REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT – Israel melancarkan serangan udara di Beirut, pada Selasa (30/7/2024) malam, menewaskan sedikitnya tiga orang. Serangan ini makin meningkatkan ketegangan antara negara tersebut dan kelompok Hizbullah Lebanon.
Militer Israel mengatakan bahwa serangan hari Selasa menargetkan komandan Hizbullah Muhsin Shukr. Namun pihak Hizbullah menyangkal klaim tersebut.
Dilansir Aljazirah, Kementerian Kesehatan Lebanon mengatakan seorang wanita dan dua anak syahid dan puluhan lainnya luka-luka. Serangan itu terjadi tiga hari setelah serangan terhadap Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel, yang menurut Israel dilakukan oleh Hizbullah.
Ledakan itu terdengar di pinggiran selatan Beirut sekitar pukul 19.40 waktu setempat pada Selasa malam. Serangan ini terjadi di lingkungan Haret Hreik dekat Dewan Syura Hizbullah, pusat otoritas pengambilan keputusan Hizbullah.
Separuh dari bangunan yang menjadi sasaran di lingkungan padat penduduk itu runtuh dan sebuah rumah sakit di dekatnya mengalami kerusakan ringan. Jalan-jalan di sekitarnya dipenuhi puing-puing dan pecahan kaca saat ambulans bergegas menuju lokasi kejadian. Kementerian Kesehatan Lebanon mengatakan tiga orang, termasuk dua anak-anak, tewas dan 74 luka-luka dalam serangan itu
“Korban non-final dari agresi Israel di pinggiran selatan Beirut… adalah tiga orang yang mati syahid, termasuk seorang perempuan, seorang anak perempuan dan seorang laki-laki”, kata kementerian tersebut, seraya menambahkan bahwa “pencarian orang hilang di bawah reruntuhan terus berlanjut”. Sumber Hizbullah mengatakan Shukr selamat dari serangan itu.
Militer Israel mengatakan serangannya menargetkan komandan Hizbullah Muhsen Shukr, yang juga dikenal sebagai “Haj Muhsen”. Mereka mengklaim bahwa Muhsen bertanggung jawab atas serangan terhadap Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel yang menewaskan 12 orang dan melukai 30 lainnya pada hari Sabtu.
Israel telah menduduki wilayah barat Dataran Tinggi Golan sejak perang tahun 1967, sedangkan sisanya berada di bawah kendali Suriah. Serangan roket pada hari Sabtu menghantam Majdal Shams, di bagian timur laut wilayah yang diduduki Israel. Hizbullah membantah terlibat dalam serangan itu.
Sejak melancarkan perangnya di Gaza pada bulan Oktober, Israel telah menyerang Beirut setidaknya satu kali sebelum serangan pada hari Selasa. Pada tanggal 2 Januari, Israel melancarkan serangan yang menewaskan pejabat senior Hamas Saleh al-Arouri. Serangan terakhir Israel terhadap Beirut sebelum ini terjadi pada tahun 2006, selama perang 34 hari antara Israel dan Hizbullah.
Militer Israel belum mengeluarkan instruksi baru apa pun untuk pertahanan sipil di Israel setelah serangan tersebut. Dilaporkan dari Beirut, koresponden Aljazirah mengatakan pesan Israel adalah bahwa ini adalah tanggapan yang mereka janjikan terhadap serangan Majdal Shams dan bahwa mereka tidak tertarik pada konfrontasi bersenjata lebih lanjut dengan Hizbullah lebih dari itu. Meskipun Hizbullah telah berjanji untuk menanggapi segala jenis serangan dari Israel, pembalasannya mungkin tidak akan terjadi dalam waktu dekat.
Ori Goldberg, seorang komentator politik di Tel Aviv, mengatakan kepada Aljazirah bahwa serangan itu kemungkinan bukan “eskalasi yang serius”. Dia menambahkan bahwa Israel mungkin tidak mengambil risiko berperang dengan Lebanon karena negara tersebut sudah berada di tengah “salah satu krisis domestik paling parah yang pernah dialaminya”.
“Perang dengan Lebanon mungkin bisa membuat Israel mendukung benderanya, tetapi dampaknya akan menjadi bencana,” kata Goldberg. Menanggapi pertanyaan mengenai serangan pada hari Selasa, sekretaris pers Gedung Putih Karine Jean-Pierre mengatakan bahwa Amerika Serikat tidak percaya bahwa perang habis-habisan antara Hizbullah dan Israel tidak dapat dihindari. Presiden AS Joe Biden “yakin hal ini dapat dihindari” dengan solusi diplomatik, tambahnya.
REPUBLIKA.CO.ID, YERUSALEM -- Kelompok perlawanan bersenjata asal Lebanon, Hizbullah mengatakan pada Senin (29/7/2024) bahwa mereka menyerang beberapa pos militer di Israel utara. Serangan tersebut dilakukan di tengah kekhawatiran akan perang besar-besaran dengan Israel, Anadolu Agency melaporkan.
Kelompok Hizbullah mengatakan para pejuangnya menyerang dengan "senjata yang tepat" peralatan mata-mata yang baru dipasang di pos Al-Malikiyya.
Para pejuang Hizbullah juga menargetkan posisi tentara Israel di lokasi Al-Raheb dengan rudal berpemandu dan menembakkan puluhan roket Katyusha ke lokasi Al-Baghdadi, kata kelompok tersebut. Belum ada informasi yang tersedia tentang cedera atau kerusakan.
Dikutip dari laman Middle East Monitor, Selasa (30/7/2024), pesawat tempur Israel melakukan serangan udara di beberapa kota di Lebanon selatan, termasuk Houla, Markaba dan Mays Al-Jabal, Kantor Berita Nasional milik pemerintah melaporkan.
Ketegangan telah meningkat antara Hizbullah dan Israel setelah serangan rudal di kota Druze Majdal Shams di Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel pada Sabtu lalu.
Sementara itu, Israel menyalahkan Hizbullah atas serangan tersebut, yang menewaskan 12 orang dan melukai 40 lainnya. Tapi kelompok Lebanon tersebut telah membantah bertanggung jawab.
Eskalasi tersebut terjadi di tengah serangan mematikan Israel di Gaza, yang telah mewafatkan lebih dari 39.300 orang sejak Oktober lalu, menyusul serangan oleh kelompok Perlawanan Palestina, Hamas.
REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT – Setidaknya 11 orang meninggal dan 19 lainnya terluka dalam serangan roket di lapangan sepak bola di kota Majdal Shams di Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel, pada Sabtu (27/7/2024). Serangan yang dibantah Hizbullah tersebut berpotensi menyulut perang besar Israel-Hizbullah.
Juru bicara militer Israel Daniel Hagari mengatakan anak-anak termasuk di antara mereka yang terbunuh dan menuduh kelompok Hizbullah dari Lebanon melakukan serangan pada Sabtu tersebut. Kelompok tersebut membantah terlibat. “Intelijen kami jelas. Hizbullah bertanggung jawab atas pembunuhan anak-anak yang tidak bersalah,” kata Hagari dilansir Aljazirah. “Kami akan mempersiapkan respons terhadap Hizbullah… kami akan bertindak,” katanya.
Hizbullah dengan cepat membantah bertanggung jawab atas serangan pada hari Sabtu itu. Kelompok tersebut mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka “dengan tegas menyangkal tuduhan yang dilaporkan oleh media musuh tertentu dan berbagai platform media mengenai penargetan Majdal Shams”.
“Perlawanan Islam tidak ada hubungannya dengan insiden ini,” katanya, mengacu pada sayap militernya. Kelompok tersebut telah melakukan baku tembak dengan pasukan Israel di daerah dekat perbatasan Israel-Lebanon sejak 8 Oktober, ketika Israel melancarkan perangnya di Gaza.
Laman berita AS Axios melansir, Hagari mengatakan bahwa yang meledak di lapangan tersebut adalah roket Falaq-1 buatan Iran dengan hulu ledak seberat 100 pon dan hanya Hizbullah yang memiliki roket semacam itu di Lebanon. Sementara para pejabat Hizbullah mengatakan kepada PBB bahwa insiden tersebut disebabkan oleh serangan pencegat antiroket Israel yang jatuh di lapangan sepak bola.
Menteri Luar Negeri Israel Israel Katz mengatakan kepada Axios, "serangan Hizbullah melanggar semua garis merah dan tanggapannya akan sesuai." Serangan lintas batas, yang menurut Hizbullah dilancarkan sebagai solidaritas terhadap rakyat Palestina di tengah perang Israel di Gaza, telah menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya konflik regional yang lebih besar.
Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan dia akan pulang lebih awal dari perjalanannya ke Amerika Serikat, di mana dia bertemu dengan beberapa pejabat senior AS. “Segera setelah mengetahui bencana di Majdal Shams, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengarahkan agar kepulangannya ke Israel dimajukan secepat mungkin,” kata kantor Netanyahu dalam sebuah postingan di X.
Serangan di lapangan sepak bola terjadi setelah serangan Israel di Lebanon yang menewaskan empat pejuang pada hari Sabtu. Dua sumber keamanan di Lebanon mengatakan empat pejuang yang tewas dalam serangan Israel di Kfar Kila di Lebanon selatan adalah anggota kelompok bersenjata yang berbeda, dan setidaknya satu di antaranya adalah anggota Hizbullah.
Militer Israel mengatakan pesawatnya menargetkan struktur militer milik Hizbullah setelah mengidentifikasi pejuang yang memasuki gedung tersebut. Hizbullah mengklaim pihaknya melakukan setidaknya empat serangan, termasuk dengan roket Katyusha, sebagai pembalasan atas serangan Kfar Kila.
Dataran Tinggi Golan, dataran tinggi seluas 1.200 kilometer persegi adalah wilayah Suriah yang diduduki Israel pada tahun 1967 setelah Perang Enam Hari, sebelum mencaploknya pada tahun 1981, sebuah tindakan yang dikutuk oleh Dewan Keamanan PBB.
Seruan perang langsung menggema di Israel menyusul peristiwa di Golan tersebut. Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir mengatakan bahwa “garis merah” telah dilanggar dalam serangan Majdal Shams, dan menambahkan bahwa hal ini “tidak boleh dibiarkan lagi”.
Menteri sayap kanan tersebut merujuk pada ikatan antara komunitas Druze dan Yahudi, yang menurutnya biasa disebut sebagai “perjanjian darah” dan “perjanjian hidup”. Ia menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban atas “bencana parah yang menimpa kita semua”.
Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) telah menyuarakan kekhawatiran tentang kemungkinan peningkatan perang antara Israel dan Lebanon, yang sejauh ini sebagian besar hanya terjadi di wilayah perbatasan.
Juru bicara UNIFIL Andrea Tenenti mengatakan kepada Aljazira Arabia bahwa pasukan penjaga perdamaian “Saat ini sangat khawatir, lebih dari masa-masa sebelumnya, tentang kemungkinan meluasnya konflik di Lebanon selatan” setelah serangan terhadap Majdal Shams.
Tenenti mengatakan timnya sedang berkomunikasi dengan aktor di kedua sisi perbatasan untuk mengurangi ketegangan di Garis Biru, yang memisahkan Lebanon dari Israel dan Dataran Tinggi Golan.
Juru bicara militer Israel Daniel Hagari mengutuk serangan udara di Majdal Shams, dengan mengatakan bahwa korbannya adalah warga negara Israel. Mouin Rabbani, seorang analis di Pusat Studi Konflik dan Kemanusiaan di Montreal, mengatakan pernyataan itu tidak benar.
“Para korban bukan orang Israel, mereka adalah warga Suriah,” katanya kepada Aljazirah. Ia menambahkan bahwa Dataran Tinggi Golan diduduki oleh Israel pada 1967 namun penduduk Druze di sana tidak memiliki kewarganegaraan Israel.
Israel mengklaim bahwa serangan itu dilakukan oleh Hizbullah, namun kelompok tersebut membantahnya. “Israel selama berbulan-bulan telah mengancam akan melakukan serangan besar-besaran di Lebanon dan masyarakat Israel juga sangat yakin bahwa pemerintah harus menghadapi ancaman Hizbullah sebelum tahun ajaran baru dimulai pada bulan September,” kata Rabbani.
Analis tersebut menambahkan, “sangat masuk akal” bahwa serangan itu akan memicu eskalasi, yang mungkin membuat Netanyahu mendapat lampu hijau dari AS selama perjalanannya ke Washington, DC.
REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV -- Koran berbahasa Ibrani, Maariv, pada Rabu (10/7/2024), melaporkan sekitar 40 ribu unit bisnis di Israel terpaksa ditutup sebagai akibat dari perang berkepanjangan di Gaza. Maariv seperti dilansir The Cradle menggambarkan kondisi ini sebagai 'kolapsnya' ekonomi Israel.
"Ini adalah angka yang sangat tinggi yang meliputi banyak sektor. Sekitar 77 persen unit bisnis yang sudah tutup sejak awal perang, atau sekitar 35 ribu unit bisnis, adalah bisnis kecil yang terdiri dari lima pegawai, dan yang paling rapuh di ekonomi (Israel)," kata Yoel Amir, CEO dari sebuah firma layanan informasi dan risiko pinjaman, CofacaBdi kepada Maariv.
Laporan Maariv menambahkan, bahwa "industri yang paling rapuh adalah sektor konstruksi, dan sebagai akibatnya juga berdampak pada seluruh ekosistem yang beroperasi; keramik, AC, bahan bangunan, dan lainnya -- semua ini terdampak signifikan," menurut data pemeringkatan risiko CofaceBdi.
Sektor perdagangam juga terdampak parah. Di sektor ini termasuk sektor jasa pelayanan yakni fashion, furnitur, peralatan rumah tangga, hiburan, transportasi, dan turisme.
Israel kini dalam situasi di mana "hampir tidak ada turis manca negara," kata laporan Maariv, sambil menambahkan, "kehancuran bisnis terjadi di semua daerah, dan hampir tidak ada sektor tersisa."
Termasuk sektor agrikultur, utamanya terletak di selatan dan utara Israel -- yang keduanya adalah dua zona utama perang yang terancam dari serangan para pejuang Palestina dan Hizbullah. Sektor pertanian berkontribusi signifikan terhadap kehancuran ekonomi Israel.
Yoel Amir memperkirakan bahwa 60 ribu unit bisnis di Isarael akan ditutup pada akhir 2024. Belakangan, serangan Hizbullah telah memberikan dampak parah pada sektor bisnis dan pendidikan di utara Israel. Puluhan ribu warga pendudukan Israel pun telah dipaksa untuk mengungsi.
"Tujuan kami menghancurkan ekonomi musuh... telah tercapai," kata pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah pada Rabu.
Serangan demi serangan yang dilancarkan pejuang Houthi di laut Yaman juga berkontribusi pada kehancuran ekonomi Israel. Pendapatan dari pelabuhan-pelabuhan utama seperti Eilat telah turun signifikan. Pada akhir 2023, PDB Israel terjun bebas hingga hampir 20 persen.
Ancaman eskalasi perang dengan Hizbullah juga membuat pemangku kepentingan ekonomi Israel khawatir, yang mana perang skala penuh akan bisa membuat ekonomi Israel terjerembab makin dalam. Apalagi, Hizbullah lewat video peringatannya belakangan mendemonstrasikan kemampuan mereka menyerang langsung infrastruktur-infrastruktur energi Israel seperti tempat penyulingan minyak dan gas.
REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT -- Sekretaris Jenderal Hizbullah, Hassan Nasrallah, pada Rabu (10/7) menyatakan bahwa kelompoknya akan menghentikan serangan ke Israel jika gencatan senjata di Jalur Gaza tercapai.
“Siapa pun yang mengancam kami dengan serangan… harus melihat apa yang sedang terjadi di Rafah (di Gaza selatan), di mana mereka gagal meraih kemenangan,” kata Nasrallah dalam pidatonya yang disiarkan di TV.
Pada Selasa (9/7) Menteri Luar Negeri Israel, Israel Katz, mengancam akan berperang dengan Hizbullah jika kelompok tersebut tidak angkat kaki dari Sungai Litani di Lebanon selatan.
Sungai Litani berjarak hanya beberapa kilometer dari perbatasan dan diatur dalam resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 yang mengakhiri perang dengan Israel pada 2006.
“Mendorong Hizbullah delapan atau 10 kilometer dari perbatasan seperti yang diklaim pendudukan (Israel) tidak akan menyelesaikan masalah,” kata Nasrallah.
Pemimpin Hizbullah itu lantas memperingatkan bahwa jika Israel memutuskan untuk menyerang Lebanon selatan setelah terjadi gencatan senjata di Gaza, maka mereka akan mempertahankan Lebanon. Hizbullah tidak akan membiarkan pendudukan oleh Israel.
Nasrallah menekankan bahwa Hizbullah akan melakukan gencatan senjata tanpa perlu ada diskusi jika terdapat kesepakatan di Gaza.
“Hamas mewakili poros perlawanan dalam perundingan dan apa pun yang Hamas terima, kami semua menerimanya sebab mereka berkoordinasi dengan faksi-faksi Palestina,” katanya menambahkan.
Kekhawatiran bakal terjadinya perang besar-besaran antara Israel dan Hizbullah semakin meningkat di tengah aksi baku tembak serangan lintas batas antar kedua belah pihak.
Eskalasi itu dilatarbelakangi oleh serangan mematikan Israel terhadap Jalur Gaza yang telah menewaskan hampir 38.300 orang sejak Oktober 2023 menyusul serangan Hamas.