#30 tag 24jam
Deflasi Beruntun saat Kelas Menengah Tersungkur, Ekonomi Aman?
Komponen barang bergejolak (volatile goods) rupanya telah mencatatkan deflasi 5 bulan beruntun, sehinga menyebabkan deflasi secara umum sejak Mei 2024. [1,184] url asal
#deflasi-empat-bulan-berturut-turut #deflasi-empat-bulan-beruntun #deflasi-4-bulan-berturut-turut #deflasi-4-bulan-beruntun #deflasi #deflasi-volatile-goods #deflasi-volatile-food #deflasi-barang-berge
(Bisnis.Com - Ekonomi) 03/09/24 08:40
v/14873574/
Bisnis.com, JAKARTA — Deflasi empat bulan beruntun, yang menjadi rekor terparah sejak 1998, menimbulkan tanda tanya soal kondisi perekonomian saat ini. Terlebih, pemerintah baru saja mengumumkan bahwa jumlah kelas menengah terus berkurang, padahal menjadi penopang utama konsumsi dan ekonomi Indonesia.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Pudji Ismartini menjelaskan bahwa pada Agustus 2024 terjadi deflasi 0,03% secara bulanan (month-to-month/MtM). Deflasi itu sejalan dengan penurunan indeks harga konsumen atau IHK dari 106,09 pada Juli 2024 menjadi 106,06 pada Agustsus 2024.
Makanan minuman dan tembakau menjadi kelompok pengeluaran penyumbang deflasi bulanan terbesar pada Agustus 2024, yakni sebesar 0,52% dan dengan andil 0,15%. Lalu, komoditas bawang merah, daging ayam ras, tomat, dan telur ayam ras menjadi penyumbang utama deflasi 2024 dengan andil deflasi masing-masing sebesar 0,08%, 0,03% 0,03%, dan 0,02% secara bulanan.
"Deflasi Agustus 2024 ini lebih rendah dibandingkan Juli 2024 dan merupakan deflasi keempat pada 2024," ujar Pudji dalam konferensi pers, Senin (2/9/2024).
BPS menilai bahwa fenomena deflasi dalam empat bulan terakhir lebih ditunjukkan dari sisi suplai atau penawaran. Panen beberapa komoditas pangan dan hortikultura, seperti bawang merah yang masuk masa panen raya.
Selain itu, turunnya biaya produksi juga turut andil dalam mendorong deflasi, seperti bagi komoditas telur ayam ras dan daging ayam ras.
Pergerakan inflasi dan deflasi pada tahun berjalan dapat dicermati dari komponen-komponen pembentuknya, seperti inflasi inti (core inflation), inflasi harga diatur pemerintah (administered price), dan inflasi barang bergejolak (volatile goods).
Berdasarkan data BPS, inflasi inti secara bulanan tercatat bergerak di rentang 0,10%—0,29% sepanjang Januari—Agustus 2024 atau tidak pernah mengalami deflasi.
Sementara itu, komponen harga diatur pemerintah bergerak di rentang -0,48%—0,62%. Deflasi terjadi pada Januari 2024 (-0,48% MtM) dan Mei 2024 (-0,13% MtM), sedagkan pada Agustus 2024 mengalami inflasi 0,23%.
Deflasi beruntun terjadi pada komponen barang bergejolak atau volatile goods, yang juga sering disebut volatile foods. Komponen ini mulai mengalami deflasi pada April 2024 (-0,31% MtM) hingga yang terdalam terjadi pada Juli 2024 (-1,92% MtM), sehingga deflasi barang bergejolak telah terjadi lima bulan secara beruntun.
BPS juga mengungkap bahwa masyarakat menunjukkan perilaku menahan konsumsi demi menjaga daya beli.
"Untuk menjaga daya beli, khususnya untuk konsumsi makanan maka diduga rumah tangga akan menahan konsumsi nonmakanan, sehingga terlihat pada turunnya permintaan atau demand konsumsi nonmakanan," ujar Pudji.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menyampaikan tingkat deflasi yang terjadi dalam empat bulan terakhir menjadi sinyal bahwa ekonomi tengah mengalami soft landing.
Bhima menegaskan, rendahnya tingkat inflasi atau bahkan mencatatkan deflasi bukanlah suatu indikator perekonomian yang baik bila terjadi di negara berkembang yang memiliki 47,8 juta orang kelas menengah ini.
Bahkan, hal ini menjadi suatu tanda bahwa konsumsi rumah tangga, yang menjadi daya topang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia, tampak lesu.
"Negara berkembang yang alami deflasi menunjukkan kondisi konsumsi rumah tangganya melemah," ungkapnya kepada Bisnis, Senin (2/9/2024).
Lebih jauh lagi, deflasi yang terjadi tersebut turut menjadi sinyal bahwa pertumbuhan ekonomi akan sulit melebihi 5%. Bahkan terindikasi adanya resesi atau perlambatan ekonomi dalam beberapa bulan.
Meski demikian, Bhima menyampaikan bahwa resesi tidak secara langsung memiliki arti krisis ekonomi seperti 1998 yang sifatnya hard landing. Dalam hal ini, kondisi ekonomi terpantau soft landing, yakni tumbuh tetapi terus melambat.
Secara umum, rendahnya dorongan inflasi sisi permintaan yang ditambah melandainya harga pangan menjadi penyebab utama deflasi Agustus 2024 yang sebesar 0,03% (MtM).
Kelas Menengah Kian Gundah
Melihat isu hangat yang saat ini terjadi terkait menurunnya jumlah kelas menengah, Bhima meyakini bahwa kondisi itu turut memiliki andil terhadap kinerja Indeks Harga Konsumen (IHK).
"Kelas menengah yang jumlahnya menyusut membuat demandpull inflation-nya kecil. Masyarakat tahan belanja barang sekunder dan tersier karena harga kebutuhan pokok tidak bisa diimbangi dengan naiknya pendapatan," tutur Bhima.
BPS mencatat bahwa pada 2019 terdapat 57,33 juta kelas menengah atau 21,45% dari total penduduk Indonesia. Namun, kini jumlah kelas menengah menjadi 47,85 juta atau 17,13% dari total penduduk Indonesia.
Pada periode yang sama, terjadi peningkatan jumlah dan persentase kelompok penduduk rentan miskin (dari 54,97 juta menjadi 67,69 juta atau dari 20,56% menjadi 24,23%) dan kelompok menuju kelas menengah (dari 128,85 juta menjadi 137,50 juta atau dari 48,2% menjadi 29,22%).
Artinya, 9,4 juta penduduk kelas menengah hilang selama 2019—2024, indikasinya karena mereka turun ke kelompok menuju kelas menengah (aspiring middle class). Bertambahnya kelompok rentan miskin memang mengindikasikan banyaknya penduduk yang naik keluar dari batas kemiskinan, tetapi ada pula kemungkinan kelompok aspiring middle class yang turun menjadi rentan miskin karena tekanan ekonomi.
"Kami mengidentifikasi masih ada scaring effect dari pandemi Covid-19 terhadap ketahanan kelas menengah," ujar Plt. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, Jumat (30/8/2024).
Deflasi Terburuk sejak 1998, Pemerintah Tak Khawatir
BPS mencatat bahwa fenomena deflasi bukan hal baru karena pernah terjadi, bahkan dalam rentang waktu yang lebih panjang. Misalnya, setelah krisis keuangan 1998 terjadi deflasi hingga tujuh bulan berturut-turut.
"Sejak Maret 1999 sampai September 1999. Ini sebagai akibat dari depresiasi nilai tukar dan penurunan harga beberapa jenis barang," ujar Pudji.
Berdasarkan data historis BPS, Indeks Harga Konsumen kala itu bahkan sempat mencatatkan deflasi lebih dari 1%.
Bukan hanya periode tersebut, pada Desember 2008 dan Januari 2009, selama krisis finansial global, BPS juga mencatat adanya deflasi karena penurunan harga minyak dunia dan permintaan domestik yang melemah.
Belum lama ini pada Covid-19, BPS juga mencatat adanya tren serupa yang terjadi dalam tiga bulan beruntun. Deflasi bulanan terjadi pada Juli, Agustus, dan September 2020 yang masing-masing sebesar 0,1%, 0,05%, dan 0,05%.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengaku tidak khawatir dengan tren deflasi yang terjadi selama Mei—Agustus 2024 atau empat bulan berurut-urut.
Sri Mulyani berpendapat, deflasi yang terjadi belakangan karena adanya koreksi penurunan harga pangan. Oleh sebab itu, tidak perlu ada yang dikhawatirkan.
"Kalau deflasi berasal dari harga pangan, itu kan memang diupayakan dari pemerintah untuk menurunkan terutama waktu itu inflasi dari unsur harga pangan kan cukup tinggi gara-gara terutama dari beras, kemudian El Niño. Jadi kalau penurunan koreksi terhadap harga pangan itu menjadi tren yang positif," ujar Sri Mulyani di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Senin (2/9/2029).

Lagipula, sambungnya, inflasi inti tetap positif. Dia pun meyakini tidak terjadi penurunan daya beli masyarakat, meski tetap harus diantisipasi.
"Tapi kita akan tetap waspada ya," tutup bendahara negara tersebut.
Senada, Destry meyakini deflasi empat bulan berurut-urut belakang tersebut bukan alarm tanpa bahaya. Menurutnya, deflasi tersebut bukan karena penurunan daya beli masyarakat.
Dia menjelaskan, deflasi terjadi karena pemerintah telah berhasil melakukan pengendalian harga pangan usai sempat terjadi inflasi yang cukup besar pada awal 2024.
"Lebih ke pangan ya [bukan penurunan daya beli masyarakat], kan pangannya deflasi gede," kagak Destry usai rapat bersama Komite IV DPD RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Senin (2/9/2024).
Deflasi Terparah Sejak 1998, Ekonom Was-was Bakal Ganggu Pertumbuhan Ekonomi
Deflasi di negara berkembang dinilai sebagai indikasi konsumsi rumah tangga melemah. Masalahnya, konsumsi menjadi kontributor dominan pertumbuhan ekonomi. [607] url asal
#deflasi-empat-bulan-berturut-turut #deflasi-empat-bulan-beruntun #deflasi-4-bulan-berturut-turut #deflasi-4-bulan-beruntun #pertumbuhan-ekonomi #deflasi-ganggu-pertumbuhan-ekonomi #deflasi #deflasi-ag
(Bisnis.Com - Ekonomi) 02/09/24 18:25
v/14868588/
Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pusat Statisik (BPS) mencatat pada empat bulan terakhir Indonesia mengalami deflasi bulanan beruntun sejak Mei 2024, setelah terakhir fenomena serupa terjadi usai krisis moneter 1998.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini menyampaikan fenomena deflasi bukanlah hal baru karena sempat terjadi sepanjang tujuh bulan berturut-turut pada 1999, pascakrisis keuangan 1998.
"Sejak Maret 1999 sampai September 1999. Ini sebagai akibat dari depresiasi nilai tukar dan penurunan harga beberapa jenis barang," ungkapnya dalam konferensi pers, Senin (2/9/2024).
Berdasarkan data historis BPS, Indeks Harga Konsumen (IHK) kala itu bahkan sempat mencatatkan deflasi lebih dari 1%.
Bukan hanya periode tersebut, pada Desember 2008 dan Januari 2009, selama krisis finansial global, BPS juga mencatat adanya deflasi karena penurunan harga minyak dunia dan permintaan domestik yang melemah.
Belum lama ini pada Covid-19, BPS juga mencatat adanya tren serupa yang terjadi dalam tiga bulan beruntun. Deflasi bulanan terjadi pada Juli, Agustus, dan September 2020 yang masing-masing sebesar 0,1%, 0,05%, dan 0,05%.
Sementara pada tahun ini, deflasi telah terjadi sejak Mei 2024 yang dimulai dengan 0,03% (month-to-month/MtM). Kemudian deflasi berlanjut lebih dalam pada Juni 2024 sebesar 0,08% dan menuju angka yang lebih dalam sebesar 0,18% pada Juli 2024.
Per Agustus, IHK masih mencatatkan deflasi di angka 0,03% (MtM), yang utamanya terdorong oleh sisi penawaran. Deflasi disumbang karena penurunan harga pangan, seperti produk tanaman pangan kemudian hortikultura, dan peternakan, baik karena biaya produksinya yang turun sehingga harga di tingkat konsumen juga turun.
"Ini juga karena seiring dengan panen raya, sehingga pasokannya berlimpah dan akibatnya harganya ikut turun," pungkas Pudji.
Was-Was Target Pertumbuhan Ekonomi Tak Tercapai
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menyampaikan tingkat deflasi yang terjadi dalam empat bulan terakhir menjadi sinyal bahwa ekonomi tengah mengalami soft landing.
Bhima menegaskan, rendahnya tingkat inflasi atau bahkan mencatatkan deflasi bukanlah suatu indikator perekonomian yang baik bila terjadi di negara berkembang yang memiliki 47,8 juta orang kelas menengah ini.
Bahkan, hal ini menjadi suatu tanda bahwa konsumsi rumah tangga, yang menjadi daya topang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia, tampak lesu.
"Negara berkembang yang alami deflasi menunjukkan kondisi konsumsi rumah tangganya melemah," ungkapnya kepada Bisnis, Senin (2/9/2024).
Lebih jauh lagi, deflasi yang terjadi tersebut turut menjadi sinyal bahwa pertumbuhan ekonomi akan sulit melebihi 5%. Bahkan terindikasi adanya resesi atau perlambatan ekonomi dalam beberapa bulan.
Meski demikian, Bhima menyampaikan bahwa resesi tidak secara langsung memiliki arti krisis ekonomi seperti 1998 yang sifatnya hard landing. Dalam hal ini, kondisi ekonomi terpantau soft landing, di mana tumbuh namun terus melambat.
Secara umum, rendahnya dorongan inflasi sisi permintaan yang ditambah melandainya harga pangan menjadi penyebab utama deflasi Agustus 2024 yang sebesar 0,03% (MtM).
Melihat isu hangat yang saat ini terjadi terkait menurunnya jumlah kelas menengah pun memiliki andil terhadap kinerja Indeks Harga Konsumen (IHK).
"Kelas menengah yang jumlahnya menyusut membuat demand pull inflation-nya kecil. Masyarakat tahan belanja barang sekunder dan tersier karena harga kebutuhan pokok tidak bisa diimbangi dengan naiknya pendapatan," tutur Bhima.
Padahal, Indonesia tengah berjuang menuju target ekonomi yang lebih tinggi. Pada tahun ini saja, pemerintah mematok pertumbuhan ekonomi di angka 5,2%. Tahun depan, ekonomi diharapkan tumbuh di rentang 5,1% hingga 5,5% pada era pemerintahan Prabowo-Gibran.
Sementara lembaga internasional seperti Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) justru melihat ekonomi Indonesia akan stabil di level 5,1% hingga 2029.
Pertumbuhan ekonomi itu didukung oleh peningkatan konsumsi publik dan pertumbuhan investasi yang mengimbangi hambatan ekspor neto (net export) karena tekanan eksternal.
Di mana inflasi utama juga diperkirakan tetap stabil di titik tengah dari rentang target yang dipatok pemerintah.
Deflasi 4 Bulan Berturut-turut, Inflasi Makin Landai ke 2,12% Agustus 2024
BPS melaporkan bahwa terjadi deflasi empat bulan berturut-turut, sehingga tingkat inflasi dalam Indeks Harga Konsumen (IHK) Agustus 2024 terus melandai. [472] url asal
#deflasi-empat-bulan-berturut-turut #deflasi-empat-bulan-beruntun #deflasi-4-bulan-berturut-turut #deflasi-4-bulan-beruntun #deflasi #deflasi-agustus-2024 #penyebab-deflasi #penyebab-deflasi-agustus-20
(Bisnis.Com - Terbaru) 02/09/24 12:12
v/14864457/
Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan tingkat inflasi yang terekam dari Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Agustus 2024 terus melandai dalam empat bulan terakhir, karena terjadi deflasi empat bulan berturut-turut.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini menjelaskan deflasi pada Agustus 2024 sebesar 0,03% secara bulanan atau month-to-month (MtM). Deflasi yang terjadi sejalan dengan penurunan IHK dari 106,09 pada Juli 2024 menjadi 106,06 pada Agustsus 2024.
"Deflasi Agustus 2024 ini lebih rendah dibandingkan Juli 2024 dan merupakan deflasi keempat pada 2024," ungkapnya dalam konferensi pers, Senin (2/9/2024).
Membandingkan dengan deflasi yang terjadi pada Juli 2024, tercatat menjadi deflasi terdalam yang mencapai 0,18% (MtM).
Fenomena deflasi secara beruntun itu bukan hal baru. Menurut Pudji, kondisi serupa pernah terjadi setelah krisis finansial Asia, sehinga Indonesia mengalami deflasi 7 bulan berturut-turut dari Maret sampai September 1999.
Terbaru, deflasi 3 bulan beruntun sempat terjadi pada Juli—September 2020 akibat penurunan daya beli pada awal pandemi Covid-19. Sejumlah kelompok komoditas megalami deflasi, terutama makanan dan minuman.
Adapun, pada Agustus 2024 ini, makanan minuman dan tembakau menjadi kelompok pengeluaran penyumbang deflasi bulanan terbesar, yakni sebesar 0,52% dan dengan andil 0,15%.
Komoditas bawang merah, daging ayam ras, tomat, dan telur ayam ras menjadi penyumbang utama deflasi 2024 dengan andil deflasi masing-masing sebesar 0,08%, 0,03% 0,03%, dan 0,02% secara bulanan.
Menurut Pudji, deflasi yang terjadi pada Agutus 2024 ini setiap tahun terjadi. Secara historis, bawang merah dan daging ayam ras mengalami deflasi di setiap bulan Agustus dalam 3 periode terakhir.
Bawang merah, daging ayam ras, dan telur telah BPS rekam adanya deflasi sejak Juni 2024. Sementara deflasi untuk komoditas tomat telah terekam sejak Mei 2024.
Meski demikian, BPS mencatat beberapa komoditas yang menyumbang inflasi seperti bensin dan cabai rawit dengan andil inflasi masing-masing sebesar 0,03%.
Kemudian, komoditas kopi bubuk dan emas perhiasan dengan andil inflasi masing-inflasi sebesar 0,02%. Selanjutnya beras, sigaret kretek mesin (SKM), dan ketimun turut memberikan andil inflasi masing-masing 0,01%.
"Catatan lainnya adalah, kelompok pendidikan memberikan andil inflasi 0,04% atau mengalami inflasi sebesar 0,65%. Biaya SD, kuliah perguruan tinggi, SMP, yang memberikan andil inflasi masing-masing sebesar 0,01%," ungkapnya.
Secara umum, tingkat inflasi Indonesia Agustus 2024 mencapai 2,12% secara tahunan (year-on-year/YoY). Nilai ini sedikit lebih rendah dibandingkan inflasi pada Juli yang sebesar 2,13% yoy.
Penyumbang utama inflasi Agustus 2024 secara tahunan adlaah kelompok makanan minuman dan tembakau dengan andil inflasi terbesar 0,96%. Komoditas penyumbang utama inflasi pada kelompok ini adalah beras, SKM, cabai rawit, kopi bubuk, dan gula pasir.
Tren Inflasi/Deflasi 2024
| Bulan | Inflasi (%/YoY) | Inflasi (%/MtM) |
|---|---|---|
| Januari | 2,57 | 0,04 |
Februari | 2,75 | 0,37 |
Maret | 3,05 | 0,52 |
| April | 3 | 0,25 |
Mei | 2,84 | -0,03 |
Juni | 2,51 | -0,08 |
| Juli | 2,13 | -0,18 |
| Agustus | 2,12 | -0,03 |
Year-to-date | 0,87 | |
Sumber: BPS, diolah