JAKARTA, investor.id – Bank Indonesia (BI) memperkirakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Fed Fund Rate (FFR) bakal terus menurun dan akan berada di level 3,5% di tahun 2025. Penurunan suku bunga acuan terjadi karena adanya kondisi ketidakpastian perekonomian dunia.
“Fed Fund Rate pada tahun 2023 sebesar 5,5%, tahun ini kami perkirakan turun menjadi 4,5% dan tahun depan di level 3,5%,” ujar Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR pada Rabu (6/11/2024).
Saat bank sentral Amerika Serikat (The Fed) menurunkan suku bunga acuan diperkirakan akan dibuntuti oleh bank sentra negara lain. Lantaran bank sentral juga memperhatikan stabilitas pasar keuangan global dan perekonomian global.
Dari sisi inflasi, saat pandemi Covid-19 inflasi sempat berada dalam level tinggi. Lalu memasuki pascapandemi Covid-19 inflasi mulai turun perlahan. Inflasi dunia yang tercatat sebesar 6,2% pada tahun 2023 mulai menurun dan diperkirakan mencapai 5,3 % pada tahun ini.
“Inflasi (global) diperkirakan akan terus menurun secara bertahap hingga mencapai 4,4% pada tahun depan,” kata Perry.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2024 dan 2025 diperkirakan akan stagnan di level 3,2%. Lantaran, tantangan yang lebih besar muncul dari pergeseran sumber-sumber pertumbuhan ekonomi global.
“Negara-negara besar seperti Amerika Serikat, China, dan Eropa diperkirakan akan mengalami pelambatan ekonomi. Sementara ekonomi India dan Indonesia menunjukkan prospek yang lebih baik,” ungkap Perry.
Ramalan IMF
Sebelumnya Director Research Department International Monetary Fund (IMF) Pierre-Olivier Gourinchas memperkirakan pertumbuhan ekonomi global tahun 2024 akan berada di angka 3,2%. Inflasi global akan mereda pada tahun 2025 menjadi 3,5%. Angka ini jauh lebih rendah dari kondisi inflasi tahun 2022 yang menyentuh angka 9,4%.
“Jadi inflasi, lebih terlihat jelas di negara-negara maju dan sekarang kami memperkirakan negara-negara maju akan kembali ke target mereka pada tahun 2025 untuk sebagian besar negara,” ucap Pierre.
Dia mengatakan di sebagian besar negara, inflasi telah mendekati target bank sentral. Kini inflasi telah turun sementara perekonomian global tetap tangguh. Pada negara berkembang terdapat lebih banyak variasi.
IMF melihat peningkatan dalam sebaran inflasi sehingga beberapa negara telah mencapai banyak kemajuan. Misalnya di negara-negara berkembang di Asia dan mereka berada pada tingkat inflasi yang sangat mirip dengan negara-negara maju.
“Beberapa dari negara-negara tersebut adalah wilayah lain di Timur Tengah misalnya atau Afrika Subsahara Selatan dan terdapat negara-negara yang masih memiliki tingkat inflasi dua kali lipat dan mungkin memerlukan waktu lebih lama untuk melakukan konvergensi kembali,” tutur Pierre.
Editor: Prisma Ardianto (ardiantoprisma@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News