#30 tag 24jam
Popularitas Bobby Kalah di Sumut, Tapi Potensi Menang Pilgub Lebih Besar, Ini Alasannya
Meski berhadapan dengan pejawat Edy Rahmayadi, menantu Jokowi diyakini menang. [429] url asal
#bobby-nasution #bobby-jokowi #survei-pilkada-sumut #pilkada-sumatera-utara #pilkada-sumut #edy-rahmayadi #survei-elektabilitas-sumut #elektabilitas-cagub-sumut #bobby-lawan-edy-rahmayadi
(Republika - News) 29/07/24 15:22
v/12534274/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat politik dari Universitas Al Azhar Ujang Komarudin menilai peluang menang Bobby Nasution dalam Pemilihan (Pilgub) Sumatra Utara (Sumut) cukup besar. Meski berhadapan dengan pejawat gubernur Edy Rahmayadi, menantu Presiden Joko Widodo atau Jokowi itu diyakini dapat menang.
"Kelihatannya Bobby akan bisa unggul, akan bisa menang. Karena didukung oleh mayoritas partai dan didukung oleh kekuasaan," kata dia kepada Republika, Senin (29/7/2024).
Ujang menyatakan, Bobby saat ini tak hanya didukung oleh kekuasaan pemerintah Presiden Jokowi. Lebih dari itu, presiden terpilih Prabowo Subianto juga memberikan dukungan terhadap Bobby.
Karena itu, menurut dia, langkah Bobby di Pilgub Sumut diperkirakan akan berjalan mulus. Meskipun, Bobby harus melawan pejawat gubernur di Pilgub Sumut.
"Tentu semua tergantung pada warga Sumut, tapi kalau saya analisis, dengan dukungan banyak dari partai dan kekuasaan, itu bisa memuluskan jalan Bobby. Karena biasanya yang didukung kekuasaan, punya kans untuk bisa menang," kata Ujang.
Berdasarkan survei Lembaga Survei Indonesia yang dilakukan pada 1-17 Juli, Bobby memiliki elektabilitas sebesar 34,2 persen dalam simulasi top of mind. Sementara elektabilitas Edy Rahmayadi sebesar 15,1 persen.
Namun, popularitas Bobby masih kalah dibandingkan Edy. Sementara ini, Edy sudah dikenal 90,9 persen warga dan disukai oleh 68,4 persen dari yang mengenal namanya. Sedangkan Bobby dikenal 88,4 persen warga dan disukai oleh 82,2 persen dari yang mengenalnya.
Sebelumnya, Bobby Nasution mengakui adanya peran Presiden Joko Widodo (Jokowi) hingga dirinya bisa maju sebagai bakal calon gubernur (Bacagub) Sumatera Utara di Pilgub 2024. Bobby dikenal sebagai menantu Jokowi setelah menikahi Kahiyang.
Hal itu disampaikan Bobby setelah menerima surat rekomendasi dukungan dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk menjadi bacagub Sumatra Utara di Pilgub 2024. "Ya saya sampaikan partisipasi atau peran dari orang tua pasti ada," kata Bobby kepada awak media di markas DPP PKB pada Kamis (4/7/2024).
Bobby secara khusus menyebut Jokowi berperan mendoakannya selaku orang tua. Bobby meyakini doa punya fungsi penting untuk menjadikannya Bacagub Sumut. "Di dalam hal ini itu peran yang paling besar adalah mendokan. Itu yang saya sampaikan, yang bisa saya pastikan," ujar Bobby.
Selain itu, Bobby angkat bicara mengenai lawan potensialnya di Pilgub Sumut yaitu Edy Rahmayadi yang berstatus pejawat Gubernur Sumut. Bobby merasa siap beradu ide dan gagasan untuk memajukan Sumut.
"Yang kita sampaikan ini adalah bagaimana gagasannya, apa yang mau kita bawa di Sumut. Tinggal kita meyakinkan masyarakat apa yang dari kita ini, dari parpol koalisi, dari calonnya bisa diterima masyarakat, rasional, bisa dijalankan bahwa Sumut ini masyarakatnya lebih sejahtera, lebih maju lagi. Dan ini diterima ya kita optimis untuk bisa menangkan itu," ucap mantan Wali Kota Medan itu.
Respons Kubu Jokowi Soal Tuduhan 'Mertua Effect' ke Bobby Nasution
Faktor Jokowi sebagai mertua dianggap sebagai pemicu banjir dukungan partai politik kepada Bobby Nasution. [721] url asal
#jokowi #bobby-nasution #bobby-jokowi #mertua-effect #presiden-jokowi #joko-widodo #pilkada-sumut
(Bisnis.Com) 15/07/24 06:54
v/10818562/
Bisnis.com, JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) bicara tudingan mertua effect terhadap dukungan politik kepada menantunya, yang juga menjabat Wali Kota Medan, Bobby Nasution di pemilihan gubernur Sumatra Utara (Pilgub Sumut) 2024.
Seperti biasa, Jokowi meminta awak media untuk menanyakan langsung ke partai politik. Namun demikian, menurutnya, hasil survei elektabilitas biasanya menjadi rujukan partai politik (parpol) untuk mendukung sosok calon kepala daerah.
“Tanyakan partai-partai, partai itu pintar-pintar, biasanya yang dilihat elektabilitas,” ujarnya di Lampung Selatan, Kamis pekan lalu.
Lebih lanjut, Kepala Negara pun menegaskan bahwa sosok yang dibidik parpol biasanya memiliki tingkat popularitas yang baik. Sehingga selalu ada pertimbangan dalam mengusung tokoh.
“Partai [biasanya] yang dilihat biasanya elektabilitas, jangan dipikir itu partai [tidak menimbang] partai itu pintar-pintar apalagi ketuanya,” tegas Jokowi.
Senada dengan Jokowi, Staf Khusus (Stafsus) Presiden Grace Natalie membantah ada cawe-cawe Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam menggalang dukungan terhadap Wali Kota Medan, Bobby Nasution di pemilihan gubernur Sumatra Utara (Pilgub Sumut) 2024.
Menurutnya, setiap partai politik (parpol) memiliki kajian yang matang untuk mengusung seorang tokoh. Salah satunya, melalui pertimbangan hasil survei elektabilitas calon kepala daerah.
“Zaman sekarang, setiap partai pasti akan berhitung secara ilmiah sebelum memberikan tiket partai. bagaimana popularitas dan elektabilitas setiap calon. Dengan cara begini bisa terlihat suara rakyat menginginkan pemimpin seperti apa,” ujarnya kepada wartawan lewat pesan teks, Jumat (12/7/2024).
Lebih lanjut, Grace mengatakan bahwa parpol pun mengkaji setiap hasil survei untuk melihat kecondongan pemilih.
Namun, dia menegaskan meskipun memilih salah satu tokoh tertentu, tetapi tak mengartikan parpol langsung merebut tiket kemenangan. Sebab, setiap kandidat harus dapat memenangkan suara masyarakat secara personal.
"Karena dalam demokrasi langsung, suara rakyatlah yang menentukan. Selanjutnya para kandidat harus berjuang meyakinkan pemilih. Tidak ada seorang pun kandidat yang bisa otomatis memenangkan kontestasi dan mendapatkan jabatan,” imbuhnya.
Alasan PKB Dukung Bobby
Seolah membantah klaim Jokowi, Ketua DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Luluk Nur Hamidah mengakui salah satu faktor penentu pihaknya usung Bobby Nasution sebagai calon gubernur Sumatra Utara (Sumut) 2024 karena statusnya sebagai menantu Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Luluk tidak menampik pernyataan kubu PDI Perjuangan (PDIP) yang meragukan dukungan partai politik ke Bobby murni karena kapasitasnya, bukan karena kedekatan Bobby dengan Jokowi.
"Kita anggap sama-sama tahu lah kita, tahu sama tahu," ujar Luluk di Kompleks Parlemen Senayan.
Di samping itu, dia mengingatkan Bobby kini juga masih menjabat sebagai wali kota Medan. Oleh sebab itu, lanjutnya, modal politik Bobby juga besar.
Menurutnya, Bobby punya popularitas hingga koneksi jejaring sosial-ekonomi. Luluk pun menegaskan kenyataan tersebut tidak bisa dielakkan tercipta karena Bobby merupakan keluarga besar Jokowi.
"Bobby memiliki kekuatan di situ; dia wali kota, dia mantu presiden, presidennya juga masih berkuasa, sekarang kemudian adik iparnya terpilih sebagai wapres," jelasnya.
Dukungan ke Bobby
Adapun gabungan partai politik pendukung Bobby saat ini (Golkar, Gerindra, PAN, Demokrat, PKB, dan Nasdem) sudah memiliki 62 kursi (62%) di DPRD Sumut. Sementara itu, partai politik di DPRD Sumut yang belum menyatakan usung Bobby yaitu PDIP 21 kursi, PKS (10 kursi), Hanura (punya 4 kursi), PPP (1 kursi), dan Perindo (1 kursi).
Dari semua partai non koalisi Bobby, yang memiliki kans untuk mengusung calon gubernur adalah PDIP. PDIP telah mengeluarkan pernyataan tidak akan membiarkan menantu Presiden Joko Widodo (Jokowi), Bobby Nasution, melawan kotak kosong dalam ajang Pilkada Sumatra Utara (Sumut) 2024.
Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat meyakini masyarakat harus memiliki pilihan dalam demokrasi elektoral. Oleh sebab itu, lanjutnya, PDIP kemungkinan besar tidak akan ikut mendukung Bobby Nasution yang kini sudah diusung mayoritas partai politik untuk maju sebagai bakal calon gubernur Sumut 2024.
"Sekarang masalahnya kalau PDIP misalnya itu merapat ke kerja samanya si Bobby, ya selesai. Artinya apa? Ya [Bobby lawan] kotak kosong. Kalau kotak kosong apa pantes gitu lho? Nanti kita khawatir jangan-jangan kotak kosongnya yang menang. Malah bahaya lagi," kata Djarot di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (11/7/2024).
Dia menjelaskan, PDIP memiliki banyak kandidat calon gubernur-wakil gubernur Sumut 2024. Dia mencontoh; dari pihak eksternal ada Gubernur Sumut Petahana Edy Rahmayadi, sementara dari kader internal ada Bupati Tapanuli Utara Nikson Nababan, mantan Bupati Samosir Rapidin Simbolon, hingga tokoh Tionghoa Sofyan Tan.
Menurutnya, PDIP masih terus menggodok peluang seluruh kandidat sebelum memutuskan siapa yang akan diusung. PDIP, lanjutnya, masih menawarkan kandidat-kandidat tersebut ke partai politik lain.
"Untuk Sumut ini masih pendalaman dan kita membangun komunikasi dengan partai-partai yang belum bergabung ke sana [ke koalisi pendukung Bobby]," ujar Djarot.
Respons Kubu Jokowi Soal 'Mertua Effect' ke Bobby Nasution
Faktor Jokowi sebagai mertua dianggap sebagai pemicu banjir dukungan partai politik kepada Bobby Nasution. [721] url asal
#jokowi #bobby-nasution #bobby-jokowi #mertua-effect #presiden-jokowi #joko-widodo #pilkada-sumut
(Bisnis.Com) 15/07/24 06:54
v/10818560/
Bisnis.com, JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) bicara tudingan mertua effect terhadap dukungan politik kepada menantunya, yang juga menjabat Wali Kota Medan, Bobby Nasution di pemilihan gubernur Sumatra Utara (Pilgub Sumut) 2024.
Seperti biasa, Jokowi meminta awak media untuk menanyakan langsung ke partai politik. Namun demikian, menurutnya, hasil survei elektabilitas biasanya menjadi rujukan partai politik (parpol) untuk mendukung sosok calon kepala daerah.
“Tanyakan partai-partai, partai itu pintar-pintar, biasanya yang dilihat elektabilitas,” ujarnya di Lampung Selatan, Kamis pekan lalu.
Lebih lanjut, Kepala Negara pun menegaskan bahwa sosok yang dibidik parpol biasanya memiliki tingkat popularitas yang baik. Sehingga selalu ada pertimbangan dalam mengusung tokoh.
“Partai [biasanya] yang dilihat biasanya elektabilitas, jangan dipikir itu partai [tidak menimbang] partai itu pintar-pintar apalagi ketuanya,” tegas Jokowi.
Senada dengan Jokowi, Staf Khusus (Stafsus) Presiden Grace Natalie membantah ada cawe-cawe Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam menggalang dukungan terhadap Wali Kota Medan, Bobby Nasution di pemilihan gubernur Sumatra Utara (Pilgub Sumut) 2024.
Menurutnya, setiap partai politik (parpol) memiliki kajian yang matang untuk mengusung seorang tokoh. Salah satunya, melalui pertimbangan hasil survei elektabilitas calon kepala daerah.
“Zaman sekarang, setiap partai pasti akan berhitung secara ilmiah sebelum memberikan tiket partai. bagaimana popularitas dan elektabilitas setiap calon. Dengan cara begini bisa terlihat suara rakyat menginginkan pemimpin seperti apa,” ujarnya kepada wartawan lewat pesan teks, Jumat (12/7/2024).
Lebih lanjut, Grace mengatakan bahwa parpol pun mengkaji setiap hasil survei untuk melihat kecondongan pemilih.
Namun, dia menegaskan meskipun memilih salah satu tokoh tertentu, tetapi tak mengartikan parpol langsung merebut tiket kemenangan. Sebab, setiap kandidat harus dapat memenangkan suara masyarakat secara personal.
"Karena dalam demokrasi langsung, suara rakyatlah yang menentukan. Selanjutnya para kandidat harus berjuang meyakinkan pemilih. Tidak ada seorang pun kandidat yang bisa otomatis memenangkan kontestasi dan mendapatkan jabatan,” imbuhnya.
Alasan PKB Dukung Bobby
Seolah membantah klaim Jokowi, Ketua DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Luluk Nur Hamidah mengakui salah satu faktor penentu pihaknya usung Bobby Nasution sebagai calon gubernur Sumatra Utara (Sumut) 2024 karena statusnya sebagai menantu Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Luluk tidak menampik pernyataan kubu PDI Perjuangan (PDIP) yang meragukan dukungan partai politik ke Bobby murni karena kapasitasnya, bukan karena kedekatan Bobby dengan Jokowi.
"Kita anggap sama-sama tahu lah kita, tahu sama tahu," ujar Luluk di Kompleks Parlemen Senayan.
Di samping itu, dia mengingatkan Bobby kini juga masih menjabat sebagai wali kota Medan. Oleh sebab itu, lanjutnya, modal politik Bobby juga besar.
Menurutnya, Bobby punya popularitas hingga koneksi jejaring sosial-ekonomi. Luluk pun menegaskan kenyataan tersebut tidak bisa dielakkan tercipta karena Bobby merupakan keluarga besar Jokowi.
"Bobby memiliki kekuatan di situ; dia wali kota, dia mantu presiden, presidennya juga masih berkuasa, sekarang kemudian adik iparnya terpilih sebagai wapres," jelasnya.
Dukungan ke Bobby
Adapun gabungan partai politik pendukung Bobby saat ini (Golkar, Gerindra, PAN, Demokrat, PKB, dan Nasdem) sudah memiliki 62 kursi (62%) di DPRD Sumut. Sementara itu, partai politik di DPRD Sumut yang belum menyatakan usung Bobby yaitu PDIP 21 kursi, PKS (10 kursi), Hanura (punya 4 kursi), PPP (1 kursi), dan Perindo (1 kursi).
Dari semua partai non koalisi Bobby, yang memiliki kans untuk mengusung calon gubernur adalah PDIP. PDIP telah mengeluarkan pernyataan tidak akan membiarkan menantu Presiden Joko Widodo (Jokowi), Bobby Nasution, melawan kotak kosong dalam ajang Pilkada Sumatra Utara (Sumut) 2024.
Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat meyakini masyarakat harus memiliki pilihan dalam demokrasi elektoral. Oleh sebab itu, lanjutnya, PDIP kemungkinan besar tidak akan ikut mendukung Bobby Nasution yang kini sudah diusung mayoritas partai politik untuk maju sebagai bakal calon gubernur Sumut 2024.
"Sekarang masalahnya kalau PDIP misalnya itu merapat ke kerja samanya si Bobby, ya selesai. Artinya apa? Ya [Bobby lawan] kotak kosong. Kalau kotak kosong apa pantes gitu lho? Nanti kita khawatir jangan-jangan kotak kosongnya yang menang. Malah bahaya lagi," kata Djarot di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (11/7/2024).
Dia menjelaskan, PDIP memiliki banyak kandidat calon gubernur-wakil gubernur Sumut 2024. Dia mencontoh; dari pihak eksternal ada Gubernur Sumut Petahana Edy Rahmayadi, sementara dari kader internal ada Bupati Tapanuli Utara Nikson Nababan, mantan Bupati Samosir Rapidin Simbolon, hingga tokoh Tionghoa Sofyan Tan.
Menurutnya, PDIP masih terus menggodok peluang seluruh kandidat sebelum memutuskan siapa yang akan diusung. PDIP, lanjutnya, masih menawarkan kandidat-kandidat tersebut ke partai politik lain.
"Untuk Sumut ini masih pendalaman dan kita membangun komunikasi dengan partai-partai yang belum bergabung ke sana [ke koalisi pendukung Bobby]," ujar Djarot.