PT Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk (BRI) menjadi BUMN yang memberikan setoran dividen terbesar selama 10 tahun terakhir dengan total mencapai Rp90,79 ... [303] url asal
pembagian dividen merupakan bentuk komitmen perseroan dalam menciptakan nilai ekonomi utamanya bagi para 'shareholders'
Jakarta (ANTARA) - PT Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk (BRI) menjadi BUMN yang memberikan setoran dividen terbesar selama 10 tahun terakhir dengan total mencapai Rp90,79 triliun.
Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu, bahwa pembagian dividen ini merupakan bentuk komitmen perseroan dalam menciptakan nilai ekonomi utamanya bagi para shareholders.
“Ini adalah bukti nyata bahwa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memiliki fungsi agent of development dan value creator dapat menjalankan peran economic dan social value secara simultan,” ujar Sunarso.
Melalui strategi dan inisiatif yang didukung pengelolaan modal yang baik, pihaknya optimistis dapat terus menciptakan nilai dan memberikan return yang optimal kepada pemegang saham, termasuk negara.
“Melalui pembayaran pajak dan dividen, laba tersebut akan kembali ke negara sebagai pemegang saham mayoritas. Selanjutnya, laba ini digunakan untuk kepentingan rakyat Indonesia melalui berbagai program pemerintah,” jelasnya.
Sunarso mengatakan bahwa permodalan perseroan masih kuat sehingga pihaknya dapat membagikan dividen sekaligus menjaga dividend payout ratio secara optimal.
“Rasio kecukupan modal BRI masih sangat kuat, di mana Capital Adequacy Ratio (CAR) BRI tercatat sebesar 25,13 persen pada akhir triwulan II 2024,” ucapnya.
Perseroan juga memiliki tambahan modal Rp41 triliun yang berasal dari right issue pembentukan Holding Ultra Mikro (UMi) bersama PT Permodalan Nasional Madani (PNM) dan PT Pegadaian.
Setoran dividen BRI ke kas negara selama periode 2014-2023 berkisar Rp3,6 triliun hingga Rp23,23 triliun setiap tahunnya. Berikut besaran setoran dividen BRI ke kas negara sejak 2014:
Bisnis.com, JAKARTA - Emiten bank jumbo seperti BBRI, BMRI, BBCA dan BBNI memberikan proyeksi dividen tebal untuk tahun buku 2024. Keempat bank jumbo kompak berkomitmen membagikan dividen dengan Dividend Payout Ratio (DPR) dengan rasio di atas 50%.
Pertimbangan pembagian dividen itu sejalan dengan kuatnya permodalan keempat bank jumbo. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) misalnya diprediksi masih akan memberikan dividen jumbo pada 2025.
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) Sunarso menilai bahwa perseroan masih memiliki permodalan yang kuat sehingga masih mampu ... [441] url asal
Saya sebagai CEO yakin bahwa sampai 5 tahun ke depan berapa pun laba BRI, layak dibagi dalam bentuk dividen
Jakarta (ANTARA) - Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) Sunarso menilai bahwa perseroan masih memiliki permodalan yang kuat sehingga masih mampu memberikan dividen.
“Dividen BRI pasti di level yang tinggi, karena itu tidak masalah bagi permodalan BRI,” kata Sunarso dalam pernyataan yang diterima di Jakarta, Senin.
Ia menyatakan bahwa rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) perseroan tercatat sebesar 25,13 persen pada akhir triwulan II 2024.
Hal tersebut disebabkan adanya tambahan modal senilai Rp 41 triliun yang berasal dari right issue pembentukan Holding Ultra Mikro (UMi) bersama PT Permodalan Nasional Madani (PNM) dan PT Pegadaian.
“Saya sebagai CEO yakin bahwa sampai 5 tahun ke depan berapa pun laba BRI, layak dibagi dalam bentuk dividen. Karena apa? Karena memang tidak dibutuhkan untuk menahan laba untuk memperkuat modal, karena modalnya sudah sangat kuat,” ujarnya.
Sunarso mengatakan bahwa pembagian dividen nantinya tergantung dari persetujuan otoritas, termasuk Kementerian BUMN, Kementerian Keuangan, maupun Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Kalau dividend payout ratio-nya tinggi, itu harus. Tapi bagaimana cara membayarnya? Apakah langsung sekaligus atau dicicil dalam bentuk interim? Itu subjek persetujuan dari otoritas,” tuturnya.
Tidak hanya rasio kecukupan modal yang baik, ia menyampaikan bahwa pertumbuhan laba perseroan juga tercatat positif hingga akhir triwulan II 2024.
Perseroan secara konsolidasian berhasil mencetak laba Rp29,9 triliun hingga akhir triwulan II 2024.
Pencapaian tersebut salah satunya didorong dari penyaluran kredit yang mencapai Rp1.336,78 triliun atau tumbuh 11,2 persen year-on-year (yoy).
Segmen UMKM masih mendominasi penyaluran kredit dengan porsi mencapai 81,96 persen, atau sekitar Rp1.095,64 triliun.
Penyaluran kredit yang tumbuh double digit tersebut membuat aset perseroan tercatat meningkat 9,54 persen yoy menjadi sebesar Rp1.977,37 triliun.
“Rasio loan at risk (LAR) tercatat membaik atau turun, dari semula 14,94 persen pada akhir triwulan II 2023 menjadi 12 persen pada akhir triwulan II 2024,” ucap Sunarso.
Sementara itu, rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) berada di kisaran 3,05 persen dengan rasio NPL coverage berada pada level yang memadai sebesar 211,6 persen.
Terkait pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dikelola perseroan tercatat tumbuh 11,61 persen yoy menjadi sebesar Rp1.389,66 triliun.
Dana murah atau current acount saving account/CASA (tabungan dan giro) masih mendominasi struktur DPK perseroan dengan porsi mencapai 63,17 persen.
“Dengan fundamental keuangan yang baik, serta kemampuan BRI melayani masyarakat yang semakin luas, ditambah dengan adanya sumber pertumbuhan baru dari holding ultra mikro, BRI optimis dapat terus menorehkan kinerja positif dan berkelanjutan,” imbuh Sunarso.
Bank Rakyat Indonesia (BBRI) mengumumkan rencananya untuk tetap membagikan dividen pada tingkat yang tinggi kepada para investor tahun depan, [340] url asal
Bisnis.com, JAKARTA -- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) mengumumkan rencananya untuk tetap membagikan dividen pada tingkat yang tinggi kepada para investor tahun depan, meskipun kondisi makroekonomi yang menantang.
Direktur Utama BRI, Sunarso menyatakan perusahaan telah mengantisipasi berbagai risiko sejak awal pandemi Covid-19 dan telah memperkuat modal melalui pembentukan holding ultra mikro (UMi). Sunarso menjelaskan bahwa inisiatif right issue pada tahun 2021 yang digunakan untuk pembentukan holding UMi memberikan tambahan modal sebesar Rp41 triliun kepada BRI.
"Ini membuat permodalan BRI kuat, yang tercermin dari rasio kecukupan modal (CAR) Tier 1 yang secara konsolidasi mencapai 24,02% pada Juni 2024," ujar Sunarso dalam Public Expose Live, Kamis (29/8/2024).
Ia menambahkan, BRI akan menjaga rasio CAR minimal pada level 17,5% meskipun tetap membutuhkan modal untuk pertumbuhan sekitar 2% per tahun. Dengan posisi modal yang kuat, Sunarso yakin bahwa dalam lima tahun ke depan, laba BRI dapat dibagikan sebagai dividen tanpa harus menahan laba untuk memperkuat modal.
Mekanisme pembagian dividen tersebut, apakah dilakukan sekaligus atau secara bertahap melalui dividen interim, akan bergantung pada persetujuan otoritas terkait, termasuk Kementerian BUMN, Kementerian Keuangan, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Sunarso juga menegaskan bahwa dividen payout ratio yang diterima investor akan tinggi, karena hal ini tidak akan membahayakan permodalan BRI. "Pembagian dividen tinggi itu sudah seharusnya," tegasnya.
Sebelumnya, BRI telah memutuskan untuk membagikan 80% laba tahun buku 2023, atau sekitar Rp48,1 triliun, sebagai dividen tunai. Dari total tersebut, Rp12,67 triliun telah dibagikan sebagai dividen interim awal tahun ini, sementara sisanya sebesar Rp35,43 triliun dibagikan kemudian.
Dengan demikian, dividen per saham BRI mencapai Rp319 per saham, dengan Rp84 per saham telah dibagikan dalam bentuk dividen interim, dan Rp235 per saham dibagikan sebagai dividen final. Dalam laporan keuangan per Desember 2023, BRI mencatat laba bersih Rp60,09 triliun, saldo laba ditahan Rp11,99 triliun, dan total ekuitas Rp316,47 triliun.
Bisnis.com, JAKARTA - Sebagian besar bank telah merilis kinerja keuangan hingga paruh pertama 2024. Bank pun mulai memberikan kisi-kisi mengenai besaran dividen yang akan dibagikan kepada para pemegang saham pada tahun depan untuk tahun buku 2024. Berikut ulasan bocoran dividen dari bank besar, seperti Bank Mandiri, BNI, hingga BCA.
Kemarin, dalam public expose, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) mengisyaratkan masih akan menjadi perusahaan dengan kebijakan pembayaran dividen yang jumbo pada 2025.
Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri Sigit Prastowo mengatakan terkait penentuan dividen, perseroan akan terus memperhatikan tingkat permodalan yang optimal untuk mendukung pertumbuhan bisnis secara jangka panjang.
Pertimbangan ini juga menjadi bagian dari arahan kebijakan Kementerian BUMN yang menginginkan Bank BUMN dapat mendukung pertumbuhan kredit yang sehat dan agresif dengan kadar kecukupan modal yang baik.
“Kita ingin sampaikan selama lima tahun terakhir BMRI telah membagikan dividen yang baik, di mana dividend payout ratio secara konsisten kita bayarkan 60% [dari laba] dan tentu ke depan kami ingin mempertahankan level tersebut,” ujarnya, Selasa (27/8/2024).
Pada 2024 Bank Mandiri membagikan dividen senilai Rp33 triliun. Sigit menjelaskan ini menjadi nilai yang sangat besar yang dibagikan kepada seluruh pemegang saham untuk tahun buku 2023. “Yang kalau kita hitung [dividen 2024] yield-nya itu sebesar 6,5%,” ujarnya.
Ke depan, Sigit menyampaikan perseroan akan mempertahankan konsisten kinerja Mandiri grup untuk dapat terus meningkatkan value kepada stakeholder khususnya ke pemegang saham supaya BMRI dapat memberikan dividen sekaligus harga saham yang baik.
Karyawan melayani nasabah di salah satu kantor cabang Bank Mandiri di Jakarta. Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Berdasarkan catatan Bisnis, BMRI membagikan dividen senilai Rp33,03 triliun atau Rp353,95 per saham kepada pemegang sahamnya pada awal tahun ini atau untuk tahun buku 2023. Nilai tersebut mencapai 60% dari laba bersih perseroan pada 2023.
Dalam rangkaian public expose di hari yang sama, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. atau BTN (BBTN) juga mengungkapkan rencana dividen Tahun Buku 2024 pada 2025.
Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu menjelaskan bahwa pemberian dividen pada masa mendatang akan didasarkan pertimbangan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) bank. Jika bank memerlukan lebih banyak modal untuk ekspansi kredit atau alasan lainnya, biasanya rata-rata dividend payout ratio pada level 20%.
“Tapi kalau kita lagi merasa bahwa kita perlu naikkan dividend payout dengan pertimbangan tertentu, kita akan naikkan sama pemerintah. Tapi most likely sih saya kasih guidance saja 20%-25% lah pasti. Sekitaran segitulah BTN,” ujarnya.
Selain itu, untuk bisa memberikan dividen yang lebih tinggi kepada pemegang saham, pihaknya terus berusaha menjaga laba agar tetap stabil meskipun biaya dana (cost of fund) meningkat signifikan dengan mendorong pertumbuhan fee based.
Nixon juga menyebutkan bahwa bank juga berhasil mendorong kenaikan kinerja syariah dengan serta terus mendorong memperbaiki kualitas kredit dengan target rasio kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) di bawah 3% pada akhir tahun, yang diharapkan dapat menurunkan cost of credit.
Sebagai nformasi, BTN membagikan 20% laba untuk dividen pada 2024 atas kinerja tahun 2023. Dalam RUPS yang diselenggarakan (6/3/2024) pemegang saham menyetujui membagikan Rp700,19 miliar atau Rp49,89136 per saham yang akan dibagikan dalam bentuk dividen kepada pemegang saham.
Dengan besaran dividen ini, maka pemerintah menerima sekitar Rp420,11 miliar sebagai pemilik 60% saham BTN, sedangkan sisanya menjadi hak pemegang saham publik. Tercatat, laba bersih sepanjang 2023 yang didapat diatribusikan kepada entitas induk Rp3,5 triliun, saldo laba ditahan yang tidak dibatasi penggunaannya Rp3,66 triliun, dan total ekuitas Rp30,48 triliun.
Bank BUMN lainnya, yaitu PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BNI) juga telah memberikan kisi-kisi pembagian dividen untuk tahun buku 2024. Direktur Keuangan BNI Novita Widya Anggraini mengatakan terkait penentuan dividen, pihaknya akan terus mempertimbangkan kondisi permodalan yang ada.
Dia juga menyampaikan perseroan berpotensi mempertahankan rasio pembagian dividen 50% dari laba bersih kepada para investor. “Dividen belum [diputuskan], tapi enggak akan turunlah dari tahun lalu. Kurang lebih kan kita mesti lihat kondisi capital. Kalau tahun lalu 50% [dari total laba bersih], ya tetap kita jaga 50% seperti tahun lalu,” ujarnya usai agenda Indonesia Women in Finance Conference, Kamis (15/8/2024)
Pada awal April 2024, BNI memutuskan menebar dividen sebesar Rp10,45 triliun kepada pemegang sahamnya. Besaran dividen ini yaitu 50% dari total laba bersih tahun buku 2023, yang senilai Rp21,11 triliun.
Dengan jumlah saham beredar mencapai 37,29 miliar lembar, maka nilai dividen per saham BNI sebesar Rp280,49 per saham. Nilai dividen BNI saat itu naik dibandingkan tahun lalu, di mana BNI menebar Rp7,3 atau 40% dari total laba bersih tahun buku 2022.
BRI dan BCA
Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BRI) menyatakan komitmen membagikan dividen secara optimal untuk tahun buku 2024. Menandai posisinya sebagai BUMN paling royal menyetor dividen ke kas negara.
Sekretaris Perusahaan BBRI Agustya Hendy Bernadi mengatakan perseroan dalam beberapa tahun ke depan berkomitmen memberikan rasio pembayaran dividen secara optimal, dengan mempertimbangkan kondisi permodalan yang memadai.
“BRI berkomitmen dalam beberapa tahun ke depan dan dengan mempertimbangkan kondisi permodalan yang memadai, BRI akan memberikan dividen dengan payout ratio yang optimal,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (16/7/2024).
Menurutnya, ada beberapa faktor yang menentukan BBRI dalam memutuskan besaran dividen ke pemegang saham, mulai dari proyeksi pertumbuhan bisnis hingga rasio kecukupan modal.
“BRI memperhatikan faktor proyeksi pertumbuhan bisnis ke depan, pemenuhan rasio kecukupan modal dan faktor sustainability tingkat imbal hasil atas ekuitas dalam tiga tahun,” tuturnya.
Pada Maret 2024, Direktur Utama BRI Sunarso pernah mengatakan BRI memang mempunyai prospek tebaran dividen tinggi. "Sampai 5 tahun ke depan, BRI belum perlu tambahan modal. Jadi, berapapun labanya, BRI punya kelonggaran membagikan dividen yang besar," katanya.
Dividen Interim BCA
PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) memastikan akan membagikan dividen interim pada Desember 2024 kepada pemegang saham. Sebagaimana diketahui, perseroan memang tidak pernah absen membagikan dividen interim kepada para pemegang sahamnya sejak 2004.
Direktur Keuangan BCA Vera Eve Lim memproyeksikan dividen interim hingga final dividen akan lebih baik lagi. “Laba kan baik, pertumbuhan laba kan baik 11% ya kemarin [semester I/2024]. Jadi, mudah-mudahan interim dividen, nanti final dividen RUPS tahun depan lebih baik lagi,” ujarnya, Kamis (15/8/2024).
Menurutnya, kinerja semester I/2024 memiliki pertumbuhan yang baik. Bahkan, dirinya yakin pertumbuhan kredit tahun ini akan mampu dobel digit, di atas 10%.
“Walaupun saya lihat ada Pemilu, rupiah hari ini bagus dan saya yakin pertumbuhan kredit tahun ini akan bisa dobel digit, bisa di atas 10%,” ucapnya.
Berdasarkan catatan Bisnis, BCA tidak pernah absen membagikan dividen interim kepada para pemegang saham sejak 2004. BCA menjadi salah satu perusahaan yang dikenal royal membagikan keuntungan kepada para pemegang saham dalam bentuk dividen.
BCA biasanya membagikan dividen sebanyak dua kali untuk satu periode tahun buku keuangan sejak 2004. Pertama, perseroan membagikan dalam bentuk dividen interim yang biasanya diumumkan pada rentang September hingga Desember. Kedua, BBCA membagikan dividen final yang diputuskan melalui rapat umum pemegang saham tahunan.
Sebelumnya manajemen BCA telah memutuskan untuk membagikan dividen interim senilai Rp42,5 per saham dari kinerja keuangan per September 2023. Jumlah saham BBCA yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebanyak 123,275 miliar saham sehingga total dividen yang diberikan mencapai Rp5,23 triliun.
Adapun, nilai tebaran dividen interim tersebut naik 21,4% dibandingkan tebaran pada 2022 sebesar Rp35 per saham atau dengan nilai Rp4,31 triliun.
Bisnis.com, JAKARTA -- Musim dividen interim akan segera dimulai pada semester II/2024. Bagaimana potensi tebaran dividen interim dari sektor perbankan?
PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat sudah ada 355 kali aksi distribusi dividen yang dilakukan oleh emiten hingga awal Agustus 2024. Sejumlah sektor pun bergeliat menebar dividen pada tahun ini.
Nilai distribusi dividen emiten keuangan perbankan misalnya telah mencapai Rp58,24 triliun, meningkat dibandingkan dengan periode 2023 secara penuh senilai Rp50,57 triliun.
Sektor lainnya yang mendistribusikan dividen adalah sektor energi. Tercatat, sektor energi menebar dividen Rp30,86 triliun hingga 9 Agustus 2024.
Kemudian, sektor industri multisektor menebar dividen Rp7,83 triliun, serta sektor telekomunikasi Rp7,36 triliun.
Adapun, tebaran dividen masih akan terus bertambah pada tahun ini. Deretan emiten telah bersiap untuk menebar dividen interimnya pada tahun ini. Dividen interim sendiri merupakan tebaran dividen sebelum periode pembukuan keuangan perusahaan rampung.
Pada bulan ini, PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA) misalnya telah melakukan pembayaran dividen interim tahun buku 2024 pada 15 Agustus 2024. Nilai dividen per saham mencapai Rp50 dengan total dividen interim yang ditebar mencapai Rp986,85 miliar.
PT Selamat Sempurna Tbk. (SMSM) dijadwalkan menerbar dividen interim kepada pemegang sahamnya dengan nilai Rp35 per lembar atau Rp201,55 triliun pada 21 Agustus 2024.
Lalu, PT Samudera Indonesia Tbk. (SMDR) akan membagikan dividen interim 2024 total senilai Rp32,75 miliar atau Rp2 per lembar pada 28 Agustus 2024.
Selain itu, PT IMC Pelita Logistik Tbk. (PSSI) akan membagikan dividen interim 2024 total senilai Rp146,65 miliar atau Rp28 per lembar pada 30 Agustus 2024.
Bagaimana dengan Sektor Perbankan?
Sejumlah bank pun turut mempersiapkan tebaran dividen interimnya tahun ini. PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) misalnya telah secara rutin membagikan dividen interim kepada pemegang sahamnya.
Berdasarkan catatan Bisnis, BCA tidak pernah absen membagikan dividen interim kepada para pemegang saham sejak 2004. BCA menjadi salah satu perusahaan yang dikenal royal membagikan keuntungan kepada para pemegang saham dalam bentuk dividen.
BCA biasanya membagikan dividen sebanyak dua kali untuk satu periode tahun buku keuangan sejak 2004. Pertama, perseroan membagikan dalam bentuk dividen interim yang biasanya diumumkan pada rentang September hingga Desember. Kedua, BBCA membagikan dividen final yang diputuskan melalui rapat umum pemegang saham tahunan.
Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja pun buka suara terkait dengan proyeksi tebaran dividen interim tahun ini. "Dividen interim nanti Desember, tunggu, sabar," katanya setelah acara konferensi pers BCA Expo pada Jumat (16/8/2024).
Berkaca pada tahun lalu, BCA telah memutuskan untuk membagikan dividen interim senilai Rp42,5 per saham dari kinerja keuangan per September 2023. Dengan jumlah saham beredar BBCA yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebanyak 123,27 miliar lembar, maka total dividen yang diberikan mencapai Rp5,23 triliun.
Nilai tebaran dividen interim pada 2023 naik 21,4% dibandingkan tebaran pada 2022 sebesar Rp35 per saham atau dengan nilai Rp4,31 triliun.
Kemudian, BCA membagikan dividen tunainya pada awal tahun ini sebesar Rp227,5 per saham atau Rp33,28 triliun.
Selain BCA, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) pun membagikan dividen interim pada 2023 sebesar Rp84 per lembar saham atau Rp12,73 triliun. Lalu, sisanya atau menjadi tebaran dividen tunai BRI pada awal tahun ini sebesar Rp235 per saham.
Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan BRI memang mempunyai prospek tebaran dividen tinggi. "Sampai 5 tahun ke depan, BRI belum perlu tambahan modal. Jadi, berapapun labanya, BRI punya kelonggaran membagikan dividen yang besar," katanya dalam konferensi pers pada Maret lalu (1/3/2024).
PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk. (SDRA) pun mengacu pada tahun lalu ikut menebar dividen interimnya. Nilai dividen interim itu mencapai Rp20 per saham, dari hasil laba periode 1 Januari 2023 sampai dengan 30 September 2023.
Kemudian, SDRA menebar sisanya atau dividen tunai pada awal tahun ini sebanyak Rp7,5 per lembar. Secara keseluruhan, SDRA menebar dividen 33,76% dari laba bersih tahun buku 2023 atau Rp235,62 miliar.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) berhasil mencatatkan laba bersih konsolidasi yang dapat diatribsui kepada pemilik Rp29,7 triliun per Juni 2024. [390] url asal
Bisnis.com, JAKARTA -- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) berhasil mencatatkan laba bersih konsolidasi yang dapat diatribusikan ke pemilik sebesar Rp29,7 triliun per Juni 2024. Pencapaian ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp29,42 triliun. Sedangkan total laba bersih komprehensif mencapai Rp29,99 triliun.
Dalam publikasi laporan keuangan di Bisnis Indonesia, Kamis (25/7/2024), pertumbuhan laba BRI didorong oleh kenaikan kredit yang disalurkan menjadi Rp1.264,77 triliun secara konsolidasi, melonjak 5,59% dibandingkan periode sebelumnya sebesar Rp1.197,75 triliun.
Pertumbuhan penyaluran kredit ini kemudian mengerek pendapatan bunga perusahaan menjadi Rp98,64 triliun. Capaian ini naik Rp13,05 triliun dibandingkan periode sebelumnya sebesar Rp85,59 triliun.
Selanjutnya tercatat BRI memiliki ruang ekspansi di tengah melonggarnya loan to deposit ratio (LDR) dari 87,83% turun menjadi 87,19%. Sementara itu rasio Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) juga terpangkas dari 5,78% menjadi 4,83%. BRI juga mencatat NPL gross 3,21% serta NPL Net 0,86% dalam setengah tahun 2024.
Keseluruhan, BRI mencatatkan aset konsolidasi sebesar Rp1.977,37 triliun, tumbuh 0,62% dari sebelumnya Rp1.965 triliun. Sedangkan bank only mencapai Rp1.832,75 triliun. Dari jumlah ini sebesar Rp1.389,66 triliun merupakan dana pihak ketiga yang terdiri dari giro (Rp356,85 triliun), tabungan (521,04 triliun), dan deposito (Rp511,766 triliun).
Sementara itu dari lantai bursa, pada penutupan perdagangan Selasa (24/7/2024), harga saham BBRI turun 0,21% ke level Rp4.780. Meski demikian, selama sepekan terakhir, harga saham BBRI naik 0,42%.
CEO Jooara Rencana Keuangan Gembong Suwito mengatakan sejak Maret 2024, usai pembagian dividen, saham BBRI mendapat tekanan dari investor asing sehingga turun dari level tertingginya di Rp6.450 dan titik terendah di Rp4.090 sebelum mampu rebound dan saat ini mencapai Rp4.780
“Secara prediksi BBRI masih akan tumbuh single digit di kisaran 6-9% baik secara Revenue ataupun EPS,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (24/7/2024).
Lebih lanjut, dia menyebut apabila laporan keuangan kuartal II/2024 di atas ekspektasi para analis, maka ini bisa menjadi katalis positif bagi pergerakan BBRI ke level Rp5.00 hingga Rp5.100 dalam beberapa bulan ke depan.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) berhasil mencatatkan laba bersih konsolidasi yang dapat diatribsui kepada pemilik Rp29,7 triliun per Juni 2024. [390] url asal
Bisnis.com, JAKARTA -- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) berhasil mencatatkan laba bersih konsolidasi yang dapat diatribusikan ke pemilik sebesar Rp29,7 triliun per Juni 2024. Pencapaian ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp29,42 triliun. Sedangkan total laba bersih komprehensif mencapai Rp29,99 triliun.
Dalam publikasi laporan keuangan di Bisnis Indonesia, Kamis (25/7/2024), pertumbuhan laba BRI didorong oleh kenaikan kredit yang disalurkan menjadi Rp1.264,77 triliun secara konsolidasi, melonjak 5,59% dibandingkan periode sebelumnya sebesar Rp1.197,75 triliun.
Pertumbuhan penyaluran kredit ini kemudian mengerek pendapatan bunga perusahaan menjadi Rp98,64 triliun. Capaian ini naik Rp13,05 triliun dibandingkan periode sebelumnya sebesar Rp85,59 triliun.
Selanjutnya tercatat BRI memiliki ruang ekspansi di tengah melonggarnya loan to deposit ratio (LDR) dari 87,83% turun menjadi 87,19%. Sementara itu rasio Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) juga terpangkas dari 5,78% menjadi 4,83%. BRI juga mencatat NPL gross 3,21% serta NPL Net 0,86% dalam setengah tahun 2024.
Keseluruhan, BRI mencatatkan aset konsolidasi sebesar Rp1.977,37 triliun, tumbuh 0,62% dari sebelumnya Rp1.965 triliun. Sedangkan bank only mencapai Rp1.832,75 triliun. Dari jumlah ini sebesar Rp1.389,66 triliun merupakan dana pihak ketiga yang terdiri dari giro (Rp356,85 triliun), tabungan (521,04 triliun), dan deposito (Rp511,766 triliun).
Sementara itu dari lantai bursa, pada penutupan perdagangan Selasa (24/7/2024), harga saham BBRI turun 0,21% ke level Rp4.780. Meski demikian, selama sepekan terakhir, harga saham BBRI naik 0,42%.
CEO Jooara Rencana Keuangan Gembong Suwito mengatakan sejak Maret 2024, usai pembagian dividen, saham BBRI mendapat tekanan dari investor asing sehingga turun dari level tertingginya di Rp6.450 dan titik terendah di Rp4.090 sebelum mampu rebound dan saat ini mencapai Rp4.780
“Secara prediksi BBRI masih akan tumbuh single digit di kisaran 6-9% baik secara Revenue ataupun EPS,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (24/7/2024).
Lebih lanjut, dia menyebut apabila laporan keuangan kuartal II/2024 di atas ekspektasi para analis, maka ini bisa menjadi katalis positif bagi pergerakan BBRI ke level Rp5.00 hingga Rp5.100 dalam beberapa bulan ke depan.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI tercatat menjadi kontributor terbesar atas setoran dividen Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kepada negara di ... [347] url asal
Jakarta (ANTARA) - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI tercatat menjadi kontributor terbesar atas setoran dividen Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kepada negara di tahun 2023, yakni sebesar Rp23,2 triliun.
Direktur Utama BRI Sunarso menyampaikan, dengan memperoleh keuntungan atau economic value maka perusahaan BUMN bisa memiliki modal untuk menciptakan social value sehingga ekonomi akan berputar.
“BRI sudah membuktikan bahwa selama ini bisa menjalankan peran economic value dan social value secara simultan," kata Sunarso melalui keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu.
Selain BRI, kontributor dividen teratas lainnya untuk periode 2023 antara lain Pertamina dengan dividen Rp14 triliun, kemudian diikuti oleh Bank Mandiri Rp12,8 triliun, serta Telkom dan MIND ID yang masing-masing berkontribusi Rp8,6 triliun dan Rp7,5 triliun.
Berdasarkan data Kementerian BUMN, kontribusi perseroan BUMN terhadap negara dalam bentuk dividen mencapai Rp81 triliun pada 2023 atau naik 102,5 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan dengan setoran tahun 2022 sebesar Rp40 triliun.
Adapun secara keseluruhan, total kontribusi BUMN terhadap negara termasuk pajak dan PNBP lainnya mencapai Rp636 triliun pada 2023. Pencapaian itu juga tumbuh dari Rp591 triliun untuk periode 2022.
Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengatakan bahwa BUMN secara grup berkontribusi terhadap pendapatan negara pada periode 2023 sebesar 20 persen.
Menurut Tiko, perbaikan struktur, transformasi budaya maupun keuangan yang dilakukan BUMN juga ikut dirasakan masyarakat sebagai pemegang saham emiten BUMN.
Sebagai informasi, BRI telah menyetorkan total sebanyak Rp192,06 triliun kepada kas negara sejak tahun 2019 hingga kuartal I 2024. Setoran berasal dari dari pembayaran Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai & Bea Materai, Pajak Penghasilan Badan, Dividen dan Pajak Daerah.
Pada tahun ini, BRI membagikan dividen untuk laba Tahun Buku 2023 sebesar Rp48,10 triliun yang telah disepakati dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Maret 2024.
Dividen yang dibagikan BRI tersebut meningkat 10,59 persen dibandingkan nominal yang dibayarkan pada 2023 dengan total sebesar Rp43,49 triliun. Adapun dividen bagian Negara Republik Indonesia atas kepemilikan sebesar 53,19 persen saham, BRI menyetorkan kurang lebih Rp25,71 triliun kepada Rekening Kas Umum Negara.