JAKARTA, investor.id – Donald Trump mengumumkan kemenangannya dalam pemilihan presiden (Pilpres) Amerika Serikat (AS) pada Rabu (6/11/2024). Setelah Hasil penghitungan suara elektoral hingga Rabu (6/11/2024) petang WIB atau Selasa malam waktu AS menyatakan, Donald Trump sudah meraih 277 suara. Kemenangan tersebut diyakini akan berimbas pada pasar saham Indonesia, apa saja?
Founder Stocknow Hendra Wardana mengatakan, kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden AS berpotensi membawa dampak besar bagi pasar global, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Dikenal sebagai pebisnis dengan pandangan pro-pertumbuhan, Trump cenderung mendorong kebijakan yang menjaga stabilitas ekonomi domestik AS, yang dapat berdampak pada harga komoditas utama seperti emas dan minyak.
Menurut Hendra, jika Trump kembali berkuasa, kemungkinan besar ia akan menerapkan kebijakan ekonomi yang memperkuat nilai dolar AS. Hal ini berpotensi mengurangi minat investor pada komoditas, yang selama ini sering dijadikan aset lindung nilai saat ketidakpastian meningkat. “Dengan naiknya dolar AS, daya tarik komoditas bisa melemah karena investor lebih memilih aset dalam bentuk dolar yang lebih kuat dan stabil,” ungkap Hendra, Rabu (6/11/2024).
Di pasar saham Indonesia, Hendra menyebut dampaknya akan sangat dirasakan, terutama di sektor perbankan. Kebijakan ekonomi Trump yang cenderung proteksionis diperkirakan akan membuat investor asing mengambil langkah hati-hati, bahkan mungkin melakukan aksi jual atau outflow dari pasar negara berkembang. Saham-saham perbankan besar di Indonesia seperti BBRI, BMRI, BBNI, dan BBCA pun kemungkinan besar akan terkena dampak dari aksi jual ini.
“Hari ini terbukti dengan outflow pada saham perbankan yang mencatatkan net sell sebesar Rp 1 triliun,” tambah Hendra.
Hendra menambahkan, investor asing yang khawatir terhadap kebijakan Trump yang lebih memprioritaskan pasar AS dapat melihat pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, sebagai area dengan risiko yang lebih tinggi. Jika situasi ini berlanjut, tekanan jual pada sektor perbankan bisa berpengaruh signifikan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
“Bahkan, tekanan jual pada saham perbankan ini dapat membawa IHSG mendekati level support di 7.356, terutama jika aksi jual asing berlangsung terus-menerus,” jelas Hendra.
Peluang Bisnis Lokal
Di sisi lain, Hendra menyebut, kemenangan Trump juga membuka peluang bagi beberapa bisnis lokal yang memiliki hubungan dekat dengannya, seperti grup usaha Hary Tanoesoedibjo (HT). Kedekatan antara HT dan Trump sudah dikenal luas dan terbukti melalui berbagai proyek kolaborasi, khususnya di sektor properti dan media.
Hendra menilai, dengan kemenangan Trump, saham-saham di bawah naungan Grup MNC, seperti KPIG dan MNCN, berpotensi merespons secara positif. Investor cenderung berspekulasi bahwa kedekatan HT dengan Trump dapat membuka peluang strategis bagi Grup MNC untuk mendapatkan akses pada proyek-proyek baru atau kerjasama yang lebih menguntungkan.
“Harapan terhadap kerja sama baru ini berpotensi meningkatkan sentimen positif pada saham-saham Grup MNC,” jelas Hendra.
Secara keseluruhan, Hendra mengatakan, dampak kemenangan Trump terhadap pasar Indonesia bersifat dua sisi. Di satu sisi, sektor-sektor seperti perbankan dan komoditas mungkin mengalami tekanan akibat arus keluar dana asing dan penguatan dolar AS. Di sisi lain, bisnis-bisnis lokal dengan hubungan dekat ke Trump, seperti Grup MNC, justru memiliki peluang untuk mendapatkan keuntungan dari situasi ini.
“Para investor perlu memperhatikan perkembangan ini dengan cermat, mengingat IHSG berpotensi mengalami volatilitas tinggi di tengah perubahan kebijakan global yang dapat mempengaruhi arus modal dan sentimen di pasar modal Indonesia,” tutupnya.
Editor: Indah Handayani (handayani@b-universe.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) mencatatkan pertumbuhan yang negatif baik dari sisi laba bersih maupun penjualan pada periode sembilan bulan pertama tahun 2024.
Melansir laporan keuangannya, Rabu (23/10), UNVR membukukan laba Rp 3 triliun atau turun 28,15% year on year (yoy) hingga kuartal III-2024, bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 4,18 triliun.
Sementara penjualan bersih pada kuartal III-2024 tercatat Rp 27,41 triliun, turun 10,12% pada posisi tahun lalu sebesar Rp 30,5 triliun. Harga pokok penjualan mencapai Rp 14,13 triliun, turun dari periode yang sama sebelumnya Rp 15,23 triliun.
Alhasil, laba bruto mencapai Rp 13,28 triliun, turun dari Rp 15,27 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Penjualan dari segmen domestik mencatatkan Rp 26,63 triliun, anjlok 9,89% yoy. Sementara, penjualan ekspor juga ikut terkoreksi 17,45% yoy menjadi Rp 785,7 miliar.
Dalam rinciannya, penjualan yang berasal dari produk kebutuhan rumah tangga dan perawatan tubuh mencapai Rp 17,59 triliun, di mana pada segmen domestik mencapai Rp 16,97 triliun serta ekspor Rp 619,99 miliar.
Kemudian, penjualan yang berasal dari produk makanan dan minuman mencapai Rp 9,8 triliun, di mana pada segmen domestik menyumbang Rp 9,6 triliun dan ekspor Rp 165 miliar.
Total aset UNVR mencapai Rp 16,54 triliun per September 2024, turun dari posisi 31 Desember 2023 sebesar Rp 16,66 triliun. Jumlah ekuitas tercatat Rp 3,43 triliun, naik dari Rp 3,38 triliun pada posisi 31 Desember 2024.
UNVR memiliki kas dan setara kas pada akhir periode sebesar Rp 539,63 miliar per kuartal III-2024, anjlok dari posisi yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,71 triliun
Prospek dan Rekomendasi Saham
Founder Stocknow.id Hendra Wardana mengatakan meskipun kinerja keuangan UNVR menurun, masih ada peluang positif ke depannya yang perlu diperhatikan.
Salah satu faktor kunci yang dapat memberikan dorongan bagi UNVR ialah kebijakan penurunan suku bunga yang dilakukan oleh Bank Indonesia.
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) mencatatkan pertumbuhan yang negatif baik dari sisi laba bersih maupun penjualan pada periode sembilan bulan pertama tahun 2024.
Melansir laporan keuangannya, Rabu (23/10), UNVR membukukan laba Rp 3 triliun atau turun 28,15% year on year (yoy) hingga kuartal III-2024, bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 4,18 triliun.
Sementara penjualan bersih pada kuartal III-2024 tercatat Rp 27,41 triliun, turun 10,12% pada posisi tahun lalu sebesar Rp 30,5 triliun. Harga pokok penjualan mencapai Rp 14,13 triliun, turun dari periode yang sama sebelumnya Rp 15,23 triliun.
Alhasil, laba bruto mencapai Rp 13,28 triliun, turun dari Rp 15,27 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Penjualan dari segmen domestik mencatatkan Rp 26,63 triliun, anjlok 9,89% yoy. Sementara, penjualan ekspor juga ikut terkoreksi 17,45% yoy menjadi Rp 785,7 miliar.
Dalam rinciannya, penjualan yang berasal dari produk kebutuhan rumah tangga dan perawatan tubuh mencapai Rp 17,59 triliun, di mana pada segmen domestik mencapai Rp 16,97 triliun serta ekspor Rp 619,99 miliar.
Kemudian, penjualan yang berasal dari produk makanan dan minuman mencapai Rp 9,8 triliun, di mana pada segmen domestik menyumbang Rp 9,6 triliun dan ekspor Rp 165 miliar.
Total aset UNVR mencapai Rp 16,54 triliun per September 2024, turun dari posisi 31 Desember 2023 sebesar Rp 16,66 triliun. Jumlah ekuitas tercatat Rp 3,43 triliun, naik dari Rp 3,38 triliun pada posisi 31 Desember 2024.
UNVR memiliki kas dan setara kas pada akhir periode sebesar Rp 539,63 miliar per kuartal III-2024, anjlok dari posisi yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,71 triliun
Prospek dan Rekomendasi Saham
Founder Stocknow.id Hendra Wardana mengatakan meskipun kinerja keuangan UNVR menurun, masih ada peluang positif ke depannya yang perlu diperhatikan.
Salah satu faktor kunci yang dapat memberikan dorongan bagi UNVR ialah kebijakan penurunan suku bunga yang dilakukan oleh Bank Indonesia.
Dengan suku bunga yang lebih rendah, daya beli masyarakat diperkirakan akan meningkat dan berdampak langsung pada konsumsi rumah tangga, termasuk produk-produk kebutuhan sehari-hari yang menjadi andalan UNVR.
"Penurunan suku bunga ini berpotensi memicu perbaikan di sektor konsumsi yang secara historis merupakan motor penggerak utama pertumbuhan UNVR," ujar Hendra kepada Kontan, Rabu (23/10).
Selain itu, strategi Unilever dalam berinovasi dan memperkenalkan produk-produk baru di segmen premium dan kebutuhan pokok dapat menjadi pendorong bagi peningkatan penjualan ke depannya, terutama jika didukung oleh peningkatan daya beli konsumen kelas menengah.
Fokus pada penguatan brand dan diversifikasi produk, serta efisiensi operasional juga akan membantu perusahaan mengatasi tekanan biaya dan persaingan di pasar.
"Dengan kebijakan ekonomi yang lebih kondusif, diikuti oleh upaya pemulihan daya beli masyarakat, UNVR berada dalam posisi yang baik untuk kembali menggenjot kinerjanya," terangnya.
Hendra merekomendasikan untuk buy saham UNVR dengan target harga Rp 2.630.
Equity Analyst Kanaka Hita Solvera William Wibowo menerangkan kepada Kontan, Rabu (23/10), bahwa saham UNVR secara teknikal berpotensi sedang berada di awal uptrend-nya.
William merekomendasikan untuk buy on weakness saham UNVR dengan support Rp 2.210 per saham dan resistance Rp 2.500 per saham.
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) mencatatkan pertumbuhan yang negatif baik dari sisi laba bersih maupun penjualan pada periode sembilan bulan pertama tahun 2024.
Melansir laporan keuangannya, Rabu (23/10), UNVR membukukan laba Rp 3 triliun atau turun 28,15% year on year (yoy) hingga kuartal III-2024, bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 4,18 triliun.
Sementara penjualan bersih pada kuartal III-2024 tercatat Rp 27,41 triliun, turun 10,12% pada posisi tahun lalu sebesar Rp 30,5 triliun. Harga pokok penjualan mencapai Rp 14,13 triliun, turun dari periode yang sama sebelumnya Rp 15,23 triliun.
Alhasil, laba bruto mencapai Rp 13,28 triliun, turun dari Rp 15,27 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Penjualan dari segmen domestik mencatatkan Rp 26,63 triliun, anjlok 9,89% yoy. Sementara, penjualan ekspor juga ikut terkoreksi 17,45% yoy menjadi Rp 785,7 miliar.
Dalam rinciannya, penjualan yang berasal dari produk kebutuhan rumah tangga dan perawatan tubuh mencapai Rp 17,59 triliun, di mana pada segmen domestik mencapai Rp 16,97 triliun serta ekspor Rp 619,99 miliar.
Kemudian, penjualan yang berasal dari produk makanan dan minuman mencapai Rp 9,8 triliun, di mana pada segmen domestik menyumbang Rp 9,6 triliun dan ekspor Rp 165 miliar.
Total aset UNVR mencapai Rp 16,54 triliun per September 2024, turun dari posisi 31 Desember 2023 sebesar Rp 16,66 triliun. Jumlah ekuitas tercatat Rp 3,43 triliun, naik dari Rp 3,38 triliun pada posisi 31 Desember 2024.
UNVR memiliki kas dan setara kas pada akhir periode sebesar Rp 539,63 miliar per kuartal III-2024, anjlok dari posisi yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,71 triliun
Prospek dan Rekomendasi Saham
Founder Stocknow.id Hendra Wardana mengatakan meskipun kinerja keuangan UNVR menurun, masih ada peluang positif ke depannya yang perlu diperhatikan.
Salah satu faktor kunci yang dapat memberikan dorongan bagi UNVR ialah kebijakan penurunan suku bunga yang dilakukan oleh Bank Indonesia.
Dengan suku bunga yang lebih rendah, daya beli masyarakat diperkirakan akan meningkat dan berdampak langsung pada konsumsi rumah tangga, termasuk produk-produk kebutuhan sehari-hari yang menjadi andalan UNVR.
"Penurunan suku bunga ini berpotensi memicu perbaikan di sektor konsumsi yang secara historis merupakan motor penggerak utama pertumbuhan UNVR," ujar Hendra kepada Kontan, Rabu (23/10).
Selain itu, strategi Unilever dalam berinovasi dan memperkenalkan produk-produk baru di segmen premium dan kebutuhan pokok dapat menjadi pendorong bagi peningkatan penjualan ke depannya, terutama jika didukung oleh peningkatan daya beli konsumen kelas menengah.
Fokus pada penguatan brand dan diversifikasi produk, serta efisiensi operasional juga akan membantu perusahaan mengatasi tekanan biaya dan persaingan di pasar.
"Dengan kebijakan ekonomi yang lebih kondusif, diikuti oleh upaya pemulihan daya beli masyarakat, UNVR berada dalam posisi yang baik untuk kembali menggenjot kinerjanya," terangnya.
Hendra merekomendasikan untuk buy saham UNVR dengan target harga Rp 2.630.
Equity Analyst Kanaka Hita Solvera William Wibowo menerangkan kepada Kontan, Rabu (23/10), bahwa saham UNVR secara teknikal berpotensi sedang berada di awal uptrend-nya.
William merekomendasikan untuk buy on weakness saham UNVR dengan support Rp 2.210 per saham dan resistance Rp 2.500 per saham.
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah saham blue chip perlu investor cermati mulai perdagangan hari ini. Saham blue chip ini memiliki prospek cuan menarik di tengah tren kenaikan IDX Value 30.
IDX Value30 adalah indeks yang mengukur kinerja harga dari 30 saham yang memiliki valuasi harga yang rendah dengan likuiditas transaksi serta kinerja keuangan yang baik. Saham di DIX Value 30 memiliki karakteristik blue chip.
Saham blue chip adalah saham lapis satu yang telah berpengalaman di bursa. Saham blue chip sering menjadi pilihan investor karena minim risiko gorengan saham spekulan.
Berdasarkan data Bloomberg, Rabu (9/10), pergerakan saham pada IDX Value30 telah meningkat 12,68% secara year to date (ytd),
Emiten penghuni IDX Value 30 yang memberi return tertinggi sepanjang tahun ini ialah PT Panin Financial Tbk (PNLF) sebesar 65,91% ytd, diikuti PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) sebesar 60,50% ytd, PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS) 33,19% ytd, PTBA 25% ytd dan PT Elnusa Tbk (ELSA) 24,23% ytd.
Customer Literation and Education PT Kiwoom Sekuritas Indonesia, Vinko Satrio Pekerti menerangkan kenaikan IDX Value30 disebabkan oleh sejumlah faktor.
Faktor pertama, naiknya minat para investor terhadap saham-saham yang dinilai undervalued dan menggunakan informasi konstituen indeks tersebut sebagai pemilihan sahamnya.
Faktor kedua berasal dari para emiten 4 big banks tidak masuk dalam daftar 10 besar konstituen indeks IDX Value30. Emiten perbankan seperti BBCA, BBRI, dan BMRI pada umumnya memiliki bobot tinggi di dalam mayoritas indeks-indeks saham di Indonesia, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) itu sendiri.
Namun top 10 konstituen dari IDX Value30 sendiri tidak memasukkan emiten perbankan yang menjadi beban pelemahan indeks-indeks saham lainnya sepanjang kuartal II-2024.
"IDX Value30 justru didominasi oleh emiten di sektor manufaktur dan energi," kata Vinko kepada Kontan, Rabu (9/10).
Vinko melihat potensi pertumbuhan IDX Value30 hingga akhir tahun masih terbuka, terutama dengan adanya faktor pendorong seperti momentum window dressing di akhir tahun.
Potensi peningkatan arus dana asing yang melihat valuasi pasar saham di Indonesia masih murah juga dapat dipandang sebagai peluang yang baik.
"Tentunya para pelaku pasar juga berharap agar kebijakan suku bunga yang kondusif dari Bank Indonesia untuk menjaga tingkat inflasi yang sehat bisa membantu menjaga sentimen positif di pasar saham Indonesia," ujarnya.
Vinko menerangkan, berdasarkan keterbukaan informasi index fact sheet IDX Value30 yang terbaru, tercatat bahwa ASII, ADRO, dan UNTR memiliki bobot indeks yang cukup besar hingga mencapai dua digit, yaitu masing-masing 15,81%, 13,73% dan 11,52%.
Adapun INDF juga memiliki porsi pembobotan yang cukup signifikan, sekitar 9,01% dan 36 emiten lainnya memiliki bobot yang tersebar di rentang antara 2%-4%.
"Namun di antara keempatnya, kami melihat ADRO yang kinerjanya paling berjasa menopang indeks ini dengan catatan kenaikan sekitar +53% secara ytd. Sedangkan ASII yang memiliki pembobotan terbesar di indeks IDX Value30 justru mencatatkan kinerja negatif sekitar -10% secara ytd," terangnya.
Vinko memandang fenomena pesatnya kinerja saham ADRO dapat disebabkan dua faktor. Pertama, kenaikan harga komoditas batu bara sebagai dampak lanjutan dari memanasnya konflik di Timur Tengah dan proyeksi pertumbuhan industri di China yang bagus.
Kedua, adanya rencana spin-off PT Adaro Andalan Indonesia (AAI) secara efektif dapat dipandang menjadi langkah krusial grup Adaro untuk melepaskan bisnis tambang batu bara dan beralih ke bisnis energi bersih dan terbarukan secara penuh.
Menurutnya, IDX Value30 biasanya dicermati oleh para investor jangka panjang yang fokus pada saham dengan valuasi yang menarik. Banyak pelaku pasar menganggap indeks ini sebagai acuan untuk memilih saham-saham dengan potensi upside yang lebih besar, namun dengan risiko yang relatif terukur.
Investor institusional juga dapat memanfaatkan IDX Value30 sebagai bagian dari strategi alokasi aset mereka, terutama di diversifikasi sektor-sektor yang defensif seperti sektor industri non siklikal dan konsumsi.
Founder Stocknow.id Hendra Wardana menerangkan kenaikan performa IDX Value30 dipicu oleh kinerja solid emiten-emiten yang tergabung dalam indeks ini, khususnya di sektor ekspor dan infrastruktur.
Sentimen pasar yang positif didorong oleh pemulihan ekonomi pasca-pandemi dan aliran modal asing juga berkontribusi terhadap lonjakan ini.
"Prospek pertumbuhan hingga akhir tahun masih optimis, didukung oleh proyeksi pertumbuhan ekonomi yang baik, stabilitas politik dan kebijakan yang mendukung, serta potensi pengembangan di sektor teknologi dan energi terbarukan," ujar Hendra kepada Kontan, Rabu (9/10).
Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji menjelaskan IDX Value30 memiliki valuasi yang menarik dan tingkat likuditas yang bagus. Jadi wajar apabila performa indeks ini bisa meningkat dua digit dibandingkan indeks lainnya.
"Indeks ini yang paling dijagokan untuk para investor berinvestasi," jelas Nafan kepada Kontan, Rabu (9/10).
Performa indeks ini juga didorong oleh sentimen kebijakan pelonggaran moneter dari sejumlah Bank Sentral, yang pada akhirnya meningkatkan likuditas di pasar modal khususnya IDX Value30.
"Diperkirakan tetap tumbuh positif hingga akhir tahun karena adanya pemangkasan suku bunga acuan yang berlanjut. The Fed misalnya akan terus menerapkan kebijakan pelonggaran moneter pada November dan Desember 2024," tuturnya.
Ditambah lagi investor suka dengan emiten yang tergabung IDX Value30 karena memiliki kinerja fundamental solid, baik dari sisi top line dan bottom line serta rajin membagikan dividen.
"Jadi wajar saja mendapatkan apresiasi positif dari investor," tutupnya.
Hendra merekomendasikan untuk buy saham PGAS dengan target harga Rp 1.570 per saham. Kemudian, ia merekomendasikan untuk mencermati saham TKIM dan PTBA dengan target harga masing-masing Rp 8.000 dan Rp 3.200 per saham.
Sementara itu, Vinko merekomendasikan untuk mencermati saham IDX Value30, antara lain:
1. PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF)
Rekomendasi: Wait and see Area buy: Rp 6.675-Rp 6.825 Target harga: Rp 7.025-Rp 7.100
2. PT United Tractors Tbk (UNTR)
Rekomendasi: Buy Area buy: Rp 26.400-Rp 26.500 Target harga: Rp 27.500
3. PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO)
Rekomendasi: Buy on weakness Area buy: Rp 3.650-Rp 3.750 Target harga: Rp 3.900 Nafan merekomendasikan untuk accumulative buy saham PGAS dengan target harga Rp 1.550.
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perfroma IDX value30 tengah mengalami tren penguatan. Berdasarkan data Bloomberg, Rabu (9/10), pergerakan saham pada IDX Value30 telah meningkat 12,68% secara year to date (ytd),
Emiten penghuni IDX Value 30 yang memberi return tertinggi sepanjang tahun ini ialah PT Panin Financial Tbk (PNLF) sebesar 65,91% ytd, diikuti PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) sebesar 60,50% ytd, PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS) 33,19% ytd, PTBA 25% ytd dan PT Elnusa Tbk (ELSA) 24,23% ytd.
Customer Literation and Education PT Kiwoom Sekuritas Indonesia, Vinko Satrio Pekerti menerangkan kenaikan IDX Value30 disebabkan oleh sejumlah faktor.
Faktor pertama, naiknya minat para investor terhadap saham-saham yang dinilai undervalued dan menggunakan informasi konstituen indeks tersebut sebagai pemilihan sahamnya.
Faktor kedua berasal dari para emiten 4 big banks tidak masuk dalam daftar 10 besar konstituen indeks IDX Value30. Emiten perbankan seperti BBCA, BBRI, dan BMRI pada umumnya memiliki bobot tinggi di dalam mayoritas indeks-indeks saham di Indonesia, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) itu sendiri.
Namun top 10 konstituen dari IDX Value30 sendiri tidak memasukkan emiten perbankan yang menjadi beban pelemahan indeks-indeks saham lainnya sepanjang kuartal II-2024.
"IDX Value30 justru didominasi oleh emiten di sektor manufaktur dan energi," kata Vinko kepada Kontan, Rabu (9/10).
Vinko melihat potensi pertumbuhan IDX Value30 hingga akhir tahun masih terbuka, terutama dengan adanya faktor pendorong seperti momentum window dressing di akhir tahun.
Potensi peningkatan arus dana asing yang melihat valuasi pasar saham di Indonesia masih murah juga dapat dipandang sebagai peluang yang baik.
"Tentunya para pelaku pasar juga berharap agar kebijakan suku bunga yang kondusif dari Bank Indonesia untuk menjaga tingkat inflasi yang sehat bisa membantu menjaga sentimen positif di pasar saham Indonesia," ujarnya.
Vinko menerangkan, berdasarkan keterbukaan informasi index fact sheet IDX Value30 yang terbaru, tercatat bahwa ASII, ADRO, dan UNTR memiliki bobot indeks yang cukup besar hingga mencapai dua digit, yaitu masing-masing 15,81%, 13,73% dan 11,52%.
Adapun INDF juga memiliki porsi pembobotan yang cukup signifikan, sekitar 9,01% dan 36 emiten lainnya memiliki bobot yang tersebar di rentang antara 2%-4%.
"Namun di antara keempatnya, kami melihat ADRO yang kinerjanya paling berjasa menopang indeks ini dengan catatan kenaikan sekitar +53% secara ytd. Sedangkan ASII yang memiliki pembobotan terbesar di indeks IDX Value30 justru mencatatkan kinerja negatif sekitar -10% secara ytd," terangnya.
Vinko memandang fenomena pesatnya kinerja saham ADRO dapat disebabkan dua faktor. Pertama, kenaikan harga komoditas batu bara sebagai dampak lanjutan dari memanasnya konflik di Timur Tengah dan proyeksi pertumbuhan industri di China yang bagus.
Kedua, adanya rencana spin-off PT Adaro Andalan Indonesia (AAI) secara efektif dapat dipandang menjadi langkah krusial grup Adaro untuk melepaskan bisnis tambang batu bara dan beralih ke bisnis energi bersih dan terbarukan secara penuh.
Menurutnya, IDX Value30 biasanya dicermati oleh para investor jangka panjang yang fokus pada saham dengan valuasi yang menarik. Banyak pelaku pasar menganggap indeks ini sebagai acuan untuk memilih saham-saham dengan potensi upside yang lebih besar, namun dengan risiko yang relatif terukur.
Investor institusional juga dapat memanfaatkan IDX Value30 sebagai bagian dari strategi alokasi aset mereka, terutama di diversifikasi sektor-sektor yang defensif seperti sektor industri non siklikal dan konsumsi.
Founder Stocknow.id Hendra Wardana menerangkan kenaikan performa IDX Value30 dipicu oleh kinerja solid emiten-emiten yang tergabung dalam indeks ini, khususnya di sektor ekspor dan infrastruktur.
Sentimen pasar yang positif didorong oleh pemulihan ekonomi pasca-pandemi dan aliran modal asing juga berkontribusi terhadap lonjakan ini.
"Prospek pertumbuhan hingga akhir tahun masih optimis, didukung oleh proyeksi pertumbuhan ekonomi yang baik, stabilitas politik dan kebijakan yang mendukung, serta potensi pengembangan di sektor teknologi dan energi terbarukan," ujar Hendra kepada Kontan, Rabu (9/10).
Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji menjelaskan IDX Value30 memiliki valuasi yang menarik dan tingkat likuditas yang bagus. Jadi wajar apabila performa indeks ini bisa meningkat dua digit dibandingkan indeks lainnya.
"Indeks ini yang paling dijagokan untuk para investor berinvestasi," jelas Nafan kepada Kontan, Rabu (9/10).
Performa indeks ini juga didorong oleh sentimen kebijakan pelonggaran moneter dari sejumlah Bank Sentral, yang pada akhirnya meningkatkan likuditas di pasar modal khususnya IDX Value30.
"Diperkirakan tetap tumbuh positif hingga akhir tahun karena adanya pemangkasan suku bunga acuan yang berlanjut. The Fed misalnya akan terus menerapkan kebijakan pelonggaran moneter pada November dan Desember 2024," tuturnya.
Ditambah lagi investor suka dengan emiten yang tergabung IDX Value30 karena memiliki kinerja fundamental solid, baik dari sisi top line dan bottom line serta rajin membagikan dividen.
"Jadi wajar saja mendapatkan apresiasi positif dari investor," tutupnya.
Hendra merekomendasikan untuk buy saham PGAS dengan target harga Rp 1.570 per saham. Kemudian, ia merekomendasikan untuk mencermati saham TKIM dan PTBA dengan target harga masing-masing Rp 8.000 dan Rp 3.200 per saham.
Sementara itu, Vinko merekomendasikan untuk mencermati saham IDX Value30, antara lain:
1. PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF)
Rekomendasi: Wait and see Area buy: Rp 6.675-Rp 6.825 Target harga: Rp 7.025-Rp 7.100
2. PT United Tractors Tbk (UNTR)
Rekomendasi: Buy Area buy: Rp 26.400-Rp 26.500 Target harga: Rp 27.500
3. PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO)
Rekomendasi: Buy on weakness Area buy: Rp 3.650-Rp 3.750 Target harga: Rp 3.900 Nafan merekomendasikan untuk accumulative buy saham PGAS dengan target harga Rp 1.550.
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga bahan baku kertas yakni kraft pulp tengah mengalami tren kenaikan. Melansir tradingeconomis pada Rabu (3/10), harga kraft pulp global mencapai CNY 5.794 per ton atau naik 0,03 dalam sebulan terakhir.
FounderStocknow.id Hendra Wardana memprediksi, kinerja emiten kertas akan terpengaruh positif dalam jangka pendek dari adanya tren kenaikan harga pulp.
Ia juga menjelaskan, harga pulp yang tembus CNY 5.794 per ton itu menunjukkan permintaan global yang kuat sehingga meningkatkan pendapatan emiten kertas.
"Namun, perlu dipertimbangkan bahwa emiten yang dapat mentransfer biaya ini kepada konsumen akan lebih diuntungkan," kata Hendra kepada Kontan, Rabu (3/10).
Hendra melihat prospek harga pulp dan kertas hingga akhir tahun menunjukkan potensi stabilisasi. Meskipun ada tekanan inflasi, permintaan dari sektor kemasan dan produk kertas tetap tinggi sehingga dapat mendukung harga.
Namun, jika harga pulp terus melambung, mungkin ada batasan pada margin keuntungan emiten. Ini tergantung pada kemampuan emiten untuk menaikkan harga produk akhir.
Dirinya juga memprediksi pendapatan dan laba emiten kertas hingga akhir kuartal ketiga diperkirakan meningkat, didorong oleh penjualan yang kuat dan pemulihan ekonomi pasca-pandemi.
"Peningkatan permintaan dari sektor e-commerce dan kemasan juga akan menjadi faktor pendorong utama. Namun, investor perlu memperhatikan potensi fluktuasi biaya bahan baku yang dapat mempengaruhi margin keuntungan," terangnya.
Di tengah sentimen kenaikan harga pulp, investor sebaiknya mencermati kemampuan emiten untuk mengelola biaya dan harga jual produk.
Penilaian terhadap strategi mitigasi risiko dan daya saing produk juga menjadi penting untuk menentukan kelayakan investasi.
Hendra merekomendasikan untuk mencermati saham INKP dan TKIM di masing-masing target harga Rp 9.775 per saham dan Rp 8.500 per saham.
Target harga tersebut merefleksikan potensi pertumbuhan yang wajar dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan strategi perusahaan.