JAKARTA, investor.id – PT Gudang Garam Tbk (GGRM) telah melakukan penyesuaian harga ex-factory (harga pokok penjualan barang dari pabrik penjual) sebanyak dua kali pada Maret dan Mei 2024, namun volume penjualan diperkirakan tetap lemah. Lantas, bagaimana prospek kinerja dan saham GGRM?
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Natalia Sutanto dan Sabela Nur Amalina mengungkapkan, meskipun penyesuaian harga tersebut dapat mendukung sebagian margin Gudang Garam, volume penjualan tahun ini diprediksi lebih lemah. “Sebab ekspektasi kami terhadap peningkatan volume yang didorong oleh pemilu pada kuartal I-2024 gagal terwujud,” tulis Natalia dan Sabela dalam risetnya.
Sebagai informasi, secara year to date (ytd), harga jual rata-rata (average selling price/ASP) Gudang Garam Merah 12 (sigaret kretek tangan/SKT) telah naik 6%. Begitu juga dengan ASP Gudang Garam International 12 naik 6% dan Gudang Garam Surya 16 meningkat 8%.
Adapun pada 2023, volume penjualan rokok emiten berkode saham GGRM tersebut terpangkas 25,6% yoy, dengan pangsa pasar lebih rendah sebesar 21,2% dibandingkan tahun 2022 yang mencapai 25,5%. Volume SKT GGRM turun 2% dan SKM (sigaret kretek mesin) merosot 28%.
Tahun ini, BRI Danareksa Sekuritas yakin GGRM fokus menjaga margin, karena regulasi cukai 2024 terus memberikan dampak biaya yang lebih besar bagi produsen rokok tier 1, termasuk GGRM. Perseroan diprediksi menaikkan harga lebih tinggi yang akan menghasilkan margin kotor sebesar 11,6-11,7% pada 2024-2025, turun dari 12,3% pada 2023. Hal itu diperkirakan terjadi dengan mengorbankan volume.
“Karena itu, kami menurunkan asumsi pertumbuhan volume GGRM pada 2024-2025 menjadi -13% dan -8% yoy, turun dari sebelumnya -5% dan 0% yoy,” sebut Natalia.
Rekomendasi dan Target Harga Saham
Secara keseluruhan, BRI Danareksa Sekuritas memangkas estimasi laba bersih GGRM pada 2024 dan 2025 masing-masing sebesar 42% dan 47% menjadi Rp 4 triliun (turun 25% yoy) dan Rp 4,1 triliun (naik 1,7% yoy).
BRI Danareksa Sekuritas menilai, prospek GGRM tetap menantang di tengah proyeksi lemahnya pertumbuhan volume, yang bisa saja menunda penyesuaian harga lebih lanjut dan mendorong pergeseran bauran produk menuju produk bernilai. Perseroan baru-baru ini mengumumkan tidak akan membagikan dividen dari laba bersih 2023, karena untuk modal kerja.
Dengan berbagai faktor yang ada, BRI Danareksa Sekuritas menurunkan (downgrade) peringkat GGRM menjadi hold. Target harga saham GGRM dipangkas menjadi Rp 17.500 dari sebelumnya Rp 24.000.
Target harga tersebut berdasarkan standar deviasi (SD) -1 rata-rata P/E 3 tahun sebesar 8,3 kali. Saat ini, GGRM diperdagangkan dengan estimasi P/BV 2025 sebesar 0,5 kali dan P/E 8,2 kali (SD -1 rata-rata P/E 3 tahun).
GGRM bakal memiliki katalis positif jika ada peraturan yang menguntungkan perusahaan rokok tier 1. Misalnya, cukai tahun 2025 dan struktur cukai baru yang dapat mempersempit kesenjangan antara produsen rokok tier 1 dan produsen rokok di tingkat yang lebih rendah.
Editor: Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News