REPUBLIKA.CO.ID, LONDON – Gangguan sistem informasi global pekan lalu menyebabkan terganggunya berbagai layanan publik, terutama yang menggunakan transaksi tanpa uang tunai. Aktivis menekankan kejadian itu menggarisbawahi risiko menuju cashless society yang makin marak di berbagai negara termasuk Indonesia.
Supermarket, bank, pub, kafe, stasiun kereta api dan bandara semuanya terkena dampak kegagalan sistem Microsoft pada Jumat, menyebabkan banyak orang tidak dapat menerima pembayaran elektronik. Dampaknya sangat parah bagi bisnis yang tidak lagi menerima uang tunai.
Payment Choice Alliance (PCA), yang berkampanye menentang gerakan menuju masyarakat tanpa uang tunai, mencantumkan gangguan pekan lalu berdampak pada 23 perusahaan dan kelompok, setidaknya beberapa diantaranya hanya menerima kartu kredit atau debit.
“Gangguan sistem yang mengakibatkan pemadaman akan selalu terjadi,” kata Ron Delnevo, ketua PCA kepada the Guardian, Ahad (21/7/2024). “Tetapi jika tidak ada alternatif lain, maka segalanya akan runtuh di sekitar Anda.”
Pembayaran tunai meningkat untuk pertama kalinya dalam satu dekade tahun lalu, menurut UK Finance, yang mewakili bank. Jumlah orang yang tidak lagi menggunakan uang tunai, atau menggunakannya kurang dari sekali dalam sebulan, mencapai 23,1 juta orang pada 2021, namun menurun menjadi 21,6 juta orang pada tahun lalu. Departemen Keuangan Inggris mengatakan “pasti masih ada tempat” untuk uang tunai. “Terserah pada masing-masing bisnis, namun menurut kami memberikan pilihan kepada masyarakat adalah hal yang baik. Sebagian besar bisnis masih menawarkan uang tunai.”
Serikat GMB mengatakan pemadaman sistem informasi ini memperkuat apa yang telah mereka katakan selama bertahun-tahun: bahwa “uang tunai adalah bagian penting dari cara masyarakat kita beroperasi”. “Ketika Anda mengambil uang tunai dari sistem, orang-orang tidak mempunyai sandaran apapun, sehingga berdampak pada cara mereka melakukan hal-hal mendasar sehari-hari.”
Beberapa pemadaman sistem yang lebih kecil dan tidak terkait telah berdampak pada retail tahun ini. Pada bulan Maret, McDonald's, Tesco, Sainsbury's, dan Gregg's mengalami masalah dengan sistem pembayaran digital mereka.
Pihak berwenang di Cina dan AS telah mendenda perusahaan-perusahaan yang tidak menerima uang tunai. Martin Quinn, direktur kampanye PCA, mengatakan penggunaan uang tunai diperbolehkan untuk anonimitas. “Saya tidak ingin data saya dijual, dan saya tidak ingin bank, perusahaan kartu kredit, dan bahkan pengecer online mengetahui setiap aspek kehidupan saya,” katanya. Penganggaran dengan menggunakan uang tunai juga lebih mudah bagi sebagian orang, tambahnya.
Visa merilis laporan Visa Consumer Payment Attitudes Study 2023 di Indonesia yang terbaru pada hari ini (19/3/2024). Dalam laporan tersebut menunjukan budaya nontunai atau cashless semakin marak di tengah masyarakat Indonesia.
“Pembayaran melalui dompet digital terus mengalami peningkatan dengan penggunaan tertinggi sebesar 92 persen di kalangan masyarakat Indonesia, angka yang serupa dengan tahun lalu. Sementara uang tunai menurun menjadi 80 persen dari sebelumnya 84 persen pada 2022,” kata Presiden Direktur Visa Indonesia Riko Abdurrahman di Jakarta, Selasa (19/3/2024).
Dia menjelaskan, pergeseran ke digital tersebut semakin terasa karena studi tersebut menunjukkan masyarakat Indonesia semakin banyak menggunakan berbagai mode opsi pembayaran nontunai. Terutama dalam dompet digital.
Riko menuturkan terjadi sedikit penurunan dari sisi kebiasaan tidak membawa uang tunai dari 67 persen pada 2022 menjadi 64 persen pada 2023. Hal tersebut dikarenakan kembalinya kebiasaan prapandemi masih terdapat peningkatan yang cukup tinggi dibandingkan dengan angka 2021 sebesar 61 persen.
Perilaku nontunai di negara tersebut didorong oleh generasi muda dari segmen Gen Z (76 persen) dan Gen Y (69 persen). Hampir tiga dari lima orang di antaranya telah berhasil mengadopsi gaya hidup cashless.
Para konsumen ini telah berhasil tidak menggunakan uang tunai selama 10 hari. “Pergeseran ini sejalan dengan meningkatnya penerimaan pedagang atau merchant terhadap pembayaran nontunai, terutama di sektor-sektor seperti makanan dan minuman (82 persen) pembelian di toko serba ada (81 persen), dan transaksi di supermarket (77 persen),” jelas Riko.
Riko menuturkan, masyarakat Indonesia semakin nyaman dengan pembayaran nontunai yang menandakan keberlanjutan pergeseran menuju masyarakat yang mengutamakan transaksi digital. Transisi tersebut didorong oleh semakin diterimanya berbagai metode pembayaran digital di berbagai jenis merchant.