekitar 1.500 orang Yahudi naik ke situs tersebut pada Selasa pagi.
Menteri Israel Ben Gvir Kembali Provokasi Penyerbuan Al-Aqsa
Pemukim Yahudi berulang kali menerobos Masjid al-Aqsa Belakangan. [1,013] url asal
#aqsa #masjid-al-aqsa #ben-gvir #provokasi-israel-di-al-aqsa #masjid-al-aqsa #operasi-badai-al-aqsa
(Republika - News) 24/07/24 18:40
v/11954348/
REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV – Menteri Keamanan Dalam Negeri Israel Itamar Ben-Gvir mengeluarkan pernyataan provokatif yang membolehkan orang-orang Yahudi diizinkan untuk beribadah di Masjid Al-Aqsa. Pernyataan ini bertentangan dengan kebijakan yang telah berlangsung selama beberapa dekade dan berpotensi menyulut Muslim sedunia.
“Saya berada di eselon politik, dan eselon politik mengizinkan orang Yahudi berdoa di Bukit Bait Suci,” katanya dalam pidato di sebuah konvensi yang mendorong kunjungan orang Yahudi ke tempat suci tersebut dilansir Aljazirah.
Pada Kamis pekan lalu, Ben-Gvir menyerbu halaman Masjid Al-Aqsa di bawah perlindungan polisi pendudukan. Kantor berita WAFA melaporkan bahwa Ben-Gvir menyerbu Masjid Al-Aqsa dari Gerbang al-Maghrabi, dan berkeliaran di sekitar alun-alun timur, ditemani oleh sejumlah besar petugas polisi pendudukan.
WAFA mengindikasikan bahwa pendudukan mencegah jamaah memasuki Masjid Al-Aqsa, bertepatan dengan penggerebekan Masjid Suci oleh Ben-Gvir. Ini adalah serangan ketiga Ben-Gvir terhadap Masjid Al-Aqsa dalam waktu kurang dari setahun.
Ia juga berulang kali menerobos masuk ke al-Aqsa sejak menjabat sebagai menteri pada 2022. Provokasi berulangnya jadi salah satu alasan dibalik serangan pejuang Palestina ke Israel pada 7 Oktober 2023 lalu.
Terletak di Yerusalem Timur yang diduduki, Masjid Al-Aqsa, yang dikenal oleh orang Yahudi sebagai Temple Mount, adalah titik konflik yang berulang dalam konflik Israel-Palestina.
Sejak 1967, Badan Wakaf yang ditunjuk Yordania mengelola situs tersebut, sementara Israel memiliki kontrol “keamanan”. Berdasarkan perjanjian tersebut, hanya umat Islam yang diperbolehkan shalat di sana, dan kunjungan non-Muslim hanya diperbolehkan pada waktu-waktu tertentu.
Namun, seperti yang dikatakan oleh analis International Crisis Group Mairav Zonszein, semakin banyak pengunjung Yahudi yang berdoa di sana “yang bertentangan langsung” dengan perjanjian status quo. “Mengumumkan perubahan tersebut sekarang adalah upaya langsung untuk memicu kekerasan dan bentrokan di Yerusalem dan dunia Muslim,” kata Zonszein.
Selain itu, beribadah di Masjid al-Aqsa juga sedianya terlarang bagi umat Yahudi jika merujuk hukum agama mereka. Mereka hanya boleh memasuki wilayah itu jika bangsa Yahudi telah “disucikan” dengan abu dari sapi merah yang dikorbankan. Sapi tersebut hingga saat ini belum ditemukan. Rencana pengorbanan sapi merah yang direkayasa secara genetik beberapa waktu lalu tak kunjung dijalankan.
Pekan lalu, Ben-Gvir mengunjungi lokasi tersebut dalam apa yang oleh para kritikus disebut sebagai provokasi berbahaya yang bertujuan menggagalkan perundingan yang sudah rapuh mengenai kembalinya para tawanan yang ditahan di Gaza.
Sementara polisi Israel masih menolak orang Yahudi diperbolehkan shalat di Masjid Al-Aqsa. “Kami tidak mengizinkan doa [Yahudi] di Bukit Bait Suci,” kata Eyal Avraham, komandan unit tempat suci polisi Israel, dalam sebuah video di situs berita Walla. Komentar Avraham muncul setelah menteri sayap kanan Itamar Ben-Gvir mengatakan orang-orang Yahudi diizinkan untuk berdoa di situs tersebut.
Namun, pada Senin lalu pemukim ilegal Yahudi di bawah perlindungan polisi Israel menerobos masuk ke kompleks Masjid Al-Aqsa. Saksi mata mengatakan puluhan pemukim memasuki situs suci tersebut secara berkelompok, melakukan tur provokatif ke seluruh kompleks, dan melakukan ritual Talmud.
Selama penyerangan tersebut, polisi Israel memberlakukan pembatasan masuknya jamaah Palestina ke masjid. Selain itu, polisi Israel memperketat pembatasan di gerbang Kota Tua, yang secara efektif mengubah daerah tersebut menjadi zona militer.
Sebelumnya, pihak Israel menggembar-gemborkan bahwa serangan Hamas pada 7 Oktober adalah serangan mendadak tanpa provokasi dari pihak mereka. Republika menelusuri pemberitaan terkait Israel sejak awal tahun dan mendapatkan gambaran yang sangat berbeda dari klaim itu. Sebelum Operasi Badai Al-Aqsa, kelangsungan keberadaan Palestina benar-benar terancam.
Sejak tahun lalu, para pejabat sayap kanan Israel tak henti melakukan provokasi-provokasi terhadap warga Palestina. Tepat di awal tahun ini, menteri kabinet Israel Itamar Ben-Gvir mengunjungi Kompleks Masjid al-Aqsa.
Tokoh ultranasionalis itu memasuki situs yang dikenal oleh orang Yahudi sebagai Temple Mount dan bagi Muslim sebagai area Masjid al-Aqsa diapit oleh kontingen besar petugas polisi. Situs tersebut sering menjadi tempat bentrokan antara pengunjuk rasa Palestina dan pasukan keamanan Israel, terakhir pada bulan April tahun lalu.
Ben-Gvir telah lama menyerukan akses Yahudi yang lebih besar ke situs suci. Bagi warga Palestina, tindakan itu sebagai upaya provokatif dan sebagai pendahulu bagi Israel untuk mengambil kendali penuh atas kompleks tersebut.
Aksi-aksi kaum ekstremis Yahudi dari Israel kian menjadi-jadi selama Ramadhan tahun ini. Selain penyerangan-penyerangan oleh pemukim ilegal yang terus terjadi, gangguan dan provokasi di Masjid al-Aqsa juga terus dilakukan.
Gerakan ekstremis Temple Mount meminta para pengikutnya, pada Selasa (4/4/2023) malam untuk berkumpul di pintu masuk kompleks Masjid al-Aqsa pada malam hari raya Paskah Yahudi, yang akan berlangsung pada 5 April.
Para pendukung diminta untuk membawa hewan untuk disembelih di dalam kompleks al-Aqsa, situs tersuci ketiga dalam Islam dan area di mana doa dan ritual non-Muslim dilarang berdasarkan kesepakatan lama. Penyembelihan hewan kurban ini signifikan karena para ekstremis meyahini ia adalah awal pembangunan kembali kuil Sulaiman yang berarti penghancuran masjid-masjid di Kompleks al-Aqsa.
Polisi Israel kemudian menembak mati seorang warga Palestina di pintu masuk menuju Masjid al-Aqsa, Sabtu (1/4/2023). Saksi mata warga Palestina menuturkan, pada Sabtu pagi bahwa polisi menembak pria itu setidaknya 10 kali.
Pasukan Israel kembali menyerang Masjid al-Aqsa pada Rabu (5/4) malam, tak sampai 24 jam setelah serangan pertama pada dini hari. Kali ini, serangan dilakukan saat jamaah masih melaksanakan shalat Tarawih.
WAFA melaporkan, puluhan polisi Israel bersenjata berat menerobos masuk ke ruang shalat Masjid al-Qibli di kompleks al-Aqsa, sementara hampir 20 ribu jamaah masih melakukan shalat Tarawih.
Polisi secara brutal menyerang jemaah Palestina, memukuli mereka dengan pentungan dan menargetkan mereka dengan granat kejut, tabung gas air mata, dan peluru baja berlapis karet. Hal itu sebagai cara untuk mengusir mereka secara paksa dari tempat suci umat Islam.
Pasukan pendudukan Israel kemudian menyerbu Mushala Bab al-Rahma (Gerbang Rahmat) di Kompleks Masjid al-Aqsa, Senin (24/4/2023). Mereka juga dilaporkan menyita banyak isi di dalamnya.
Penyerbuan-penyerbuan ke Masjid Al-Aqsa ini terus berlangsung sepanjang tahun. Ekstremis Yahudi semakin intensif menyerbu Al-Aqsa saat mereka merayakan hari raya Sukkot, yang berlanjut hingga awal Oktober. Mereka dilaporkan mengadakan ritual keagamaan sebagai persiapan pembangunan Kuil Sulaiman. Seribu lebih esktremis Yahudi itu melakukan penerobosan ke Masjid al-Aqsa hingga dua hari menjelang Badai al-Aqsa.
Menteri Israel Itamar ben Gvir Kembali Terobos Al-Aqsa, Dunia Mengacam
Ini adalah kesekiankalinya Ben Gvir melakukan provokasi serupa. [701] url asal
#ben-gvir #al-aqsa #masjid-al-aqsa #penjajahan-israe #provokasi-israel #ben-gvir-serbu-al-aqsa
(Republika - News) 19/07/24 05:25
v/11274477/
REPUBLIKA.CO.ID, YERUSALEM – Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Israel Itamar Ben-Gvir kembali melakukan provokasi dengan memasuki halaman Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur yang diduduki. Sejumlah negara mengecam tindakan itu serta tindakan parlemen Israel menolak pendirian negara Palestina.
Kantor berita WAFA melansir, Ben-Gvir, didampingi sejumlah besar petugas polisi Israel, berkeliling halaman timur Al-Aqsa, yang merupakan situs tersuci ketiga dalam Islam. Menteri juga memasuki masjid pada 21 Mei tahun lalu dan menyatakan bahwa Israel “berkuasa” atas lokasi tersebut.
“Saya senang bisa mendaki Temple Mount, tempat terpenting bagi umat Israel,” kata Ben-Gvir selama kunjungannya pada 2023 ke Al-Aqsa, yang juga dikenal sebagai Temple Mount oleh orang Yahudi.
Berdasarkan pengaturan status quo, non-Muslim boleh mengunjungi situs di Kota Tua Yerusalem, namun tidak diperbolehkan untuk beribadah. Namun, pengunjung Yahudi semakin menentang larangan tersebut, sesuatu yang dianggap sebagai provokasi oleh warga Palestina, karena khawatir Israel bermaksud mengambil alih situs tersebut.
Qatar telah mengecam “dalam istilah yang paling keras” atas “penyerbuan Masjid Al Aqsa dan persetujuan Knesset terhadap rancangan undang-undang yang menolak pembentukan negara Palestina” yang dilakukan oleh Menteri Keamanan Nasional Israel. Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Luar Negeri Qatar memperingatkan konsekuensi dari “kebijakan eskalasi” Israel di wilayah pendudukan Palestina, yang mencakup perluasan “siklus kekerasan regional dan melemahnya upaya untuk mencapai solusi dua negara” terhadap konflik.
Mereka juga mengatakan bahwa upaya berulang kali untuk mengubah “status quo agama dan sejarah Masjid al Aqsa bukan hanya serangan terhadap warga Palestina, tetapi juga terhadap dua miliar Muslim di seluruh dunia”.
Kementerian Luar Negeri Prancis juga mengecam resolusi parlemen Israel yang menolak pembentukan negara Palestina dengan alasan bahwa hal itu akan menimbulkan “bahaya eksistensial” bagi negara tersebut. “Kami menyatakan kekecewaan kami atas diadopsinya sebuah resolusi oleh Knesset kemarin yang menolak prospek pembentukan negara Palestina, bertentangan dengan resolusi yang diadopsi oleh Dewan Keamanan PBB,” kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan, menggunakan istilah Ibrani untuk parlemen Israel.
Mereka juga mengutuk kunjungan provokatif Menteri Keamanan Itamar Ben-Gvir ke kompleks Masjid Al-Aqsa. “Tindakan tidak bertanggung jawab ini mengancam akan semakin mengganggu stabilitas kawasan,” katanya. Kementerian tersebut menegaskan kembali “kebutuhan mendesak” untuk berupaya mencapai solusi dua negara dan pembentukan negara Palestina “yang hidup berdampingan dalam perdamaian dan keamanan”.
Kementerian Luar Negeri Turki dalam pernyataannya mengutuk “provokasi” yang dilakukan Menteri Keamanan Itamar Ben-Gvir di kompleks Masjid Al-Aqsa. “Israel harus menghentikan tindakan seperti itu, yang akan semakin meningkatkan ketegangan di kawasan,” katanya.
Mereka menambahkan bahwa resolusi parlemen Israel yang menolak hak atas negara Palestina adalah “batal demi hukum” dan hanya menunjukkan ketidakpedulian Israel terhadap hukum dan perjanjian internasional. “Pembentukan Negara Palestina yang merdeka, berdaulat, dan berkesinambungan secara geografis berdasarkan perbatasan tahun 1967, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya, merupakan persyaratan hukum internasional.”
Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Israel Itamar Ben-Gvir saat ini merupakan salah satu menteri kabinet Benjamin Netanyahu yang paling lantang menyuarakan penjajahan Palestina. Ia sejak muda merupaka seorang radikal sayap kanan.
Aljazirah melaporkan, ia seorang pemukim di Kiryat Arba – salah satu pemukiman paling radikal di Tepi Barat yang diduduki, yang semuanya ilegal menurut hukum internasional.
Ben-Gvir pernah dihukum karena menghasut rasisme, menghancurkan properti, memiliki materi propaganda organisasi “teror”. Ia juga mendukung organisasi teror kelompok Kach terlarang milik Meir Kahane, yang ia ikuti ketika ia berusia 16 tahun.
Pada 1995, ia terekam mengancam Perdana Menteri Yitzhak Rabin selepas aksi unjuk rasa menolak Perjanjian Oslo. Sebulan setelah ancaman itu, Yitzhak Rabin meninggal ditembak seorang ekstremis sayap kanan Israrel.
Sejak menjabat sebagai menteri pada 2022, ia berulang kali melakukan penerobosan dan provokasi dengan merangsek Masjid al-Aqsa. Tindakannya memicu aksi serupa dari kelompok sayap kanan. Kerap kali, dalam jumlah puluhan sampai ratusan, mereka merangsek ke Masjid al-Aqsa ditemani aparat keamanan Israel.
Aksi-aksi itu dinilai sebagai upaya penguasaan Kompleks Masjid al-Aqsa yang akan berujung pada penghancuran bangunan-bangunan bersejarah Muslim di lokasi itu seperti Kubah Batu yang menandai lokasi miraj Rasulullah SAW. Aksi-aksi provokasi di Masjid al-Aqsa itu juga jadi salah satu alasan para pejuang Palestina di Gaza melancarkan operasi Topan al-Aqsa pada 7 Oktober 2023 lalu.
Belakangan, Ben-Gvir getol menolak gencatan senjata, bahkan setelah genosida Israel di Gaza menewaskan lebih dari 38 ribu jiwa. Ia mengancam akan membubarkan kabinet dan menjatuhkan pemerintahan Netanyahu bila kesepakatan gencatan senjata tercapai.
Menteri Israel Itamar Ben-Gvir Kembali Terobos Al-Aqsa, Dunia Mengecam
Ini adalah kesekiankalinya Ben Gvir melakukan provokasi serupa. [701] url asal
#ben-gvir #al-aqsa #masjid-al-aqsa #penjajahan-israe #provokasi-israel #ben-gvir-serbu-al-aqsa
(Republika - News) 19/07/24 05:25
v/11269378/
REPUBLIKA.CO.ID, YERUSALEM – Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Israel Itamar Ben-Gvir kembali melakukan provokasi dengan memasuki halaman Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur yang diduduki. Sejumlah negara mengecam tindakan itu serta tindakan parlemen Israel menolak pendirian negara Palestina.
Kantor berita WAFA melansir, Ben-Gvir, didampingi sejumlah besar petugas polisi Israel, berkeliling halaman timur Al-Aqsa, yang merupakan situs tersuci ketiga dalam Islam. Menteri juga memasuki masjid pada 21 Mei tahun lalu dan menyatakan bahwa Israel “berkuasa” atas lokasi tersebut.
“Saya senang bisa mendaki Temple Mount, tempat terpenting bagi umat Israel,” kata Ben-Gvir selama kunjungannya pada 2023 ke Al-Aqsa, yang juga dikenal sebagai Temple Mount oleh orang Yahudi.
Berdasarkan pengaturan status quo, non-Muslim boleh mengunjungi situs di Kota Tua Yerusalem, namun tidak diperbolehkan untuk beribadah. Namun, pengunjung Yahudi semakin menentang larangan tersebut, sesuatu yang dianggap sebagai provokasi oleh warga Palestina, karena khawatir Israel bermaksud mengambil alih situs tersebut.
Qatar telah mengecam “dalam istilah yang paling keras” atas “penyerbuan Masjid Al Aqsa dan persetujuan Knesset terhadap rancangan undang-undang yang menolak pembentukan negara Palestina” yang dilakukan oleh Menteri Keamanan Nasional Israel. Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Luar Negeri Qatar memperingatkan konsekuensi dari “kebijakan eskalasi” Israel di wilayah pendudukan Palestina, yang mencakup perluasan “siklus kekerasan regional dan melemahnya upaya untuk mencapai solusi dua negara” terhadap konflik.
Mereka juga mengatakan bahwa upaya berulang kali untuk mengubah “status quo agama dan sejarah Masjid al Aqsa bukan hanya serangan terhadap warga Palestina, tetapi juga terhadap dua miliar Muslim di seluruh dunia”.
Kementerian Luar Negeri Prancis juga mengecam resolusi parlemen Israel yang menolak pembentukan negara Palestina dengan alasan bahwa hal itu akan menimbulkan “bahaya eksistensial” bagi negara tersebut. “Kami menyatakan kekecewaan kami atas diadopsinya sebuah resolusi oleh Knesset kemarin yang menolak prospek pembentukan negara Palestina, bertentangan dengan resolusi yang diadopsi oleh Dewan Keamanan PBB,” kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan, menggunakan istilah Ibrani untuk parlemen Israel.
Mereka juga mengutuk kunjungan provokatif Menteri Keamanan Itamar Ben-Gvir ke kompleks Masjid Al-Aqsa. “Tindakan tidak bertanggung jawab ini mengancam akan semakin mengganggu stabilitas kawasan,” katanya. Kementerian tersebut menegaskan kembali “kebutuhan mendesak” untuk berupaya mencapai solusi dua negara dan pembentukan negara Palestina “yang hidup berdampingan dalam perdamaian dan keamanan”.
Kementerian Luar Negeri Turki dalam pernyataannya mengutuk “provokasi” yang dilakukan Menteri Keamanan Itamar Ben-Gvir di kompleks Masjid Al-Aqsa. “Israel harus menghentikan tindakan seperti itu, yang akan semakin meningkatkan ketegangan di kawasan,” katanya.
Mereka menambahkan bahwa resolusi parlemen Israel yang menolak hak atas negara Palestina adalah “batal demi hukum” dan hanya menunjukkan ketidakpedulian Israel terhadap hukum dan perjanjian internasional. “Pembentukan Negara Palestina yang merdeka, berdaulat, dan berkesinambungan secara geografis berdasarkan perbatasan tahun 1967, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya, merupakan persyaratan hukum internasional.”
Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Israel Itamar Ben-Gvir saat ini merupakan salah satu menteri kabinet Benjamin Netanyahu yang paling lantang menyuarakan penjajahan Palestina. Ia sejak muda merupaka seorang radikal sayap kanan.
Aljazirah melaporkan, ia seorang pemukim di Kiryat Arba – salah satu pemukiman paling radikal di Tepi Barat yang diduduki, yang semuanya ilegal menurut hukum internasional.
Ben-Gvir pernah dihukum karena menghasut rasisme, menghancurkan properti, memiliki materi propaganda organisasi “teror”. Ia juga mendukung organisasi teror kelompok Kach terlarang milik Meir Kahane, yang ia ikuti ketika ia berusia 16 tahun.
Pada 1995, ia terekam mengancam Perdana Menteri Yitzhak Rabin selepas aksi unjuk rasa menolak Perjanjian Oslo. Sebulan setelah ancaman itu, Yitzhak Rabin meninggal ditembak seorang ekstremis sayap kanan Israrel.
Sejak menjabat sebagai menteri pada 2022, ia berulang kali melakukan penerobosan dan provokasi dengan merangsek Masjid al-Aqsa. Tindakannya memicu aksi serupa dari kelompok sayap kanan. Kerap kali, dalam jumlah puluhan sampai ratusan, mereka merangsek ke Masjid al-Aqsa ditemani aparat keamanan Israel.
Aksi-aksi itu dinilai sebagai upaya penguasaan Kompleks Masjid al-Aqsa yang akan berujung pada penghancuran bangunan-bangunan bersejarah Muslim di lokasi itu seperti Kubah Batu yang menandai lokasi miraj Rasulullah SAW. Aksi-aksi provokasi di Masjid al-Aqsa itu juga jadi salah satu alasan para pejuang Palestina di Gaza melancarkan operasi Topan al-Aqsa pada 7 Oktober 2023 lalu.
Belakangan, Ben-Gvir getol menolak gencatan senjata, bahkan setelah genosida Israel di Gaza menewaskan lebih dari 38 ribu jiwa. Ia mengancam akan membubarkan kabinet dan menjatuhkan pemerintahan Netanyahu bila kesepakatan gencatan senjata tercapai.
Menteri Israel Itamar Ben-Gvir Kembali Terobos Al-Aqsa, Dunia Mengacam
Ini adalah kesekiankalinya Ben Gvir melakukan provokasi serupa. [701] url asal
#ben-gvir #al-aqsa #masjid-al-aqsa #penjajahan-israe #provokasi-israel #ben-gvir-serbu-al-aqsa
(Republika - News) 19/07/24 05:25
v/11264183/
REPUBLIKA.CO.ID, YERUSALEM – Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Israel Itamar Ben-Gvir kembali melakukan provokasi dengan memasuki halaman Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur yang diduduki. Sejumlah negara mengecam tindakan itu serta tindakan parlemen Israel menolak pendirian negara Palestina.
Kantor berita WAFA melansir, Ben-Gvir, didampingi sejumlah besar petugas polisi Israel, berkeliling halaman timur Al-Aqsa, yang merupakan situs tersuci ketiga dalam Islam. Menteri juga memasuki masjid pada 21 Mei tahun lalu dan menyatakan bahwa Israel “berkuasa” atas lokasi tersebut.
“Saya senang bisa mendaki Temple Mount, tempat terpenting bagi umat Israel,” kata Ben-Gvir selama kunjungannya pada 2023 ke Al-Aqsa, yang juga dikenal sebagai Temple Mount oleh orang Yahudi.
Berdasarkan pengaturan status quo, non-Muslim boleh mengunjungi situs di Kota Tua Yerusalem, namun tidak diperbolehkan untuk beribadah. Namun, pengunjung Yahudi semakin menentang larangan tersebut, sesuatu yang dianggap sebagai provokasi oleh warga Palestina, karena khawatir Israel bermaksud mengambil alih situs tersebut.
Qatar telah mengecam “dalam istilah yang paling keras” atas “penyerbuan Masjid Al Aqsa dan persetujuan Knesset terhadap rancangan undang-undang yang menolak pembentukan negara Palestina” yang dilakukan oleh Menteri Keamanan Nasional Israel. Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Luar Negeri Qatar memperingatkan konsekuensi dari “kebijakan eskalasi” Israel di wilayah pendudukan Palestina, yang mencakup perluasan “siklus kekerasan regional dan melemahnya upaya untuk mencapai solusi dua negara” terhadap konflik.
Mereka juga mengatakan bahwa upaya berulang kali untuk mengubah “status quo agama dan sejarah Masjid al Aqsa bukan hanya serangan terhadap warga Palestina, tetapi juga terhadap dua miliar Muslim di seluruh dunia”.
Kementerian Luar Negeri Prancis juga mengecam resolusi parlemen Israel yang menolak pembentukan negara Palestina dengan alasan bahwa hal itu akan menimbulkan “bahaya eksistensial” bagi negara tersebut. “Kami menyatakan kekecewaan kami atas diadopsinya sebuah resolusi oleh Knesset kemarin yang menolak prospek pembentukan negara Palestina, bertentangan dengan resolusi yang diadopsi oleh Dewan Keamanan PBB,” kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan, menggunakan istilah Ibrani untuk parlemen Israel.
Mereka juga mengutuk kunjungan provokatif Menteri Keamanan Itamar Ben-Gvir ke kompleks Masjid Al-Aqsa. “Tindakan tidak bertanggung jawab ini mengancam akan semakin mengganggu stabilitas kawasan,” katanya. Kementerian tersebut menegaskan kembali “kebutuhan mendesak” untuk berupaya mencapai solusi dua negara dan pembentukan negara Palestina “yang hidup berdampingan dalam perdamaian dan keamanan”.
Kementerian Luar Negeri Turki dalam pernyataannya mengutuk “provokasi” yang dilakukan Menteri Keamanan Itamar Ben-Gvir di kompleks Masjid Al-Aqsa. “Israel harus menghentikan tindakan seperti itu, yang akan semakin meningkatkan ketegangan di kawasan,” katanya.
Mereka menambahkan bahwa resolusi parlemen Israel yang menolak hak atas negara Palestina adalah “batal demi hukum” dan hanya menunjukkan ketidakpedulian Israel terhadap hukum dan perjanjian internasional. “Pembentukan Negara Palestina yang merdeka, berdaulat, dan berkesinambungan secara geografis berdasarkan perbatasan tahun 1967, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya, merupakan persyaratan hukum internasional.”
Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Israel Itamar Ben-Gvir saat ini merupakan salah satu menteri kabinet Benjamin Netanyahu yang paling lantang menyuarakan penjajahan Palestina. Ia sejak muda merupaka seorang radikal sayap kanan.
Aljazirah melaporkan, ia seorang pemukim di Kiryat Arba – salah satu pemukiman paling radikal di Tepi Barat yang diduduki, yang semuanya ilegal menurut hukum internasional.
Ben-Gvir pernah dihukum karena menghasut rasisme, menghancurkan properti, memiliki materi propaganda organisasi “teror”. Ia juga mendukung organisasi teror kelompok Kach terlarang milik Meir Kahane, yang ia ikuti ketika ia berusia 16 tahun.
Pada 1995, ia terekam mengancam Perdana Menteri Yitzhak Rabin selepas aksi unjuk rasa menolak Perjanjian Oslo. Sebulan setelah ancaman itu, Yitzhak Rabin meninggal ditembak seorang ekstremis sayap kanan Israrel.
Sejak menjabat sebagai menteri pada 2022, ia berulang kali melakukan penerobosan dan provokasi dengan merangsek Masjid al-Aqsa. Tindakannya memicu aksi serupa dari kelompok sayap kanan. Kerap kali, dalam jumlah puluhan sampai ratusan, mereka merangsek ke Masjid al-Aqsa ditemani aparat keamanan Israel.
Aksi-aksi itu dinilai sebagai upaya penguasaan Kompleks Masjid al-Aqsa yang akan berujung pada penghancuran bangunan-bangunan bersejarah Muslim di lokasi itu seperti Kubah Batu yang menandai lokasi miraj Rasulullah SAW. Aksi-aksi provokasi di Masjid al-Aqsa itu juga jadi salah satu alasan para pejuang Palestina di Gaza melancarkan operasi Topan al-Aqsa pada 7 Oktober 2023 lalu.
Belakangan, Ben-Gvir getol menolak gencatan senjata, bahkan setelah genosida Israel di Gaza menewaskan lebih dari 38 ribu jiwa. Ia mengancam akan membubarkan kabinet dan menjatuhkan pemerintahan Netanyahu bila kesepakatan gencatan senjata tercapai.