#30 tag 24jam
"Sampah Kami, Emas Kami" Halaman all
Warga di Desa Mulur, Sukoharjo dan Kampung Kitiran, Solo telah membuktikan bahwa dengan memilah sampah, mereka bisa mengais emas. Halaman all?page=all [654] url asal
#tabungan-emas #pt-pegadaian #bank-sampah-kitiran-emas #kampung-kitiran #tabungan-emas-pegadaian #bank-sampah-induk-desa-mulur #bsi-bumdesa-mulur #pengolahan-sampah-desa-mulur
(Kompas.com) 29/09/24 07:41
v/15721571/
SOLO, KOMPAS.com – Rampung mencuci baju, Rusmiyati (43) buru-buru menuju toko kelontong terdekat. Ia ingin membeli detergen pagi itu karena tahu persedian di rumah hampir habis.
Rosa, begitu Rusmiyati lebih akrab disapa, yakin sisa detergennya tak akan cukup untuk mencuci baju di kemudian hari. Ia memilih segera saja membelinya sebelum nanti dibutuhkan.
Setibanya di rumah, ia lalu dengan hati-hati menggunting kemasan detergen tersebut. Rosa kemudian memindahkan isinya ke wadah khusus yang biasa digunakan.
Dengan ini, di tangannya tinggal ada kemasan plastik detergen yang kosong. Alih-alih membuangnya ke tempat sampah, Rosa pun memilih untuk menyimpannya di sudut dapur.
Bukan tanpa alasan. Warga Kampung Pojok RT 003/RW 004 Desa Mulur, Bendosari, Sukoharjo, Jawa Tengah itu melakukannya karena ingin ikut berperan dalam upaya menjaga lingkungan.
Rosa akan menyetorkan bungkus-bungkus plastik tersebut ke pengurus Bank Sampah Unit (BSU) Pojok Keren (Joker) di desanya untuk kemudian diolah.
Sejak setahun terakhir, Rosa memang telah memutuskan untuk semakin giat memilah sampah rumah tangganya. Hal itu terjadi setelah ia bergabung menjadi nasabah BSU Joker.
Bukan hanya plastik detergen, ia juga telah secara rutin memisahkan kemasan-kemasan lain, seperti botol minuman, kaleng bekas makanan, kardus, hingga kertas-kertas tak terpakai.
”Kalau sebelumnya, ketika ada sampah, ya kami buang begitu saja. Sekarang lain, kami di rumah sudah mulai terbiasa memilah sampah. Suami dan anak-anak juga begitu. Apalagi kami sudah tahu kalau sampah-sampah ini bisa diuangkan dan diikutkan tabungan emas,” ucapnya saat diwawancarai Kompas.com pada Sabtu (28/8/2024).
Ia menganggap, program tabungan emas melalui bank sampah memiliki dampak positif untuk jangka panjang.
Selain dapat mengatasi persoalan sampah, program itu bisa sedikit membantu urusan finansial para warga yang menjadi nasabah bank sampah tersebut.
Sebab, hasil dari sampah yang dikumpulkan bisa diuangkan dan bahkan bisa disalurkan dalam tabungan emas sebagai bentuk investasi.
”Sesuai pemahaman kami, dalam jangka panjang, nilai emas ini kan cenderung naik atau setidaknya stabil. Jadi kami pun kian bersemangat memilah dan mengolah sampah. Harapannya, sehat diraih, simpanan emas kami pun bisa bertambah,” tutur tersenyum.
Anggota naik signifikan
BSI BUMDes Mulur Warga Desa Mulur, Bendosari, Sukoharjo, Jawa Tengah, menunjukkan buku tabungan emas yang diterbitkan oleh PT Pegadaian (Persero) belum lama ini. Setelah Bank Sampah Induk (BSI) BUMDes Mulur bekerja sama dengan Pegadaian untuk mengadakan program memilah sampah menabung emas, jumlah anggota bank sampah di Desa Mulur naik signifikan dari 100-an menjadi 320-an hanya dalam waktu kurang dari setahun.Manajer Operasional Bank Sampah Induk (BSI) Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Mulur, Arnisya Frisiliani, mengatakan dalam menjalankan program memiliah sampah menjadi emas, BSI BUMDes Mulur bekerja sama dengan PT Pegadaian (Persero) sejak akhir tahun lalu.
Ia pun bersyukur, setelah program tabungan emas tersebut disosialisasikan lebih luas ke masyarakat, jumlah BSU yang terbentuk di Mulur terus bertambah.
Dari awalnya hanya empat BSU, Desa Mulur kini sudah memiliki 20 BSU yang siap menjadi kepanjangan tangan dari BSI BUMDes Mulur dalam mengelola sampah dari warga.
Jumlah warga yang siap mengolah sampah atau menjadi nasabah BSU otomatis juga ikut bertambah setelah disosialisasikan program memilah sampah menjadi emas.
”Saya hitung, sebelum kami bekerja sama dengan Pagadaian, jumlah nasabah tidak lebih dari 100 orang. Sedangkan untuk saat ini, jumlahnya sudah mencapai lebih dari 320 orang,” tuturnya.
"Sampah Kami, Emas Kami"
Warga di Desa Mulur, Sukoharjo dan Kampung Kitiran, Solo telah membuktikan bahwa dengan memilah sampah, mereka bisa mengais emas. Halaman all [1,620] url asal
#tabungan-emas #pt-pegadaian #bank-sampah-kitiran-emas #kampung-kitiran #tabungan-emas-pegadaian #bank-sampah-induk-desa-mulur #bsi-bumdesa-mulur #pengolahan-sampah-desa-mulur
(Kompas.com) 29/09/24 07:41
v/15715817/
SOLO, KOMPAS.com – Rampung mencuci baju, Rusmiyati (43) buru-buru menuju toko kelontong terdekat. Ia ingin membeli detergen pagi itu karena tahu persedian di rumah hampir habis.
Rosa, begitu Rusmiyati lebih akrab disapa, yakin sisa detergennya tak akan cukup untuk mencuci baju di kemudian hari. Ia memilih segera saja membelinya sebelum nanti dibutuhkan.
Setibanya di rumah, ia lalu dengan hati-hati menggunting kemasan detergen tersebut. Rosa kemudian memindahkan isinya ke wadah khusus yang biasa digunakan.
Dengan ini, di tangannya tinggal ada kemasan plastik detergen yang kosong. Alih-alih membuangnya ke tempat sampah, Rosa pun memilih untuk menyimpannya di sudut dapur.
Bukan tanpa alasan. Warga Kampung Pojok RT 003/RW 004 Desa Mulur, Bendosari, Sukoharjo, Jawa Tengah itu melakukannya karena ingin ikut berperan dalam upaya menjaga lingkungan.
Rosa akan menyetorkan bungkus-bungkus plastik tersebut ke pengurus Bank Sampah Unit (BSU) Pojok Keren (Joker) di desanya untuk kemudian diolah.
Sejak setahun terakhir, Rosa memang telah memutuskan untuk semakin giat memilah sampah rumah tangganya. Hal itu terjadi setelah ia bergabung menjadi nasabah BSU Joker.
Bukan hanya plastik detergen, ia juga telah secara rutin memisahkan kemasan-kemasan lain, seperti botol minuman, kaleng bekas makanan, kardus, hingga kertas-kertas tak terpakai.
”Kalau sebelumnya, ketika ada sampah, ya kami buang begitu saja. Sekarang lain, kami di rumah sudah mulai terbiasa memilah sampah. Suami dan anak-anak juga begitu. Apalagi kami sudah tahu kalau sampah-sampah ini bisa diuangkan dan diikutkan tabungan emas,” ucapnya saat diwawancarai Kompas.com pada Sabtu (28/8/2024).
Ia menganggap, program tabungan emas melalui bank sampah memiliki dampak positif untuk jangka panjang.
Selain dapat mengatasi persoalan sampah, program itu bisa sedikit membantu urusan finansial para warga yang menjadi nasabah bank sampah tersebut.
Sebab, hasil dari sampah yang dikumpulkan bisa diuangkan dan bahkan bisa disalurkan dalam tabungan emas sebagai bentuk investasi.
”Sesuai pemahaman kami, dalam jangka panjang, nilai emas ini kan cenderung naik atau setidaknya stabil. Jadi kami pun kian bersemangat memilah dan mengolah sampah. Harapannya, sehat diraih, simpanan emas kami pun bisa bertambah,” tutur tersenyum.
Anggota naik signifikan
BSI BUMDes Mulur Warga Desa Mulur, Bendosari, Sukoharjo, Jawa Tengah, menunjukkan buku tabungan emas yang diterbitkan oleh PT Pegadaian (Persero) belum lama ini. Setelah Bank Sampah Induk (BSI) BUMDes Mulur bekerja sama dengan Pegadaian untuk mengadakan program memilah sampah menabung emas, jumlah anggota bank sampah di Desa Mulur naik signifikan dari 100-an menjadi 320-an hanya dalam waktu kurang dari setahun.Manajer Operasional Bank Sampah Induk (BSI) Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Mulur, Arnisya Frisiliani, mengatakan dalam menjalankan program memiliah sampah menjadi emas, BSI BUMDes Mulur bekerja sama dengan PT Pegadaian (Persero) sejak akhir tahun lalu.
Ia pun bersyukur, setelah program tabungan emas tersebut disosialisasikan lebih luas ke masyarakat, jumlah BSU yang terbentuk di Mulur terus bertambah.
Dari awalnya hanya empat BSU, Desa Mulur kini sudah memiliki 20 BSU yang siap menjadi kepanjangan tangan dari BSI BUMDes Mulur dalam mengelola sampah dari warga.
Jumlah warga yang siap mengolah sampah atau menjadi nasabah BSU otomatis juga ikut bertambah setelah disosialisasikan program memilah sampah menjadi emas.
”Saya hitung, sebelum kami bekerja sama dengan Pagadaian, jumlah nasabah tidak lebih dari 100 orang. Sedangkan untuk saat ini, jumlahnya sudah mencapai lebih dari 320 orang,” tuturnya.
Dia memang berharap melalui program menabung emas, ada semakin banyak warga yang tertarik menjadi nasabah BSU-BSU di Mulur.
Sebab, hal itu diyakini akan mempermudah kampanye pengolahan sampah yang berkelanjutan di tingkat bawah.
”Di bank sampah, kami kan bukan hanya melakukan transaksi jual beli sampah ya. Kami juga telah rutin menggelar edukasi atau diskusi tentang banyak hal, termasuk kesadaran lingkungan, daur ulang, produksi kompos, ekonomi sirkular, pemberdayaan masyarakat, dan lain sebagainya. Pada akhirnya, tujuan besar kami adalah ingin mendorong kesadaran warga untuk bersama-sama menjaga bumi ini,” jelas Arnisya.
Ia menerangkan, untuk menabung emas dengan memilah sampah, nasabah BSU tidak perlu datang ke kantor Pegadaian, melainkan bisa dilakukan di kantor BUMDes Mulur.
Para nasabah telah dibelaki dengan buku tabungan masing-masing.
”Jika (sampah) langsung diuangkan, mungkin hasilnya akan terlihat sedikit ya? Misalnya, cuma Rp 5.000 atau Rp 15.000. Tapi, jika ditabung, dalam jangka panjang hasilnya bisa terlihat banyak. Dan, akan lebih menguntungkan lagi apabila kita menabungnya lewat tabungan emas yang merupakan barang investasi,” ucapnya.
”Sampah Kami, Emas Kami”
Senada, Direktur Bank Sampah Kitiran Emas di Kelurahan Purwosari, Laweyan, Solo, Jawa Tengah, Dominico Danang Sandi, menyebut program memilah sampah menjadi emas yang digagas bersama dengan PT Pegadaian (Persero) turut mendongkak peningkatan jumlah nasabah.
KOMPAS.com/Muhlis Al Alawi Deputi Bisnis Pegadaian Area Solo, Muhammad Choyin menunjukkan kepingan emas seberat satu gram yang bisa didapatkan warga dengan menyetor sampah di bank-bank sampah saat berkunjung di Kampung Kitiran RT 002/ RW 008, Yosoroto, Kelurahan Purwosari, Kecamatan Laweyan, Kota Solo, Jawa Tengah.Ketika baru dibentuk pada 17 Agustus 2017 lalu, bank sampah di Kampung Kitiran tercatat baru memiliki 20 nasabah. Kemudian sebelum menjalankan program tabungan emas pada April 2019 lalu, jumlah nasabahnya baru naik ke angka 60 orang.
Sedangkan sekarang, menurut dia, sedikitnya sudah ada 150 orang yang aktif terdaftar sebagai nasabah Bank Sampah Kitiran Emas. Sandi menyebut, warga menyambut baik program tabungan emas itu.
“Banyak warga, terutama para ibu-ibu, antusias bergabung karena berpikir emas harganya akan terus naik kan? Dan, nyatanya memang begitu. Harga emas pada 2019 misalnya. Seingat saya itu hanya Rp 760.000-an per gram. Sekarang berapa coba? Sudah di angka Rp 1,4 juta per gram kan? Ada kenaikan harga hampir dua kali lipat. Ini sangat menguntungkan,” ungkapnya.
Karena banyak warga yang antusias mengikuti program tersebut, bank sampah di Kampung Kitiran pada akhirnya juga diputuskan untuk menggunakan nama Bank Sampah Kitiran Emas.
Sandi membeberkan, salah satu warga di Kampung Kitiran bahkan sempat berhasil menabung emas hingga 17 gram.
Warga tersebut setiap harinya bekerja sebagai pengangkut sampah yang diutus oleh Pemerintah Kelurahan Purwosari.
Setelah pengurus Bank Sampah Kitiran Emas memberikan edukasi, warga tersebut antuasias untuk mulai memilah dan mengolah sampah yang diangkut dari rumah-rumah.
”Alhasil, sampah yang dibuang ke tempat pembuangan sampah akhir (TPA) Putri Cempo bisa berkurang, dari tadinya beliau bisa bolak balik tiga kali sehari, jadi dua kali sehari. Ini kan penting untuk membantu mencegah penumpukan sampah yang bisa mencemari tanah dan air,” ucapnya.
Ketika mulai menjalankan program tabungan emas, Sandi bercerita, Kampung Kitiran juga sempat mendapatkan dukungan lain dari PT Pegadaian. Itu termasuk berupa peningkatan fasilitas bangunan untuk bank sampah, gerobak sampah, tong sampah, hingga mesin press sampah.
”Kami sekarang punya moto ‘Sampah Kami, Emas Kami’. Warga kini paham, pengumpulan sampah full untuk investasi masa depan,” jelas dia.
Ia pun bersyukur setelah 7 tahun warga berjibaku mengelola sampah perkotaan, Kampung Kitiran sekarang menjelma menjadi salah satu tujuan wisata berbasis pengolahan sampah.
Bank Sampah Kitiran Emas telah sering menerima kunjungan studi tiru dari berbagai daerah di Indonesia.
Keuntungan lebih
Sementara itu, Asisten Manajer 1 Pegadaian Kantor Area Surakarta, Rieka Puspita Ningrum, menerangkan Pegadaian menawarkan program memilah sampah menjadi emas kepada nasabah bank sampah agar pendapatan warga makin bertambah.
Tabungan emas Pegadaian adalah layanan penitipan emas yang memungkinkan masyarakat dalam melakukan investasi emas secara mudah, aman, dan terpercaya.
Menurutnya, saat terjadi kenaikan harga emas seperti sekarang ini, menabung emas termasuk pilihan bijak yang dapat dilakukan oleh masyarakat.
Rieka pun sangat mendukung keputusan para nasabah bank sampah yang berminat menabung emas seperti yang terjadi di Desa Mulur, Sukoharjo maupun di Kampung Kitiran, Solo.
“Dalam waktu tidak sampai setahun, warga yang rajin memilah dan menyetor sampah ke bank sampah bisa saja mengumpulkan 1 gram emas,” kata dia.
Rieka menyebut, memiliki tabungan emas lewat Pegadaian sangatlah mudah.
Caranya, setelah mengisi formulir via outlet, warga hanya perlu membayar biaya admin Rp 10.000, biaya titipan emas Rp 30.000, materai Rp 10.000, dan membeli emas 24 karat dengan berat minimal 0,01 gram.
Pembukaan rekening juga bisa dilakukan secara online lewat aplikasi "Pegadaian Digital".
Setelah memilih menu buka Tabungan Emas dan menginput data diri, warga tinggal menentukan metode pembayaran dan melakukan pembelian emas senilai Rp 50.000.
Sehabis itu, rekening bisa langsung aktif dan buku tabungan dapat diambil.
Rieka mengatakan, untuk anggota atau nasabah bank sampah, proses pembukaan rekening tabungan emas Pegadaian malah bisa lebih mudah lagi.
Mereka bisa melakukannya lewat pengurus bank sampah masing-masing yang nantinya akan difasilitasi secara khusus oleh tim dari Pegadaian.
Ia menegaskan, ketika sudah menabung emas, para anggota bank sampah juga berhak atas sejumlah keuntungan lain yang bisa diperoleh sebagai nasabah Pegadaian.
Itu termasuk, mereka berkesempatan memenangkan hadiah istimewa dalam program Badai Emas, mengajukan modal usaha dalam program pembiayaan produktif, mengakses layanan pembiaan untuk mendapatkan porsi haji atau perjalanan religi lainnya, hingga promo tematik berupa diskon atau casback khusus.
”Jika berminat menjadi mitra atau binaan Pegadaian, pengurus bank sampah bisa mendaftar ke kantor cabang terdekat. Tahap selanjutnya akan diseleksi oleh kantor Pusat Pegadaian,” jelasnya.
Rieka pun siap menyambut antuasias keputusan pengurus bank sampah lain apabila berminat untuk mulai menjalankan program tabungan emas bersama Pegadaian.
Untuk sementara, Pegadaian Kantor Area Surakarta sudah memiliki empat bank sampah binaan yaitu, Bank Sampak Kitiran Emas, BSI BUMDes Mulur, bank sampah di Fakultas Pertanian UNS Solo, dan Bank Sampah Berseri di Jatisrono, Wonogiri.
"Sampah Kami, Emas Kami"
Warga di Desa Mulur, Sukoharjo dan Kampung Kitiran, Solo telah membuktikan bahwa dengan memilah sampah, mereka bisa mengais emas. Halaman all [1,620] url asal
#tabungan-emas #pt-pegadaian #bank-sampah-kitiran-emas #kampung-kitiran #tabungan-emas-pegadaian #bank-sampah-induk-desa-mulur #bsi-bumdesa-mulur #pengolahan-sampah-desa-mulur
(Kompas.com) 29/09/24 07:41
v/15706108/
SOLO, KOMPAS.com – Rampung mencuci baju, Rusmiyati (43) buru-buru menuju toko kelontong terdekat. Ia ingin membeli detergen pagi itu karena tahu persedian di rumah hampir habis.
Rosa, begitu Rusmiyati lebih akrab disapa, yakin sisa detergennya tak akan cukup untuk mencuci baju di kemudian hari. Ia memilih segera saja membelinya sebelum nanti dibutuhkan.
Setibanya di rumah, ia lalu dengan hati-hati menggunting kemasan detergen tersebut. Rosa kemudian memindahkan isinya ke wadah khusus yang biasa digunakan.
Dengan ini, di tangannya tinggal ada kemasan plastik detergen yang kosong. Alih-alih membuangnya ke tempat sampah, Rosa pun memilih untuk menyimpannya di sudut dapur.
Bukan tanpa alasan. Warga Kampung Pojok RT 003/RW 004 Desa Mulur, Bendosari, Sukoharjo, Jawa Tengah itu melakukannya karena ingin ikut berperan dalam upaya menjaga lingkungan.
Rosa akan menyetorkan bungkus-bungkus plastik tersebut ke pengurus Bank Sampah Unit (BSU) Pojok Keren (Joker) di desanya untuk kemudian diolah.
Sejak setahun terakhir, Rosa memang telah memutuskan untuk semakin giat memilah sampah rumah tangganya. Hal itu terjadi setelah ia bergabung menjadi nasabah BSU Joker.
Bukan hanya plastik detergen, ia juga telah secara rutin memisahkan kemasan-kemasan lain, seperti botol minuman, kaleng bekas makanan, kardus, hingga kertas-kertas tak terpakai.
”Kalau sebelumnya, ketika ada sampah, ya kami buang begitu saja. Sekarang lain, kami di rumah sudah mulai terbiasa memilah sampah. Suami dan anak-anak juga begitu. Apalagi kami sudah tahu kalau sampah-sampah ini bisa diuangkan dan diikutkan tabungan emas,” ucapnya saat diwawancarai Kompas.com pada Sabtu (28/8/2024).
Ia menganggap, program tabungan emas melalui bank sampah memiliki dampak positif untuk jangka panjang.
Selain dapat mengatasi persoalan sampah, program itu bisa sedikit membantu urusan finansial para warga yang menjadi nasabah bank sampah tersebut.
Sebab, hasil dari sampah yang dikumpulkan bisa diuangkan dan bahkan bisa disalurkan dalam tabungan emas sebagai bentuk investasi.
”Sesuai pemahaman kami, dalam jangka panjang, nilai emas ini kan cenderung naik atau setidaknya stabil. Jadi kami pun kian bersemangat memilah dan mengolah sampah. Harapannya, sehat diraih, simpanan emas kami pun bisa bertambah,” tutur tersenyum.
Anggota naik signifikan
BSI BUMDes Mulur Warga Desa Mulur, Bendosari, Sukoharjo, Jawa Tengah, menunjukkan buku tabungan emas yang diterbitkan oleh PT Pegadaian (Persero) belum lama ini. Setelah Bank Sampah Induk (BSI) BUMDes Mulur bekerja sama dengan Pegadaian untuk mengadakan program memilah sampah menabung emas, jumlah anggota bank sampah di Desa Mulur naik signifikan dari 100-an menjadi 320-an hanya dalam waktu kurang dari setahun.Manajer Operasional Bank Sampah Induk (BSI) Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Mulur, Arnisya Frisiliani, mengatakan dalam menjalankan program memiliah sampah menjadi emas, BSI BUMDes Mulur bekerja sama dengan PT Pegadaian (Persero) sejak akhir tahun lalu.
Ia pun bersyukur, setelah program tabungan emas tersebut disosialisasikan lebih luas ke masyarakat, jumlah BSU yang terbentuk di Mulur terus bertambah.
Dari awalnya hanya empat BSU, Desa Mulur kini sudah memiliki 20 BSU yang siap menjadi kepanjangan tangan dari BSI BUMDes Mulur dalam mengelola sampah dari warga.
Jumlah warga yang siap mengolah sampah atau menjadi nasabah BSU otomatis juga ikut bertambah setelah disosialisasikan program memilah sampah menjadi emas.
”Saya hitung, sebelum kami bekerja sama dengan Pagadaian, jumlah nasabah tidak lebih dari 100 orang. Sedangkan untuk saat ini, jumlahnya sudah mencapai lebih dari 320 orang,” tuturnya.
Dia memang berharap melalui program menabung emas, ada semakin banyak warga yang tertarik menjadi nasabah BSU-BSU di Mulur.
Sebab, hal itu diyakini akan mempermudah kampanye pengolahan sampah yang berkelanjutan di tingkat bawah.
”Di bank sampah, kami kan bukan hanya melakukan transaksi jual beli sampah ya. Kami juga telah rutin menggelar edukasi atau diskusi tentang banyak hal, termasuk kesadaran lingkungan, daur ulang, produksi kompos, ekonomi sirkular, pemberdayaan masyarakat, dan lain sebagainya. Pada akhirnya, tujuan besar kami adalah ingin mendorong kesadaran warga untuk bersama-sama menjaga bumi ini,” jelas Arnisya.
Ia menerangkan, untuk menabung emas dengan memilah sampah, nasabah BSU tidak perlu datang ke kantor Pegadaian, melainkan bisa dilakukan di kantor BUMDes Mulur.
Para nasabah telah dibelaki dengan buku tabungan masing-masing.
”Jika (sampah) langsung diuangkan, mungkin hasilnya akan terlihat sedikit ya? Misalnya, cuma Rp 5.000 atau Rp 15.000. Tapi, jika ditabung, dalam jangka panjang hasilnya bisa terlihat banyak. Dan, akan lebih menguntungkan lagi apabila kita menabungnya lewat tabungan emas yang merupakan barang investasi,” ucapnya.
”Sampah Kami, Emas Kami”
Senada, Direktur Bank Sampah Kitiran Emas di Kelurahan Purwosari, Laweyan, Solo, Jawa Tengah, Dominico Danang Sandi, menyebut program memilah sampah menjadi emas yang digagas bersama dengan PT Pegadaian (Persero) turut mendongkak peningkatan jumlah nasabah.
KOMPAS.com/Muhlis Al Alawi Deputi Bisnis Pegadaian Area Solo, Muhammad Choyin menunjukkan kepingan emas seberat satu gram yang bisa didapatkan warga dengan menyetor sampah di bank-bank sampah saat berkunjung di Kampung Kitiran RT 002/ RW 008, Yosoroto, Kelurahan Purwosari, Kecamatan Laweyan, Kota Solo, Jawa Tengah.Ketika baru dibentuk pada 17 Agustus 2017 lalu, bank sampah di Kampung Kitiran tercatat baru memiliki 20 nasabah. Kemudian sebelum menjalankan program tabungan emas pada April 2019 lalu, jumlah nasabahnya baru naik ke angka 60 orang.
Sedangkan sekarang, menurut dia, sedikitnya sudah ada 150 orang yang aktif terdaftar sebagai nasabah Bank Sampah Kitiran Emas. Sandi menyebut, warga menyambut baik program tabungan emas itu.
“Banyak warga, terutama para ibu-ibu, antusias bergabung karena berpikir emas harganya akan terus naik kan? Dan, nyatanya memang begitu. Harga emas pada 2019 misalnya. Seingat saya itu hanya Rp 760.000-an per gram. Sekarang berapa coba? Sudah di angka Rp 1,4 juta per gram kan? Ada kenaikan harga hampir dua kali lipat. Ini sangat menguntungkan,” ungkapnya.
Karena banyak warga yang antusias mengikuti program tersebut, bank sampah di Kampung Kitiran pada akhirnya juga diputuskan untuk menggunakan nama Bank Sampah Kitiran Emas.
Sandi membeberkan, salah satu warga di Kampung Kitiran bahkan sempat berhasil menabung emas hingga 17 gram.
Warga tersebut setiap harinya bekerja sebagai pengangkut sampah yang diutus oleh Pemerintah Kelurahan Purwosari.
Setelah pengurus Bank Sampah Kitiran Emas memberikan edukasi, warga tersebut antuasias untuk mulai memilah dan mengolah sampah yang diangkut dari rumah-rumah.
”Alhasil, sampah yang dibuang ke tempat pembuangan sampah akhir (TPA) Putri Cempo bisa berkurang, dari tadinya beliau bisa bolak balik tiga kali sehari, jadi dua kali sehari. Ini kan penting untuk membantu mencegah penumpukan sampah yang bisa mencemari tanah dan air,” ucapnya.
Ketika mulai menjalankan program tabungan emas, Sandi bercerita, Kampung Kitiran juga sempat mendapatkan dukungan lain dari PT Pegadaian. Itu termasuk berupa peningkatan fasilitas bangunan untuk bank sampah, gerobak sampah, tong sampah, hingga mesin press sampah.
”Kami sekarang punya moto ‘Sampah Kami, Emas Kami’. Warga kini paham, pengumpulan sampah full untuk investasi masa depan,” jelas dia.
Ia pun bersyukur setelah 7 tahun warga berjibaku mengelola sampah perkotaan, Kampung Kitiran sekarang menjelma menjadi salah satu tujuan wisata berbasis pengolahan sampah.
Bank Sampah Kitiran Emas telah sering menerima kunjungan studi tiru dari berbagai daerah di Indonesia.
Keuntungan lebih
Sementara itu, Asisten Manajer 1 Pegadaian Kantor Area Surakarta, Rieka Puspita Ningrum, menerangkan Pegadaian menawarkan program memilah sampah menjadi emas kepada nasabah bank sampah agar pendapatan warga makin bertambah.
Tabungan emas Pegadaian adalah layanan penitipan emas yang memungkinkan masyarakat dalam melakukan investasi emas secara mudah, aman, dan terpercaya.
Menurutnya, saat terjadi kenaikan harga emas seperti sekarang ini, menabung emas termasuk pilihan bijak yang dapat dilakukan oleh masyarakat.
Rieka pun sangat mendukung keputusan para nasabah bank sampah yang berminat menabung emas seperti yang terjadi di Desa Mulur, Sukoharjo maupun di Kampung Kitiran, Solo.
“Dalam waktu tidak sampai setahun, warga yang rajin memilah dan menyetor sampah ke bank sampah bisa saja mengumpulkan 1 gram emas,” kata dia.
Rieka menyebut, memiliki tabungan emas lewat Pegadaian sangatlah mudah.
Caranya, setelah mengisi formulir via outlet, warga hanya perlu membayar biaya admin Rp 10.000, biaya titipan emas Rp 30.000, materai Rp 10.000, dan membeli emas 24 karat dengan berat minimal 0,01 gram.
Pembukaan rekening juga bisa dilakukan secara online lewat aplikasi "Pegadaian Digital".
Setelah memilih menu buka Tabungan Emas dan menginput data diri, warga tinggal menentukan metode pembayaran dan melakukan pembelian emas senilai Rp 50.000.
Sehabis itu, rekening bisa langsung aktif dan buku tabungan dapat diambil.
Rieka mengatakan, untuk anggota atau nasabah bank sampah, proses pembukaan rekening tabungan emas Pegadaian malah bisa lebih mudah lagi.
Mereka bisa melakukannya lewat pengurus bank sampah masing-masing yang nantinya akan difasilitasi secara khusus oleh tim dari Pegadaian.
Ia menegaskan, ketika sudah menabung emas, para anggota bank sampah juga berhak atas sejumlah keuntungan lain yang bisa diperoleh sebagai nasabah Pegadaian.
Itu termasuk, mereka berkesempatan memenangkan hadiah istimewa dalam program Badai Emas, mengajukan modal usaha dalam program pembiayaan produktif, mengakses layanan pembiaan untuk mendapatkan porsi haji atau perjalanan religi lainnya, hingga promo tematik berupa diskon atau casback khusus.
”Jika berminat menjadi mitra atau binaan Pegadaian, pengurus bank sampah bisa mendaftar ke kantor cabang terdekat. Tahap selanjutnya akan diseleksi oleh kantor Pusat Pegadaian,” jelasnya.
Rieka pun siap menyambut antuasias keputusan pengurus bank sampah lain apabila berminat untuk mulai menjalankan program tabungan emas bersama Pegadaian.
Untuk sementara, Pegadaian Kantor Area Surakarta sudah memiliki empat bank sampah binaan yaitu, Bank Sampak Kitiran Emas, BSI BUMDes Mulur, bank sampah di Fakultas Pertanian UNS Solo, dan Bank Sampah Berseri di Jatisrono, Wonogiri.