#30 tag 24jam
Mengungkap Kebohongan Bertumpuk-tumpuk Israel dalam Propaganda Hasbara
Benjamin Netanyahu dinilai sebagai pembohong utama dan pengabur informasi. [672] url asal
#hasbara #hasbara-israel #hasbara-tuai-kecaman #agenda-hasbara #propaganda-hasbara-israel #kebohongan-israel-dalam-hasbara #benjamin-netanyahu #kebohongan-netanyahu
(Republika - Khazanah) 28/07/24 16:49
v/12431246/
REPUBLIKA.CO.ID, Selama terlibat konflik dengan Palestina, Israel dikenal sebagai negara yang penuh dengan kebohongan dan tipu daya. Sangat mudah untuk melihat kebohongan, distorsi, dan upaya mengaburkan fakta yang dilakukan Israel.
Seorang jurnalis Palestina, Daoud Kuttab dalam artikelnya yang dimuat Arabnews pada Mei lalu menyatakan bahwa sudah saatnya bagi Israel untuk mempertanggungjawabkan kebohongan dan tipu dayanya.
BACA JUGA: Muhammadiyah Resmi Terima Konsesi Tambang, Begini Putusan Lengkapnya
Namun, kebiasaan propaganda yang buruk ini, atau yang disebut orang Israel sebagai "Hasbara," kini telah digunakan dalam skala yang lebih besar di AS. Karena, lobi pro-Israel sekarang ini sudah memenuhi gelombang udara, media sosial, dan bahkan gedung kongres dengan kebohongan yang jelas.
Misalnya, seorang anggota kongres mengklaim bahwa intifada berarti genosida terhadap orang Yahudi. Para mahasiswa di universitas-universitas bergengsi mengklaim, tanpa bukti apa pun, bahwa hidup mereka terancam oleh pendukung Hamas yang teroris, yang kebetulan juga merupakan rekan mereka dan beberapa dari mereka bahkan merupakan rekan Yahudi.
Klaim tersebut sering kali dibuat oleh pihak ketiga, seperti miliarder Yahudi Amerika Bill Ackman, baik untuk mengarahkan media maupun untuk menggertak administrasi perguruan tinggi agar menghancurkan narasi pro-Palestina baru yang telah mulai menjadi tren di sekolah-sekolah pendidikan tinggi paling bergengsi di Amerika.
Salah satu kebohongan terbesar yang terus diulang-ulang di kampus-kampus AS sebenarnya berasal dari seorang pengunjuk rasa pro-Israel, yang berhasil menghasut pihak universitas untuk mencoba menekan pengunjuk rasa pro-Palestina. Mahasiswa di Universitas Northeastern itu mengulang-ulang frasa "bunuh orang Yahudi," yang memberi kesan bahwa ini adalah slogan para penentang kejahatan perang Israel di Gaza.
Dalam pembantaian tahun 1990 di Masjid Al-Aqsa di Yerusalem, sebuah rekaman video juga mengungkap rekayasa Israel terkait insiden ini, di mana 17 warga Palestina terbunuh dan tidak ada satu pun warga Israel yang terluka. Sebuah investigasi oleh mendiang Mike Wallace dalam acara CBS "60 Minutes" mengungkap kebohongan ini dan manipulasi media.
Israel yang dipimpin oleh Perdana Menteri Netanyahu dinilai sebagai pembohong utama dan pengabur informasi, hari ini menjadi liar lagi, menciptakan fiksi total dan kemudian mengerahkan pasukan mereka untuk menindaklanjuti kebohongan ini.
Semua klaimnya telah terbukti tidak benar, namun telah diulang berkali-kali, termasuk oleh Gedung Putih, sehingga pemeriksa fakta sebagian besar menyerah untuk memeriksa kebohongan PM Israel dan propagandisnya yang dibayar mahal di Israel, AS, dan seluruh dunia.
Demikian pula, Israel telah melancarkan upaya yang tidak berdasar dan terkoordinasi untuk mendelegitimasi organisasi bantuan pengungsi terkemuka PBB untuk Palestina, UNRWA. Pada 2016 lalu, seorang pekerja kemanusiaan Palestina, Mohammed El-Halabi , yang menjalankan proyek kemanusiaan World Vision International di Gaza, ditangkap dan didakwa mentransfer bantuan senilai 50 juta dolar AS kepada Hamas.
Jumlah itu tidak hanya lebih besar dari seluruh anggaran lembaga amal Kristen yang berbasis di AS, tetapi di pengadilan Israel gagal menunjukkan satu dokumen pun untuk membuktikan klaim yang tidak masuk akal ini.
Sungguh mengherankan bagaimana sebuah negara kecil dapat terus menipu dan mengelabui negara paling kuat di dunia, yang juga merupakan pendukung utamanya. Para pemeriksa fakta pun sebagian besar sudah menyerah untuk memeriksa kebohongan PM Israel dan para propagandisnya yang dibayar mahal.
Baru-baru ini Benjamin Netanyahu kembali diberikan untuk berpidato di hadapan Kongres AS. Namun, pejuang Hamas menilai, apa yang disampaikan Netanyahu dalam kongres tersebut hanya untuk memoles citranya di hadapan dunia dan menutupi pembunuhan massal dan pembersihan etnis di Gaza.
Netanyahu juga dinilai menyatakan sejumlah kebohongan terang-terangan dalam pidatonya tersebut. Di antaranya, dalam pidatonya Netanyahu mengeklaim telah mengizinkan lebih dari 40 ribu truk bantuan memasuki Gaza yang membawa setengah juta ton makanan.
Sementara, menurut data PBB, 28.018 truk bantuan telah memasuki Gaza sejak perang dimulai. Rute menuju wilayah tersebut tidak lagi mencakup penyeberangan Rafah, yang diserbu pasukan Israel pada awal Mei, sehingga membatasi pasokan bantuan ke wilayah selatan.
Banyak kebohongan lainnya yang disampaikan PM Israel tersebut. Misalnya, Netanyahu juga mengklaim bahwa Israel telah berupaya melindungi warga sipil di Gaza melalui selebaran dan telepon langsung ke warga Gaza. Sementara, Kementerian Kesehatan Gaza mengungkapkan, sebanyak 37 ribu warga Gaza syahid akibat serangan Israel. Dari jumlah itu, 14.671 orang, atau 52 persen dari syuhada yang teridentifikasi, adalah perempuan dan anak-anak.
Heboh ‘Intelektual Nahdliyin’ Sambangi Israel, Berapa Dana Propaganda Israel?
Sejak ramai dihujat pada 2021 Israel menggencarkan mesin propagandanya. [618] url asal
#lima-nahdliyin-bertemu-presiden-israel #cendikiawan-nahdliyin #nahdliyin-temui-israel #propaganda-israel #hasbara #dana-propaganda-israel
(Republika - News) 17/07/24 08:44
v/11047275/
REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV – Bukan rahasia lagi, propaganda sudah jadi senjata Israel sejak awal gerakan Zionis. Kerap kali ia jadi upaya membungkam kritik dunia di saat-saat negara itu melakukan kejahatan di Palestina seperti sembilan bulan belakangan.
Namanya mesin perang, biayanya tentu tak sedikit. Laman berita Israel-Palestina, +972 Magazine melansir, kritik meluas atas serangan Israel ke Gaza pada 2021, jadi salah satu alasan gelontoran dana terkini.
Merujuk investigasi the Seventh Eye pada Januari 2022, Kabinet Israel menyetujui sebuah proyek yang dapat menyuntikkan dana hingga 100 juta shekel untuk mendanai propaganda pemerintah secara diam-diam di Amerika Serikat dan negara-negara lainnya. Angka itu setara 30 juta dolar AS atau setara Rp 485 miliar dengan kurs terkini.
Dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Yair Lapid, inisiatif ini untuk menghidupkan kembali rencana Kementerian Urusan Strategis Israel, yang sempat ditutup pada tahun 2021. Rencananya adalah untuk mentransfer uang secara tidak langsung ke organisasi asing yang akan menyebarkan propaganda Israel di negara tempat mereka beroperasi, sambil menyembunyikan fakta bahwa mereka didukung oleh pemerintah Israel.
Proyek yang awalnya didirikan dengan nama “Solomon’s Sling” dan sekarang dikenal dengan nama “Concert” ini menjadi ujung tombak Kementerian Urusan Strategis dan mengubah wacana global tentang Israel, khususnya secara online. Misi Solomon’s Sling secara samar-samar digambarkan sebagai perjuangan melawan “delegitimasi” negara melalui “aktivitas kesadaran massa.”
Dalam rencana awal, yang terungkap dalam serangkaian investigasi the Seventh Eye, Solomon’s Sling mendapat anggaran yang sangat besar sebesar 256 juta shekel atau 80 juta dolar AS. Setengah dari jumlah tersebut seharusnya berasal dari anggaran negara, dan setengahnya lagi dari individu kaya dan organisasi asing, terutama di Amerika Serikat.
Prinsip yang mendasari penggunaan Solomon’s Sling, dan secara umum ketergantungan industri hasbara pada badan-badan sipil untuk menyebarkan pesan-pesan pemerintah, adalah bahwa hasbara yang kuno tidak lagi berfungsi. Ketika seorang diplomat atau juru bicara resmi ditempatkan di depan kamera dan diminta untuk menyampaikan daftar pokok pembicaraan pemerintah kepada pemirsa, pemirsa akan mengenali orang tersebut sebagai perwakilan dari pihak yang berkuasa, sehingga menyebabkan mereka tidak tertarik lagi.
Dinamika yang sama terjadi ketika perwakilan negara menggunakan media sosial. Pada tahun 2015, pemerintah memutuskan untuk membangun kembali Kementerian Urusan Strategis, yang tadinya hampir kosong, menjadi badan serbaguna dan inovatif yang akan mengoordinasikan kegiatan hasbara tidak resmi Israel.
Di bawah kepemimpinan Gilad Erdan, yang kini menjadi duta besar Israel untuk PBB, kementerian tersebut membangun jaringan organisasi, media, dan aktivis yang menyebarkan pesan-pesan politik atas nama pemerintahan Netanyahu dan lembaga keamanan. Ada yang melakukan hal tersebut dengan mengorbankan anggaran pemerintah, ada pula yang hanya karena alasan ideologis.
Sementara sejak serangan 7 Oktober, pemerintah Israel meluncurkan kampanye propaganda besar-besaran yang secara strategis ditujukan kepada negara-negara Barat. Hal ini dalam upaya terkonsentrasi untuk membentuk opini publik internasional seiring dengan serangan brutal di Jalur Gaza yang terkepung.
Kampanye multiaspek ini dilakukan di beberapa platform, termasuk X dan YouTube, dan melibatkan penyebaran iklan yang bermuatan emosi dan grafis, menurut analisis data yang dilakukan oleh media AS Politico.
Jurnalis Sophia Smith, dalam thread di X, mencatat bahwa pemerintah Israel menghabiskan hampir 7,1 juta juta dolar AS hanya untuk iklan YouTube. Smith menggunakan alat analitik Semrush, sebuah platform yang memperkirakan pengeluaran kampanye iklan, bersama dengan pusat transparansi iklan Google.
Menurut penelitiannya, kampanye tersebut secara eksplisit menargetkan Prancis, Jerman, dan Inggris, serta negara-negara lain, merilis total 88 iklan dalam waktu singkat dari 7 Oktober hingga 19 Oktober.
Kampanye tersebut dengan jelas menyebut Hamas sebagai “kelompok teroris yang kejam,” dan menyamakannya dengan kelompok militan ISIS. Berbagai macam strategi manipulasi emosional digunakan.
Iklannya berkisar dari yang menggambarkan bentuk-bentuk kekerasan yang parah hingga memainkan lagu pengantar tidur dengan latar belakang pelangi, memohon agar para orang tua berempati terhadap mereka yang anaknya terbunuh dalam serangan terhadap Israel.